ADAB MAJELIS (5)

ADAB MAJELIS (5)

11. Larangan Banyak Tertawa

Bukan termasuk sikap terhormat dan adab yang baik apabila tertawa menjadi hal yang dominan dalam suatu majelis. Sedikit tertawa dapat membangkitkan semangat dalam jiwa dan memberikan ketenangan baginya, sedangkan terlalu banyak tertawa merupakan penyakit yang mematikan hati.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُكْثِرُوا مِنَ الضِّحْكِ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضِّحْكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Janganlah kalian banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan disahihkan oleh al-Albani)

12. Makruh Bersendawa di Hadapan Orang Lain

Di dalamnya terdapat hadis marfu‘ yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ia berkata:

Seorang laki-laki bersendawa di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ، فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tahanlah sendawamu dari kami, karena sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah orang yang paling panjang laparnya pada hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadis hasan garib.” Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Hadis ini dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, dan oleh al-Baghawi)

13. Dianjurkan Menutup Majelis dengan Kafaratul Majelis

Karena manusia lemah, sementara setan sangat bersemangat untuk menyesatkannya, selalu berusaha menggoda dan mencelakakannya melalui perbuatan dosa, maka setan pun mengintai kaum muslimin di majelis-majelis dan tempat-tempat pertemuan mereka, sambil mendorong mereka untuk mengucapkan perkataan dusta dan batil.

Karena Allah Mahapengasih terhadap hamba-hamba-Nya, Dia mensyariatkan bagi mereka melalui lisan Nabi mereka beberapa kalimat yang mereka ucapkan, yang dengannya dihapuskan noda-noda yang melekat akibat apa yang terjadi dalam majelis tersebut. Kemudian Rabb mereka menganugerahkan nikmat kepada mereka dengan menjadikan kalimat-kalimat itu sebagai penutup bagi majelis-majelis kebaikan. Maka segala puji bagi Allah pada awal dan akhirnya.

Kalimat-kalimat tersebut disebutkan dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ كَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ، فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَٰلِكَ

Barang siapa duduk dalam suatu majelis yang banyak terjadi kesia-siaan dan perkataan yang tidak bermanfaat di dalamnya, lalu sebelum ia berdiri dari majelis itu ia mengucapkan, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah, Rabb kami, dan segala puji bagi-Mu. Tidak adaesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu,’ maka Allah akan mengampuni apa yang terjadi darinya dalam majelis tersebut.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Disahihkan oleh al-Albani)

Dalam riwayat at-Tirmidzi:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadis hasan sahih garib”)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk dalam suatu majelis atau selesai melaksanakan shalat, beliau mengucapkan beberapa kalimat. Maka Aisyah bertanya kepada beliau tentang kalimat-kalimat tersebut. Beliau menjawab,

إِنْ تَكَلَّمَ بِخَيْرٍ كَانَ طَابِعًا عَلَيْهِنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ تَكَلَّمَ بِغَيْرِ ذَٰلِكَ كَانَ كَفَّارَةً لَهُ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»

Jika ia mengucapkan kebaikan, maka kalimat itu menjadi penutup dan penyempurna baginya hingga Hari Kiamat. Jika ia mengucapkan selain itu, maka kalimat tersebut menjadi kafarah (penghapus dosa) baginya. ‘Mahasuci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu.’” (Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dengan lafaz yang sama dan Ahmad)

Baca juga: ADAB MAJELIS (2)

Baca juga: ADAB MAJELIS (3)

Baca juga: ADAB MAJELIS (4)

(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

Adab Kitabul Aadab