Allah Ta’ala berfirman:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam diri mereka terhadap keputusanmu dan mereka berserah diri dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’: 65)
Allah juga berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin ketika mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menetapkan keputusan di antara mereka hanyalah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS an-Nur: 51)
Dalam bab ini terdapat hadis Abu Hurairah yang disebutkan pada bab sebelumnya, dan hadis-hadis lainnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika turun ayat:
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ
“Milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Jika kalian menampakkan apa yang ada dalam diri kalian atau menyembunyikannya, Allah akan menghisab kalian dengannya.” (QS al-Baqarah: 284),
Ayat ini terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mendatangi beliau, lalu duduk berlutut dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah membebani kami dengan amal-amal yang kami mampu melaksanakannya: shalat, jihad, puasa, dan sedekah. Tetapi kini engkau telah diturunkan ayat ini, dan kami tidak sanggup melaksanakannya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أتُرِيدُونَ أنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَينِ مِنْ قَبْلِكُمْ: سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ، قُولُوا: سَمِعنَا وَأَطَعْنَا، غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Apakah kalian ingin mengatakan seperti yang dikatakan oleh ahli dua kitab sebelum kalian, ‘Kami telah mendengar tetapi kami membangkang’? Akan tetapi, ucapkanlah, ‘Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali.’”
Ketika para sahabat membaca ayat tersebut dan lisan mereka tunduk mengucapkannya, Allah pun menurunkan ayat berikut:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, dan demikian pula orang-orang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Mereka berkata, ‘Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali.’” (QS al-Baqarah: 285)
Setelah mereka mengucapkannya, Allah mengganti (membatalkan beban berat dari) ayat sebelumnya, lalu menurunkan:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya apa (balasan) yang ia usahakan, dan atasnya apa (dosa) yang ia kerjakan. ‘Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah.’”
Allah berfirman: “Ya.”
رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.”
Allah berfirman: “Ya.”
رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya.”
Allah berfirman: “Ya.”
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau adalah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.” (QS al-Baqarah: 286)
Allah berfirman: “Ya.” (HR Muslim)
PENJELASAN
Penulis rahimahullah berkata, “Bab tentang Kewajiban Tunduk dan Patuh kepada Hukum Allah Ta’ala.”
Kemudian penulis menyebutkan dua ayat yang telah dibahas sebelumnya, di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (wahai Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS an-Nisa’: 65)
Kemudian penulis menyebutkan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, ketika Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat ini:
وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ
“Dan jika kalian menampakkan apa yang ada dalam diri kalian atau kalian menyembunyikannya, Allah akan menghisab kalian dengannya.” (QS al-Baqarah: 284),
hal tersebut terasa berat bagi mereka dan sangat menyulitkan mereka. Sebab, apa yang ada dalam jiwa berupa bisikan adalah perkara yang tidak berujung. Setan datang kepada manusia dan membisikinya dengan hal-hal mungkar yang besar: ada yang berkaitan dengan diri, ada pula yang berkaitan dengan harta. Begitu banyak perkara yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. Sementara Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan jika kalian menampakkan apa yang ada dalam diri kalian atau menyembunyikannya, Allah akan menghisab kalian dengannya.” Jika benar demikian (tanpa pengecualian), niscaya manusia binasa.
Maka para sahabat radhiyallahu ‘anhum datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berlutut di atas lutut mereka. Mereka melakukan hal itu karena beratnya perkara tersebut.
Seseorang, apabila tertimpa perkara yang sangat berat, ia akan berlutut di atas kedua lututnya.
Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kami perkara-perkara yang mampu kami lakukan: shalat, jihad, puasa, dan sedekah. Kami pun melaksanakan shalat, berjihad, bersedekah, dan berpuasa. Akan tetapi, Allah menurunkan ayat ini: ‘Dan jika kalian menampakkan apa yang ada dalam diri kalian atau kalian menyembunyikannya, Allah akan menghisab kalian dengannya.’ (QS al-Baqarah: 284)”
Ayat ini terasa sangat berat bagi mereka. Tidak seorang pun mampu menahan dirinya dari bisikan-bisikan yang muncul dalam jiwa, berupa perkara-perkara yang jika seseorang dihisab karenanya, niscaya ia akan binasa.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian ingin mengatakan seperti yang dikatakan oleh ahli dua kitab sebelum kalian, ‘Kami mendengar tetapi kami membangkang’?”
