BAHAYA TAKFIRI

BAHAYA TAKFIRI

Ketika seseorang masuk Islam, meyakini, dan mengamalkan syariat Islam, maka ia disebut muslim atau mukmin. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kedudukan, kehormatan, dan derajat khusus yang tidak diberikan kepada selain orang muslim atau orang mukmin. Oleh karena itu, menyakiti fisiknya, perasaannya, apalagi membunuhnya merupakan dosa besar.

Allah Ta’ala berfirman:

 وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS al-Ahzab: 58)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR al-Bukhari dan muslim)

Beliau juga bersabda,

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Setiap orang muslim terhadap orang muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, setiap muslim harus menjaga kehormatan saudaranya yang seiman dan seagama, tidak melakukan perbuatan apa pun yang dapat mencemarkan nama baiknya atau menyakiti jiwa dan raganya.

Kalau demikian adanya kedudukan dan kehormatan seorang muslim, lalu bagaimana seandainya ia dikafirkan?

Mengafirkan seorang muslim artinya menanggalkan akar-akar keislaman dan keimanan darinya serta tidak menganggapnya sebagai seorang mukmin. Hal ini tentu merupakan perkara yang sangat berbahaya, sebab mengafirkan berarti mengubah status dari kedudukan terhormat menjadi kedudukan tidak terhormat, dari orang yang terlindungi jiwanya menjadi orang yang tidak terlindungi.

Karena besarnya dosa mengafirkan seorang muslim, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Siapa saja berkata kepada saudaranya, ‘Hai orang kafir’, maka (hukum) kafir itu telah kembali kepada salah seorang dari keduanya, jika benar seperti yang ia katakan. Jika tidak, maka (ucapan itu) kembali kepada orang yang mengucapkan.” (Muttafaq ‘alaih)

Di dalam riwayat Imam Muslim disebutkan,

إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Apabila seseorang mengafirkan saudaranya (semuslim), maka salah satunya telah kembali dengan pengafiran tersebut.” (HR Muslim)

Maksud hadis ini adalah bahwa siapa saja mengafirkan seorang muslim, maka cap kafir akan kembali kepada dirinya jika orang yang dikafirkan tidak seperti yang dikatakannya. Jika orang yang dikafirkan adalah benar kafir dan terbukti, maka kekafiran layak baginya.

Hadis ini menunjukkan sangat seriusnya masalah mengafirkan seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh melakukan pengafiran terhadap muslim lain, sebab yang berhak mengafirkan hanyalah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dalam praktiknya hanya boleh dilakukan oleh para ulama yang mendalam ilmunya. Orang muslim biasa boleh mengafirkan orang-orang yang secara tegas dinyatakan kafir oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak boleh ragu untuk meyakini kekafiran mereka. Jadi, orang kafir adalah orang yang dinyatakan kafir oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika seseorang yang tadinya muslim, lalu karena keyakinan atau perbuatan atau perkataannya dinyatakan kafir oleh para ulama ahli setelah berbagai upaya dan tindakan untuk menunjukkan jalan yang lurus dilakukan terhadapnya, namun ia tetap pada pendiriannya sehingga para ulama mengafirkannya, maka setiap orang muslim wajib meyakini kekafiran orang tersebut.

Orang-orang Nasrani, orang-orang Yahudi, serta penganut ajaran dan agama selain Islam sama sekali tidak boleh diragukan kekafiran mereka, karena Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa mereka adalah kafir dan penghuni Neraka. Siapa saja tidak meyakini kekafiran mereka atau meragukan kekafiran mereka, berarti dia tidak percaya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sikapnya itu ia menjadi kafir.

Perlu diketahui bahwa seseorang dinyatakan atau divonis kafir atau murtad harus dengan sebab, syarat, dan penghalang.

Sebab-sebab seseorang dinyatakan kafir adalah semua hal yang dapat membatalkan dan merusak iman dan Islam yang berupa keyakinan, perkataan, perbuatan, keraguan atau sikap mengabaikan hukum syariat yang telah didukung oleh dalil yang jelas dan argumen yang pasti, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab-sebab tersebut dijelaskan di dalam kitab-kitab akidah dan kitab-kitab fikih.

Pengafiran atau vonis kafir terhadap seseorang juga harus memenuhi syarat, seperti penegakan hujah dan pemberian penjelasan yang komprehensif yang dapat menghapus semua kesalah-pahaman orang tersebut dan segala syubhatnya.

