Kemudian penulis rahimahullah menyebutkan —dalam rangkaian ayat-ayat yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar— firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS al-Hijr: 94)
Khithab (seruan) pada ayat ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Perlu diketahui bahwa khithab yang diarahkan kepada Rasulullah terbagi menjadi dua: khusus bagi beliau serta untuk beliau dan umatnya.
Hukum asalnya adalah untuk beliau dan umatnya, karena umat beliau menjadikannya teladan yang baik (uswah hasanah). Namun, apabila terdapat indikasi (qarinah) yang menunjukkan bahwa khithab tersebut khusus bagi Rasulullah, maka ia tidak berlaku umum bagi umat. Contohnya firman Allah Ta’ala:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?” (QS asy-Syarh: 1)
Dan firman-Nya:
وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
“Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu.” (QS ad-Duha: 1–3)
Ayat-ayat ini khusus bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun bagian kedua, contohnya firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ
“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu?” (QS at-Tahrim: 1)
Ayat ini berlaku bagi beliau dan juga bagi umatnya.
Demikian pula firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنّ
“Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan para istri, maka ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat menghadapi masa idahnya.” (QS ath-Thalaq: 1)
Ayat ini juga berlaku bagi beliau dan umatnya.
Begitu pula firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu.” (QS al-Ma’idah: 67)
Ayat ini berlaku bagi beliau dan umatnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun satu ayat.” (HR al-Bukhari)
Di sini Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS al-Hijr: 94)
Yakni, tampakkan dan jelaskan apa yang diperintahkan kepadamu, dan jangan takut celaan siapa pun dalam menjalankan perintah Allah. Ayat ini berlaku bagi beliau dan umatnya. Seluruh umat wajib menyampaikan secara jelas apa yang Allah perintahkan —dengan memerintahkannya kepada manusia— dan menyampaikan apa yang Allah larang —dengan melarang manusia darinya, karena melarang sesuatu berarti memerintahkan untuk meninggalkannya.
Firman-Nya: “Dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS al-Hijr: 94)
Yakni, janganlah memedulikan mereka, baik keadaan mereka maupun gangguan yang mereka timbulkan. Janganlah bersedih atas ketidakimanan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفاً
“Maka barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka, jika mereka tidak beriman kepada perkataan ini.” (QS al-Kahfi: 6)
Firman Allah Ta’ala:
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS asy-Syu’ara: 3)
Yakni, seakan-akan engkau akan mencelakakan dirimu sendiri karena kesedihanmu apabila mereka tidak beriman kepadamu. Artinya, janganlah memedulikan mereka. Berpalinglah dari gangguan dan keburukan yang mereka lakukan. Kesudahan yang baik akan menjadi milikmu.
Sungguh, kesudahan itu benar-benar menjadi milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabar, lalu meraih kemenangan.
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari Makkah dalam keadaan berhijrah secara sembunyi-sembunyi, mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Kaum Quraisy bahkan menetapkan hadiah seratus ekor unta bagi siapa saja yang dapat membawa Nabi dan sahabatnya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu —masing-masing seratus ekor. Namun Allah Ta’ala menyelamatkan keduanya.
Setelah berlalu beberapa tahun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Makkah sebagai penakluk dalam keadaan menang dan berjaya. Saat itu, beliau memiliki kekuasaan penuh atas para pembesar Quraisy, hingga beliau berdiri di pintu Ka’bah dan bersabda,
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، مَا تَرَوْنَ إِنِّي فَاعِلٌ بِكُمْ؟
“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”
Mereka semua berada di bawah kekuasaan beliau dalam keadaan hina dan tak berdaya.
Mereka menjawab, “Kebaikan. (Engkau adalah) saudara yang mulia dan putra dari saudara yang mulia.
Beliau pun bersabda,
فَإِنِّي أَقُولُ لَكُمْ كَمَا قَالَ يُوسُفُ لِإِخْوَتِهِ: لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ، وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ
“Maka aku katakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya, ‘Tidak ada celaan atas kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia Mahapenyayang di antara para penyayang. Pergilah, kalian semua bebas.’”
Beliau membebaskan dan memberi ampun mereka, padahal beliau berada dalam keadaan mampu sepenuhnya atas mereka.
Kesimpulannya, firman Allah Ta’ala “Dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” mencakup dua perkara:
Pertama, berpaling dari keadaan mereka, yakni tidak terlalu memedulikan bila mereka tidak beriman dan tidak bersedih atas penolakan mereka.
Kedua, berpaling dari gangguan yang mereka timbulkan. Jangan hiraukan apa pun bentuk kezaliman dan celaan yang menimpamu dari mereka, karena kesudahan yang baik akan menjadi milikmu. Inilah yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, setelah ayat tersebut Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Sesungguhnya Kami telah mencukupkan engkau dari orang-orang yang memperolok-olok, (yaitu) orang-orang yang menjadikan bersama Allah sembahan lain. Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat-akibatnya). Sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud (shalat). Sembahlah Rabb-mu hingga datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS al-Hijr: 95–99)
Perhatikan bagaimana Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertasbih kepada-Nya dengan pujian-Nya setelah berfirman: “Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan.” Sebab, situasi di sini adalah situasi yang membutuhkan penyucian Rabb ‘Azza wa Jalla dan pujian kepada-Nya dari yang menimpa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Quraisy.
Yakni, sucikanlah Dia dari segala apa pun yang tidak pantas bagi-Nya, dan ketahuilah bahwa apa pun yang Allah Jalla wa ‘Ala jalankan mengandung hikmah yang sempurna. Ia benar-benar berada pada puncak hikmah dan rahmat, yang karenanya Allah pantas dipuji atas keduanya.
Baca juga: AL-QUR’AN DAN KEUTAMAANNYA
Baca juga: MUKMIN YANG KUAT
Baca juga: LARANGAN DIJAUHI SEPENUHNYA, PERINTAH DILAKSANAKAN SESUAI KEMAMPUAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

