SEPULUH AMAL YANG PAHALANYA TERUS MENGALIR SETELAH KEMATIANNYA (1)

SEPULUH AMAL YANG PAHALANYA TERUS MENGALIR SETELAH KEMATIANNYA (1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ؛ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

Amma ba’du.

Di antara nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang sangat besar kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah bahwa Dia menyediakan bagi mereka berbagai pintu kebaikan dan kebajikan yang dapat dilakukan oleh seorang hamba yang diberi taufik dalam kehidupan ini, sementara pahalanya terus mengalir kepadanya setelah kematiannya. Sesungguhnya para penghuni kubur berada dalam kubur-kubur mereka dalam keadaan tergadai, terputus dari amal-amal mereka, dan mereka akan dihisab serta diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan selama hidup mereka.

Sementara orang yang diberi taufik ini, ketika berada di dalam kuburnya, kebaikan-kebaikan terus mengalir kepadanya, pahala dan berbagai karunia terus berdatangan kepadanya. Ia telah berpindah dari negeri amal, tetapi pahala tidak terputus darinya. Derajatnya terus bertambah tinggi, kebaikan-kebaikannya terus berkembang, dan pahalanya terus dilipatgandakan, padahal ia berada di dalam kuburnya. Betapa mulianya keadaan seperti ini, betapa indahnya, dan betapa baiknya hasil yang diperoleh darinya!.

Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa di antara amal-amal saleh yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba di dalam kuburnya setelah ia meninggal dunia adalah apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:

سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَوْ أَجْرَى نَهْرًا، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا، أَوْ غَرَسَ نَخْلًا، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

Tujuh perkara yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya ketika ia berada di dalam kuburnya: orang yang mengajarkan ilmu, atau mengalirkan sungai, atau menggali sumur, atau menanam pohon kurma, atau membangun masjid, atau mewariskan mushaf, atau meninggalkan seorang anak yang memohonkan ampun untuknya setelah kematiannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya (7289), dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib (73))

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أُجُورُهُمْ بَعْدَ الْمَوْتِ: رَجُلٌ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَأَجْرُهُ يَجْرِي عَلَيْهِ مَا عُمِلَ بِهِ، وَرَجُلٌ أَجْرَى صَدَقَةً فَأَجْرُهَا يَجْرِي عَلَيْهِ مَا جَرَتْ عَلَيْهِمْ، وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا يَدْعُو لَهُ

Empat golongan yang pahala mereka terus mengalir setelah kematian: seorang yang meninggal dalam keadaan berjaga (ribath) di jalan Allah; seorang yang mengajarkan suatu ilmu, maka pahalanya terus mengalir kepadanya selama ilmu itu diamalkan; seorang yang mengalirkan sedekah (sedekah jariyah), maka pahalanya terus mengalir kepadanya selama manfaatnya terus berjalan bagi manusia; seorang yang meninggalkan anak saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (22318), disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib (114). Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (6181), dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (888))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ؛ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang mukmin yang pahalanya terus sampai kepadanya setelah kematiannya adalah: ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak saleh yang ia tinggalkan, mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah untuk ibnu sabil yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia masih sehat dan hidup. Semuanya akan terus sampai kepadanya setelah kematiannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (242), dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (2231))

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaat darinya, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (1631))

Perbedaan jumlah amal yang disebutkan dalam hadis-hadis sebelumnya menunjukkan bahwa bilangan yang disebutkan di dalamnya tidak dimaksudkan untuk pembatasan dan pengecualian. Penyebutan jumlah tersebut hanyalah untuk memudahkan penguasaan dan penghafalan ilmu. Adapun amal-amal yang disebutkan dalam berbagai nash syariat, maka maknanya bersifat umum. Sebagian amal yang disebutkan dalam suatu hadis juga dapat tercakup dalam amal-amal yang disebutkan dalam hadis-hadis yang lain.

Yang menjadi titik persamaan di antara hadis-hadis yang telah disebutkan adalah bahwa semuanya memiliki keutamaan yang sama, yaitu pahala dari amal-amal tersebut terus mengalir kepada pelakunya semasa hidup dan setelah kematiannya. Maka seorang muslim yang tulus menasihati dirinya sendiri, apabila merenungkan amal-amal ini, lalu mengetahui dan meyakini bahwa pahalanya sangat besar dan manfaatnya akan terus kembali kepadanya dalam kehidupan maupun setelah kematiannya, niscaya ia akan berusaha agar mendapatkan bagian dan jatah darinya. Karena itu, hendaklah ia segera berlomba melakukannya dengan sungguh-sungguh selama masih berada di negeri amal, sebelum umur berakhir dan ajal datang menjemput.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki —sementara beliau sedang menasihatinya,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, hidupmu sebelum kematianmu.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (7846). Hadis ini dinyatakan sahih olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Juga dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (1077))

Aku telah mengumpulkan dalam risalah ini sepuluh amal yang telah terbukti memiliki keutamaan tersebut. Tujuh di antaranya adalah amal-amal yang disebutkan dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan sebelumnya, dan tiga amal lainnya disebutkan dalam hadis-hadis yang lain.

Aku juga berusaha menjelaskan berbagai pintu kebaikan yang tercakup dalam amal-amal tersebut dan yang termasuk dalam maknanya, agar kaum mukminin bersegera mengerjakannya dan orang-orang yang bersungguh-sungguh terdorong untuk melakukannya. Dengan demikian pahala mereka menjadi besar dan timbangan kebaikan mereka menjadi berat pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

1. Mengajarkan Ilmu

Telah disebutkan sebelumnya dalam hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَبْعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مِنْهَا مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا

Tujuh perkara yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya ketika ia berada di dalam kuburnya; di antaranya adalah orang yang mengajarkan ilmu….” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya (7289), dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib (73))

Amal ini juga disebutkan dalam hadis Abu Umamah al-Bahili dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.

