KEAGUNGAN DOA ISTIFTAH DAN KEBERKAHAN NAMA ALLAH DALAM IBADAH

KEAGUNGAN DOA ISTIFTAH DAN KEBERKAHAN NAMA ALLAH DALAM IBADAH

287. Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau biasa mengucapkan,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Mahasuci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, Mahaberkah nama-Mu, Mahatinggi keagungan-Mu, dan tidak ada sembahan selain Engkau.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 399 dengan sanad yang terputus, dan oleh ad-Daraquthni no. 1/299 dengan sanad yang bersambung, namun ia berstatus mauquf (perkataan sahabat))

288. Dan yang semisalnya diriwayatkan dari Abu Sa’id secara marfu’ oleh lima imam hadis, dan di dalamnya disebutkan bahwa setelah takbir beliau membaca,

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari setan yang terkutuk, dari bisikannya, kesombongannya, dan tiupannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 11081, Abu Dawud no. 658, dan at-Tirmidzi no. 889, dan Ibnu Majah no. 807)

PENJELASAN

Penulis rahimahullah menyebutkan dua hadis ini dalam bab “Sifat Shalat”, dan di dalam keduanya terdapat penjelasan tentang apa yang diucapkan seseorang dalam doa istiftah shalat.

Sabdanya, (سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ) “Mahasuci Engkau ya Allah”, yaitu aku mensucikan-Mu dan menyucikan-Mu dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Mu.

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah tetap bagi-Nya sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia Mahasuci dari setiap sifat kekurangan dan cacat. Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak menzalimi dan tidak dizalimi, Dia Mahahidup yang tidak mati, dan Mahakuat yang tidak lelah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Bertawakallah kepada Yang Mahahidup yang tidak mati.” (QS al-Furqan: 58)

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Allah, tidak ada sembahan selain Dia, Yang Mahahidup lagi Mahamengurus, tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS al-Baqarah: 255)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ

Sungguh Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan Kami tidak ditimpa kelelahan sedikit pun.” (QS Qaf: 38)

Artinya, tanpa keletihan dan kelelahan.

Maka Dia Subhanahu wa Ta’ala Mahasuci dari segala kekurangan. Dia Subhanahu Mahasuci dari menyerupai makhluk, karena Dia memiliki sifat-sifat yang sempurna, luas pemberian-Nya, agung kekuasaan-Nya. Bagi-Nya seluruh kemuliaan, seluruh kerajaan, dan seluruh pujian. Oleh karena itu, digandengkan dengan ucapan, (وَبِحَمْدِكَ) “dengan memuji-Mu.” Maknanya, aku mensucikan-Mu dengan tasbih yang disertai pujian.

Maka terkumpul antara pensucian Allah dari segala kekurangan dengan tasbih, dan penetapan kesempurnaan bagi-Nya dari segala sisi dengan pujian, karena Allah Ta’ala dipuji atas kesempurnaan sifat-sifat-Nya, kesempurnaan perbuatan-Nya, kebaikan-Nya, dan nikmat-nikmat-Nya.

Sabdanya, (تَبَارَكَ اسْمُكَ) “Mahaberkah nama-Mu”, yaitu nama-Mu dengannya diperoleh keberkahan. Karena itu, kehalalan makanan bergantung pada penyebutan nama Allah. Seandainya seseorang menyembelih hewan sembelihan dan tidak mengucapkan “bismillah”, maka hewan itu menjadi bangkai yang haram baginya. Namun jika ia menyebut nama Allah, maka menjadi halal.

Demikian pula, jika ia berburu dan tidak mengucapkan “bismillah” ketika melepaskan anak panah, maka hasil buruan itu menjadi haram sebagai bangkai yang tidak boleh dimakan. Namun jika ia menyebut nama Allah, maka menjadi halal.

Pendapat yang benar adalah bahwa sembelihan tidak halal apabila ditinggalkan penyebutan nama Allah atasnya, baik karena lupa maupun sengaja, berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Janganlah kalian memakan apa yang tidak disebut nama Allah atasnya, dan sesungguhnya itu adalah kefasikan.” (QS al-An’am: 121)

Ini berarti bahwa seseorang tidak boleh memakan sesuatu yang tidak disebut nama Allah atasnya.

