MANHAJ AHLUS SUNNAH DALAM MENYIKAPI PERSELISIHAN PARA SAHABAT

MANHAJ AHLUS SUNNAH DALAM MENYIKAPI PERSELISIHAN PARA SAHABAT

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup lebih lama, ia akan melihat banyak perselisihan.”

Artinya, siapa saja di antara kalian yang diberi umur panjang, ia pasti akan melihat banyak perbedaan: perbedaan dalam kepemimpinan, perbedaan dalam pendapat, perbedaan dalam amalan, perbedaan dalam keadaan manusia secara umum, dan bahkan pada keadaan sebagian individu secara khusus.

Itulah yang benar-benar terjadi. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum belum seluruhnya wafat ketika fitnah-fitnah besar terjadi —seperti peristiwa terbunuhnya Utsman radhiyallahu ‘anhu, kemudian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan sebelumnya terbunuhnya Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu— serta berbagai fitnah lain yang tercatat dalam buku-buku sejarah.

Yang wajib atas kita ketika berhadapan dengan fitnah-fitnah itu adalah menahan diri dari apa yang terjadi di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tidak terlibat di dalamnya, dan tidak membicarakannya. Sebagaimana perkataan Umar bin Abdulaziz rahimahullah, “Ini adalah darah-darah (yang tertumpah) yang Allah telah menyucikan pedang-pedang kita darinya. Maka wajib bagi kita menyucikan lisan-lisan kita darinya.”

Benar ucapan beliau radhiyallahu ‘anhu. Apa manfaatnya bagi kita mengungkit apa yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, atau antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu ‘anhuma, berupa peperangan yang telah berlalu dan selesai? Menyebut-nyebut dan mengingat kembali peperangan itu tidak memberi kita kecuali kesesatan. Sebab hal itu akan membuat kita membenci sebagian sahabat dan berlebihan terhadap sebagian yang lain.

Inilah yang dilakukan oleh golongan Rafidhah ketika mereka berlebihan terhadap Ahlul Bait. Mereka mengklaim loyal kepada Ahlul Bait, namun demi Allah Yang Mahaagung, Ahlul Bait sungguh berlepas diri dari sikap berlebihan mereka. Orang pertama yang berlepas diri dari mereka adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Kaum Saba’iyyah —para pengikut Abdullah bin Saba’— adalah kelompok pertama yang membuat bid’ah Rafidhah dalam umat ini. Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang menampakkan Islam untuk merusak Islam. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah —beliau adalah ulama yang meneliti dan mengetahui keadaan mereka— beliau mengatakan bahwa Abdulllah bin Saba’ adalah seorang Yahudi yang masuk Islam untuk merusaknya, seperti Paulus memasuki agama Nasrani untuk merusaknya.

Abdullah bin Saba’ menampakkan dirinya seolah mencintai Ahlul Bait, membela mereka, dan membela Ali bin Abi Thalib, sampai ia berdiri di hadapan Ali dan berkata kepadanya, “Engkau adalah Allah yang sebenarnya.” —Semoga Allah membinasakannya.

Tetapi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memerintahkan dibuatkan sebuah parit, digali lalu diisi kayu, kemudian ia memanggil para pengikut orang itu dan menyalakan api atas mereka, membakar mereka karena dosa mereka sangat besar —wal’iyadzu billah. Dikatakan bahwa Abdullah bin Saba’ sendiri lolos darinya dan melarikan diri ke Mesir.

Wallahu’alam.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika mendengar kabar tersebut, berkata bahwa Ali bin Abi Thalib benar dalam membunuh mereka, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia.” (HR al-Bukhari dan an-Nasa’i)

Mereka itu memang telah mengganti agama mereka.

Namun, Ibnu Abbas mengatakan, “Seandainya aku berada pada posisinya, aku tidak akan membakar mereka, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ

Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah.’” (HR al-Bukhari)

Ketika ucapan tersebut sampai kepada Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Tidak ada cela pada (ucapan) putra Ummul Fadhl (Ibnu Abbas) mengenai perkara-perkara ini.”

Maksudnya, tidak ada kesalahan dalam komentarnya. Seakan-akan Ali radhiyallahu ‘anhu membenarkan apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Aku katakan bahwa di antara manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kita diam dari apa yang terjadi di antara para sahabat, tidak membicarakannya, dan kita memalingkan hati serta lisan kita dari perselisihan yang terjadi di antara mereka. Kita mengatakan bahwa semuanya adalah para mujtahid. Yang benar mendapat dua pahala, dan yang keliru mendapat satu pahala.

Mereka adalah umat terdahulu yang telah berlalu. Bagi mereka apa yang telah mereka usahakan, dan bagi kalian apa yang kalian usahakan. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang mereka kerjakan.

Seandainya seseorang membaca sejarah tentang perkara-perkara ini, ia akan menemukan hal-hal yang sangat mengherankan. Ia akan mendapati orang yang membela Bani Umayyah lalu mencela Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi. Ia juga akan mendapati orang yang berlebihan membela Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi lalu mencela Bani Umayyah dengan sangat keras. Semua ini terjadi karena sejarah tunduk kepada politik.

Karena itu, kita —dalam perkara yang berkaitan dengan sejarah— wajib untuk tidak tergesa-gesa dalam menetapkan penilaian. Sebab dalam catatan sejarah terdapat kebohongan, keberpihakan, dan perubahan fakta: sesuatu yang tidak terjadi justru disebarkan, dan sesuatu yang benar-benar terjadi justru dihapus. Semua itu mengikuti kepentingan politik.

Bagaimanapun juga, apa yang terjadi di antara para sahabat radhiyallahu ‘anhum, kita wajib menahan diri darinya dan tidak membahasnya, sebagaimana yang menjadi manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, agar tidak ada rasa dengki sedikit pun di dalam hati kita terhadap salah seorang dari mereka.

Sebaliknya kita harus mencintai mereka semuanya, dan memohon kepada Allah agar mewafatkan kita di atas kecintaan kepada mereka. Kita mencintai mereka semuanya, dan kita berdoa:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam keimanan, dan jangan Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahalembut lagi Mahapenyayang.” (QS al-Hasyr: 10)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam — dan beliau adalah yang jujur lagi dibenarkan— bersabda, “Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup lebih lama, ia akan melihat banyak perselisihan.” Dan inilah yang benar-benar terjadi.

Namun, apakah kalimat ini berlaku untuk setiap zaman— dalam arti bahwa siapa pun yang hidup lebih lama pasti akan melihat perubahan— ataukah hal ini khusus berlaku bagi orang-orang yang diajak bicara oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Kita mengatakan bahwa sabda itu berlaku pada setiap zaman. Orang-orang yang diberi umur panjang di antara kita akan mendapati perbedaan besar antara awal kehidupan mereka dan akhirnya. Siapa yang hidup lama dan dipanjangkan umurnya akan melihat perubahan besar pada manusia. Ia melihat perubahan karena sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa di antara kalian yang hidup lebih lama, ia akan melihat banyak perselisihan.” Hal itu benar-benar telah terjadi.

Baca juga: BERSUMPAH DENGAN SELAIN ALLAH

Baca juga: BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Baca juga: BAHAYA SYIRIK AKBAR

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Riyadhush Shalihin