Adapun rukun kelima adalah “Iman kepada Hari Akhir.”
Hari Akhir adalah Hari Kiamat. Dinamakan demikian karena tidak ada hari setelahnya. Manusia menjalani empat fase kehidupan: fase dalam rahim ibu, fase di dunia, fase di alam barzakh, dan fase di Hari Kiamat. Hari Kiamat merupakan fase terakhir, sehingga disebut Hari Akhir. Pada fase ini, manusia akan tinggal di tempat yang abadi, baik di Surga – semoga Allah menjadikan kita termasuk penghuninya – atau di Neraka – semoga Allah melindungi kita darinya.
Iman kepada Hari Akhir mencakup berbagai aspek, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab al-’Aqidah al-Wasithiyyah. Kitab ini merupakan ringkasan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang dianggap sebagai salah satu karya terbaik Syaikhul Islam rahimahullah karena keunggulannya dalam ringkasan, kejelasan, dan penyampaiannya yang bebas dari pembahasan bertele-tele.
Beliau rahimahullah berkata, “Termasuk dalam iman kepada Hari Akhir adalah beriman kepada semua yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang terjadi setelah kematian.” Di antaranya adalah fitnah kubur, yaitu ujian yang dialami seseorang setelah dimakamkan. Pada saat itu, dua malaikat akan datang kepadanya, mendudukkannya, dan menanyainya tiga pertanyaan, ‘Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?’”
Maka Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh – semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk di antara mereka. Orang beriman pun menjawab, “Rabb-ku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kemudian terdengar seruan dari langit: “Hamba-Ku telah berkata benar, maka hamparkanlah untuknya hamparan dari Surga, pakaikanlah untuknya pakaian dari Surga, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke Surga.”
Setelah itu, datanglah kepadanya angin sejuk dari Surga, kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang, dan ia merasakan kenikmatan yang datang dari Surga. Ia pun menyaksikan keindahan dan kenikmatan yang disediakan untuknya.
Adapun orang munafik – wa-al’iyadzubillah – atau orang kafir, ia menjawab, “Ah.. ah.. aku tidak tahu. Aku hanya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, maka aku pun mengatakannya.” Hal ini terjadi karena keimanan tidak sampai ke hatinya, melainkan hanya sebatas lisannya. Ia mendengar tetapi tidak memahami maknanya. Ia tidak diberikan keteguhan di kuburnya.
Ini adalah fitnah yang sangat besar. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah ini dalam setiap shalat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَعَذَابِ النَّارِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan azab Neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Termasuk dalam iman kepada Hari Akhir adalah keyakinan terhadap adanya kenikmatan kubur dan azab kubur. Kenikmatan kubur diberikan kepada orang-orang beriman yang berhak mendapatkannya, sedangkan azab kubur ditimpakan kepada orang-orang yang berhak menerima azab. Hal ini telah ditegaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah, serta menjadi kesepakatan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Dalam Kitabullallah, Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ طَيِّبِيْنَ يَقُوْلُوْنَ سَلٰمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ‘Salamun ‘alaikum. Masuklah kalian ke dalam Surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.’” (QS an-Nahl: 31-32)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di akhir Surah al-Waqi’ah:
فَاَمَّآ اِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَۙ فَرَوْحٌ وَّرَيْحَانٌ وَّجَنَّتُ نَعِيْمٍ
“Adapun jika ia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh rezeki serta Surga kenikmatan.” (QS al-Waqiah: 88-89)
Hal ini disebutkan dalam konteks keadaan seseorang saat menghadapi sakaratul maut. Jika ia termasuk golongan yang didekatkan kepada Allah, maka baginya adalah roh, wewangian, dan Surga kenikmatan, yang ia rasakan pada hari itu juga.
Adapun mengenai azab kubur, perhatikanlah firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ ٱفْتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِىَ إِلَىَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَىْءٌ وَمَن قَالَ سَأُنزِلُ مِثْلَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِى غَمَرَٰتِ ٱلْمَوْتِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓا۟ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوٓا۟ أَنفُسَكُمُ ۖ ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ ٱلْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيْرَ ٱلْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَٰتِهِۦ تَسْتَكْبِرُونَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepadaku,’ padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’ Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawa kalian! Di hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.’” (QS al-An’am: 93)
Maksud ‘di pada hari ini’ adalah di hari kematian mereka ketika mereka sedang sekarat.
Allah Ta’ala berfirman tentang keluarga Fir’aun:
اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ
“Kepada mereka diperlihatkan Neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!’” (QS Ghafir: 46)
Firman Allah Ta’ala: “Kepada mereka diperlihatkan Neraka pada pagi dan petang” menunjukkan bahwa kejadian itu adalah sebelum Hari Kiamat. Setelah Hari Kiamat dikatakan kepada mereka: “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!”
Namun, perlu kita ketahui bahwa kenikmatan dan azab kubur adalah perkara gaib yang tidak dapat kita saksikan dengan mata. Sebab, jika manusia dapat menyaksikan azab tersebut, tentu mereka tidak akan berani menguburkan orang-orang yang telah meninggal. Tidak mungkin seseorang menyerahkan jenazah kepada siksa yang ia dengar hingga membuatnya ketakutan.