Namun, jika ia makan sementara ia tidak mengetahui apakah disebut nama Allah atau tidak, dan penyembelihnya seorang muslim, maka tidak mengapa baginya. Sebab, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa sekelompok orang berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya ada suatu kaum yang datang kepada kami membawa daging, dan kami tidak mengetahui apakah disebut nama Allah atasnya atau tidak.”

Beliau bersabda,

سَمُّوا أَنْتُمْ وَكُلُوا

Sebutlah nama Allah oleh kalian dan makanlah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3174)

Ia (‘Aisyah) berkata: Mereka adalah orang-orang yang baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam).

Di antaranya —yakni termasuk pengaruh dari nama Allah ‘Azza wa Jalla dan turunnya keberkahan dengannya— bahwa seseorang apabila menyebut nama Allah saat makan, maka setan terhalang untuk ikut bersamanya. Jika ia tidak menyebutnya, setan akan ikut serta dalam makannya. Oleh karena itu, kami mengatakan bahwa pendapat yang kuat adalah bahwa membaca basmalah ketika makan dan minum adalah wajib, dan tidak halal bagi seseorang makan tanpa menyebut nama Allah, begitu pula tidak boleh minum tanpa menyebut nama Allah.

Jika ia lupa lalu ingat di tengah makan atau minum, maka ia mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Dengan nama Allah pada awalnya dan akhirnya.”

Jika ia lupa hingga selesai, maka Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.” (QS al-Baqarah: 286)

Di antaranya adalah bahwa membaca basmalah ketika berwudhu lebih sempurna dan lebih utama dibandingkan jika meninggalkannya. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa basmalah dalam wudhu adalah wajib, namun yang benar adalah bahwa ia tidak wajib, melainkan sunah, dan ia memberikan kesempurnaan pada wudhu.

Di antaranya adalah bahwa apabila seseorang mendatangi istrinya lalu ia membaca,

بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami,” maka jika ditakdirkan di antara keduanya seorang anak —laki-laki atau perempuan— setan tidak akan membahayakannya selamanya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434)

Semua ini termasuk dari keberkahan nama Allah Ta’ala. Dalam setiap keadaan, nama Allah Ta’ala penuh keberkahan. Dengan-Nya turun keberkahan, dan keberkahan akan hilang dari setiap sesuatu yang tidak diawali dengan nama Allah.

Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ بِاسْمِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

Setiap perkara penting yang tidak diawali dengan nama Allah, maka ia terputus.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 18495 dan Ibnu Majah no. 1894)

Artinya, kurang keberkahannya.

Hadis ini diperselisihkan oleh para ulama dalam penilaiannya. Sebagian menghasankannya, sebagian mensahihkannya, dan sebagian melemahkannya. Namun tidak diragukan bahwa membaca basmalah adalah perkara yang penting, dan semua itu termasuk dari keberkahan nama Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, (وَتَعَالَى جَدُّكَ) yaitu Mahatinggi keagungan-Mu.

Kata al-jadd di sini bermakna keagungan, kekuasaan, kesempurnaan, dan kekayaan, bukan yang dimaksud adalah kakek (ayah dari ayah), karena Allah Ta’ala tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Maknanya adalah Mahatinggi keagungan dan kekuasaan-Mu.

Dia Subhanahu wa Ta’ala memiliki seluruh keagungan, kemampuan, dan kekuatan. Kekuasaan-Nya di atas segala kekuasaan, dan kerajaan-Nya di atas segala kerajaan. Maka Dia memiliki sifat-sifat yang agung dan keagungan yang sempurna, agung dalam kekuasaan, agung dalam kekayaan, serta agung dalam kedermawanan dan kemurahan.

