APABILA ALLAH MENETAPKAN SUATU PERKARA DI LANGIT

APABILA ALLAH MENETAPKAN SUATU PERKARA DI LANGIT

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan suara itu seperti rantai yang digesekkan di atas batu yang licin. Apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab kepada yang bertanya, ‘Kebenaran, dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4800)

Ini adalah hadis yang agung di antara hadis-hadis tentang keimanan yang menjelaskan keagungan dan kebesaran Allah. Hadis ini menerangkan keadaan para malaikat-Nya yang mulia ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyampaikan wahyu. Meskipun penciptaan mereka sangat besar, mereka jatuh dalam keadaan sangat takut ketika itu karena tunduk kepada firman-Nya.

Sabda beliau, “Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya.” Maksudnya, apabila Allah Jalla wa ‘Ala berfirman mengenai perkara yang Dia kehendaki, baik berupa ketetapan kauni maupun ketetapan syar’i, maka “para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya.” Maksudnya, mereka tunduk, merendahkan diri, dan menghinakan diri karena takut kepada Allah dan merasa gentar kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS an-Nahl: 50)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini juga merupakan kedudukan yang tinggi dalam menunjukkan keagungan, yaitu bahwa apabila Allah Ta’ala berfirman dengan wahyu, lalu para penghuni langit mendengar firman-Nya, mereka gemetar karena kewibawaan-Nya hingga mereka mengalami keadaan seperti pingsan.” Hal ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Masruq, dan selain keduanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Sehingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kebenaran.’ Dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS Saba’: 23)

Maksudnya, hingga apabila rasa takut itu telah hilang dan lenyap dari hati para malaikat, dan mereka telah sadar dari keadaan pingsan dan tidak sadarkan diri yang menimpa mereka, mereka bertanya kepada Jibril, “Apakah yang telah Allah firmankan?” Maka Jibril menjawab kepada mereka, “Allah telah berfirman demikian dan demikian,” yakni berupa kebenaran.

Perlu diketahui bahwa ayat ini datang dalam konteks membatalkan kesyirikan dan menegakkan berbagai bukti tentang wajibnya mentauhidkan Allah serta mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan dalam memahami ayat ini adalah memahami konteks yang di dalamnya ayat tersebut disebutkan.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman sebelumnya:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ ۝ وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kalian anggap sebagai sembahan selain Allah. Mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan tidak pula di bumi. Mereka tidak mempunyai bagian sedikit pun dalam penciptaan keduanya dan tidak seorang pun di antara mereka menjadi pembantu bagi-Nya. Syafaat di sisi-Nya tidak berguna kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan. Sehingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Kebenaran.” Dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.’” (QS Saba’: 22–23)

Firman-Nya: “Sehingga apabila rasa takut telah dihilangkan dari hati mereka.” Di dalamnya terdapat dalil bahwa para malaikat memiliki hati. Hati mereka disifati dapat ditimpa rasa takut. Adapun al-faza’ adalah rasa takut yang sangat kuat.

Apabila rasa takut yang menimpa hati mereka akibat Allah berfirman mengenai suatu perkara telah hilang dan mereka telah sadar dari keadaan pingsan yang menimpa mereka, maka yang pertama kali sadar adalah Jibril ‘alaihissalam. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan kepadanya wahyu yang Dia kehendaki untuk disampaikan. Setelah itu, Jibril ‘alaihissalam turun membawa wahyu tersebut. Setiap kali Jibril melewati para malaikat, mereka bertanya kepadanya, “Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?”

Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dalam as-Sunnah dari an-Nawwas bin Sam’an al-Kilabi, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يُوحِيَ بِأَمْرٍ؛ تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ، فَإِذَا تَكَلَّمَ أَخَذَتِ السَّمَاوَاتِ مِنْهُ رَجْفَةٌ مِنْ خَوْفِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا سَمِعَ ذَلِكَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ صَعِقُوا وَخَرُّوا سُجَّدًا؛ فَيَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَيُكَلِّمُ اللَّهُ مِنْ وَحْيِهِ بِمَا أَرَادَ، فَيَنْتَهِي بِهِ جِبْرِيلُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ كُلَّمَا مَرَّ بِسَمَاءٍ قَالَ أَهْلُهَا: مَاذَا قَالَ رَبُّنَا يَا جِبْرِيلُ؟ فَيَقُولُ جِبْرِيلُ: قَالَ الْحَقَّ، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ، قَالَ: فَيَقُولُونَ كُلُّهُمْ مِثْلَ مَا قَالَ جِبْرِيلُ، حَتَّى يَنْتَهِيَ بِهِ جِبْرِيلُ حَيْثُ أَمَرَهُ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.