Orang kafir atau munafik, jika tidak mampu menjawab pertanyaan di kubur, akan dipukul dengan palu besar – sebuah potongan besi seperti palu – yang menyebabkan ia menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ
“Dan jika manusia mendengarnya, pasti ia akan jatuh pingsan.” (HR al-Bukhari)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْلَا أَنْ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ عَذَابَ الْقَبْرِ
“Seandainya kalian tidak saling menguburkan (jenazah), niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar kalian dapat mendengar azab kubur.” (HR Muslim)
Namun, termasuk nikmat Allah bahwa perkara kenikmatan dan azab kubur tidak dapat kita saksikan secara kasatmata. Kita beriman kepadanya sebagai perkara gaib yang tidak dapat ditangkap oleh indra.
Demikian pula, jika azab kubur dapat disaksikan dan dirasakan secara indrawi, hal itu akan menjadi aib yang memalukan bagi orang yang diazab. Misalnya, jika seseorang melewati kuburan dan mendengar penghuni kubur tersebut menjerit atau merasakan kesakitan, tentu hal ini akan menjadi aib baginya.
Begitu juga, jika azab kubur dapat disaksikan secara indrawi, hal itu akan membuat keluarganya merasa cemas dan gelisah. Mereka mungkin tidak akan bisa tidur di malam hari karena mendengar suara jeritan orang yang mereka kenal, baik siang maupun malam, akibat azab tersebut. Namun, dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, azab kubur dijadikan sebagai perkara gaib yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Oleh karena itu, tidak seorang pun dapat berkata, “Jika kita menggali kubur setelah dua hari, kita tidak akan menemukan jejak azab tersebut.”
Kita katakan: Hal ini adalah perkara gaib. Namun, Allah Ta’ala dapat memperlihatkan perkara gaib ini kepada siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, sehingga mungkin saja hal tersebut terlihat oleh sebagian orang, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan di Madinah dan bersabda,
إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya diazab bukan karena dosa besar. Adapun salah satu dari mereka tidak menjaga dirinya dari air kencing, sedangkan yang lainnya suka mengadu domba.” (HR al-Bukhari)
Allah telah memperlihatkan kepada Nabi-Nya kondisi kedua penghuni kubur tersebut bahwa mereka sedang diazab.
Kesimpulannya, kita wajib beriman kepada fitnah kubur, yaitu pertanyaan dua malaikat tentang Rabb-nya, agamanya, dan nabinya. Selain itu, kita juga wajib beriman kepada kenikmatan kubur dan azab kubur.
Termasuk dalam iman kepada hari akhir adalah keyakinan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari akhir itu sendiri. Ketika sangkakala ditiup untuk kedua kalinya, manusia akan dibangkitkan dari kubur untuk menghadap Allah, Rabb semesta alam, dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang tanpa pakaian, tidak berkhitan, dan tanpa membawa harta. Semua manusia, termasuk para nabi dan rasul, akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya.” (QS al-Anbiyaa’: 104)
Sebagaimana manusia keluar dari rahim ibunya dalam keadaan telanjang, tanpa alas kaki, tidak berkhitan, dan tanpa membawa harta, demikian pula mereka akan keluar dari perut bumi pada Hari Kiamat dalam keadaan seperti itu. Semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar, kafir maupun mukmin, akan bangkit untuk menghadap Rabb semesta alam dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan tanpa membawa apa pun.
Namun, tidak seorang pun akan saling memandang, karena mereka diliputi oleh kegentingan yang sangat dahsyat sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan orang lain. Urusan yang dihadapi saat itu jauh lebih besar daripada sekadar memperhatikan orang lain.
Bisa jadi seorang perempuan berada di sebelah seorang laki-laki, namun ia tidak memperhatikannya, dan begitu pula sebaliknya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS Abasa: 33-37)
Termasuk dalam iman kepada Hari Akhir adalah keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meratakan bumi ini dan membentangkannya sebagaimana kulit yang diratakan. Saat ini, bumi berbentuk bulat sedikit lonjong, terutama di bagian kutub utara dan selatan. Namun, pada Hari Kiamat, bumi akan diratakan sepenuhnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۙ وَاِذَا الْاَرْضُ مُدَّتْ
“Apabila langit terbelah dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya langit patuh, dan apabila bumi diratakan.” (QS al-Insyiqaq: 1-3)
Ini menunjukkan bahwa bumi tidak akan diratakan kecuali setelah langit terbelah, yaitu pada Hari Kiamat. Bumi akan dibentangkan sebagaimana kulit yang diratakan, tanpa lembah, pepohonan, bangunan, atau gunung. Allah ‘Azza wa Jalla akan menjadikannya sebagai tanah datar yang rata, tanpa lekukan atau ketinggian. Manusia akan dikumpulkan di atasnya dalam keadaan sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
Langit akan dilipat, dan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipatnya dengan tangan kanan-Nya. Matahari akan didekatkan kepada makhluk hingga berada di atas kepala mereka sejauh satu mil, baik itu berupa jarak satu mil perjalanan ataupun alat celak. Apa pun jaraknya, matahari akan sangat dekat dengan kepala mereka. Namun, kita beriman bahwa ada sebagian orang yang akan selamat dari panasnya. Mereka adalah orang-orang yang diberi naungan oleh Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Di antara mereka adalah tujuh golongan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu susunan, beliau bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil, (2) Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) Seorang laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) Seorang laki-laki yang bersedekah dengan diam-diam hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, (7) Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga kedua matanya mengalirkan air mata.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
1. Imam (Pemimpin) yang Adil
Pemimpin yang adil adalah yang berlaku adil kepada rakyatnya. Tidak ada keadilan yang lebih sempurna dan lebih wajib daripada memerintah berdasarkan syariat Allah. Inilah inti dari keadilan, karena Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS an-Nahl: 90)
Barang siapa memerintah rakyatnya dengan selain syariat Allah, maka ia tidak berlaku adil. Bahkan, ia termasuk orang kafir, na’udzubillah, karena Allah berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُم بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS al-Ma’idah: 44)
Jika seorang pemimpin menetapkan undang-undang yang bertentangan dengan syariat, dan ia mengetahui bahwa undang-undang tersebut bertentangan dengan syariat, namun tetap memilih untuk berpegang teguh pada undang-undang itu dengan berkata, “Aku tidak akan meninggalkan hukum ini,” maka ia adalah seorang kafir. Meskipun ia melaksanakan shalat, bersedekah, berpuasa, berhaji, berzikir kepada Allah Ta’ala, atau bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, orang seperti ini termasuk kafir yang kekal di dalam Neraka Jahanam pada Hari Kiamat.