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, (وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ) yaitu tidak ada sembahan yang benar selain Engkau. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya sembahan yang benar. Semua sembahan yang disembah selain Allah, seperti al-Lat, al-’Uzza, Manat, Hubal, Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, dan selainnya dari berhala-berhala, semuanya batil. Sembahan yang benar hanyalah Allah, dan tidak ada sembahan selain-Nya. Maka segala sesuatu yang disembah di bumi dan dikatakan sebagai tuhan, semuanya batil, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu karena Allah, Dia-lah Yang Mahabenar, dan apa yang mereka sembah selain Dia adalah batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS al-Hajj: 62)

Bahkan orang-orang yang disembah dari hamba-hamba Allah, seperti para nabi atau malaikat, maka menyembah mereka adalah batil, karena mereka tidak meridhai hal itu, dan karena Allah adalah satu-satunya sembahan yang benar.

Bahkan al-Masih ‘Isa bin Maryam adalah hamba dari hamba-hamba Allah, namun menyembahnya adalah batil. Semua sembahan tersebut pada Hari Kiamat akan dilemparkan ke dalam neraka Jahanam sebagai bentuk penghinaan terhadap para penyembahnya. Meskipun itu berupa batu yang tidak diazab, namun untuk menghinakan para penyembahnya ia akan dilemparkan ke dalam neraka Jahanam, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ ۝ لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ

Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahanam. Kalian pasti masuk ke dalamnya. Seandainya mereka itu tuhan-tuhan, niscaya mereka tidak akan memasukinya, dan semuanya akan kekal di dalamnya.” (QS al-Anbiya: 98–99)

Ketika ayat ini turun, orang-orang musyrik bergembira dengannya dan berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menganggap bahwa sembahan kami adalah bahan bakar Neraka, yaitu akan dilemparkan ke dalam Neraka. Ini ‘Isa bin Maryam disembah selain Allah, apakah ia juga akan dilemparkan ke dalam Neraka?”

Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Mereka tidak mengemukakan hal itu kepadamu melainkan hanya untuk membantah, bahkan mereka adalah kaum yang suka berdebat.” (QS az-Zukhruf: 58)

Kemudian Allah menurunkan setelah itu:

﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَىٰ أُولَٰئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ ۝ لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا اشْتَهَتْ أَنْفُسُهُمْ خَالِدُونَ ۝ لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾

Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan darinya (Neraka). Mereka tidak mendengar sedikit pun suara nyalanya, dan mereka kekal dalam apa yang diinginkan oleh diri mereka. Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar, dan para malaikat menyambut mereka (dengan mengatakan), ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS al-Anbiya: 101–103)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka.

Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap klaim orang-orang musyrik tersebut. Sebab, ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam termasuk orang yang telah ditetapkan baginya kebaikan dari Allah. Ia adalah salah satu dari lima rasul Ulul ‘Azmi, yaitu Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Muhammad  ‘alaihimush-shalatu wassalam. Yang paling utama di antara mereka adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Ibrahim, kemudian Musa. Adapun ‘Isa dan Nuh berada pada satu tingkatan.

Sungguh ‘Isa ‘alaihis salam diuji dengan ujian yang besar. Ia tinggal di tengah kaumnya dalam waktu yang lama dan mengalami gangguan yang sangat berat dari mereka. Bahkan orang-orang Yahudi —laknat Allah atas mereka hingga Hari Kiamat— menuduh ibunya, Maryam, dengan tuduhan besar. Mereka mengatakan bahwa ia perempuan pezina, dan bahwa ‘Isa adalah anak hasil zina. Oleh karena itu, mereka berusaha membunuhnya.

Doa istiftah ini, jika kamu renungkan, kamu akan mendapati di dalamnya pujian kepada Allah yang tidak terdapat pada selainnya. Oleh karena itu, Ibnu al-Qayyim rahimahullah lebih menguatkannya dalam Zadul Ma’ad dari sekitar sepuluh sisi atau lebih. Namun yang benar adalah bahwa hadis Abu Hurairah yang telah disebutkan sebelumnya lebih sahih darinya dan lebih utama untuk dijaga. Meskipun demikian, yang lebih utama bagi seseorang adalah membaca yang ini sekali dan yang itu sekali, agar ia mendapatkan sunah dalam seluruh bentuknya.

