RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA ALLAH

RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA ALLAH

Ucapan Jibril, “Jelaskan kepadaku tentang iman,” menunjukkan bahwa iman terletak di dalam hati, sementara Islam terwujud dalam amalan lahiriah, yaitu pada anggota tubuh. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa Islam berkaitan dengan amalan lahiriah, sementara iman berkaitan dengan urusan batiniah, yang ada di dalam hati.

Iman adalah keyakinan yang mantap terhadap sesuatu, tanpa ada keraguan atau kemungkinan sebaliknya. Seseorang beriman dengan keyakinan yang teguh, seperti keyakinannya terhadap keberadaan matahari di siang hari yang terang benderang, tanpa sedikit pun keraguan. Iman merupakan pengakuan yang kokoh, tanpa disertai keraguan, yang mendorong seseorang untuk menerima dengan sepenuh hati segala yang datang dari syariat Allah dan tunduk sepenuhnya kepadanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iman adalah

الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, serta beriman kepada takdir, baik maupun buruknya.”

Ini adalah enam rukun yang menjadi pilar keimanan.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau beriman kepada Allah,” berarti engkau meyakini bahwa Allah Ta’ala ada, Mahahidup, Mahamengetahui, Mahakuasa, dan bahwa Dia adalah Rabb semesta alam. Tidak ada Rabb selain-Nya. Dia adalah Raja yang mutlak, dan segala pujian mutlak hanya milik-Nya. Kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan. Dia-lah satu-satunya yang berhak disembah, dan tidak ada sesuatu pun yang berhak disembah selain-Nya.

Dia-lah tempat bersandar, sumber dari segala pertolongan dan taufik. Allah Ta’ala memiliki semua sifat kesempurnaan yang tidak menyerupai sifat makhluk, sebagaimana firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ

Tidak sesuatu pun serupa dengan Dia.” (QS asy-Syura: 11)

Jika seseorang beriman kepada keberadaan Allah, rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka hal ini adalah suatu keharusan. Barang siapa mengingkari keberadaan Allah, ia kafir – wa al-’liyadzubillah – dan akan kekal di Neraka. Begitu pula, barang siapa ragu atau bimbang tentang keberadaan Allah, ia juga kafir, karena keimanan mengharuskan adanya keyakinan penuh bahwa Allah itu ada, Mahahidup, Mahamengetahui, dan Mahakuasa. Barang siapa ragu terhadap rububiyah Allah, ia juga kafir.

Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam rububiyah-Nya, maka dia kafir. Oleh karena itu, barang siapa meyakini bahwa para wali mengatur alam semesta atau memiliki kekuasaan di dalamnya, lalu menyeru mereka, memohon pertolongan, atau meminta bantuan kepada mereka, maka dia kafir – wa al-’liyadzubillah – karena hal itu menunjukkan bahwa dia tidak beriman kepada Allah dengan benar.

Barang siapa mempersembahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, maka dia kafir, karena hal itu menunjukkan bahwa dia tidak beriman kepada keesaan Allah dalam uluhiyah-Nya. Maka barang siapa sujud kepada matahari, bulan, pohon, sungai, laut, gunung, seorang raja, salah satu dari para nabi, atau salah satu wali dari para wali, maka dia kafir yang kekafirannya mengeluarkannya dari Islam, karena dia telah mempersekutukan Allah dengan selain-Nya.

Demikian pula, barang siapa mengingkari salah satu sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dengan cara mendustakan, maka dia kafir. Hal ini karena dia telah mendustakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika seseorang mengingkari salah satu sifat Allah dengan cara mendustakannya, maka dia kafir karena telah mendustakan apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebagai contoh, jika dia berkata bahwa Allah tidak beristiwa’ di atas ‘Arsy atau tidak turun ke langit dunia, maka dia kafir.

Jika seseorang mengingkari sifat-sifat Allah dengan cara menakwilkannya, maka hal tersebut perlu ditinjau lebih lanjut. Apakah takwilnya dapat diterima dan termasuk dalam perkara yang bisa menjadi ruang ijtihad, atau tidak? Jika takwilnya dapat diterima, maka dia tidak dianggap kafir, tetapi dianggap fasik karena telah menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Namun, jika takwilnya tidak memiliki alasan yang dapat diterima, maka pengingkaran dengan takwil seperti itu sama hukumnya dengan pengingkaran melalui pendustaan. Dengan demikian, dia juga kafir – wa al-’liyadzubillah.