Tidak diperbolehkan seorang pemimpin seperti itu memimpin rakyat muslim jika rakyat memiliki kemampuan untuk menyingkirkannya dari kekuasaan. Keadilan yang paling utama bagi seorang pemimpin adalah memerintah rakyatnya berdasarkan syariat Allah.
Di antara bentuk keadilan adalah menyamakan antara yang miskin dan yang kaya, antara musuh dan teman, serta antara kerabat dan orang jauh. Bahkan terhadap musuh sekalipun, seorang hakim wajib menyamakan kedudukannya dengan teman dalam perkara penghakiman.
Para ulama rahimahumullah menyebutkan bahwa jika ada dua orang yang menghadap hakim, salah satunya kafir dan yang lainnya muslim, maka haram bagi hakim untuk memberikan perlakuan khusus kepada yang muslim. Keduanya harus masuk bersama, duduk bersama, dan hakim harus berbicara kepada keduanya secara adil, tanpa berbicara hanya kepada salah satu pihak. Hakim tidak boleh tersenyum kepada yang muslim sambil bermuka masam kepada yang kafir.
Dalam posisi peradilan, hakim wajib menyamakan kedudukan keduanya. Meskipun tidak diragukan bahwa seorang kafir tidak sama dengan seorang muslim, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Apakah Kami akan menjadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang berdosa? Apa yang terjadi pada kalian, bagaimana kalian menetapkan keputusan?” (QS Al-Qalam: 35-36)
Namun, dalam urusan peradilan, semua manusia sama di hadapan hukum.
Di antara bentuk keadilan adalah menegakkan hudud (hukuman) yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan kepada siapa saja, bahkan kepada anak-anak dan keturunannya sendiri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan pemimpin paling adil, memberikan teladan dalam hal ini. Ketika ada seorang perempuan dari Bani Makhzum mencuri dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar tangannya dipotong, Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu memohonkan syafaat untuk perempuan tersebut. Rasulullah pun bersabda,
أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ؟
“Apakah engkau memohon syafaat dalam salah satu hudud Allah?” Beliau mengingkari perbuatan itu.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkhotbah kepada orang-orang. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda,
أَمَّا بَعْدُ… فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ. وَأَيْمُ اللَّهِ – أَيْ: أَحْلِفُ بِاللَّهِ – لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Adapun setelah ini… Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya, dan jika orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukuman atasnya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Fatimah binti Muhammad adalah perempuan paling mulia, pemimpin para perempuan penghuni Surga, dan putri manusia terbaik. Namun, jika ia mencuri, tangannya tetap akan dipotong oleh ayahnya sendiri.
Perhatikan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku akan memotong tangannya,” bukan “Aku akan memerintahkan untuk memotong tangannya.” Secara zahir, hal ini menunjukkan bahwa beliau sendiri yang akan langsung melaksanakan hukuman tersebut jika Fatimah mencuri.
Inilah keadilan sejati, dan dengan keadilan inilah langit dan bumi ditegakkan.
Di antara bentuk keadilan seorang pemimpin adalah memberikan jabatan kepada orang yang memang layak mendudukinya, baik dari sisi agama maupun kemampuannya. Orang tersebut harus amanah dan kuat, serta memenuhi syarat untuk tugas yang diembankan kepadanya.