Apabila Allah hendak mewahyukan suatu perkara, Dia berfirman dengan wahyu. Apabila Dia berfirman, langit-langit bergetar karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila para penghuni langit mendengar hal itu, mereka pingsan dan tersungkur dalam keadaan bersujud. Maka yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril ‘alaihissalam. Kemudian Allah menyampaikan kepadanya wahyu yang Dia kehendaki. Lalu Jibril membawa wahyu itu melewati para malaikat. Setiap kali ia melewati suatu langit, para penghuninya bertanya, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kami, wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Dia telah berfirman dengan kebenaran, dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.’ Kemudian mereka semua mengucapkan sebagaimana yang diucapkan Jibril, hingga Jibril membawa wahyu tersebut ke tempat yang diperintahkan Allah kepadanya, baik di langit maupun di bumi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah, no. 515)

Beriman kepada para malaikat merupakan salah satu pokok keimanan yang agung. Di beberapa tempat dalam al-Qur’an, keimanan kepada para malaikat disebutkan setelah keimanan kepada Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (QS al-Baqarah: 285)

Firman-Nya:

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

Akan tetapi, kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, para malaikat, kitab, dan para nabi.” (QS al-Baqarah: 177)

Mereka adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah ‘Azza wa Jalla dan tentara di antara tentara-tentara-Nya. Mereka tidak mendurhakai Allah Tabaraka wa Ta’ala terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan. Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka selain Dia Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan mereka.

Wajib beriman kepada mereka secara umum, yaitu beriman kepada nama-nama, tugas-tugas, sifat-sifat, dan jumlah mereka yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah; secara global terhadap apa yang disebutkan secara global dan secara terperinci terhadap apa yang disebutkan secara terperinci. Bahkan, beriman kepada para malaikat merupakan salah satu rukun iman dan salah satu pokok keimanan yang agung.

Sebagai contoh, mengenai nama-nama malaikat, dalam nash hanya disebutkan nama sebagian dari mereka, seperti Jibril, Mikail, Israfil, Malik, Munkar, dan Nakir. Maka nama-nama yang disebutkan secara terperinci dalam al-Qur’an atau as-Sunnah tersebut kita imani secara terperinci sebagaimana disebutkan. Adapun nama-nama mereka yang tidak disebutkan secara terperinci, kita mengimaninya secara global. Kita beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki para malaikat dan mereka memiliki nama-nama yang Allah lebih mengetahui tentangnya. Demikian pula, kita beriman kepada nama-nama yang mencakup mereka secara keseluruhan, seperti (الْمَلَائِكَةُ) “para malaikat”. Nama ini disebutkan dalam al-Qur’an pada enam puluh tempat. Demikian pula (الْكِرَامُ الْبَرَرَةُ) “yang mulia lagi berbakti”, (رُسُلُ اللَّهِ) “utusan-utusan Allah”, dan (السَّفَرَةُ) “para utusan/pencatat”. Maka segala sesuatu yang disebutkan secara terperinci mengenai para malaikat berkaitan dengan nama-nama mereka, kita mengimaninya.

Adapun mengenai sifat-sifat para malaikat, maka kita mengimani secara terperinci apa yang disebutkan secara terperinci oleh nash-nash tentang sifat-sifat mereka. Adapun rincian mengenai sifat mereka yang tidak disebutkan, maka kita mengimaninya secara global dan tidak membicarakan rincian yang tidak memiliki dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Di antara sifat para malaikat yang disebutkan secara terperinci adalah apa yang terdapat dalam hadis sahih dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ؛ إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ

Telah diizinkan kepadaku untuk menceritakan tentang salah satu malaikat di antara malaikat-malaikat Allah yang memikul ‘Arsy. Sesungguhnya jarak antara daun telinganya hingga bahunya adalah perjalanan tujuh ratus tahun.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4727. Dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 4727)

Hadis ini menetapkan adanya bahu, telinga, dan daun telinga pada malaikat, serta menunjukkan betapa besarnya penciptaan mereka.

Di antara sifat mereka pula adalah bahwa mereka diciptakan dari cahaya, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ

Para malaikat diciptakan dari cahaya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2996)

Di antara sifat mereka adalah bahwa mereka memiliki sayap. Allah Ta’ala berfirman:

جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ

Yang menjadikan para malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki.” (QS Fathir: 1)

‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Ia memiliki enam ratus sayap. Setiap sayapnya memenuhi ufuk. Dari sayapnya berjatuhan berbagai sesuatu yang menakjubkan, mutiara, dan yaqut yang hanya Allah mengetahui hakikat dan banyaknya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3748 dan 3915)

Maka mereka adalah makhluk yang agung. Mereka memiliki sifat-sifat yang agung yang menunjukkan keagungan makhluk-makhluk tersebut, kekuatan mereka, dan besarnya tubuh mereka.

