Rukun Iman
Ia berkata, “Beritahukan aku tentang iman.” Yang berkata demikian adalah Jibril. Maksudnya, “Wahai Muhammad, beritahukan aku tentang iman.”
Iman menurut bahasa adalah pengakuan dan pembenaran yang mengharuskan adanya penerimaan dan ketundukan. Makna ini sesuai dan sejalan dengan pengertian iman menurut syariat.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa iman secara bahasa bermakna pembenaran, maka pendapat ini perlu ditinjau. Sebab, dikatakan, “Aku beriman kepada sesuatu,” dan “aku membenarkan si fulan,” namun tidak dikatakan “aku mengimani si fulan,” melainkan yang benar adalah “aku membenarkannya.”
Kata “membenarkan” (shaddaqa) adalah kata kerja transitif yang membutuhkan objek, sedangkan kata “beriman” (amana) adalah kata kerja intransitif yang tidak langsung memerlukan objek. Hal ini telah dijelaskan secara luas oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab beliau Kitab al-Iman.
Yang kami maksud dengan iman yang mengharuskan adanya penerimaan dan ketundukan adalah sebagai penegasan agar dikecualikan kondisi seseorang yang sekadar mengakui tetapi tidak menerima. Contohnya adalah Abu Thalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengakui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengakui bahwa beliau benar, namun ia tidak menerima apa yang dibawa oleh beliau —kita memohon keselamatan kepada Allah— dan ia tidak tunduk serta tidak mengikuti. Pengakuan semata tidak bermanfaat baginya. Iman harus disertai dengan penerimaan dan ketundukan.
Oleh karena itu, sangat keliru orang yang mengatakan bahwa Ahlul Kitab adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Bagaimana mungkin demikian, sementara mereka tidak menerima syariat Allah dan tidak tunduk kepadanya?
Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani, ketika Rasulullah diutus, telah kafir terhadap beliau. Mereka bukan orang-orang muslim. Agama mereka adalah agama yang batil. Barang siapa meyakini bahwa agama mereka benar dan setara dengan agama Islam, maka ia kafir dan keluar dari Islam. Sebab, iman adalah penerimaan dan ketundukan.
Beliau bersabda, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik maupun buruknya.”
Ini adalah enam perkara.
Beriman kepada Allah
Adapun beriman kepada Allah mencakup empat perkara.
Yang pertama adalah beriman kepada keberadaan-Nya, Subhanahua wa Ta’ala.
Barang siapa mengingkari Allah Ta’ala, maka ia bukan orang beriman. Namun demikian, tidak mungkin ada seorang pun yang benar-benar mengingkari keberadaan Allah Ta’ala di dalam lubuk hatinya. Bahkan Fir’aun yang berkata kepada Musa, “Siapakah Rabb seluruh alam?”, sejatinya mengakui keberadaan Allah. Musa berkata kepadanya:
لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ
“Sungguh engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan bukti-bukti ini melainkan Rabb langit dan bumi.” (QS al-Isra’: 102)
Akan tetapi Fir’aun mengingkari dengan sombong, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakininya, karena kezaliman dan kesombongan.” (QS an-Naml: 14)
Yang kedua adalah beriman kepada keesaan Allah dalam rububiyah, yaitu meyakini bahwa Dia adalah satu-satunya Rabb, dan bahwa Dia Mahaesa dalam rububiyah. Rabb adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur.
Maka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Allah ‘Azza wa Jalla. Siapakah yang menciptakan manusia? Allah ‘Azza wa Jalla. Siapakah yang menguasai serta mengatur langit dan bumi? Allah ‘Azza wa Jalla.
Yang ketiga adalah beriman kepada keesaan Allah dalam uluhiyah, yaitu meyakini bahwa Dialah satu-satunya yang tidak disembah (dengan benar) kecuali Dia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Barang siapa mengklaim bahwa bersama Allah ada sembahan lain yang boleh disembah, maka sesungguhnya ia tidak beriman kepada Allah. Oleh karena itu, wajib beriman kepada keesaan-Nya dalam uluhiyah. Jika tidak, maka hakikatnya ia belum beriman kepada-Nya.
Yang keempat adalah beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam Kitab-Nya atau dalam sunah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nama-nama dan sifat-sifat dengan cara yang sesuai bagi-Nya, tanpa menyimpangkan makna (tahrif), tanpa meniadakan (ta’thil), tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya (takyif), dan tanpa menyerupakan (tamtsil). Barang siapa menyimpangkan ayat-ayat sifat atau hadis-hadis sifat, maka sesungguhnya ia belum merealisasikan iman kepada Allah.