Yang dimaksud ahli dua kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Orang-orang Yahudi, kitab mereka adalah Taurat, yaitu kitab yang paling mulia setelah al-Qur’an. Sedangkan orang-orang Nasrani, kitab mereka adalah Injil, dan Injil merupakan penyempurna bagi Taurat.
Orang-orang Yahudi serta Nasrani membangkang para nabi mereka dan berkata, “Kami mendengar tetapi kami membangkang.”
“Apakah kalian ingin menjadi seperti mereka? Akan tetapi, katakanlah, ‘Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu (kami mohon), wahai Rabb kami, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.’”
Demikianlah seharusnya seorang muslim. Apabila ia mendengar perintah Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia berkata, “Kami mendengar dan kami taat,” dan melaksanakannya sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.
Pada masa kini, banyak orang datang bertanya, “Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan begini dan begitu, apakah itu wajib atau sunah?” Padahal semestinya adalah bahwa jika beliau memerintahkanmu, maka lakukanlah. Jika itu wajib, maka kamu telah menunaikan kewajibanmu dan memperoleh kebaikan. Jika itu mustahab, maka kamu juga mendapatkan kebaikan.
Adapun kamu berkata, “Apakah ini wajib atau mustahab?” lalu kamu berhenti dari mengerjakannya sampai mengetahui hukumnya. Sikap seperti ini tidak muncul kecuali dari orang yang malas, yang tidak mencintai kebaikan dan tidak ingin menambah kebaikan dalam dirinya.
Adapun orang yang mencintai tambahan dalam kebaikan, maka apabila ia mengetahui perintah Allah dan Rasul-Nya, ia berkata, “Kami mendengar dan kami taat,” kemudian ia melaksanakannya. Ia tidak bertanya apakah itu wajib atau mustahab, kecuali apabila ia telah menyelisihi (tidak mengamalkannya) barulah ia bertanya, “Aku telah melakukan begini, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan begitu. Apakah aku berdosa?”
Karena itu, kami tidak pernah mengetahui ataupun mendapati para sahabat radhiyallahu ‘anhum, ketika Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka suatu perkara, berkata, “Wahai Rasulullah, apakah ini wajib atau hanya mustahab?” Kami tidak pernah mendengar hal seperti itu sama sekali. Mereka justru berkata, “Kami mendengar dan kami taat,” lalu mereka melaksanakannya.
Maka, laksanakan saja. Tidak menjadi beban atasmu apakah hal itu mustahab atau wajib. Seseorang tidak bisa mengatakan bahwa suatu perintah adalah mustahab atau wajib kecuali dengan dalil. Hujahnya adalah ketika seorang mufti berkata kepadamu, “Demikianlah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya.”
Kita mendapati bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ketika ia menceritakan kepada putranya, Bilal, ia berkata, “Sesungguhnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ
‘Janganlah kalian melarang perempuan-perempuan kalian dari (mendatangi) masjid.’” Namun keadaan telah berubah setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bilal berkata, “Demi Allah, sungguh kita akan melarang mereka.”
Abdullah bin Umar mencacinya dengan cacian yang keras. Mengapa ia berani mengatakan, “Demi Allah, kita akan melarang mereka,” sementara Rasul bersabda, “Janganlah kalian melarang mereka”?
Kemudian Abdullah bin Umar memutuskan hubungan dengannya hingga Bilal meninggal dunia.
Ini menunjukkan betapa besar pengagungan para sahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun kita hari ini, kita berkata, “Apakah perintah ini wajib atau mustahab? Apakah larangan ini menunjukkan haram atau hanya makruh?”