Rukun kepemimpinan ada dua: kekuatan dan amanah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
“Sesungguhnya orang yang paling baik engkau pekerjakan adalah yang kuat lagi amanah.” (QS al-Qashash: 26)
Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Ifrit dari golongan jin kepada Nabi Sulaiman:
أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ، وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
“Aku akan membawanya (singgasana Ratu Balqis) kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sesungguhnya aku benar-benar kuat lagi dapat dipercaya atas tugas ini.” (QS an-Naml: 39)
Oleh karena itu, termasuk keadilan adalah tidak memberikan jabatan kepada seseorang kecuali jika ia memang layak berdasarkan kekuatan dan amanahnya. Jika seseorang yang tidak memenuhi syarat diangkat menjadi pemimpin, padahal ada orang lain yang lebih baik darinya, maka tindakan tersebut adalah bentuk ketidakadilan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan pemimpin yang adil sebagai salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Bahkan, beliau menyebutkan pemimpin yang adil sebagai yang pertama di antara ketujuh golongan tersebut. Hal ini karena berlaku adil terhadap rakyat adalah tugas yang sangat sulit. Jika seseorang yang diangkat oleh Allah untuk memimpin hamba-hamba-Nya berhasil berlaku adil, maka ia akan meraih kebaikan yang sangat besar, dan umat akan mendapatkan manfaat di masanya serta setelahnya. Sebab, ia menjadi teladan yang baik bagi generasi berikutnya. Pemimpin seperti inilah yang termasuk dalam golongan yang dinaungi oleh Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
2. Pemuda yang Tumbuh dalam Ketaatan kepada Allah
Pemuda adalah mereka yang berusia antara lima belas hingga tiga puluh tahun. Tidak diragukan bahwa pemuda biasanya memiliki berbagai kecenderungan, pemikiran, dan pandangan hidup yang belum mantap dalam satu hal, karena mereka masih muda dan penuh semangat. Segala sesuatu dapat menarik perhatian dan memengaruhi mereka. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan memerintahkan agar para pemimpin tua dari kaum musyrik yang memimpin perlawanan dibunuh, sementara para pemuda mereka dibiarkan hidup. Hal ini karena para pemuda, jika diajak kepada Islam, mungkin akan menerima dan memeluknya.
Karena pada masa muda seseorang memiliki berbagai pemikiran, hawa nafsu, serta kecenderungan intelektual, moral, dan perilaku, maka siapa saja yang diberi anugerah oleh Allah untuk tumbuh dalam ketaatan kepada-Nya termasuk golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Ketaatan kepada Allah adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidak mungkin seseorang dapat menjalankan perintah dan menjauhi larangan kecuali jika ia mengetahui bahwa sesuatu itu adalah perintah atau larangan. Oleh karena itu, pengetahuan harus mendahului amal. Dengan demikian, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah adalah pemuda yang menuntut ilmu, menjalankan perintah, dan menjauhi larangan berdasarkan ilmunya.
3. Seorang Laki-laki yang Hatinya Terpaut pada Masjid
Seorang laki-laki yang hatinya terpaut pada masjid adalah orang yang mencintai masjid.
Apakah yang dimaksud adalah tempat-tempat sujud secara umum, yaitu kecintaannya terhadap banyaknya ibadah shalat, ataukah yang dimaksud adalah masjid tertentu? Kedua kemungkinan ini dapat diterima.
Orang seperti ini senantiasa hatinya terikat dengan masjid. Ia selalu sibuk dengan tempat-tempat shalat dan dengan shalat itu sendiri. Setelah selesai melaksanakan satu shalat, ia menanti shalat berikutnya, dan begitu seterusnya.
Di sini terdapat perbedaan yang besar antara seseorang yang berkata, “Ya Allah, istirahatkan aku dengan shalat” dan seseorang yang berkata, “Ya Allah, istirahatkan aku dari shalat.”
Ungkapan “Istirahatkan aku dengan shalat” adalah ungkapan yang baik, yang berarti “Jadikanlah shalat sebagai sumber ketenangan bagi hatiku.” Sementara itu, ungkapan “Istirahatkan aku dari shalat” bermakna “Bebaskan aku dari shalat.” Na‘udzubillah! Ungkapan ini menunjukkan sikap tidak suka atau merasa terbebani dengan shalat.
Adapun orang yang hatinya terpaut pada masjid, ia senantiasa mencintai masjid, sibuk dengan tempat-tempat ibadah, dan ibadah shalat itu sendiri. Setelah selesai melaksanakan satu shalat, ia menanti shalat berikutnya, dan begitu seterusnya.
4. Dua Orang yang Saling Mencintai karena Allah, Mereka Bertemu dan Berpisah karena-Nya
Artinya, mereka saling mencintai semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada hubungan kerabat, hubungan finansial, atau persahabatan alami di antara mereka. Kecintaan tersebut murni karena ia melihat saudaranya sebagai seorang hamba Allah yang taat dan istiqamah dalam menjalankan syariat-Nya, sehingga ia mencintainya karena Allah.
Jika kecintaan itu terjadi karena dua alasan, seperti adanya hubungan kekerabatan atau persahabatan di samping keimanan, maka hal itu tetap diperbolehkan. Ia mencintainya dari dua sisi: sisi kekerabatan atau persahabatan, dan sisi keimanan. Maka kedua orang ini saling mencintai karena Allah dan menjadi seperti dua saudara, karena adanya ikatan syar’i dan agama di antara mereka, yaitu ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Bertemu” di dunia, dan “berpisah” artinya tidak ada yang memisahkan mereka kecuali kematian. Mereka saling mencintai hingga salah satu dari mereka wafat. Kedua orang ini akan berada di bawah naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Pada Hari Kiamat, mereka akan tetap berada dalam cinta dan persahabatan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
الأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ ٱلْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf: 67).
Persahabatan mereka akan terjaga, baik di dunia maupun di akhirat.
Ya Allah, anugerahkanlah karunia-Mu kepada kami.
5. Seorang Laki-laki yang Diajak oleh Seorang Perempuan yang Memiliki Kedudukan dan Kecantikan, lalu Berkata, “Sesungguhnya Aku Takut kepada Allah.”
