BARANG SIAPA MENINGGALKAN SESUATU KARENA ALLAH, ALLAH AKAN MENGGANTINYA DENGAN YANG LEBIH BAIK

BARANG SIAPA MENINGGALKAN SESUATU KARENA ALLAH, ALLAH AKAN MENGGANTINYA DENGAN YANG LEBIH BAIK

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du.

Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ

Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Hadis ini dhaif, tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafaz ini, meskipun hadis tersebut terkenal di kalangan banyak orang. Akan tetapi, hadis tersebut telah sahih dengan lafaz lain dari hadis Abu Qatadah dan Abu ad-Dahma’. Keduanya berkata: Kami mendatangi seorang laki-laki dari kalangan penduduk pedalaman, lalu kami berkata, “Apakah engkau pernah mendengar sesuatu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Ia berkata, “Aku mendengar beliau bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik bagimu darinya.’ (HR Ahmad 5/363. al-Haitsami berkata dalam Majma’ az-Zawa’id 10/296, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan beberapa sanad dan para perawinya adalah para perawi ash-Shahih.” al-Albani rahimahullah berkata dalam as-Silsilah adh-Dha’ifah 1/62, “Sanadnya sahih sesuai syarat Muslim.”)

Hadis yang agung ini mencakup tiga kalimat:

Pertama, sabda beliau, “Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu.”

Ini adalah lafaz umum yang mencakup segala sesuatu yang ditinggalkan seseorang demi mengharapkan wajah Allah Ta’ala.

Kedua, sabda beliau, “Karena Allah ‘Azza wa Jalla.”

Dalam kalimat ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa meninggalkan sesuatu harus dilakukan demi mencari keridhaan Allah, bukan karena takut kepada penguasa, malu kepada seseorang, tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkannya, atau sebab-sebab lainnya.

Ketiga, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Kalimat ini menjelaskan balasan yang diperoleh orang yang memenuhi syarat tersebut, yaitu Allah mengganti bagi orang yang meninggalkan sesuatu itu dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih utama daripada apa yang ditinggalkannya.

Penggantian dari Allah dapat berupa sesuatu yang sejenis dengan yang ditinggalkan ataupun sesuatu yang tidak sejenis dengannya. Di antaranya adalah ketenteraman bersama Allah ‘Azza wa Jalla, kecintaan kepada-Nya, ketenangan hati, dan kelapangan dada. Hal itu dapat diperoleh di dunia dan akhirat, sebagaimana Allah mengajarkan orang beriman untuk berdoa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً

Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” (QS al-Baqarah: 201)

Qatadah as-Sadusi berkata, “Tidaklah seseorang mampu melakukan sesuatu yang haram, kemudian ia meninggalkannya semata-mata karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan Allah akan memberikan kepadanya pengganti di dunia yang segera ini sebelum akhirat.”

Dalam hadis Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadis yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya, beliau bersabda,

يَقُولُ اللَّهُ: إِذَا أَرَادَ عَبْدِي أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَا، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا بِمِثْلِهَا، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِي فَاكْتُبُوهَا لَهُ حَسَنَةً، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوا لَهُ حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةٍ.

Allah berfirman, ‘Apabila hamba-Ku hendak melakukan suatu keburukan, janganlah kalian mencatatnya atas dirinya hingga ia melakukannya. Jika ia melakukannya, catatlah untuknya satu keburukan yang semisal dengannya. Jika ia meninggalkannya karena Aku, catatlah untuknya satu kebaikan. Apabila ia hendak melakukan suatu kebaikan lalu tidak melakukannya, catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukannya, catatlah untuknya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 7501)

Contoh-contoh yang menunjukkan betapa besarnya penggantian Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya sangatlah banyak. Di antaranya:

Apa yang dikisahkan Allah Ta’ala tentang Nabi Allah Sulaiman ‘alaihis salam dalam surah Shad. Ringkasnya, beliau sangat mencintai jihad di jalan Allah. Oleh karena itu, beliau memiliki banyak kuda dan sangat mencintainya. Pada suatu hari beliau tersibukkan dengannya hingga terlewat shalat Ashar. Matahari telah terbenam sebelum beliau shalat. Maka beliau memerintahkan agar kuda-kuda itu dikembalikan kepadanya, lalu beliau menebas leher dan kaki-kakinya dengan pedang, karena lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal tersebut diperbolehkan dalam syariat mereka. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripada kuda-kuda tersebut, yaitu angin yang berembus menurut perintahnya dengan lembut ke mana pun yang dikehendakinya, yang dalam sehari menempuh jarak yang ditempuh selainnya dalam dua bulan.