Akan tetapi, apabila perkara itu sudah terjadi, maka saat itu kamu boleh bertanya, “Apakah aku berdosa atau tidak?” Jika dikatakan kepadamu bahwa kamu berdosa, maka kamu memperbarui tobatmu. Jika dikatakan kamu tidak berdosa, maka hatimu menjadi tenang.
Adapun ketika perintah itu baru disampaikan, janganlah kamu bertanya apakah ia mustahab atau wajib —sebagaimana adab para sahabat bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melaksanakan apa yang beliau perintahkan, dan meninggalkan apa yang beliau larang dan cegah.
Meskipun begitu, kami memberi kalian kabar gembira dengan sebuah hadis, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
“Sesungguhnya Allah telah memaafkan bagi umatku apa yang dibisikkan oleh jiwanya, selama ia tidak mengerjakan atau mengucapkannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Alhamdulillah. Dia telah menghilangkan kesempitan. Segala sesuatu yang dibisikkan oleh jiwamu —selama kamu tidak condong kepadanya, tidak melakukannya, dan tidak mengucapkannya— itu dimaafkan, sekalipun bisikan itu lebih besar daripada gunung-gunung.
Ya Allah, bagi-Mu segala puji.
Bahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai Rasulullah, kami mendapati dalam jiwa kami sesuatu yang lebih kami sukai menjadi arang hitam yang terbakar daripada mengucapkannya.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ
“Itu adalah iman yang murni.” (HR Muslim)
Maksudnya, itu adalah iman yang benar-benar bersih. Sebab setan tidak melemparkan was-was seperti itu ke dalam hati yang rusak atau hati yang dipenuhi keraguan. Setan —semoga Allah melindungi kita darinya— hanya menguasai hati seorang mukmin yang benar-benar beriman dengan tujuan untuk merusaknya.
Ketika dikatakan kepada Ibnu Abbas atau Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma, “Orang-orang Yahudi, ketika mereka shalat, tidak mengalami was-was,” ia berkata, “Apa yang akan dilakukan setan terhadap hati yang rusak?”
Orang-orang Yahudi adalah orang-orang kafir. Hati mereka rusak, sehingga setan tidak membisiki mereka ketika mereka shalat, karena shalat mereka batil sejak awal. Setan hanya membisiki seorang muslim yang shalatnya sah dan diterima untuk merusaknya. Ia mendatangi seorang mukmin yang imannya murni untuk merusak iman murninya itu. Namun —alhamdulillah— Allah memberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ilmu pengobatan bagi hati dan badan. Beliau telah menjelaskan kepada kita pengobatan dan obat bagi keadaan seperti ini: yaitu dengan berlindung kepada Allah dan menghentikan bisikan tersebut. Maka jika seseorang merasakan sesuatu dari was-was setan itu, hendaklah ia berkata,
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“A’udzu billahi minasysyaithanirrajim.”
Kemudian hentikan, berpaling darinya, jangan menoleh kepadanya, dan lanjutkan apa yang sedang dikerjakannya. Jika setan melihat bahwa ia tidak punya jalan untuk merusak hati seorang mukmin yang benar-benar beriman, ia pun mundur dan pergi.
Ketika para sahabat berkata, “Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali,” dan ketika jiwa mereka menjadi lunak terhadap perintah tersebut, serta lisan mereka tunduk mengucapkannya, Allah menurunkan setelah itu ayat:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, dan demikian pula orang-orang beriman.” (QS al-Baqarah: 285)
Artinya, orang-orang beriman juga beriman.
كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata, ‘Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali.’” (QS al-Baqarah: 285)
Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menjelaskan pujian terhadap Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan terhadap kaum mukminin, karena mereka berkata, “Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Rabb kami, dan kepada-Mu tempat kembali.”