Pengafiran atau vonis kafir terhadap seseorang juga harus bebas dari penghalang (mawani’), seperti takwil (penafsiran yang keliru), kejahilan, dan adanya tekanan atau pemaksaan dari pihak luar. Oleh karena itu, tidak setiap orang yang melakukan suatu perbuatan ‘yang dapat membatalkan keislamannya” dengan serta merta boleh divonis kafir. Dan ini harus melalui persyaratan dan ketiadaan penghalang.

Memang perbuatannya harus diyakini sebagai perbuatan ‘kufur’ atau ‘kekafiran’, tetapi orangnya tidak dengan serta-merta disebut kafir. Ia bisa disebut kafir kalau persyaratan-persyaratan takfir telah terpenuhi dan sudah tidak ada penghalang. Oleh karena itu, takfir atau vonis kafir hanya boleh dilakukan oleh para ulama ahli yang mendalam ilmunya.

Selain itu, harus juga dibedakan antara pengafiran (takfir) umum atau mutlak yang tidak ditujukan kepada orang atau kelompok tertentu dengan pengafiran yang dialamatkan kepada individu atau kelompok orang tertentu. Dengan demikian, ucapan “Barangsiapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan Nabi terakhir, maka ia kafir” adalah berbeda dengan ucapan “Si B kafir karena telah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan nabi terakhir.” Ucapan pertama bersifat mutlak, sedangkan ucapan kedua bersifat pasti dan tertuju.

Keyakinan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan Nabi terakhir adalah kekufuran, namun orang yang mengatakannya tidak serta merta menjadi kafir dan boleh divonis kafir. Sebab, bisa jadi ia meyakini hal ini karena ia tidak tahu dalil atau karena syubhat lain.

Perkataan atau keyakinannya memang kekufuran, tetapi orangnya belum bisa dikatakan kafir. Ia baru boleh dikatakan kafir setelah dilakukan iqamatul-hujjah terhadapnya, diberikan penjelasan yang komprehensif yang dapat menghapus keyakinan sesatnya, dan dilakukan penuh dengan hikmah sehingga ia meyakini kesesatan keyakinannya, dan diajak untuk bertobat.

Jika segala bentuk iqamatul-hujjah telah dilakukan dan tidak ada lagi penghalang yang dapat menghalangi dirinya dari kekafiran serta ia tetap pada pendiriannya, maka dikatakan kepadanya, “Jika kamu terus meyakini keyakinan seperti ini, maka kamu kafir.”

Vonis kafir terhadap orang seperti ini dilakukan oleh orang yang berwenang, yaitu ulama, sedangkan segala konsekuensi takfir diserahkan kepada pemerintah yang berwenang. Masyarakat umum hanya wajib meyakini bahwa perbuatan atau keyakinan seperti itu adalah kekafiran yang dapat menyebabkan orang yang menganutnya kafir. Adapun memvonisnya sebagai orang kafir, bukan wewenang semua orang. Oleh karena itu, berhati-hatilah, sebab hal itu dapat berakibat sangat buruk terhadap diri kita dan kehidupan kita dalam bermasyarakat.

Kita harus mengetahui segala yang dapat merusak keislaman dan membatalkan keimanan agar kita tidak terjerumus ke dalam kekafiran dan kemusyrikan serta dapat menjelaskannya kepada orang lain.

Di zaman sekarang ada orang yang melakukan perbuatan kekufuran atau meyakini keyakinan kufur, sedangkan ia mengetahui hal itu, seperti yang dianut oleh kaum pluralis yang meyakini bahwa semua agama benar dan semua ajaran yang menganut paham ketuhanan adalah benar. Di antara mereka ada yang bangga kalau dikatakan kafir oleh orang yang tidak sepaham dengannya. Mereka berkata, “Silakan Anda mengafirkan saya, asal bukan tuhan mengafirkan saya.”

Mereka biasanya tidak salat. Sekalipun mereka salat, kadang-kadang mereka turut beribadah bersama penganut agama lain pada momen-momen tertentu. Apa pun penjelasan dan hujah yang disampaikan kepada mereka, mereka tetap pada keyakinannya. Orang yang tidak meyakini seperti keyakinan mereka disebut fundamentalis, Islam garis keras dan lain-lain. Maka orang seperti ini sudah tidak diragukan lagi kekafirannya, sekali pun vonis kafir tetap harus dilakukan oleh ulama.

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan kepada Rabblah mereka bertawakal.” (QS al-Anfal: 2)

Baca juga: WALA DAN BARA

Baca juga: TAKLID DAN MENGIKUTI TRADISI UMAT-UMAT SEBELUMNYA

Baca juga: PERLUKAN HUKUM SYARIAT DITINJAU-ULANG?

(Musthafa Aini)

Akidah