RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA TAKDIR

RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA TAKDIR

Dan beriman kepada takdir, baik maupun buruknya,” di sini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang kata “beriman” untuk menegaskan pentingnya iman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan perkara yang sangat penting sekaligus sangat berbahaya.

Iman kepada takdir mencakup empat perkara:

Pertama: beriman bahwa Allah Ta’ala memiliki ilmu yang meliputi segala sesuatu, baik secara global maupun terperinci. Dalilnya adalah keumuman dalil-dalil seperti firman Allah Ta’ala:

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS al-Baqarah: 282)

Termasuk pula pengkhususan ilmu Allah terhadap perkara-perkara ghaib, serta firman-Nya:

لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

Rabb-ku tidak sesat dan tidak pula lupa.” (QS Thaha: 52)

Yakni Dia tidak bodoh dan tidak melupakan apa yang telah Dia ketahui.

Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan sifat ilmu-Nya dalam banyak ayat, baik secara global maupun terperinci.

Allah Ta’ala berfirman secara global:

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS al-Baqarah: 282)

Dan firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah-Nya berlaku di antara semuanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS ath-Thalaq: 12)

Yakni Dia memberitakan dan mengabarkan kepada kalian tentang hal ini.

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan bahwa Allah benar-benar meliputi segala sesuatu dengan ilmu.” (QS ath-Thalaq: 12)

Ini bersifat global (umum).

Adapun penjelasan terperinci, maka Allah Ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا

Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci perkara ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak sehelai daun pun gugur melainkan Dia mengetahuinya.” (QS al-An’am: 59)

Frasa “apa yang ada” merupakan lafaz yang menunjukkan keumuman, sehingga mencakup segala sesuatu di darat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahuinya, demikian pula segala sesuatu di laut yang Dia mengetahuinya.

Firman-Nya:

وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ

Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur,” yaitu daun apa pun dari pohon mana pun, Allah mengetahui kapan ia gugur, di mana ia gugur, dan bagaimana ia gugur.

Dan firman-Nya:

وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak (pula) sebutir biji di dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas.”

Yang dimaksud dengan biji di sini adalah biji apa pun, baik besar maupun kecil, yang berada dalam kegelapan bumi. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan jika kita membayangkan sebutir biji yang tenggelam di dasar laut, lalu tertutup lumpur dan di atas lumpur ada air, dan semua itu terjadi pada malam hari, yakni dalam kegelapan malam, sementara langit sedang hujan dan awan menutupi, maka Allah tetap Mahamengetahuinya.

Apabila seorang hamba merealisasikan iman kepada ilmu Allah, dan bahwa Dia Mahamulia lagi Mahatinggi meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya, maka hal itu akan mewajibkan baginya rasa takut kepada Allah, khasy-yah (takut yang disertai pengagungan), serta keinginan terhadap apa yang ada di sisi Allah Ta’ala. Sebab, setiap gerakan yang ia lakukan pasti diketahui oleh Allah.

Kedua: beriman bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan di Lauhul Mahfuzh takdir segala sesuatu hingga Hari Kiamat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلُّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab.” (QS Yasin: 12)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ

Dan sungguh Kami telah menulis di dalam Zabur setelah adz-Dzikr,” (QS al-Anbiya’: 105) yang dimaksud dengan adz-Dzikr di sini adalah Lauhul Mahfuzh,

أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

bahwa bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS al-Anbiya’: 105)

Ayat-ayat tentang hal ini jumlahnya sangat banyak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah ketika menciptakan pena (al-qalam) berfirman kepadanya:

اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ، وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَا هُوَ كَائِنٌ، فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman: ‘Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi.’ Maka pada saat itu pena pun berjalan (menulis) segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Kiamat.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi. Lihat Shahihul Jami’)

Allah memerintahkan pena untuk menulis. Lalu bagaimana mungkin khithab (perintah atau pembicaraan) diarahkan kepada benda mati?

Jawabannya: Hal itu benar, karena Allah-lah yang menjadikan benda mati dapat berbicara. Maka apabila suatu benda mati dinisbatkan kepada Allah, sah untuk diarahkan kepadanya khithab (perintah atau pembicaraan).

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Kemudian Dia menuju kepada langit yang masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa.’ Keduanya berkata, ‘Kami datang dengan patuh.’” (QS Fushshilat: 11)

Dia mengarahkan khithab kepada langit dan bumi serta menyebutkan jawaban keduanya. Jawaban tersebut berlaku bagi seluruh makhluk berakal, yaitu datang dengan patuh, bukan dalam keadaan terpaksa.