Seorang laki-laki yang memiliki kemampuan untuk melakukan hubungan intim diajak oleh seorang perempuan untuk berzina —na‘udzubillah—. Perempuan itu memiliki kedudukan tinggi dan kecantikan, yaitu berasal dari keluarga terpandang, bukan perempuan sembarangan, melainkan dari keluarga terhormat. Perempuan itu mengajaknya dalam kondisi sepi, di tempat yang tidak seorang pun dapat melihat mereka berdua, sementara laki-laki itu memiliki hasrat dan mencintai perempuan tersebut. Namun, ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”
Yang mencegahnya melakukan perbuatan tersebut hanyalah rasa takutnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Perhatikanlah laki-laki ini! Semua faktor untuk melakukan perbuatan tersebut ada: ia memiliki kemampuan untuk melakukan hubungan intim, perempuan itu cantik, memiliki kedudukan tinggi, dan tempatnya sepi. Namun, ada sesuatu yang lebih kuat yang mencegahnya dari melakukan perbuatan tersebut, yaitu rasa takut kepada Allah. Ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Ia tidak berkata, “Aku tidak tertarik pada perempuan,” atau “Engkau tidak cantik,” atau “Engkau dari kalangan perempuan rendahan,” atau “Ada orang di sekitar kita.” Tidak, ia hanya berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.”
Orang seperti inilah yang akan mendapatkan naungan Allah di bawah naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Perhatikanlah Nabi Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘alaihim ash-shalatu wassalam. Ia dicintai oleh istri al-Aziz, penguasa Mesir, seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan pesona luar biasa. Perempuan itu menutup rapat pintu-pintu antara mereka berdua dan orang-orang di luar.
وَقَالَتْ هَيْتَ لكَ
“Lalu ia berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’” (QS Yusuf: 23)
Yakni, ia mengajak Yusuf kepada dirinya untuk melakukan perbuatan terlarang.
Yusuf adalah seorang pemuda, dan sesuai dengan fitrah manusia, ia hampir tergoda kepadanya, sebagaimana perempuan itu juga sangat menginginkannya. Namun, Yusuf melihat bukti dari Rabb-nya, sehingga rasa takut kepada Allah tertanam dalam hatinya, dan ia pun menahan diri. Perempuan itu kemudian mengancamnya dengan penjara, lalu Yusuf berkata:
رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّى كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ ٱلْجَٰهِلِينَ فَٱسْتَجَابَ لَهُۥ رَبُّهُۥ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّنۢ بَعْدِ مَا رَأَوُا۟ ٱلْءَايَٰتِ لَيَسْجُنُنَّهُۥ حَتَّىٰ حِينٍ
“‘Ya Rabb-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung kepada mereka dan termasuk orang-orang yang bodoh.’ Maka Rabb-nya mengabulkan doanya dan memalingkan tipu daya mereka darinya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui. Kemudian, setelah mereka melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), mereka tetap memutuskan untuk memenjarakannya hingga waktu tertentu.” (QS Yusuf: 33-35)
Yusuf dipenjara demi ketaatannya kepada Allah dan menolak perbuatan zina, meskipun semua faktor pendukung untuk melakukannya ada. Namun, ia melihat bukti dari Rabb-nya, sehingga rasa takut kepada Allah menguasai hatinya, dan ia menjaga diri dari perbuatan dosa.
6. Seorang Laki-laki yang Bersedekah lalu Ia Merahasiakannya hingga Tangan Kirinya tidak Mengetahui Apa yang Diinfakkan oleh Tangan Kanannya
Hal ini menunjukkan kesempurnaan ikhlas. Ia melakukan amal semata-mata untuk Allah, tanpa menginginkan manusia mengetahui amal perbuatannya. Ia hanya ingin amalnya menjadi rahasia antara dirinya dan Rabb-nya. Ia juga tidak ingin terlihat di hadapan manusia sebagai seseorang yang memberi dengan sikap merendahkan penerima, karena orang yang bersedekah di depan banyak orang sering kali terkesan memberi dengan rasa bangga terhadap yang menerima.
Oleh karena itu, ia merahasiakan sedekahnya hingga, jika memungkinkan, tangan kirinya pun tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Hal ini menunjukkan tingkat keikhlasan yang sangat tinggi, bebas dari rasa ingin membanggakan diri dengan sedekahnya. Orang seperti ini akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Namun, perlu diperhatikan bahwa menyembunyikan sedekah adalah lebih utama —tanpa diragukan lagi—, kecuali jika ada keadaan yang menjadikan menampakkan sedekah lebih bermanfaat, seperti untuk mendorong orang lain agar ikut bersedekah. Dalam kondisi seperti ini, menampakkan sedekah bisa menjadi lebih utama. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang berinfak baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sesuai dengan apa yang dipandang lebih bermanfaat.
Keadaan ini tidak lepas dari tiga tingkatan:
Pertama: Jika sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih bermanfaat, maka itu yang lebih utama.
Kedua: Jika menampakkan sedekah lebih bermanfaat, maka itu yang lebih utama.
Ketiga: Jika kedua cara itu sama manfaatnya, maka sedekah secara sembunyi-sembunyi tetap lebih utama.
