Penulis menyebutkan firman Allah Ta’ala:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang telah engkau berikan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’: 65)
Penulis rahimahullah menyebutkan, di antara ayat-ayat yang menunjukkan pentingnya menjaga sunah dan adab-adabnya, firman Allah Ta’ala: “Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikanmu (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang telah engkau berikan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’: 65)
Ayat ini memiliki hubungan dengan ayat sebelumnya, yaitu firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih indah akibatnya.” (QS an-Nisa’: 59)
Allah Ta’ala memerintahkan untuk taat kepada-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin dari kalangan kita.
Ulil amri mencakup para ulama dan para pemimpin (penguasa). Para ulama adalah pemimpin urusan kita dalam menjelaskan agama Allah, sedangkan para pemimpin (penguasa) adalah pemimpin urusan kita dalam menegakkan syariat Allah. Para ulama tidak akan dapat tegak (berjalan dengan baik) tanpa adanya para pemimpin, dan para pemimpin pun tidak akan dapat tegak tanpa adanya para ulama. Para pemimpin wajib merujuk kepada para ulama agar mereka dapat memahami dengan jelas syariat Allah dari mereka. Para ulama wajib menasihati para pemimpin, menakut-nakuti mereka dengan peringatan kepada Allah, serta menasihati mereka agar menerapkan syariat Allah kepada hamba-hamba-Nya ‘Azza wa Jalla.
Kemudian Allah berfirman: “Maka jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
Artinya: jika kalian berbeda pendapat dalam suatu urusan, maka ucapan sebagian dari kalian tidak menjadi hujah atas yang lain, tetapi rujukannya adalah hukum Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian wajib kembali kepada hukum Allah Ta’ala dan hukum Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun kembali kepada Allah, maksudnya adalah kembali kepada Kitab-Nya, yaitu al-Qur’an yang agung. Sedangkan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maksudnya adalah kembali kepada sunah beliau. Jika beliau masih hidup, maka dengan mendatangi beliau secara langsung. Jika beliau telah wafat, maka dengan merujuk kepada sunah beliau yang sahih.
Firman-Nya: “Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.” Ini merupakan dorongan untuk kembali kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta penegasan bahwa kembali kepada Allah dan Rasul merupakan konsekuensi dari keimanan.
Firman Allah: “Yang demikian itu lebih baik dan lebih indah akibatnya.”
Maksudnya: lebih baik hasil akhirnya. Maka kembali kepada Allah dan Rasul-Nya adalah hal yang paling baik bagi umat dan membawa akibat yang paling baik.
Meskipun sebagian orang mengira bahwa kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah adalah perkara yang sulit, dan manusia tidak akan sanggup melakukannya, maka anggapan seperti itu adalah keliru dan tidak bernilai sama sekali.
Sebagian orang beranggapan bahwa kembali kepada Islam sebagaimana yang diamalkan pada masa awal umat ini tidak sesuai dengan kondisi zaman sekarang — wal’iyadzu billah. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa Islamlah yang mengatur, bukan yang diatur. Islam tidak berubah karena perbedaan zaman, tempat, ataupun manusia. Islam tetaplah Islam. Maka jika kita benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah kita kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. “Yang demikian itu lebih baik dan lebih indah akibatnya,” yakni yang terbaik hasil akhirnya dan paling membawa keselamatan.
Baca juga: DOA AGAR DIJADIKAN PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA
Baca juga: TETAP PATUH WALAU DIZALIMI
Baca juga: WAJIB TAAT KEPADA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN DALAM KEBAIKAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