Berikut ayat-ayatnya, maka renungkanlah. Allah Ta’ala berfirman:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ ۝ إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ ۝ فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ ۝ رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالْأَعْنَاقِ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ ۝ قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ۝ فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ

Dan kepada Dawud Kami karuniakan Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat. Ketika pada sore hari dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang ketika berdiri dan cepat ketika berlari, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kecintaan kepada barang yang baik karena mengingat Rabb-ku,’ hingga kuda-kuda itu hilang dari pandangan. ‘Bawalah semuanya kembali kepadaku.’ Lalu ia mulai mengusap kaki dan lehernya. Sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami letakkan sebuah tubuh di atas singgasananya, kemudian ia kembali. Ia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.’ Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya.” (QS Shad: 30–36)

Contoh kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Ketika mereka berhijrah, mereka meninggalkan negeri dan harta mereka karena Allah Ta’ala. Maka Allah mengganti bagi mereka dengan menjadikan mereka para pemimpin dunia dan penguasa bumi, membukakan bagi mereka perbendaharaan Kisra dan Kaisar, serta memberikan kekuasaan kepada mereka atas para raja dan penguasa yang zalim. Ini di samping kenikmatan akhirat yang diharapkan bagi mereka. Mereka pun bersyukur dan tidak kufur, bersikap rendah hati dan tidak menyombongkan diri, serta memutuskan perkara di antara manusia dengan adil.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kalian yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia sungguh-sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka dan sungguh-sungguh akan mengganti keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman. Mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Barang siapa kufur setelah itu, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (QS an-Nur: 55)

Renungkanlah kisah salah seorang dari kaum muhajirin tersebut, yaitu Shuhaib ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu. Dari Ikrimah, ia berkata: Ketika Shuhaib keluar berhijrah, penduduk Makkah mengejarnya. Ia mengeluarkan isi tempat anak panahnya dan mengeluarkan empat puluh anak panah darinya. Ia berkata, “Kalian tidak akan dapat mendekatiku hingga aku menancapkan satu anak panah pada setiap orang di antara kalian. Setelah itu aku akan menggunakan pedang. Kalian mengetahui bahwa aku adalah seorang laki-laki. Aku telah meninggalkan di Makkah dua budak perempuan penyanyi, maka keduanya untuk kalian….”

Kemudian turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ

Di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridhaan Allah.” (QS al-Baqarah: 207)

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau bersabda,

أَبَا يَحْيَىٰ، رَبِحَ الْبَيْعُ

Wahai Abu Yahya, perdaganganmu telah beruntung.” Kemudian beliau membacakan ayat tersebut kepadanya. (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/450 no. 1298. al-Hakim berkata, “Sahih sesuai syarat Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Syekh Muqbil al-Wadi’i menilainya hasan dalam ash-Shahih al-Musnad min Asbab an-Nuzul hlm. 33)

Contoh ketiga: Nabi Allah Yusuf ‘alaihis salam. Berbagai godaan ditawarkan kepadanya dalam bentuknya yang paling tinggi, tetapi ia menjaga dirinya sehingga Allah menjaganya. Ia meninggalkan hal tersebut karena Allah ‘Azza wa Jalla, karena Allah menjadikannya termasuk orang-orang yang ikhlas. Ia disakiti karena hal itu. Maka ia memilih penjara daripada apa yang mereka serukan kepadanya. Ia bersabar dan memilih apa yang ada di sisi Allah. Allah Ta’ala pun menggantinya dengan sebaik-baik pengganti. Allah memberinya kekuasaan atas perbendaharaan negeri dan mengajarkan kepadanya takwil mimpi. Maka sebaik-baik Pemberi, sebaik-baik yang diberikan, dan sebaik-baik pemberian.

Allah Ta’ala berfirman:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ ۝ فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Yusuf berkata, ‘Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Rabb-nya memperkenankan doanya dan menghindarkan tipu daya mereka darinya. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” (QS Yusuf: 33–34)

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Demikianlah Kami memberikan kedudukan kepada Yusuf di negeri itu. Ia dapat tinggal di mana saja yang dikehendakinya. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS Yusuf: 56)

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad serta kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA ALLAH

Baca juga: JAGALAH ALLAH, NISCAYA ALLAH MENJAGAMU

Baca juga: KEWAJIBAN TUNDUK KEPADA HUKUM ALLAH TA’ALA

Baca juga: SYAHADAT, KEPEMIMPINAN, DAN KETEGASAN ISLAM: PELAJARAN DARI KHAIBAR

Baca juga: LARANGAN DIJAUHI SEPENUHNYA, PERINTAH DILAKSANAKAN SESUAI KEMAMPUAN

(Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi)

Kelembutan Hati