Adapun mengenai jumlah para malaikat secara keseluruhan, kita beriman bahwa tidak ada yang dapat menghitung jumlah mereka selain Dia yang telah menciptakan mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

Tidak ada yang mengetahui bala tentara Rabb-mu kecuali Dia sendiri.” (QS al-Muddatstsir: 31)

Di antara hal yang menunjukkan sangat banyaknya jumlah malaikat adalah kisah Isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

ثُمَّ رُفِعَ لِي الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ! مَا هَذَا؟ قَالَ: هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا مِنْهُ لَمْ يَعُودُوا فِيهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

Kemudian diperlihatkan kepadaku Baitul Ma’mur. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, apakah ini?’ Ia menjawab, ‘Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat memasukinya. Apabila mereka telah keluar darinya, mereka tidak akan kembali lagi ke dalamnya. Itulah giliran terakhir mereka.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 3207 dan Muslim no. 164. Lafaz ini milik Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ؛ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ

Langit telah mengeluarkan suara berderit dan memang pantas baginya untuk berderit. Tidak ada tempat selebar empat jari di dalamnya melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya dalam keadaan bersujud kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 4190 dan at-Tirmidzi no. 2312. Dinilai hasan oleh al-Albani)

Adapun secara terperinci, kita mengimani jumlah-jumlah yang berkaitan dengan para malaikat sebagaimana yang disebutkan secara terperinci dalam dalil. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (QS al-Muddatstsir: 30)

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا.

Pada hari itu Jahanam didatangkan. Ia memiliki tujuh puluh ribu tali kekang. Pada setiap tali kekang terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2842)

Adapun mengenai tugas dan pekerjaan para malaikat secara umum, mereka adalah tentara Allah ‘Azza wa Jalla dan hamba-hamba yang dimuliakan. Masing-masing dari mereka melaksanakan dengan sempurna apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Tidak seorang pun di antara mereka mendurhakai Allah dalam perintah-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Adapun secara terperinci, kita mengimani tugas-tugas para malaikat yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Di antara para malaikat ada yang ditugaskan menyampaikan wahyu. Allah Ta’ala berfirman:

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.” (QS asy-Syu’ara’: 193–194)

Di antara mereka ada yang ditugaskan mencabut nyawa:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ

Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi tugas untuk mencabut nyawa kalian akan mematikan kalian.’” (QS as-Sajdah: 11)

Di antara mereka ada yang ditugaskan menjaga seorang hamba:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

Baginya ada para malaikat yang silih berganti, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS ar-Ra’d: 11)

Di antara mereka ada yang ditugaskan mencatat:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ ۝ كِرَامًا كَاتِبِينَ

Sesungguhnya bagi kalian ada para malaikat yang mengawasi, yang mulia dan mencatat.” (QS al-Infithar: 10–11)

Allah Ta’ala juga berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS Qaf: 18)

Di antara mereka ada pula yang ditugaskan mengurus hujan, dan berbagai tugas malaikat lainnya yang rinciannya disebutkan dalam Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua itu kita imani.

Termasuk pula dalam hal tersebut adalah apa yang disebutkan dalam hadis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, para malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2699)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا؛ سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ.

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu.” (Asal hadis ini terdapat dalam riwayat Muslim no. 2699. Dengan lafaz ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 223, Abu Dawud no. 3641, dan at-Tirmidzi no. 2682. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Maka seorang penuntut ilmu berjalan menuju majelis-majelis ilmu dan duduk di dalamnya. Ia tidak melihat para malaikat ketika mereka meletakkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu, dan ia juga tidak melihat mereka ketika mengelilingi majelis ilmu dengan sayap-sayap mereka. Akan tetapi, ia mengimani hal tersebut dan meyakininya dengan penuh keyakinan berdasarkan berita dari seorang yang benar lagi dibenarkan, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keimanan ini memberikan pengaruh kepada seorang hamba dan membekas dalam jiwa. Ketika menuntut ilmu, seorang hamba merasakan kemuliaan yang agung ini, yaitu penghormatan terhadap kegiatan menuntut ilmu dan keridhaan terhadap apa yang dilakukannya.

Kesimpulannya, beriman kepada para malaikat merupakan salah satu pokok keimanan yang agung. Bahkan, keimanan kepada Allah, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya tidak akan sempurna kecuali dengan beriman kepada mereka.

Allah telah menyifati para malaikat dengan sifat-sifat yang agung. Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dalam beribadah kepada Allah dan keinginan yang sangat kuat untuk melaksanakannya. Mereka bertasbih malam dan siang tanpa henti. Mereka tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya dan memandang ibadah tersebut sebagai salah satu nikmat-Nya yang paling agung kepada mereka. Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ ۝ لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ ۝ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

Sebenarnya mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dalam perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak memberikan syafaat kecuali kepada orang yang diridhai-Nya, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS al-Anbiya’: 26–28)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Baca juga: PERBEDAAN ISLAM DAN IMAN

Baca juga: PEMIMPIN TIDAK BOLEH PILIH KASIH

Baca juga: KEMATIAN – DUA MALAIKAT PENANYA DI ALAM KUBUR

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH

Baca juga: KISAH ORANG YANG BERPENYAKIT KUSTA, ORANG BOTAK, DAN ORANG BUTA

(Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Akidah