7. Seorang Laki-laki yang Mengingat Allah di Tempat yang Sepi lalu Air Matanya Berlinang
Ia mengingat Allah dengan lisannya dan hatinya, dalam keadaan tidak seorang pun melihatnya, sehingga tidak ada kemungkinan untuk berbuat riya’ dengan zikir tersebut. Ia berada dalam kesendirian, terlepas dari segala urusan dunia, dengan hatinya yang sepenuhnya terikat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ketika ia mengingat Allah dengan lisan dan hatinya, lalu merenungkan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla, hatinya dipenuhi rasa rindu dan takut kepada-Nya, hingga air matanya berlinang. Orang seperti ini termasuk di antara mereka yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Amalan-amalan yang tujuh ini memungkinkan seorang hamba untuk diberikan taufik meraih salah satunya, atau bahkan dua, tiga, empat, lima, enam, hingga semua tujuh amalan tersebut. Hal ini sepenuhnya mungkin terjadi, karena tidak ada pertentangan di antara amalan-amalan tersebut. Seorang hamba yang mendapatkan taufik dari Allah bisa memperoleh bagian dari masing-masing amalan ini, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,
أَنَّ لِلْجَنَّةِ أَبْوَابًا، مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ.
“Sesungguhnya Surga memiliki pintu-pintu. Barang siapa termasuk ahli shalat, maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Barang siapa termasuk ahli sedekah, maka ia akan dipanggil dari pintu sedekah. Barang siapa termasuk ahli jihad, maka ia akan dipanggil dari pintu jihad. Dan barang siapa termasuk ahli puasa, maka ia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.”
Dalam hadis ini disebutkan empat pintu.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak ada kesulitan bagi seseorang yang dipanggil dari salah satu pintu itu. Namun, apakah ada yang akan dipanggil dari semua pintu tersebut?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
نَعَمْ، وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ يَا أَبَا بَكْرٍ
“Ya, dan aku berharap engkau termasuk di antara mereka, wahai Abu Bakar.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu akan dipanggil dari semua pintu Surga, karena ia adalah seorang yang tekun dalam shalat, gemar bersedekah, berjihad di jalan Allah, dan rajin berpuasa. Semua kebaikan telah ia ambil bagiannya.
Semoga Allah meridhainya, memberinya tempat di Surga, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersamanya di Surga yang penuh kenikmatan. Kita memohon karunia Allah.
Ada sebuah masalah yang ingin aku tekankan, yaitu bahwa sebagian pelajar beranggapan bahwa yang dimaksud dengan “naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya” adalah naungan Rabb ‘Azza wa Jalla. Ini adalah anggapan yang sangat keliru, yang tidak mungkin diyakini kecuali oleh seorang yang bodoh.
Hal ini karena diketahui bahwa manusia berada di bumi, dan naungan tercipta akibat adanya matahari. Jika diasumsikan bahwa yang dimaksud adalah naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hal ini mengharuskan keberadaan matahari di atas Allah untuk menjadi penghalang antara matahari dan manusia. Ini adalah sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin terjadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki ketinggian mutlak dari segala sisi.
Yang dimaksud di sini adalah naungan yang Allah ciptakan pada hari itu untuk menaungi orang-orang yang layak mendapatkan naungan-Nya. Allah menyandarkan naungan ini kepada diri-Nya karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan naungan melalui perbuatan makhluk, tidak ada bangunan, atau sesuatu yang dapat diletakkan di atas kepala manusia. Naungan itu murni merupakan ciptaan Allah untuk hamba-hamba-Nya pada hari tersebut. Oleh karena itu, Allah menyandarkan naungan itu kepada diri-Nya sebagai bentuk kekhususan.
Di antara hal yang terjadi pada hari itu adalah dibukanya catatan amal, yaitu lembaran-lembaran yang mencatat semua perbuatan manusia selama hidupnya. Hal ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menugaskan kepada setiap manusia dua malaikat: satu di sisi kanannya dan satu di sisi kirinya, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amalnya. Yang satu duduk di sebelah kanan, dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf 16-18)
Kedua malaikat yang mulia ini mencatat setiap perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. Namun, apa yang dibisikkan oleh seseorang dalam hatinya tidak dicatat, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ بِهِ
“Sesungguhnya Allah telah memaafkan untuk umatku apa yang terlintas dalam hati mereka, selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya.” (HR al-Bukhari)
Namun, perkataan dan perbuatan seseorang akan dicatat oleh malaikat. Malaikat pencatat amal baik berada di sebelah kanan, sedangkan malaikat pencatat amal buruk berada di sebelah kiri. Keduanya mencatat segala yang diperintahkan untuk mereka catat.
Pada Hari Kiamat, setiap orang akan diberi buku catatannya, yang digantungkan pada lehernya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ
“Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amalnya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. “ (QS al-Isra’: 13)
Kemudian, buku catatan itu akan dikeluarkan untuknya, dan dikatakan:
اِقْرَأْ كِتَابَكَۗ كَفٰى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا
“Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab atas dirimu.” (QS al-Isra’: 14)
Ia akan membaca buku itu, dan seluruh perbuatannya akan terlihat jelas di hadapannya.
Buku catatan yang terbuka itu, sebagian manusia akan menerimanya dengan tangan kanan, sementara sebagian lainnya akan menerimanya dengan tangan kiri dari belakang punggung mereka.
