MENGENAL TIGA NAMA ALLAH: AL-‘AZIZ, AL-HAKIM, DAN AL-QAWIYY

MENGENAL TIGA NAMA ALLAH: AL-‘AZIZ, AL-HAKIM, DAN AL-QAWIYY

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia, Yang Mahasempurna dalam nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi.

Kami bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan kalimat itu kami mengharapkan keselamatan dari seburuk-buruk tempat kembali, dan kami mengharapkan dengannya keberuntungan berupa kenikmatan yang kekal di derajat-derajat yang paling tinggi. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih serta kekasih-Nya yang diistimewakan.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau yang mulia, serta kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik selama bumi dan langit masih ada.

Amma ba’du:

Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa menghafal dan menjaganya, niscaya ia akan masuk Surga.

Yang dimaksud menjaganya adalah mengetahui lafaznya, memahami maknanya, dan beribadah kepada Allah sesuai dengan kandungannya. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin. Pahamilah nama-nama tersebut beserta sifat-sifat agung dan makna-maknanya yang mulia, agar kalian dapat beribadah kepada Rabb kalian di atas ilmu yang benar. Sebab, tidaklah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.

Wahai sekalian manusia, pada hari Jumat ini kita akan membahas tiga nama di antara nama-nama Allah.

al-’Aziz

Di antara nama-nama Allah Ta’ala adalah al-’Aziz (Yang Mahaperkasa). Segala kemuliaan dan keperkasaan hanyalah milik Allah semata.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik orang-orang yang beriman.” (QS al-Munafiqun: 8)

Dialah Yang Mahaperkasa, yang tidak dapat dikalahkan. Tidak ada pasukan, bala tentara, ataupun kekuatan apa pun melainkan semuanya hina di hadapan keperkasaan Allah. Segala kesulitan tunduk kepada keperkasaan-Nya, dan segala kesukaran yang sangat berat menjadi lunak di hadapan kekuatan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ

Betapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah.” (QS al-Baqarah: 249)

Allah Ta’ala berfirman:

كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti akan menang.’ Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS al-Mujadilah: 21)

al-Hakim

Di antara nama-nama Allah Ta’ala adalah al-Hakim (Yang Mahabijaksana). Dialah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahamemutuskan hukum dan Yang menjadi tempat kembali segala hukum. Segala hukum adalah milik-Nya dan kepada-Nya seluruh urusan dikembalikan. Dia menetapkan keputusan atas hamba-hamba-Nya dengan qadha dan qadar-Nya, menetapkan hukum di antara mereka dengan agama dan syariat-Nya, kemudian pada Hari Kiamat Dia memutuskan perkara di antara mereka dengan memberikan balasan berdasarkan karunia dan keadilan-Nya.

Tidak ada hakim selain Allah. Tidak boleh menjadikan hukum, undang-undang, atau sistem apa pun sebagai hukum selain hukum Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS an-Nisa’: 59)

Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Itulah hukum Allah. Dia menetapkan hukum di antara kamu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS al-Mumtahanah: 10)

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’: 65)

Dialah Subhanahu wa Ta’ala Yang menetapkan hukum atas hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang dapat menolak ketetapan dan keputusan-Nya, dan tidak ada hukum yang lebih tinggi daripada hukum-Nya.

al-Hakim memiliki makna yang lain, yaitu Yang memiliki hikmah.

Hikmah, wahai kaum muslimin, adalah lawan dari kebodohan dan ketidaksantunan. Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Oleh karena itu, ketetapan-ketetapan Allah yang bersifat kauni, syar’i, dan pembalasan, semuanya disertai dengan hikmah dan terkait dengannya. Allah Subhanahu tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Dia juga tidak membiarkan makhluk-Nya begitu saja, tanpa diperintah dan dilarang, tanpa diberi pahala dan tanpa dihukum.

Apa pun yang Allah berikan, pasti karena hikmah. Apa pun yang Allah cegah, pasti karena hikmah. Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat melainkan karena hikmah. Tidaklah Allah menimpakan suatu musibah melainkan karena hikmah. Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu melainkan karena hikmah. Hikmah itu terdapat dalam perbuatan tersebut dan dalam melaksanakannya. Tidaklah Allah melarang sesuatu melainkan karena hikmah.