Sebagian kaum berkata bahwa firman Allah
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy.” (QS Thaha: 5) bermakna menguasai. Padahal maknanya secara syariat dan bahasa adalah “tinggi dan berada di atas ‘Arsy”. Namun ketinggian tersebut adalah ketinggian yang khusus, bukan ketinggian umum atas seluruh makhluk. Inilah makna yang ditafsirkan (oleh Ahlus Sunnah).
Menafsirkan kata “istawa” dengan makna “istawla” (menguasai) berarti belum merealisasikan iman kepada Allah, karena hal itu meniadakan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri. Padahal yang wajib adalah menetapkan sifat-sifat tersebut sebagaimana yang datang dalam nash.
Barang siapa menafsirkan firman Allah
لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ
“terhadap apa yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS Shad: 75) dengan makna “dengan kekuasaan-Ku” atau “dengan kekuatan-Ku”, atau mengatakan bahwa Allah tidak memiliki tangan yang hakiki, maka ia belum merealisasikan iman kepada Allah. Seandainya ia merealisasikan iman kepada Allah, niscaya ia akan mengatakan: Allah ‘Azza wa Jalla memiliki tangan yang hakiki, namun tidak menyerupai tangan-tangan makhluk, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS asy-Syura: 11)
Kita tidak berbicara tentang Allah kecuali berdasarkan apa yang Allah kabarkan kepada kita tentang diri-Nya sendiri. Jika kita saja tidak mungkin berbicara tentang seseorang yang belum kita lihat meskipun ia berada di negeri kita, lalu bagaimana mungkin kita berbicara tentang Allah Ta’ala tanpa ilmu?
Apabila seseorang mengatakan bahwa Allah tidak berbicara dengan kalam yang dapat didengar, melainkan kalam-Nya hanyalah makna yang ada pada diri-Nya, dan bahwa apa yang didengar oleh Jibril adalah makhluk —yakni suara-suara yang diciptakan Allah ‘Azza wa Jalla untuk mengekspresikan apa yang ada pada diri-Nya— maka orang tersebut belum merealisasikan iman kepada Allah.
Menafsirkan kalam dengan makna tersebut menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tidak berbicara secara hakiki. Sebab, jika dikatakan bahwa kalam adalah makna yang ada pada diri (Allah), maka makna kalam itu menjadi sekadar ilmu, bukan sesuatu yang terdengar. Atas dasar ini, lakukanlah pengukuran (analogi) pada perkara-perkara lainnya.
Berdasarkan hal ini, seluruh pelaku bid’ah dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah yang menyelisihi apa yang ditempuh oleh salafus shalih belum merealisasikan iman kepada Allah. Namun kami tidak mengatakan bahwa mereka bukan orang beriman. Mereka tetap orang-orang beriman tanpa keraguan. Hanya saja mereka belum merealisasikan iman kepada Allah.
Perkara dari empat perkara yang terlewat dari mereka adalah yang keempat, yaitu iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah. Karena itu mereka belum merealisasikan iman tersebut. Mereka keliru dan menyelisihi jalan salaf. Metode mereka adalah kesesatan tanpa ragu. Akan tetapi, seseorang tidak dihukumi sesat sampai hujah ditegakkan atasnya. Jika hujah telah ditegakkan, lalu ia tetap bersikeras pada kesalahan dan kesesatannya, maka ia adalah pelaku bid’ah pada perkara yang ia selisihi dari kebenaran, meskipun ia bersikap salafi pada perkara selainnya. Ia tidak disifati sebagai pelaku bid’ah secara mutlak, dan tidak pula disifati sebagai salafi secara mutlak, melainkan ia disifati salafi pada perkara yang ia sepakati dengan salaf, dan pelaku bid’ah pada perkara yang ia selisihi dari mereka.
Di antara permasalahan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang diperselisihkan maknanya adalah hadis:
أَنَّ اللهَ خَلَقَ آَدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam di atas rupa-Nya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Karena hadis ini, terjadi kegaduhan, suara-suara meninggi, dan perdebatan pun banyak. Mereka mempertanyakan, “Bagaimana Adam diciptakan di atas rupa-Nya?”
Sekelompok orang menyimpangkannya dengan penyimpangan yang buruk dan dipaksakan. Mereka berkata bahwa makna hadis tersebut adalah: Allah menciptakan Adam di atas rupanya, yaitu di atas rupa Adam sendiri —Allah-lah tempat memohon pertolongan. Apakah mungkin manusia yang paling fasih dan paling tulus— yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam— bermaksud dengan kata ganti itu sebagai kata ganti makhluk, sehingga maknanya: Allah menciptakan Adam di atas rupa Adam? Hal ini tidak mungkin. Sebab setiap makhluk memang diciptakan di atas rupanya masing-masing. Jika demikian, maka tidak ada keutamaan bagi Adam dibandingkan makhluk yang lain.
