Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Lihat Shahih al-Jami’ dan as-Silsilah ash-Shahihah)
PENJELASAN
Penulis rahimahullah berkata dalam riwayat yang ia nukil dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Para penguasa memiliki dua jenis orang dekat (penasihat): penasihat keburukan dan penasihat kebaikan.
Adapun penasihat keburukan, mereka melihat apa yang diinginkan oleh penguasa, kemudian mereka menghiasinya dan berkata, “Inilah yang benar, inilah yang baik. Engkau telah berbuat baik dan memberikan manfaat,” meskipun —wal’iyadzu billah— perbuatan itu termasuk kezaliman yang besar. Mereka melakukan hal itu karena menjilat para penguasa dan demi mencari kepentingan dunia.
Adapun penasihat kebaikan, mereka melihat apa yang diridhai oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka menunjukkan hal itu kepada penguasa. Inilah penasihat yang baik.
Adapun menyampaikan kalimat kebatilan di hadapan penguasa yang zalim — wal’iyadzu billah— maka hal itu justru berlawanan dengan jihad. Kalimat kebatilan di hadapan penguasa yang zalim terjadi ketika seseorang melihat apa yang diinginkan oleh penguasa, lalu ia mengucapkannya di hadapannya dan menghiasinya agar tampak baik.
Sebaliknya, menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim termasuk salah satu bentuk jihad yang paling agung.
Beliau bersabda, “di hadapan penguasa yang zalim,” karena penguasa yang adil, kalimat kebenaran yang disampaikan di hadapannya tidak akan membahayakan orang yang mengucapkannya, sebab penguasa itu menerimanya. Adapun penguasa yang zalim, bisa jadi ia membalas orang yang menyampaikannya dan menyakitinya.
Sekarang terdapat empat keadaan:
1. Kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang adil, dan ini mudah.
2. Kalimat kebatilan di hadapan penguasa yang adil, dan ini berbahaya. Bisa jadi kamu menjerumuskan penguasa yang adil itu dengan ucapanmu, melalui hiasan kata-kata yang kamu buat tampak indah baginya.
3. Kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim, dan inilah jihad yang paling utama.
4. Kalimat kebatilan di hadapan penguasa yang zalim, dan ini adalah keadaan yang paling buruk.
Inilah empat keadaan tersebut. Yang paling utama di antaranya adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.
Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengatakan kebenaran, baik secara lahir maupun batin, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Baca juga: TETAP PATUH WALAU DIZALIMI
Baca juga: BANYAKNYA OKNUM PEMBELA PENGUASA ZALIM
Baca juga: WAJIB MENAATI PEMIMPIN SELAMA BUKAN KEMAKSIATAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

