Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أثَرَةٌ وأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا
“Sesungguhnya sepeninggalanku nanti akan muncul pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan perkara-perkara yang kalian ingkari.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ الله الَّذِي لَكُمْ
“Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian, dan mintalah kepada Allah hak yang menjadi bagian kalian.” (Muttafaq ‘alaih)
al-Atsarah adalah monopoli terhadap sesuatu dari orang-orang yang memiliki hak di dalamnya.
PENJELASAN
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sepeninggalanku nanti akan muncul atsarah.” Atsarah berarti monopoli terhadap sesuatu dari orang-orang yang memiliki hak di dalamnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa akan ada penguasa yang memerintah kaum muslimin yang menguasai harta kaum muslimin, menggunakannya sesuka hatinya, dan menghalangi kaum muslimin dari hak mereka atas harta tersebut.
Ini adalah atsarah dan kezaliman dari para pemimpin, yaitu bahwa mereka memonopoli harta yang kaum muslimin memiliki hak di dalamnya. Mereka memonopoli harta itu untuk kepentingan diri sendiri.
Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami?”
Beliau bersabda, “Tunaikanlah hak yang menjadi kewajiban kalian.” Maksudnya, jangan biarkan monopoli terhadap harta menghalangi kalian untuk menunaikan kewajiban kalian terhadap mereka, seperti mendengarkan dan mematuhi, tidak memicu kekacauan, dan tidak mengganggu mereka. Bersabarlah, dengarkanlah dan patuhilah, serta jangan bertikai dengan mereka dalam urusan pemerintahan.
Beliau bersabda, “Mintalah kepada Allah hak yang menjadi milik kalian.” Maksudnya, mintalah hak kalian kepada Allah. Mohonlah kepada Allah agar Dia memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka menunaikan hak yang menjadi kewajiban mereka kepada kalian.
Ini merupakan kebijaksanaan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ‘alaihishshalatu wassalam mengetahui bahwa jiwa-jiwa cenderung pelit dan tidak akan bersabar terhadap orang yang memonopoli hak-hak mereka. Namun, beliau ‘alaihishshalatu wassalam memberikan petunjuk kepada hal yang mungkin membawa kebaikan, yaitu dengan menunaikan kewajiban kita terhadap mereka berupa mendengarkan dan mematuhi, tidak bertikai dalam urusan pemerintahan, dan lainnya, serta meminta kepada Allah hak yang menjadi bagian kita. Oleh karena itu, ketika kita berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada mereka sehingga mereka memberikan hak kami,” terdapat kebaikan dari dua sisi.
Dalam hadis ini terdapat bukti kenabian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau mengabarkan tentang sesuatu yang akan terjadi. Sesungguhnya para khalifah dan pemimpin sejak dahulu kala telah memonopoli harta. Kita melihat mereka makan, minum, berpakaian, tinggal, dan berkendaraan secara berlebihan. Mereka telah memonopoli harta orang-orang untuk kepentingan pribadi mereka. Namun, ini tidak berarti bahwa kita mencabut ketaatan atau memberontak terhadap mereka. Sebaliknya, kita meminta kepada Allah apa yang menjadi hak kita, dan kita menunaikan kewajiban kita.
Dalam hadis ini juga terdapat penggunaan hikmah dalam hal-hal yang mungkin menimbulkan kekacauan. Tidak diragukan lagi bahwa monopoli para pemimpin terhadap harta tanpa memperhatikan rakyat dapat memicu rakyat untuk memberontak dan menuntut hak mereka. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersabar terhadap hal ini. Kita harus menunaikan kewajiban kita dan meminta kepada Allah hak kita.
Baca juga: SUAMI WAJIB MEMBERI NAFKAH KEPADA ISTRI
Baca juga: BENTUK-BENTUK NASIHAT UNTUK PEMIMPIN
Baca juga: DOA AGAR DIJADIKAN PEMIMPIN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