Maka ini adalah omong kosong yang tidak bermakna. Tahukah kalian mengapa mereka mengemukakan penakwilan yang dipaksakan dan tercela ini? Mereka berkata, “…karena jika engkau mengatakan bahwa itu adalah rupa Rabb ‘Azza wa Jalla, niscaya engkau telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.” Menurut mereka, rupa sesuatu pasti identik dengannya, dan hal itu merupakan penyerupaan.
Jawaban kami terhadap hal ini adalah: Seandainya engkau memberikan haknya kepada nash-nash (teks-teks syariat), niscaya engkau akan mengatakan, “Allah menciptakan Adam di atas rupa Allah, namun tetap dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.”
Jika ada yang berkata, “Berikan kepada kami sebuah perumpamaan yang dapat meyakinkan kami bahwa sesuatu bisa berada di atas rupa sesuatu yang lain tanpa harus serupa dengannya!” Jawabannya adalah: Telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ فِي السَّمَاءِ
“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk Surga berada di atas rupa bulan pada malam purnama, kemudian orang-orang setelah mereka berada di atas cahaya bintang yang paling terang di langit.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Apakah kamu berkeyakinan bahwa mereka yang masuk Surga itu berada di atas rupa bulan dari segala sisi, ataukah kamu berkeyakinan bahwa mereka tetap pada rupa manusia, tetapi dalam hal kecerahan, keelokan, keindahan, kebulatan wajah, dan semisalnya menyerupai bulan —bukan dari semua sisi?
Jika kamu memilih pendapat pertama, maka konsekuensinya adalah mereka masuk Surga tanpa mata dan tanpa mulut. Jika kamu memilih pendapat kedua, maka kerancuan hilang, dan menjadi jelas bahwa tidak mesti sesuatu yang berada di atas rupa sesuatu yang lain itu serupa dengannya dari segala sisi.
Yang terpenting adalah bahwa bab sifat-sifat Allah merupakan bab yang sangat agung dan bahayanya amat besar. Seseorang tidak akan selamat dari berbagai jeratan dan kebinasaan yang bisa menimpanya kecuali dengan mengikuti jalan salafus shalih: menetapkan apa yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya dan menafikan apa yang Allah nafikan dari diri-Nya. Dengan demikian, kamu akan merasa tenang dan selamat.
Apakah kamu hendak meneliti suatu perkara yang penelitiannya termasuk pendalaman berlebihan dan sikap melampaui batas? Jawabannya: jangan diteliti.
Sungguh, Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang firman Allah Ta’ala:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy.” (QS Thaha: 5) “Bagaimana Allah beristiwa?”
Imam Malik rahimahullah menundukkan kepalanya. Keringat bercucuran karena beratnya pertanyaan yang diajukan kepadanya dan karena pengagungannya kepada Rabb Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.
Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata, “Istiwa itu tidak majhul (tidak diketahui),” maksudnya maknanya diketahui dalam bahasa Arab. Istawa ‘ala kadza artinya tinggi di atasnya dan menetap. Setiap yang datang dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan perkataan orang Arab menunjukkan bahwa kata istawa apabila disertai dengan ‘ala, maka maknanya adalah ketinggian.
Ucapannya, “Adapun hakikatnya (kaifiyahnya) tidak dapat dijangkau akal,” maksudnya adalah bahwa kita tidak mampu mengetahui bagaimana hakikat Allah beristiwa di atas ‘Arsy-Nya dengan akal kita. Sesungguhnya jalan untuk mengetahuinya hanyalah melalui wahyu (dalil naqli).
Ucapannya, “Iman kepadanya adalah wajib” maksudnya bahwa beriman kepada istiwa Allah di atas ‘Arsy-Nya dengan cara yang sesuai adalah wajib.
Ucapannya, “bertanya tentangnya adalah bid’ah” bermakna bahwa bertanya tentang bagaimana hakikat istiwa adalah bid’ah. Sebab pertanyaan semacam ini tidak pernah ditanyakan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka lebih besar semangatnya daripada kita dalam mengenal Allah ‘Azza wa Jalla. Seandainya mereka bertanya, tentu Nabi —yang lebih mengetahui tentang Allah daripada kita— akan menjawabnya. Namun kenyataannya, pertanyaan itu tidak terjadi.
Tidakkah cukup bagi kita apa yang telah mencukupi mereka? Jawabannya: Ya cukup. Oleh karena itu, wajib bagi seorang muslim untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah mencukupi salafus shalih, dan tidak bertanya tentang hal tersebut.