Adapun orang yang menerimanya dengan tangan kanan —semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara mereka—, maka ia akan berkata kepada orang-orang,
هَاؤُمُ ٱقْرَءُواْ كِتَـٰبِيَهْ
“Ambillah, bacalah kitabku!” (QS al-Haqqah: 19)
Ia menunjukkan buku catatannya dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
Adapun orang yang menerima buku catatannya dengan tangan kiri, maka ia akan berkata dengan penuh kesedihan, penyesalan, dan kecemasan,
يَا لَيْتَنِى لَمْ أُوتَ كِتَـٰبِيَهْ
“Aduhai, kiranya aku tidak diberikan kitabku.” (QS al-Haqqah: 25)
Di antara hal yang wajib diimani pada Hari Kiamat adalah keyakinan terhadap adanya hisab (perhitungan amal), yaitu bahwa Allah Ta’ala akan menghitung amal perbuatan seluruh makhluk-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفٰى بِنَا حَاسِبِيْنَ
“Dan sekalipun (amalan itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS al-Anbiya: 47)
Juga firman-Nya:
فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًا
“Maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (QS al-Insyiqaq: 8)
Allah akan melakukan hisab terhadap seluruh makhluk. Namun, hisab bagi orang mukmin adalah hisab yang mudah, tanpa perdebatan di dalamnya. Allah Ta’ala akan menyendiri dengan hamba-Nya yang beriman, menutupi hamba tersebut dengan tabir-Nya, lalu mengingatkan dia akan dosa-dosanya. Allah bertanya: “Apakah engkau ingat dosa ini? Apakah engkau ingat dosa itu?” Hingga hamba itu menjawab: “Ya, aku mengingatnya,” dan ia mengakui semua dosa-dosanya.
Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berkata kepadanya:
إِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
“Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.” (HR al-Bukhari)
Betapa banyak dosa yang telah Allah tutupi di dunia? Jika seseorang adalah seorang mukmin, Allah akan berkata kepadanya: “Aku telah menutupinya untukmu di dunia, dan Aku mengampuninya untukmu pada hari ini.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya.
Adapun orang kafir —na’udzubillah—, ia akan dipermalukan dan dihina. Ia akan dipanggil di hadapan seluruh makhluk, dan dikatakan:
هَٰؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ كَذَبُوا۟ عَلَىٰ رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ
“Mereka itulah orang-orang yang berdusta terhadap Rabb mereka. Ketahuilah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.” (QS Hud: 18)
Di antara hal yang wajib diimani yang terjadi pada Hari Kiamat adalah al-Haudh (telaga) yang dianugerahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telaga ini dialiri oleh dua saluran dari al-Kautsar, yaitu sungai yang diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar.” (QS al-Kautsar: 1)
Dua saluran tersebut mengalir ke telaga yang berada di padang Mahsyar pada Hari Kiamat. Telaga ini menjadi tempat berkumpulnya umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk minum, sebagai bentuk kehormatan dan karunia dari Allah kepada Rasul-Nya dan umatnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan telaga tersebut dengan beberapa sifat: airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu, aromanya lebih harum dari misik, wadah-wadahnya sebanyak bintang-bintang di langit, dan panjang serta lebarnya masing-masing sejauh perjalanan satu bulan. Barang siapa meminum air dari telaga tersebut sekali saja, ia tidak akan pernah merasa haus selamanya. (HR al-Bukhari dan Muslim)
Telaga ini akan didatangi oleh orang-orang beriman dari umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. – Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang diberi kesempatan untuk mendatanginya –. Orang-orang beriman akan meminum dari telaga ini dan merasakan kenikmatannya. Namun, orang-orang yang tidak beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan diusir dari telaga tersebut dan tidak diperkenankan untuk meminumnya. – Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut –.
Telaga yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling agung di antara telaga para nabi. Setiap nabi memiliki telaga yang akan didatangi oleh orang-orang beriman dari umatnya masing-masing. Namun, telaga-telaga tersebut tidak dapat dibandingkan dengan telaga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena umat beliau mencakup dua pertiga dari penghuni Surga. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling agung, paling besar, paling luas, dan paling mencakup di antara semua telaga para nabi lainnya.
Termasuk hal yang wajib diimani pada Hari Kiamat adalah beriman kepada shirath. Shirath adalah jembatan yang terbentang di atas Jahanam, lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Manusia akan melewatinya sesuai dengan amal perbuatan mereka. Barang siapa di dunia bersegera dalam kebaikan, ia akan cepat berjalan di atas shirath ini. Barang siapa lambat dalam kebaikan, ia pun akan lambat melintasinya. Dan barang siapa mencampuradukkan antara amal saleh dan amal buruk, serta Allah tidak mengampuninya, mungkin saja ia akan terjungkal ke dalam Neraka. – Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal tersebut –.
Manusia berbeda-beda dalam berjalan di atas shirath. Di antara mereka, ada yang melewatinya secepat kedipan mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti kuda balap, ada yang seperti penunggang unta, ada yang berjalan, ada yang merangkak, dan ada pula yang terjatuh dan dilemparkan ke dalam Neraka.
Dan shirath ini adalah jembatan yang hanya akan dilalui oleh orang-orang mukmin. Adapun orang-orang kafir, mereka tidak akan melewatinya, karena mereka digiring di padang Mahsyar langsung menuju Neraka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
Setelah mereka melewati shirath (jembatan), mereka akan berhenti di atas sebuah qantharah (jembatan kecil) yang terletak antara Surga dan Neraka. Di tempat itu dilakukan pembalasan (qishash) di antara mereka, yakni menyelesaikan hak-hak yang belum tuntas. Pembalasan ini berbeda dengan pembalasan yang terjadi di padang Mahsyar pada Hari Kiamat. Pembalasan ini — wallahu a‘lam — dimaksudkan untuk membersihkan hati dari dendam, kebencian, dan kedengkian, sehingga mereka memasuki Surga dalam keadaan sempurna.