Jika kamu beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, maka kamu akan menaati-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebab, siapa yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar, hatinya pasti dipenuhi pengagungan kepada Allah secara mutlak dan cinta kepada Allah yang sempurna. Ketika seseorang mencintai Allah dengan cinta yang mutlak yang tidak tertandingi oleh cinta kepada apa pun dan mengagungkan Allah dengan pengagungan yang mutlak yang tidak tertandingi oleh pengagungan kepada siapa pun, ia akan terdorong untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya.

Demikian pula, termasuk bagian dari keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah berada di atas segala sesuatu, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, dan bahwa ‘Arsy tersebut berada di atas semua makhluk. ‘Arsy adalah makhluk yang paling besar yang kita ketahui, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:

إِنَّ ٱلسَّمَاوَاتِ ٱلسَّبْعَ وَٱلْأَرْضِينَ ٱلسَّبْعَ بِٱلنِّسْبَةِ لِلْكُرْسِيِّ كَحَلْقَةٍ أُلْقِيَتْ فِي فَلَاةٍ مِّنَ ٱلْأَرْضِ

“Sesungguhnya tujuh langit dan tujuh bumi dibandingkan dengan Kursi hanyalah seperti sebuah cincin yang dilemparkan di padang pasir yang luas.”

Tujuh langit dengan segala keluasannya dan tujuh bumi dibandingkan dengan Kursi hanyalah seperti sebuah cincin dibandingkan dengan bumi. Bayangkan sebuah cincin dari cincin-cincin baju zirah dilemparkan ke padang pasir yang luas, lalu perhatikan perbandingannya—betapa kecilnya cincin itu dibandingkan dengan luasnya padang pasir.

Tidak ada apa-apanya! Apa arti cincin itu dibandingkan dengan padang pasir? Tidak ada artinya sama sekali.

Dalam lanjutan riwayat disebutkan:

وإنَّ فضل العرش على الكرسيِّ كفضل الفلاة على هذه الحلقة

“Sesungguhnya keutamaan ‘Arsy dibandingkan dengan Kursi seperti keutamaan padang pasir dibandingkan dengan cincin tersebut.”

Kursi dibandingkan dengan ‘Arsy hanyalah seperti cincin yang dilemparkan ke padang pasir. Renungkanlah betapa besarnya ‘Arsy ini. Oleh karena itu, Allah menyifatinya dengan keagungan, sebagaimana dalam firman-Nya:

رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Rabb yang memiliki Arsy yang agung.” (QS at-Taubah: 129)

ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدُ

Yang mempunyai singgasana lagi Mahamulia.” (QS al-Buruj: 15)

Allah menyifati ‘Arsy dengan kemuliaan, keagungan, dan kemurahan hati.

‘Arsy inilah yang Allah Ta’ala beristiwa’ di atasnya. Allah berada di atas ‘Arsy, dan ‘Arsy berada di atas semua makhluk. Kursi, yang kecil jika dibandingkan dengan ‘Arsy, meliputi langit dan bumi, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ

Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” (QS al-Baqarah: 255)

Oleh karena itu, kamu harus beriman bahwa Allah Ta’ala berada di atas segala sesuatu, dan bahwa semua makhluk dibandingkan dengan Allah tidak ada artinya. Allah Ta’ala jauh lebih agung dan lebih mulia daripada apa yang dapat dijangkau oleh akal atau pikiran. Bahkan penglihatan, jika melihat Allah—dan orang-orang beriman akan melihat Allah di Surga—tidak akan mampu menjangkau atau meliputi-Nya, sebagaimana firman Allah:

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَ

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu.” (QS al-An’am: 103)

Keagungan dan kebesaran Allah jauh melampaui segala sesuatu. Oleh karena itu, wajib bagimu untuk beriman kepada Allah Ta’ala dengan keimanan yang agung, agar engkau terdorong untuk menyembah-Nya dengan ibadah yang sebenar-benarnya.

Termasuk dari keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada. Dia juga mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi, baik yang sedikit maupun yang banyak, yang besar maupun yang kecil, sebagaimana firman-Nya:

 اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS Ali Imran: 5)

Demikian pula, kamu harus beriman bahwa Allah Ta’ala Mahakuasa atas segala sesuatu. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah ia, apa pun perkara tersebut.

Perhatikanlah penciptaan dan kebangkitan manusia. Manusia, yang jumlahnya mencapai milyaran—dan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang mengetahui jumlah pastinya—diciptakan dan dibangkitkan dengan mudah oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:

 مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَّاحِدَةٍ

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur) melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.” (QS Luqman: 28)

Semua makhluk diciptakan dan dibangkitkan-Nya seperti satu jiwa saja.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang kebangkitan:

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌ؛ فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِ

Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (QS an-Nazi’at: 13-14)

Kamu dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tanda tersebut adalah ketika manusia tidur, di mana Allah mewafatkan mereka sementara, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰىكُمْ بِالَّيْلِ

Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari.”(QS al-An’am: 60)

Namun, kematian ini bukanlah kematian yang memutus sepenuhnya hubungan antara roh dan jasad, melainkan suatu bentuk pemisahan yang tetap menjaga keterkaitan antara keduanya.

