1️⃣1️⃣ Berpindah dari tingkatan yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi.
Islam, jika dibandingkan dengan iman, berada pada tingkatan yang lebih rendah, karena setiap orang dapat menampakkan keislaman secara lahiriah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا
“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman,’ tetapi katakanlah, ‘Kami telah berserah diri (Islam).’” (QS al-Hujurat: 14)
Adapun iman —ya Allah, wujudkanlah iman kami— bukan perkara yang mudah, karena tempatnya di dalam hati, dan bersifat dengannya secara nyata dan konsisten itu sulit.
1️⃣2️⃣ Bahwa Islam berbeda dengan iman. Hal ini karena Jibril ‘alaihissalam berkata, “Beritahukan kepadaku tentang Islam,” lalu ia berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang iman.” Ini menunjukkan adanya perbedaan antara keduanya.
Masalah ini dijelaskan oleh perkataan para salaf.
Jika iman disebutkan sendiri, maka Islam termasuk di dalamnya. Jika Islam disebutkan sendiri, maka iman termasuk di dalamnya. Maka firman Allah Ta’ala:
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS al-Ma’idah: 3) mencakup iman.
Dan firman-Nya:
فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ
“Maka katakanlah, ‘Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’” (QS Ali ‘Imran: 20) juga mencakup iman.
Jika keduanya (Islam dan iman) disebutkan secara bersamaan, maka keduanya dibedakan. Islam ditafsirkan dengan amal-amal lahiriah, berupa ucapan lisan dan perbuatan anggota badan, sedangkan iman ditafsirkan dengan amal-amal batiniah, berupa keyakinan hati dan amalan-amalannya. Contohnya adalah hadis yang sedang kita bahas ini.
Pembedaan ini juga ditunjukkan oleh firman Allah ‘Azza wa Jalla:
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ
“Orang-orang Arab Badui berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kalian belum beriman,’ tetapi katakanlah, ‘Kami telah berserah diri (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hati kalian.’” (QS al-Hujurat: 14)
Jika ada yang bertanya, “Dalam kaidah kita ‘apabila keduanya disebutkan bersama maka keduanya berbeda, terdapat satu problem, yaitu firman Allah Ta’ala tentang kaum Luth:
فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
‘Maka Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang ada di negeri itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu selain satu rumah dari orang-orang muslim.’ (QS adz-Dzariyat: 35–36)
Di sini Islam digunakan untuk menunjukkan iman. Bagaimana penjelasannya?”
Jawabannya: Pemahaman tersebut keliru. Firman Allah Ta’ala: (فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ) secara khusus menunjuk kepada orang-orang yang beriman. Sedangkan firman-Nya: (فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ) bersifat umum, mencakup semua orang yang berada di rumah Luth.
Di dalam rumah Luth terdapat orang yang bukan mukmin, yaitu istri beliau, yang berkhianat kepadanya. Ia menampakkan seolah-olah bersama beliau, padahal tidak demikian. Karena itu, rumah tersebut disebut “rumah kaum muslimin”, sebab istri itu tidak menampakkan permusuhan dan perpisahan secara lahiriah.
Adapun yang diselamatkan adalah orang-orang yang beriman saja, secara khusus. Oleh karena itu Allah berfirman: ﴿فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾ yaitu selain perempuan tersebut. Sementara rumah itu tetap disebut rumah kaum muslimin.
Dari ayat ini diambil satu faedah, yaitu bahwa apabila suatu negeri dikuasai dan dikendalikan oleh kaum muslimin, maka negeri tersebut adalah negeri Islam, meskipun di dalamnya terdapat orang-orang Nasrani, Yahudi, musyrik, atau komunis. Hal itu karena Allah Ta’ala menjadikan rumah Luth sebagai rumah Islam, padahal istrinya adalah seorang kafir.
Inilah perincian dalam masalah iman dan Islam. Dengan demikian, perkara ini menjadi sebagaimana ungkapan sebagian ulama, “Jika keduanya disebutkan bersama, maka keduanya berbeda. Jika disebutkan terpisah, maka keduanya saling mencakup.”
Hal ini memiliki beberapa padanan, seperti miskin dan fakir, serta kebajikan (al-birr) dan ketakwaan (at-taqwa). Istilah-istilah ini jika disebutkan bersama, maka maknanya berbeda. Jika disebutkan terpisah, maka maknanya saling mencakup.
1️⃣3️⃣ Bahwa rukun iman ada enam, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Rukun-rukun ini menumbuhkan pada diri seseorang kekuatan untuk bersungguh-sungguh dalam ketaatan, serta rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
1️⃣4️⃣ Bahwa siapa saja mengingkari salah satu dari enam rukun iman, maka ia kafir, karena ia mendustakan apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA ALLAH
Baca juga: BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA
Baca juga: LEBIH MAHAL DARI UNTA MERAH: HARGA SEBUAH PETUNJUK
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