Adapun hadis Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, di dalamnya disebutkan bahwa apabila seseorang masuk ke dalam shalat dan telah membaca doa istiftah sebagaimana yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia hendak membaca, maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Maka apabila engkau membaca al-Qur’an, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS an-Nahl: 98)

Maka ia membaca,

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ

Aku berlindung kepada Allah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui dari setan yang terkutuk, dari bisikannya, kesombongannya, dan tiupannya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 11081, Abu Dawud no. 657, at-Tirmidzi, an-Nasa’i no. 889, dan Ibnu Majah no. 807)

Jika ia mencukupkan dengan ucapan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk,” maka itu sudah mencukupi.

Apabila ia telah berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, ia membaca basmalah,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.”

Para ulama rahimahumullah berselisih tentang basmalah. Apakah ia termasuk bagian dari al-Fatihah atau bukan?

Sebagian ulama mengatakan bahwa ia termasuk bagian dari al-Fatihah, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa ia bukan bagian darinya.

Yang benar adalah bahwa basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Dahulu Nabi memulai shalat dengan takbir, dan membaca dengan

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam,’” dan tidak disebutkan basmalah.

Dalam hadis Abu Hurairah disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman:

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ

Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian.” Apabila ia membaca, ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ Allah berfirman: (حَمِدَنِي عَبْدِي) “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 394)

Maka dimulai dengan al-hamd dan tidak disebutkan basmalah.

Selain itu, al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat, dan firman-Nya: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” adalah ayat keempat, yaitu pertengahan, yang di dalamnya terdapat pembagian antara hak Allah dan hak hamba. Tentang ayat ini Allah berfirman:

هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta,” maka dari sini jelas bahwa basmalah bukan bagian dari al-Fatihah, baik dari sisi nash maupun makna.

Berdasarkan hal ini, jika seseorang membaca al-Fatihah dan tidak membaca ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾, maka shalatnya tetap sah, karena basmalah bukan bagian dari al-Fatihah.

Jika kamu berkata, “Kami melihatnya dalam mushaf diberi nomor sebagai ayat pertama dari al-Fatihah,” maka kami katakan, “Hal itu dibangun atas pendapat sebagian ulama yang mengatakan demikian. Adapun menurut pendapat yang benar, maka basmalah bukan ayat dari al-Fatihah. Dalilnya adalah bahwa basmalah pada surah-surah lainnya tidak diberi nomor ayat, karena ia bukan bagian dari surah tersebut. Maka al-Fatihah seperti banyak surah lainnya, basmalah bukan bagian darinya.”

Jika kamu berkata, “Jika ia bukan bagian darinya, lalu bagaimana perhitungan ayat-ayat al-Fatihah?”

Jawabannya: Dibagi sebagaimana berikut:

(الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) ayat pertama,

(الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) ayat kedua,

(مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) ayat ketiga,

(إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) ayat keempat,

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) ayat kelima,

(صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ) ayat keenam,

(غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) ayat ketujuh.

Itulah tujuh ayat. Apabila ayat terakhir dibagi menjadi dua bagian, maka akan tercapai keserasian panjang ayat-ayat tersebut. Sebab, jika kita menjadikan ﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ sebagai satu ayat, maka ia akan menjadi panjang. Ia dibagi agar tercapai keserasian.

Oleh karena itu, seyogianya imam apabila membaca ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾ ia berhenti, kemudian membaca ﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ﴾ lalu berhenti, kemudian membaca ﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ karena ia berhenti pada setiap ayat, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.

Baca juga: DISUNAHKAN MEMBACA TA’AWWUDZ DAN BASMALLAH SEBELUM MEMBACA AL-QUR’AN

Baca juga: MEMBACA AL-QUR’AN TANPA MENGGERAKKAN BIBIR

Baca juga: MENANGIS SAAT MEMBACA DAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN

Baca juga: AL-QUR’AN DAN KEUTAMAANNYA

Baca juga: DIANJURKAN MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN SUARA KERAS JIKA TIDAK MENIMBULKAN KEMUDARATAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram Fikih