Ketika Allah membangunkan seseorang dari tidurnya, ia akan merasakan seolah-olah diberikan kehidupan yang baru. Hal ini dahulu lebih terasa sebelum adanya lampu listrik. Saat malam menyelimuti, manusia merasakan kegelapan, keheningan, dan ketenangan. Kemudian, ketika fajar menyingsing, mereka merasakan terang, semangat, dan kelapangan. Mereka pun bersyukur atas kepergian malam dan menyambut datangnya siang sebagai nikmat yang Allah berikan.

Saat ini, malam telah menjadi seperti siang karena cahaya lampu yang menerangi sepanjang waktu. Akibatnya, kenikmatan malam yang dahulu dirasakan manusia perlahan memudar. Meskipun demikian, manusia tetap merasakan bahwa ketika ia bangun dari tidurnya, seolah-olah ia kembali ke kehidupan yang baru. Hal ini merupakan bagian dari rahmat dan hikmah Allah yang senantiasa melingkupi hamba-hamba-Nya.

Demikian pula, kita beriman bahwa Allah Mahamendengar dan Mahamelihat. Dia mendengar segala yang kita ucapkan, bahkan yang paling tersembunyi sekalipun. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

اَمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ ۗ بَلٰى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُوْنَ

Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS az-Zukhruf: 80)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

فَاِنَّهٗ يَعْلَمُ السِّرَّ وَاَخْفٰى

Sungguh, Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS Thaha: 7)

Makna “yang lebih tersembunyi” adalah sesuatu yang bahkan lebih dalam daripada rahasia, yakni bisikan yang ada di dalam diri manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS Qaf: 16)

Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang dibisikkan seseorang dalam dirinya sendiri diketahui oleh Allah, meskipun tidak diperlihatkan kepada makhluk lainnya.

Dia ‘Azza wa Jalla juga Mahamelihat. Dia melihat setiap gerakan, termasuk langkah semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Maka, jika kamu beriman kepada ilmu Allah, kekuasaan-Nya, pendengaran-Nya, dan penglihatan-Nya, keimanan itu seharusnya mendorongmu untuk senantiasa menjaga hubungan dengan Rabbmu ‘Azza wa Jalla. Kamu tidak mendengarkan sesuatu kecuali yang diridhai-Nya, dan tidak melakukan sesuatu kecuali yang diridhai-Nya.

Ketahuilah, jika kamu berbicara, Dia mendengarmu. Jika kamu berbuat, Dia melihatmu. Oleh karena itu, kamu harus senantiasa merasa takut dan khawatir kepada Rabb-mu. Jangan sampai Dia mendapati dirimu berada di tempat yang dilarang-Nya, atau tidak menemukan dirimu di tempat yang diperintahkan-Nya.

Demikian pula, kamu harus takut jika Allah mendengar darimu sesuatu yang tidak diridhai-Nya, atau jika kamu diam dari melaksanakan sesuatu yang telah Dia perintahkan kepadamu.

Demikian pula, jika kamu beriman kepada kesempurnaan kekuasaan Allah, maka kamu akan memohon kepada-Nya segala yang kamu inginkan, asalkan tidak mengandung pelanggaran dalam doa. Jangan pernah berkata, “Hal ini terlalu jauh,” atau, “Hal ini tidak mungkin terjadi.” Sesungguhnya, segala sesuatu mungkin terjadi dengan kekuasaan Allah.

Inilah kisah Nabi Musa ‘alaihish shalatu was salam. Ketika ia sampai di tepi Laut Merah dalam keadaan melarikan diri dari Fir’aun dan tentaranya, Allah memerintahkannya untuk memukul laut itu dengan tongkatnya. Maka, Musa pun memukul laut tersebut, dan dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, laut itu terbelah menjadi dua belas jalan.

Air di antara jalan-jalan itu tegak seperti gunung-gunung yang tinggi. Dalam sekejap, dasar laut mengering, sehingga mereka dapat berjalan di atasnya seolah-olah berjalan di atas padang pasir yang tidak pernah terkena air. Semua itu adalah tanda kekuasaan Allah yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ketika memimpin penaklukan wilayah Persia, tiba di Sungai Dijlah (Tigris)—sungai besar yang terkenal di Irak. Orang-orang Persia telah menyeberang ke arah timur sungai, memutuskan jembatan-jembatan, dan menenggelamkan kapal-kapal untuk menghalangi kaum muslimin menyeberang.