Kemudian Imam Malik rahimahullah berkata, “Aku tidak melihatmu,” maksudnya “aku tidak menyangkamu,” “kecuali sebagai seorang pelaku bid’ah yang ingin merusak agama manusia.” Lalu ia memerintahkan agar orang tersebut dikeluarkan dari masjid, yaitu Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ia tidak berkata, “Demi Allah, aku tidak berani mengeluarkannya karena khawatir termasuk dalam firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ
‘Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah untuk disebut nama-Nya di dalamnya’” (QS al-Baqarah: 114).
Beliau melarang orang itu masuk masjid bukan untuk menghalangi dzikir kepada Allah, melainkan karena orang itu masuk bukan untuk menyebut nama Allah, tetapi untuk merusak agama hamba-hamba Allah. Orang seperti ini memang patut dicegah (masuk masjid).
Jika orang yang memakan bawang putih dan bawang merah saja dicegah masuk masjid, maka bagaimana dengan orang yang merusak agama manusia? Bukankah ia lebih berhak untuk dicegah? Ya, demi Allah. Namun banyak manusia yang lalai.
Bagaimanapun juga, pembahasan ini adalah pembahasan yang sangat agung. Akan tetapi, aku memperingatkan kalian agar tidak mendalami secara berlebihan pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan agar tidak bertanya tentang perkara-perkara yang tidak kalian butuhkan.
Sebagian orang berkata bahwa Allah Ta’ala memiliki jari-jari, sementara para penyeleweng mengatakan bahwa Allah tidak memiliki jari-jari. Mereka menakwil sabda Nabi,
إنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya hati-hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman,” (Diriwayatkan oleh Muslim) sebagai makna kesempurnaan penguasaan dan pengaturan semata.
Mahasuci Allah —apakah kalian lebih mengetahui ataukah Rasulullah lebih mengetahui?
Mereka meniadakan jari-jari karena menyangka bahwa menetapkannya mengharuskan penyerupaan. Akibatnya, mereka lebih dulu melakukan penyerupaan (yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk dalam benak mereka), lalu meniadakan sifat itu (karena mengira bahwa menetapkan sifat tersebut pasti menyerupakan Allah dengan makhluk). Dengan demikian, mereka menggabungkan antara penyerupaan dan penafian.
Kemudian datang orang-orang lain yang berkata, “Hati-hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman,” lalu ia memegang siwak di antara jari-jarinya dan berkata, “Di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman.” —Semoga Allah memotong kedua jari ini.
Apakah hal seperti ini dibolehkan? Jawabannya: Tidak boleh.
Pertama, apakah kamu mengetahui bahwa jari-jari Allah Ta’ala ada lima —ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking? Kamu tidak mengetahuinya.
Kedua, apakah kamu mengetahui bahwa posisi hati-hati anak Adam di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman itu berada di antara ibu jari dan telunjuk, atau antara ibu jari dan jari tengah, atau antara ibu jari dan jari manis, atau antara ibu jari dan kelingking? Bagaimana mungkin kamu berbicara tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui —atau apakah mereka mengada-adakan dusta atas nama Allah? Maka orang seperti ini layak diberi sanksi, karena ia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu.
Lalu mereka berkata, “Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda, ‘Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat,’ meletakkan ibu jarinya dan jari telunjuknya pada mata dan telinga?” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud)
Kami menjawab: Benar. Akan tetapi, kamu bukan Rasulullah sehingga boleh melakukan hal seperti itu. Selain itu, tujuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua jarinya hanya untuk menegaskan sifat mendengar dan melihat saja.
Aku ulangi bahwa bab sifat-sifat Allah adalah bab yang sangat besar. Berhati-hatilah agar kamu tidak tergelincir, lalu kakimu terperosok ke dalam jurang. Maka urusannya adalah sangat sulit.
Sebagian orang berkata tentang firman Allah Ta’ala:
وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat.” (QS az-Zumar: 67), lalu ia mengisyaratkan dengan tangannya seolah-olah menggenggam sesuatu —wal’iyadzu billah. Sementara yang lain berkata bahwa makna “genggaman-Nya” adalah bahwa bumi berada di bawah kekuasaan dan pengaturan-Nya. Perbedaan antara kedua pemahaman ini sangat besar.
Bagaimanapun juga, aku ulangi peringatanku: Berhati-hatilah terhadap bab sifat-sifat Allah. Jangan kalian membahas perkara yang tidak pernah dibahas oleh salafus shalih.
Sebagian ulama berkata, “Barang siapa tidak merasa cukup dengan apa yang telah mencukupi para sahabat dan tabi’in, maka semoga Allah tidak melapangkan (urusan) baginya.”
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA ALLAH
Baca juga: PENYEBAB LEMAH IMAN
Baca juga: TERAPI LEMAH IMAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

