1️⃣7️⃣Menetapkan adanya hari akhir, yaitu Hari Kiamat, hari ketika manusia dibangkitkan untuk perhitungan dan pembalasan, di mana para penghuni Surga menetap di tempat tinggal mereka, dan para penghuni Neraka menetap di tempat tinggal mereka.
Seluruh kaum musyrikin telah mengingkari kebangkitan (ba’ts). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ
“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan penciptaannya. Ia berkata, ‘Siapakah yang akan menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?’” (QS Ya Sin: 78)
Yakni tulang-belulang yang telah remuk dan hancur.
Allah ‘Azza wa Jalla menjawab dengan memerintahkan Nabi-Nya agar mengatakan:
قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ
“Katakanlah, ‘Yang menghidupkannya adalah Dia yang telah menciptakannya pada kali yang pertama.’” (QS Ya Sin: 79)
Ini adalah sebuah dalil, dan letak pendalilannya adalah bahwa Dzat yang mampu menciptakan dari ketiadaan, pasti mampu pula mengembalikannya.
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ
“Dan Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, dan hal itu lebih mudah bagi-Nya.” (QS ar-Rum: 27)
Apabila permulaan penciptaan mudah —dan kalian wahai kaum musyrikin mengakuinya— maka mengulanginya tentu lebih mudah.
Inilah dalil pertama dalam membantah orang-orang yang mengingkari kebangkitan.
Dalil kedua adalah firman Allah Ta’ala:
وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
“Dan Dia Mahamengetahui segala makhluk.” (QS Ya Sin: 79)
Allah mengetahui bagaimana mencipta dan Dia Mahakuasa atas penciptaan itu. Maka bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa kebangkitan itu mustahil?
Kemudian Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ
“Yang menjadikan untuk kalian…” (QS Ya Sin: 80)
Yakni menjadikan untuk kalian —wahai orang-orang yang mengingkari— dan juga untuk selain kalian,
مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا
“dari pohon yang hijau api” (QS Ya Sin: 80)
Makna ayat ini adalah bahwa di negeri Hijaz terdapat jenis pohon yang disebut marakh dan ‘afar. Pohon itu dipukul dengan zanad (alat pemantik), lalu menyala menjadi api, padahal ia hijau, basah, dan dingin, sangat jauh dari sifat api. Namun demikian, api diciptakan darinya.
Maka Dzat yang mampu menciptakan sesuatu dari lawannya, tentu mampu mengembalikan sesuatu itu sendiri.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ
“Maka tiba-tiba kalian darinya menyalakan (api).” (QS Ya Sin: 80)
Ini merupakan hujah yang mengikat kalian, dan bukan perkara yang asing bagi kalian, karena kalian sendiri menggunakannya.
Dalil ketiga: di antara dalil dalam membantah orang-orang yang mengingkari kebangkitan adalah firman Allah Ta’ala:
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ
“Bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan yang semisal mereka?” (QS Ya Sin: 81)
Maka jawabannya adalah,
بَلَىٰ
“Benar.” (QS Ya Sin: 81)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab sendiri, karena menciptakan langit dan bumi lebih besar daripada menciptakan manusia.
Firman-Nya:
وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ
“Dan Dia Mahapencipta lagi Mahamengetahui.” (QS Ya Sin: 81)
Yakni memiliki penciptaan yang sempurna disertai kemampuan yang sempurna.
Dan firman-Nya:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah’, maka terjadilah ia.” (QS Ya Sin: 82)
Maka Dzat yang urusan-Nya demikian —apabila menghendaki sesuatu Dia berkata ‘Jadilah’, lalu terjadilah —tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya. Jika Dia memerintahkan sesuatu yang ada untuk menjadi tiada, maka ia pun tiada. Jika Dia memerintahkan sesuatu yang tidak ada untuk menjadi ada, maka ia pun menjadi ada, bagaimanapun keadaannya.
Dalam kisah Musa ‘alaihissalam, ketika beliau berdiri di hadapan laut yang dalam, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk memukul laut. Maka ia memukulnya sekali, lalu laut itu terbelah dan seketika menjadi dua belas jalan yang kering.
Siapakah yang mampu memilah-milah air laut (hingga terbelah dan menjadi jalan-jalan)? Tidak seorang pun mampu selain Allah ‘Azza wa Jalla, karena apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka terjadilah.
Pada kesempatan ini aku ingin mengingatkan satu ungkapan yang umum di kalangan orang awam, ketika mereka berkata, “Wahai Dzat yang urusan-Nya berada di antara kaf dan nun.” Ungkapan ini adalah kesalahan besar. Yang benar adalah mengatakan, “Wahai Dzat yang urusan-Nya terjadi setelah kaf dan nun.” Sebab apa yang berada di antara kaf dan nun bukanlah perintah. Perintah terwujud apabila kaf dan nun telah ada. Huruf kaf yang berharakat dhammah bukan perintah, demikian pula huruf nun. Akan tetapi dengan bersatunya keduanya barulah terbentuk perintah.
Maka yang benar adalah engkau mengatakan: “Wahai Dzat yang urusan-Nya —yakni apa yang Dia perintahkan— terjadi setelah kaf dan nun.” Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah,’ maka terjadilah ia. Maka Mahasuci Dia yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” QS Ya Sin: 82–83].
Yang penting adalah kita wajib beriman kepada hari akhir, meskipun akal-akal yang lemah menganggapnya jauh atau tidak masuk akal, karena apabila Allah Ta’ala memerintahkan, maka hal itu terjadi seketika, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً
“Tidaklah itu melainkan satu teriakan saja.” (QS Ya Sin: 53).
Maka dengan satu teriakan saja, seluruh makhluk akan datang (dibangkitkan).
Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA HARI AKHIR
Baca juga: HARI KIAMAT – KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN KEMBALI
Baca juga: MENGINGAT AKHIRAT DAN BERSIAP UNTUK KEHIDUPAN AKHIRAT
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