Hal itu karena mengajarkan ilmu yang bermanfaat termasuk amal saleh yang paling agung dan ibadah yang paling utama. Bahkan, mengajarkan ilmu merupakan tugas seluruh para nabi. Dengan ilmu, manusia dapat memahami agama mereka, mengenal Rabb dan sembahan mereka, mendapat petunjuk menuju jalan-Nya yang lurus, dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara jalan petunjuk dan kesesatan, serta antara yang halal dan yang haram.

Di sini tampak jelas besarnya keutamaan para ulama yang tulus dan para dai yang ikhlas. Mereka adalah pelita bagi para hamba, mercusuar bagi negeri-negeri, penopang umat, dan sumber-sumber hikmah. Kehidupan mereka adalah keuntungan besar, sedangkan wafat mereka merupakan musibah. Mereka mengajarkan orang yang tidak mengetahui, mengingatkan orang yang lalai, dan membimbing orang yang tersesat. Tidak perlu dikhawatirkan pengkhianatan dari mereka dan tidak perlu ditakuti tipu daya mereka.

Apabila salah seorang ulama meninggal dunia, ilmunya tetap hidup di tengah manusia. Warisan ilmunya, karya-karyanya, dan ucapan-ucapannya tetap beredar di kalangan mereka. Mereka mengambil manfaat darinya dan mempelajarinya. Sementara itu, ia berada di dalam kuburnya, namun pahala terus mengalir kepadanya dan ganjaran terus berdatangan untuknya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ ثَوَابُهَا مَا تُلِيَتْ

Barang siapa mengajarkan satu ayat dari Kitab Allah, maka baginya pahala ayat tersebut selama ayat itu dibaca.” (Diriwayatkan oleh Abu Sahl al-Qaththan dalam Hadits-nya (4/432). al-Albani menyatakan sanadnya baik dalam Silsilah ash-Shahihah (1335))

Maka seorang alim, meskipun telah meninggal dunia, kitab-kitabnya, rekaman pelajarannya, ceramah-ceramahnya, dan khotbah-khotbahnya yang bermanfaat tetap ada. Generasi-generasi yang tidak pernah hidup sezaman dengannya dan tidak sempat menemuinya tetap mengambil manfaat darinya.

Barang siapa merenungkan keadaan para imam Islam —para ulama hadis dan fikih— niscaya ia akan melihat bagaimana mereka tetap hidup di tengah manusia meskipun telah berada di bawah tanah. Seakan-akan mereka masih hidup di antara manusia. Yang hilang dari mereka hanyalah jasad-jasad mereka, sedangkan penyebutan nama mereka, pembicaraan tentang mereka, dan pujian kepada mereka tidak pernah terputus. Inilah kehidupan yang sesungguhnya. Bahkan kehidupan seperti ini lebih layak disebut kehidupan kedua, sebagaimana dikatakan oleh al-Mutanabbi:

“Nama baik seseorang adalah kehidupan keduanya; itulah kebutuhannya yang sejati. Adapun apa yang terluput darinya (dari kenikmatan dunia), tidaklah berarti, dan kelebihan-kelebihan hidup hanyalah kesibukan belaka.”

Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata, “Apabila seseorang mengetahui bahwa kematian akan memutusnya dari amal, maka hendaklah ia mengerjakan ketika hidupnya suatu amalan yang pahalanya terus berlangsung baginya setelah kematiannya; seperti ia menyusun sebuah kitab dalam bidang ilmu, karena karya tulis seorang alim dan anaknya yang saleh merupakan sesuatu yang membuat pahalanya terus kekal.”

Setiap orang yang turut berkontribusi dalam mencetak kitab-kitab yang bermanfaat serta menyebarkan risalah-risalah dan karya-karya tulis yang berguna, maka ia mendapatkan bagian dan pahala yang melimpah dari pahala yang agung dan terus-menerus bagi hamba tersebut, baik semasa hidupnya maupun setelah kematiannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (2674))

Termasuk ilmu yang bermanfaat yang pahalanya terus mengalir bagi seorang hamba setelah kematiannya adalah membeli kitab-kitab yang bermanfaat, mewakafkannya, atau memberikannya kepada orang-orang yang dapat mengambil manfaat darinya, seperti para penuntut ilmu, para peneliti, dan para pembaca. Selama kitab-kitab tersebut masih ada dan dimanfaatkan, maka ia termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus diperbarui bagi penulisnya dan orang yang mewakafkannya.

Termasuk dalam hal ini adalah membuat buku-buku elektronik dan menyebarkannya melalui aplikasi-aplikasi membaca, meneliti, dan yang semisalnya. Buku-buku dan program-program elektronik sama seperti buku-buku cetak dalam hal memberikan manfaat dan menyebarkan ilmu, bahkan bisa jadi lebih luas penyebarannya dan lebih besar manfaatnya.

Baca setelahnya: SEPULUH AMAL YANG PAHALANYA TERUS MENGALIR SETELAH KEMATIANNYA (2)

Baca setelahnya: SEPULUH AMAL YANG PAHALANYA TERUS MENGALIR SETELAH KEMATIANNYA (3)

Baca juga: KEUTAMAAN AMAL JARIAH

Baca juga: MENJAGA AMAL-AMAL

Baca juga: PENYEBAB SU’UL KHATIMAH

(Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Kelembutan Hati