Sa’ad radhiyallahu ‘anhu kemudian bermusyawarah dengan para sahabatnya. Setelah mencapai kesepakatan, mereka memutuskan untuk menyeberangi sungai tersebut. Dengan izin Allah, mereka menyeberangi Sungai Tigris dengan berjalan di atas permukaan air, bersama kuda, unta, dan seluruh pasukan mereka, tanpa satu pun yang terkena bahaya.

Maka siapakah yang menahan aliran sungai itu sehingga permukaannya menjadi datar, seperti batu yang kokoh, sehingga pasukan dapat melintasinya tanpa tenggelam? Sesungguhnya Dia-lah Allah ‘Azza wa Jalla, yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Demikian pula yang terjadi pada al-’Ala bin al-Hadhrami radhiyallahu ‘anhu saat ia berperang di Bahrain. Ketika laut menghadang perjalanan mereka, ia memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan izin-Nya, mereka pun menyeberang di atas permukaan air tanpa mengalami bahaya sedikit pun.

Tanda-tanda kebesaran Allah sangatlah banyak. Segala sesuatu yang diberitakan oleh Allah dalam Kitab-Nya, yang disampaikan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau yang disaksikan manusia berupa kejadian-kejadian luar biasa yang melampaui kebiasaan, semuanya merupakan bukti kekuasaan-Nya. Beriman kepada hal-hal tersebut adalah bagian dari keimanan kepada Allah, karena hal itu menunjukkan keyakinan terhadap kekuasaan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara bentuk keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kesadaran bahwa Dia selalu melihatmu. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu. Oleh karena itu, beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan jika kamu tidak mampu mencapai kesadaran seperti itu, maka yakinlah bahwa Dia senantiasa melihatmu.

Namun, hal ini sering kali dilupakan oleh banyak orang. Seseorang mungkin beribadah kepada Allah, tetapi ibadahnya dilakukan seolah-olah hanya sebagai rutinitas, sekadar kebiasaan yang terus diulang, tanpa perasaan seakan-akan ia sedang melihat Rabb-nya ‘Azza wa Jalla. Sikap seperti ini mencerminkan kekurangan dalam keimanan dan juga dalam kesempurnaan amal perbuatannya.

Di antara keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah keyakinan bahwa segala hukum milik Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Baik hukum kauniyah (hukum yang berlaku di alam semesta) maupun syar’iyah (hukum syariat), semuanya adalah milik Allah. Tidak ada yang menetapkan hukum selain Allah, dan di tangan-Nya sajalah segala sesuatu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Katakanlah, ‘Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran: 26)

Betapa banyak raja yang kehilangan kerajaannya hanya dalam rentang waktu antara sore dan pagi, dan betapa banyak orang biasa yang diangkat menjadi raja dalam waktu yang sama. Semua itu terjadi karena urusan tersebut berada sepenuhnya di tangan Allah.

Betapa banyak orang yang merasa mulia dan tak terkalahkan, namun dalam sekejap menjadi hamba Allah yang paling hina antara sore dan pagi. Sebaliknya, betapa banyak orang yang sebelumnya hina, kemudian diangkat derajatnya menjadi mulia dalam waktu yang singkat. Sesungguhnya, kekuasaan dan hukum sepenuhnya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula, hukum syar’i sepenuhnya adalah milik Allah, bukan milik siapa pun. Allah Ta’ala adalah Dzat yang berhak menetapkan apa yang halal, haram, dan wajib. Tidak ada seorang pun dari makhluk yang memiliki wewenang untuk memutuskan hal itu. Penetapan kewajiban, penghalalan, dan pengharaman adalah hak Allah semata. Oleh karena itu, Allah melarang hamba-hamba-Nya menyatakan sesuatu sebagai halal atau haram tanpa izin-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ؛ مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ۖوَّلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan janganlah kalian mengatakan terbadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta ini halal dan ini haram untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesanangan yang sedikit. Dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS an-Nahl: 116-117)

Kesimpulannya, keimanan kepada Allah melalui tanda-tanda kebesaran-Nya sangatlah luas. Jika seseorang berusaha untuk menguraikannya, masih banyak tanda-tanda lainnya yang akan tetap tersisa untuk dibicarakan. Namun demikian, isyarat yang singkat seringkali sudah cukup tanpa perlu memperpanjang uraian.

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA PARA RASUL

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA TAKDIR

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Riyadhush Shalihin