Hikmah itu terdapat dalam meninggalkannya dan menjauhinya. Allah Ta’ala berfirman untuk menetapkan sifat yang agung ini, yaitu sifat hikmah:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ ۝ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya. Tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Dia, Rabb ‘Arsy yang mulia.” (QS al-Mu’minun: 115–116)

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ ۝ مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan benar.” (QS ad-Dukhan: 38–39)

Allah Ta’ala berfirman:

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?” (QS al-Qiyamah: 36)

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ ۝ أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk Neraka. Apakah pantas Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Ataukah Kami akan menjadikan orang-orang yang bertakwa seperti orang-orang yang durhaka?” (QS Shad: 27–28)

Wahai kaum muslimin, telah jelas bagi kita bahwa al-Hakim memiliki dua makna:

Pertama, Yang Mahamemutuskan hukum, yang memiliki hukum yang mutlak dan sempurna dari segala sisi.

Kedua, Yang memiliki hikmah, yaitu Dzat yang tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia, tidak mensyariatkan sesuatu pun yang batil, dan tidak memberikan balasan kepada seorang yang beramal kecuali sesuai dengan amalnya; membalas orang yang berbuat baik dengan kebaikan, dan membalas orang yang berbuat buruk dengan keburukan yang semisal.

al-Hakim juga memiliki makna ketiga, yaitu Yang Mahamenyempurnakan. Dia telah menyempurnakan segala sesuatu yang Dia ciptakan. Maka, tidak ada pada ciptaan Allah Yang Mahapengasih sedikit pun ketidaksesuaian, pertentangan, ataupun cacat. Itulah Allah yang telah menyempurnakan segala sesuatu. Tidak ada pada syariat-Nya pertentangan ataupun perbedaan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Sekiranya (al-Qur’an) itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapati di dalamnya banyak pertentangan.” (QS. An-Nisa’: 82)

al-Qawiyy

Di antara nama-nama Allah Ta’ala adalah al-Qawiyy (Yang Mahakuat). Kekuatan adalah lawan dari kelemahan. Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk-makhluk yang sangat besar tanpa sedikit pun kelemahan. Dia senantiasa Mahakuat sejak dahulu dan akan terus Mahakuat, sedangkan seluruh makhluk adalah lemah; lemah pada diri mereka sendiri dan lemah dalam amal perbuatan mereka.

Allah Ta’ala berfirman untuk menetapkan sifat yang agung ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan Kami tidak ditimpa keletihan sedikit pun.” (QS Qaf: 38)

Maksudnya, tidak ditimpa rasa letih dan tidak pula kelemahan. Dialah Yang Mahakuat, yang memiliki kekuatan yang sempurna. Adapun seluruh makhluk adalah lemah, betapapun besar kekuatan mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu kekuatan, kemudian Dia menjadikan sesudah kekuatan itu kelemahan dan usia tua.” (QS ar-Rum: 54)

Kaum ‘Ad adalah kaum yang memiliki tubuh yang tinggi dan kekuatan yang besar. Sebagian dari mereka mampu mengangkat batu besar tanpa merasa berat sedikit pun. Bahkan kesombongan mereka telah sampai pada ucapan:

مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Siapakah yang lebih kuat daripada kami?

Maka Allah Ta’ala berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً

Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka, Dia-lah yang lebih kuat daripada mereka?” (QS Fussilat: 15)

Maka setiap kekuatan, betapapun besarnya, tetaplah lemah di hadapan kekuatan Sang Pencipta Yang Mahaagung.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Allah memiliki nama-nama yang paling indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Kelak mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al-A’raf: 180)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

Baca juga: HIKMAH DIHARAMKANNYA RIBA

Baca juga: TAKDIR DAN HIKMAH DI BALIKNYA

Baca juga: DORONGAN UNTUK BERIMAN KEPADA NAMA-NAMA ALLAH TA’ALA

Baca juga: KEAGUNGAN DOA ISTIFTAH DAN KEBERKAHAN NAMA ALLAH DALAM IBADAH

Baca juga: PERINTAH MENGINGAT AYAT-AYAT ALLAH DAN SUNAH DI RUMAH NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Khotbah