PERMOHONAN KEBERKAHAN DAN MAKNA “HAMIDUN MAJID”

PERMOHONAN KEBERKAHAN DAN MAKNA “HAMIDUN MAJID”

Ucapan beliau,

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.”

Keberkahan (barakah) adalah banyaknya kebaikan, hadirnya kebaikan itu, bertambahnya, terus berlangsungnya, dan tetap terpeliharanya, baik berupa ilmu, harta, maupun anak. Hal ini karena kata barakah berasal dari kata birkah, yaitu tempat yang luas untuk berkumpulnya air. Tempat itu dinamakan demikian karena air berkumpul, menetap, dan tetap berada di dalamnya, serta tempat tersebut berukuran besar. Dengan demikian, keberkahan adalah banyaknya kebaikan, disertai dengan tetapnya dan terus berlangsungnya kebaikan tersebut.

Ucapan beliau,

عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

“…kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad.”

Makna kalimat ini telah dijelaskan sebelumnya, yaitu bahwa yang dimaksud dengan Alu Muhammad (keluarga Muhammad) adalah para pengikut beliau di atas agamanya. Kecuali apabila diucapkan:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَأَصْحَابِهِ، وَأَتْبَاعِهِ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, kepada keluarga Muhammad, para sahabat beliau, dan para pengikut beliau.”

Dalam keadaan seperti ini, maka yang dimaksud dengan keluarga beliau adalah orang-orang mukmin dari kalangan kerabat beliau ‘alaihish shalatu wassalam.

Ucapan beliau,

فِي الْعَالَمِينَ

“…di seluruh alam.”

Maksudnya adalah bahwa keberkahan keluarga Ibrahim telah dikenal dan tersebar di seluruh alam. Allah telah menjadikan kenabian dan kitab berada pada keturunannya. Ini merupakan salah satu bentuk keberkahan yang paling agung, yaitu ketika pada keturunan seseorang terdapat kebaikan, petunjuk, dan perbaikan bagi seluruh alam.

Telah diketahui bahwa kenabian telah berakhir setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau adalah penutup para nabi. Akan tetapi, keberkahan tetap ada pada orang-orang yang mewarisi beliau dalam ilmu. Hal ini karena para ulama adalah pewaris para nabi.

Para ulama yang mengamalkan ilmunya dan mengajak manusia kepada Allah di atas ilmu yang nyata, merekalah pewaris para nabi yang sesungguhnya. Mereka adalah orang-orang yang Allah Ta’ala jadikan pada ilmu dan dakwah mereka kebaikan serta keberkahan.

Ucapan beliau,

إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji lagi Mahamulia.”

Kalimat ini merupakan alasan (ta’lil) bagi permohonan yang telah disebutkan sebelumnya, dan sekaligus mengandung makna tawasul. Maksudnya, kami memohon kepada-Mu dengan apa yang dikandung oleh kedua nama ini, agar Engkau melimpahkan shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya, serta melimpahkan keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarganya.

Kata (حَمِيدٌ) mengikuti wazan fa’il, yang dapat bermakna fa’il (pelaku) dan juga maf’ul (yang dikenai perbuatan).

Maknanya sebagai fa’il adalah bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang memuji. Dia memuji siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang memang layak mendapat pujian. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sanjungan kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang memang berhak mendapat sanjungan, sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang banyak bersyukur.” (QS al-Isra’: 3)

Demikian pula firman-Nya:

وَإِنَّهُ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ

Sesungguhnya dia di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik.” (QS Shad: 47)

Demikian pula firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS Fathir: 28)

Demikian pula firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan…” (QS Fathir: 29)

hingga akhir ayat-ayat yang Allah Ta’ala sebutkan mengenai sifat-sifat mereka, kemudian Allah memberikan pujian kepada mereka.

Sebagaimana (حَمِيدٌ) juga bermakna “Yang Mahaterpuji” (mahmud), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang terpuji dalam setiap keadaan.

Dahulu, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh sesuatu yang menyenangkan, beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.”

Apabila keadaan tidak demikian, beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3803)

Ungkapan inilah yang benar untuk diucapkan apabila engkau tertimpa sesuatu yang tidak engkau sukai, yaitu:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”

Adapun ungkapan yang diucapkan oleh sebagian orang,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَا يُحْمَدُ عَلَى مَكْرُوهٍ سِوَاهُ

“Segala puji bagi Allah yang tidak dipuji atas sesuatu yang dibenci selain Dia,” maka ungkapan ini menyelisihi apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, ucapanmu, “…yang tidak dipuji atas sesuatu yang dibenci selain Dia,” sangat jelas mengandung kesan tidak menyukai apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan. Bahkan, di dalamnya terdapat isyarat yang menyerupai celaan atau kritikan terhadap takdir Allah ‘Azza wa Jalla.

Karena itu, ucapkanlah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan,” sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun ucapan beliau,

مَجِيدٌ

Maha Mulia.”

Maknanya adalah Dzat Yang memiliki kemuliaan, yaitu keagungan dan kekuasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kemuliaan, keagungan, dan kekuasaan yang sempurna.

Tidak seorang pun dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Bahkan syafaat yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi orang yang memberi syafaat maupun bagi orang yang diberi syafaat, tidak seorang pun mampu memberikan syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada siapa pun kecuali setelah memperoleh izin dari Allah.

Hal itu menunjukkan sempurnanya kekuasaan dan kemuliaan-Nya.

Baca juga: CARA MENDAPATKAN KEBERKAHAN

Baca juga: ADA KEBERKAHAN PADA MAKAN SAHUR

Baca juga: KEBERKAHAN DALAM KEHIDUPAN DAN CARA MERAIHNYA

Baca juga: RUKUN ISLAM – MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT

Baca juga: BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Bulughul Maram