DOA AGAR DIJADIKAN PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

DOA AGAR DIJADIKAN PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 74)

Ini adalah sebagian doa yang diucapkan oleh hamba-hamba Allah yang sifat-sifatnya disebutkan Allah pada akhir Surat al-Furqan ayat 63 hingga 74:

Dan hamba-hamba Rabb yang Mahapenyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh. Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah mahapengampun lagi Mahapenyayang. Dan orang-orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu. Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 63-74)

Firman-Nya, “Anugerahkanlah kepada kami,” yakni berikanlah kami.

al-Azwaaj adalah bentuk jamak dari kata zauj, yakni pasangan yang bisa untuk suami maupun istri. Istri disebut zauj, dan suami juga disebut zauj. Oleh karena itu, istilah ini banyak ditemukan dalam sejumlah hadis. Contohnya, hadis dari Aisyah, istri (zauj) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah bahasa fushah dimana perempuan disebut zauj.

Para ahli faraidh (ilmu waris) mengatakan bahwa zauj adalah untuk suami dan zaujah untuk istri, agar dapat dibedakan dalam pembagian waris.

Begitu juga doa ini bisa digunakan untuk lakl-laki dan perempuan:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 74)

Kata qurratu a’yun dalam arti perempuan bermakna bahwa jika kamu memandangnya, ia menyenangkan hatimu. Jika kamu pergi, ia menjaga harta dan anak-anakmu. Jika kamu mencarinya, kamu mendapatkannya dalam keadaan taat kepada Allah, seperti firman Allah Ta’ala:

فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ

Sebab itu maka perempuan yang saleh adalah (perempuan) yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS an-Nisaa’: 34)

Istri seperti inilah yang dapat membahagiakan suami.

Demikian juga keturunan. Jika Allah menjadikan mereka qurratu a’yun bagi seseorang, maka mereka akan menaati perintahnya, tidak mengerjakan apa-apa yang dilarangnya, selalu menyenangkan di setiap kesempatan, dan selalu berbuat baik. Inilah qurratu a’yun (yang menjadi penyenang hati) bagi orang-orang yang bertakwa.

Firman-Nya, “Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa,” yakni jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, yang diikuti perkataan dan perbuatan kami dalam setiap yang kami kerjakan dan kami tinggalkan. Seorang mukmin apalagi ia seorang ahli ilmu, perkataan dan perbuatannya diikuti banyak orang. Oleh karena itu, jika kamu menyuruh sesuatu kepada orang awam atau melarang dari berbuat sesuatu, dia akan berkata, “Si Fulan melakukan ini dan itu.” Maksudnya orang yang mereka jadikan sebagai pemimpin.

Pemimpin di sini adalah pimpinan dalam urusan agama, yaitu pemimpin dalam ibadah khusus, pimpinan dalam berdakwah, pemimpin dalam pengajaran, pemimpin dalam memerintahkan yang baik dan mencegah dari yang mungkar, serta pemimpin dalam hal-hal lain yang termasuk syiar agama dan syariatnya. Jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa dalam segala hal.

Baca juga: BESARNYA HAK KEDUA ORANG TUA

Baca juga: ISTRI YANG SALEH ADALAH NIKMAT YANG BESAR

Baca juga: PERJANJIAN ADAM ‘ALAIHISSALAM

Baca juga: BAYI YANG DAPAT BERBICARA DAN BERDOA

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Adab