SEGALA SESUATU TERJADI DENGAN TAKDIR ALLAH

SEGALA SESUATU TERJADI DENGAN TAKDIR ALLAH

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ

Segala sesuatu terjadi dengan takdir, termasuk kelemahan dan kecerdasan.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 18)

PENJELASAN

Hadis ini mengandung salah satu pokok yang sangat agung dari enam rukun iman, yaitu iman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang bersifat umum maupun khusus, yang telah lalu maupun yang akan datang, yaitu dengan meyakini bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui seluruh amal perbuatan hamba, yang baik maupun yang buruk. Dia juga mengetahui seluruh urusan dan keadaan mereka, dan Dia telah menuliskan semuanya di dalam Lauhul Mahfuzh, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu telah tertulis dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS al-Hajj: 70)

Kemudian Allah merealisasikan berbagai ketentuan takdir tersebut pada waktu-waktunya sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya yang meliputi segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, serta meliputi seluruh makhluk dan seluruh urusan.

Meskipun demikian, bersamaan dengan penciptaan-Nya terhadap para hamba, perbuatan-perbuatan mereka, dan sifat-sifat mereka, Allah telah memberikan kepada mereka kemampuan dan kehendak yang dengannya mereka melakukan perbuatan-perbuatan mereka sesuai dengan pilihan mereka sendiri. Allah tidak memaksa mereka untuk melakukannya.

Allah menciptakan kemampuan dan kehendak mereka. Pencipta sebab yang sempurna adalah pencipta akibat yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, perbuatan dan ucapan para hamba terjadi dengan kemampuan dan kehendak mereka, yang keduanya telah diciptakan Allah pada diri mereka, sebagaimana Dia menciptakan seluruh kemampuan lahiriah dan batiniah yang ada pada mereka. Akan tetapi, Allah Ta’ala memudahkan setiap orang menuju apa yang ia diciptakan untuknya. Maka, barang siapa menghadapkan wajah dan tujuannya kepada Rabb-nya, Allah akan menjadikan iman dicintainya, menghiasinya di dalam hatinya, menjadikan kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan dibencinya, serta menjadikannya termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan demikian, sempurnalah nikmat Allah atas dirinya dari segala sisi.

Adapun orang yang menghadapkan dirinya kepada selain Allah, bahkan menjadikan setan sebagai penolongnya, maka Allah tidak akan memudahkannya untuk memperoleh perkara-perkara tersebut. Allah membiarkannya mengikuti apa yang dipilihnya, menghinakannya, dan menyerahkannya kepada dirinya sendiri. Akibatnya, ia tersesat dan menyimpang. Ia tidak memiliki hujah di hadapan Rabb-nya, karena Allah telah memberikan kepadanya seluruh sebab yang dapat mengantarkannya kepada petunjuk, tetapi ia memilih kesesatan daripada petunjuk. Maka janganlah ia mencela siapa pun selain dirinya sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ ۚ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

Sebagian mereka diberi petunjuk oleh Allah, dan sebagian yang lain telah pasti berada dalam kesesatan, karena mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Allah.” (QS al-A’raf: 30)

Dia berfirman:

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dengan kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, dan dengan izin-Nya Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, serta memberi mereka petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS al-Ma’idah: 16)

Takdir ini berlaku pada seluruh keadaan, perbuatan, dan sifat seorang hamba, termasuk kelemahan dan kecerdasan. Keduanya, yaitu kelemahan dan kecerdasan, merupakan dua sifat yang saling berlawanan. Dengan sifat yang pertama, yaitu kelemahan, seseorang akan memperoleh kegagalan dan kerugian. Sedangkan dengan sifat yang kedua, yaitu kecerdasan dan ketangkasan, seseorang akan bersungguh-sungguh dalam menaati ar-Rahman.

Yang dimaksud dalam hadis ini adalah kelemahan yang membuat seorang hamba tercela, yaitu tidak adanya kemauan dan tekad, yakni kemalasan; bukan kelemahan yang berupa ketidakmampuan.

Inilah makna hadis yang lain:

اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Ketahuilah, setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647/7)

Adapun orang-orang yang berbahagia, mereka akan dimudahkan untuk menempuh jalan kebahagiaan. Hal itu terjadi karena kecerdasan mereka, taufik yang Allah berikan kepada mereka, serta kelembutan dan kasih sayang Allah kepada mereka.

Yang dimaksud dengan orang yang cerdas (al-kayyis) dan orang yang lemah (al-’ajiz) adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ

Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah dengan berbagai angan-angan.” (Lemah. Diriwayatkan oleh Ahmad no. 4/124, Ibnu Majah no. 4260, at-Tirmidzi no. 2459, ath-Thabarani no. 7143, Ibnu ‘Adi no. 2/472, al-Hakim no. 1/57 dan 4/251, serta sejumlah imam lainnya)

Baca juga: TAKDIR DAN HIKMAH DI BALIKNYA

Baca juga: RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA TAKDIR

Baca juga: PENCIPTAAN MANUSIA DAN PENENTUAN NASIBNYA

Baca juga: JANGAN SALAH MEMAHAMI TAKDIR

Baca juga: BERSUMPAH MENDAHULUI KEHENDAK ALLAH

(Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di)

Akidah Bahjatu Qulubil Abrar