Rukun kelima adalah “Haji ke Baitullah.”
Yaitu pergi ke Baitullah dengan tujuan melaksanakan manasik yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, haji ke Baitullah adalah salah satu Rukun Islam. Sedangkan umrah termasuk bagian dari haji, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai “haji kecil.”
Ibadah haji memiliki beberapa syarat, yaitu baligh, berakal, beragama Islam, merdeka, dan mampu. Lima syarat! Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka kewajiban haji gugur.
Jika ketidakmampuan untuk berhaji disebabkan oleh keterbatasan harta, maka ia tidak diwajibkan berhaji, baik secara langsung maupun melalui wakilnya.
Jika halangan terdapat pada badan, maka:
🏀 Jika halangan tersebut bersifat sementara dan diharapkan hilang, orang tersebut menunggu hingga Allah menyembuhkannya dan penghalang tersebut hilang.
🏀 Jika halangan tersebut bersifat permanen dan tidak diharapkan hilang, seperti karena usia lanjut, maka ia wajib menunjuk orang lain untuk melaksanakan haji atas namanya. Hal ini didasarkan pada riwayat seorang perempuan yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, ayahku telah diwajibkan oleh Allah untuk berhaji, tetapi ia sudah tua dan tidak mampu duduk tegak di atas tunggangannya. Apakah aku boleh berhaji atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya, karena ia menyebut haji sebagai kewajiban meskipun ia tidak mampu secara fisik, tetapi memiliki kemampuan finansial. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajikanlah untuknya!”
Inilah lima rukun yang merupakan pilar Islam:
1. Bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
2. Mendirikan shalat.
3. Mengeluarkan zakat.
4. Berpuasa pada bulan Ramadhan.
5. Haji ke Baitullah Al-Haram.
Kemudian Jibril berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menjawab pertanyaannya, “Engkau benar.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami pun merasa heran, dia bertanya kepada beliau, namun dia juga membenarkannya!”
Ini karena seseorang yang membenarkan ucapan orang lain biasanya berarti sudah memiliki pengetahuan sebelumnya tentang apa yang ditanyakannya. Kami pun merasa heran, bagaimana mungkin dia bertanya, lalu setelah mendapatkan jawaban, dia mengatakan, “Engkau benar.” Padahal, umumnya orang yang bertanya akan mengatakan, “Aku mengerti,” bukan “Engkau benar.”
Namun, Jibril ‘alaihissalam sudah memiliki pengetahuan tentang hal tersebut, sehingga dia berkata, “Engkau benar.”
Baca juga: SYARAT-SYARAT KALIMAT TAUHID
Baca juga: TATA CARA UMRAH PRAKTIS
Baca juga: KISAH PENGHUNI NERAKA TERAKHIR YANG MASUK SURGA
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