Hal ini karena manusia, meskipun telah menerima balasan atas hak-haknya yang dirampas oleh orang lain, sering kali masih menyimpan sisa perasaan dendam atau kebencian di hatinya. Namun, para penghuni Surga tidak akan masuk ke dalamnya sampai mereka benar-benar dibersihkan melalui proses ini, sehingga mereka memasukinya dalam keadaan terbaik dan tanpa sedikit pun rasa permusuhan.
Ketika mereka telah dibersihkan dan diizinkan untuk masuk ke Surga, pintu Surga tidak akan dibuka untuk siapa pun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang akan memberikan syafaat bagi para penghuni Surga agar mereka dapat memasukinya. Sebagaimana beliau memberikan syafaat bagi makhluk di padang Mahsyar agar urusan mereka diputuskan dan mereka terbebas dari kengerian, kesulitan, dan kesedihan yang menimpa mereka di sana, demikian pula beliau memberikan syafaat untuk membuka pintu Surga.
Dua syafaat ini khusus diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksudnya adalah syafaat untuk para makhluk di padang Mahsyar agar urusan mereka diputuskan, dan syafaat untuk penghuni Surga agar mereka dapat memasukinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki dua syafaat khusus:
Syafaat pertama, untuk menyelamatkan manusia dari kengerian dan kesedihan di padang Mahsyar, sehingga urusan mereka segera diputuskan.
Syafaat kedua, untuk memberikan tujuan akhir kepada mereka, yaitu terbukanya pintu Surga, sehingga mereka dapat memasukinya.
Maka, orang pertama yang masuk ke Surga dari kalangan manusia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebelum semua manusia lainnya. Dan umat yang pertama kali masuk ke Surga adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun penghuni Neraka —kita berlindung kepada Allah darinya— mereka digiring ke Neraka secara berkelompok, dan mereka memasukinya satu umat demi satu umat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا
“Setiap kali suatu umat masuk (ke dalam Neraka), mereka melaknat kawannya.” (QS al-A’raf: 38) – Kita berlindung kepada Allah darinya.
Umat kedua melaknat umat pertama, dan begitu seterusnya, hingga sebagian dari mereka saling berlepas diri dari yang lain. — Kita memohon keselamatan kepada Allah —. Ketika mereka tiba di Neraka, mereka mendapati pintu-pintunya telah terbuka, sehingga mereka dikejutkan dengan azabnya. — Kita berlindung kepada Allah darinya —. Mereka masuk ke dalamnya, dan orang-orang kafir kekal di dalamnya selama-lamanya, hingga keabadian yang tiada akhirnya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam kitab-Nya:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَظَلَمُوْا لَمْ يَكُنِ اللّٰهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيْقًاۙ اِلَّا طَرِيْقَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama–lamanya. Dan yang demikian adalah mudah bagi Allah.” (QS an-Nisa’: 168-169)
Allah Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الْكٰفِرِيْنَ وَاَعَدَّ لَهُمْ سَعِيْرًاۙ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۚ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّارِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَنَآ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَطَعْنَا الرَّسُوْلَا۠ وَقَالُوْا رَبَّنَآ اِنَّآ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا۠ رَبَّنَآ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا
“Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (Neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan dalam Neraka. Mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, seandainya kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.’” (QS al-Ahzab: 64-68)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-nya, sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS Jin: 23)
Ini adalah tiga ayat dari kitab Allah ‘Azza wa Jalla yang semuanya secara tegas menyatakan bahwa penghuni Neraka kekal di dalamnya selama-lamanya. Tidak ada ucapan siapa pun yang dapat menyelisihi firman Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana penghuni Surga juga kekal di dalamnya selama-lamanya.
Jika ada yang berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Hud:
فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ، خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ، وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
‘Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam Neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan napas dan menariknya dengan (merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabb-mu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rabb-mu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam Surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rabb-mu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.’ (QS Hud: 106-108)
Pada ayat yang berbicara tentang penghuni Surga, Allah berfirman: ‘sebagai karunia yang tiada putus-putusnya,’ yang berarti tidak terhenti, melainkan abadi. Sedangkan tentang penghuni Neraka, Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Rabb-mu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki’ (Hud: 107). Apakah ini berarti azab bagi penghuni Neraka akan terputus?”
Kami katakan tidak. Namun, karena penghuni Surga menikmati nikmat Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa karunia mereka tidak akan terputus. Adapun penghuni Neraka, karena mereka berada dalam keadilan Allah, Dia berfirman: “Sesungguhnya Rabb-mu Mahapelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” Maka, tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya, dan Dia telah menghendaki agar penghuni Neraka berada di dalam Neraka. Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.
Inilah perbedaan antara penghuni Neraka dan penghuni Surga: Penghuni Surga mendapatkan karunia yang tidak terputus, sedangkan penghuni Neraka berada dalam keadilan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala Mahapelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.
Pernyataan ini adalah bentuk pemahaman yang dimudahkan terkait keimanan kepada hari akhir.
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA ALLAH
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA PARA RASUL
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA TAKDIR
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