Kesimpulannya, Allah memerintahkan pena untuk menulis, dan pena pun menulis. Adapun  bagaimana pena menerima perintah tersebut sehingga ia berkata, “Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Kiamat.” Maka pada saat itu pena pun berjalan menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga Hari Kiamat. Subhanallah, tidak ada yang mampu menghitung seluruh peristiwa dan kejadian itu kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

Inilah Lauhul Mahfudz yang mencakup semuanya.

Lauhul Mahfudz —kita tidak mengetahui hakikatnya. Dari apa ia diciptakan, apakah dari kayu, besi, atau selainnya. Kita juga tidak mengetahui ukuran dan keluasan lauh tersebut. Allah-lah yang Mahamengetahui tentang itu.

Yang wajib bagi kita adalah beriman bahwa ada suatu lauh tempat Allah menuliskan takdir segala sesuatu. Tidak dibenarkan bagi kita meneliti atau membahas lebih jauh dari hal tersebut.

Telah muncul pada masa-masa akhir apa yang disebut dengan piringan laser (laser disc), yang ukurannya kecil namun mampu memuat banyak buku, dan itu merupakan buatan manusia. Aku menyebutkan hal ini sekadar sebagai pendekatan, bukan sebagai penyerupaan, karena Lauhul Mahfudz jauh lebih agung daripada apa pun yang dapat kita bayangkan atau pahami hakikatnya.

Ketiga: beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung dengan kehendak Allah Ta’ala, sehingga tidak satu pun keluar dari kehendak-Nya. Oleh karena itu, kaum muslimin bersepakat atas kaidah ini: “Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.”

Kaidah ini bersifat umum: Apa pun yang dilakukan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap diri-Nya, dan apa pun yang dilakukan para hamba, semuanya terjadi dengan kehendak Allah. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya orang-orang (yang datang) setelah rasul-rasul itu tidak akan berbunuh-bunuhan, setelah bukti-bukti yang nyata datang kepada mereka. Akan tetapi mereka berselisih. Maka di antara mereka ada yang beriman dan di antara mereka ada yang kafir. Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang Dia kehendak.” (QS al-Baqarah: 253)

Dan firman-Nya:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ

Dan sekiranya Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya.” (QS al-An’am: 112)

Dan firman-Nya:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ

Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya.” (QS al-An’am: 137)

Dan firman-Nya:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

(yaitu) bagi siapa di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb seluruh alam.” (QS at-Takwir: 28–29)

Dengan demikian, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung dengan kehendak Allah. Apabila seseorang memahami hal ini dengan benar, ia akan selamat dari tipu daya setan.

Jika ia melakukan suatu perbuatan lalu hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka ia tidak berkata, “Seandainya aku tidak melakukan itu.” Sebab, apa yang telah terjadi telah dikehendaki Allah ‘Azza wa Jalla dan pasti terjadi. Namun, apabila ia melakukan dosa, maka kewajibannya adalah bertobat dan memohon ampun kepada Allah.

Keempat: al-khalq (penciptaan). Maknanya adalah beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu. Kita beriman kepada keumuman penciptaan Allah atas setiap sesuatu, sebagaimana firman-Nya:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS al-Furqan: 2)

Maka segala sesuatu adalah makhluk Allah: langit dan bumi, lautan dan sungai, planet-planet, matahari dan bulan, serta manusia —semuanya makhluk Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikian pula gerak-gerik manusia adalah makhluk Allah, karena Allah Ta’ala menciptakan manusia beserta perbuatannya. Jika manusia adalah makhluk, maka sifat-sifatnya juga makhluk, dan perbuatannya pun makhluk, tanpa keraguan.

Adapun perbuatan para hamba —meskipun terjadi berdasarkan pilihan dan kehendak mereka— tetap merupakan makhluk Allah ‘Azza wa Jalla. Hal itu karena perbuatan para hamba lahir dari kehendak yang pasti dan kemampuan yang sempurna, sedangkan Pencipta kehendak dan kemampuan tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pertanyaan: Apakah sifat-sifat Allah itu makhluk?

Jawabannya: Tidak, karena sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala melekat pada Dzat-Nya, sebagaimana sifat-sifat manusia melekat pada dzat manusia, dan dzat manusia adalah makhluk.

Akan disebutkan —in sya Allah— dalam pembahasan faedah-faedah bahwa manusia dalam masalah takdir terbagi menjadi tiga golongan: yang menyepelekan, yang melampaui batas, dan yang pertengahan, yaitu yang lurus.

Ia berkata, “Engkau benar.” (ucapan Jibril ‘alaihissalam)

Baca juga: JAGALAH ALLAH, NISCAYA ALLAH MENJAGAMU

Baca juga: LARANGAN DIJAUHI SEPENUHNYA, PERINTAH DILAKSANAKAN SESUAI KEMAMPUAN

Baca juga: MANHAJ AHLUS SUNNAH DALAM MENYIKAPI PERSELISIHAN PARA SAHABAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Arba'in an-Nawawiyyah