Kemudian Allah menurunkan ayat:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Baginya (balasan) apa yang ia usahakan, dan atasnya (dosa) apa yang ia kerjakan.” (QS al-Baqarah: 286)
Maka sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia, Allah tidak membebaninya dengannya dan tidak ada celaan atasnya. Misalnya, was-was yang menyerang hati. Apabila seseorang tidak condong kepadanya, tidak membenarkannya, dan tidak menghiraukannya, maka was-was itu tidak membahayakannya. Sebab hal-hal ini tidak termasuk dalam kemampuannya.
Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS al-Baqarah: 286)
Setan terkadang membisikkan kepada manusia dalam dirinya tentang perkara-perkara yang sangat buruk dan mengerikan. Namun apabila seseorang berpaling darinya dan berlindung kepada Allah dari setan dan dari bisikan tersebut, maka bisikan itu hilang darinya.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami salah.”
Lalu Allah berfirman: “Ya.”
Artinya, Allah berfirman, “Ya, Aku tidak akan menghukum kalian jika kalian lupa atau bersalah.”
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.”
Allah berfirman, “Ya.”
Karena itu Allah Ta’ala berfirman dalam menggambarkan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
“Dan Dia menghapus dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang dahulu ada pada mereka.” (QS al-A’raf: 157)
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang tidak sanggup kami pikul.”
Allah berfirman, “Ya.”
Karena itulah Allah Ta’ala tidak membebankan dalam syariat-Nya sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh manusia. Bahkan apabila seseorang tidak mampu melakukan suatu perkara, ia berpindah kepada gantinya jika memang ada penggantinya, atau gugur darinya jika tidak ada gantinya.
Adapun membebankan sesuatu yang manusia tidak sanggupi, maka Allah Ta’ala berfirman di sini, “Ya,” artinya: “Aku tidak akan membebankan kalian sesuatu yang kalian tidak sanggup memikulnya.”
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau adalah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.”
Allah berfirman, “Ya.”
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.” Ini adalah tiga permohonan, dan masing-masing memiliki makna tersendiri.
“Maafkanlah kami” yaitu kekurangan kami dalam menjalankan kewajiban.
“Ampunilah kami” yaitu pelanggaran kami terhadap hal-hal yang diharamkan.
“Rahmatilah kami” yaitu karuniakanlah kepada kami taufik untuk melakukan amal saleh.
Manusia terkadang meninggalkan kewajiban atau melakukan hal yang diharamkan. Jika ia meninggalkan suatu kewajiban, ia berkata, “Maafkanlah kami,” yaitu maafkanlah kekurangan kami dalam menjalankan kewajiban. Jika ia melakukan sesuatu yang haram, ia berkata, “Ampunilah kami,” yakni atas dosa-dosa yang telah kami lakukan. Atau ia meminta keteguhan serta pertolongan untuk tetap berada di atas kebaikan dengan ucapannya, “Rahmatilah kami.”
“Engkaulah pelindung kami,” maksudnya Engkaulah yang mengurus segala urusan kami, baik di dunia maupun di akhirat. Maka uruslah dan lindungilah kami di dunia, dan tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.
Firman-Nya: “Maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir,” mungkin terlintas dalam pikiran seseorang bahwa yang dimaksud hanyalah musuh-musuh kita dari kalangan orang-orang kafir. Namun sebenarnya maknanya lebih umum, bahkan mencakup kemenangan atas setan, karena setan adalah pemimpin bagi kaum kafir.
Dari ayat-ayat mulia terakhir ini kita memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebankan kepada kita sesuatu yang tidak sanggup kita pikul, dan Dia tidak membebani kita kecuali sesuai dengan kemampuan kita. Adapun bisikan-bisikan yang berkeliling dalam dada kita, selama kita tidak condong kepadanya, tidak merasa tenang dengannya, dan tidak mengamalkannya, maka bisikan itu tidak membahayakan.
Allah-lah yang memberi taufik.
Baca juga: KEUTAMAAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM (2/3)
Baca juga: KESABARAN MENGHADAPI PEMIMPIN ZALIM DAN UJIAN ZAMAN
Baca juga: MUKMIN YANG KUAT
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

