Bunuh diri adalah bentuk kezaliman terhadap jiwa yang dilindungi oleh Allah dan merupakan tindakan mempercepat ajal. Perbuatan ini menunjukkan adanya keputusasaan. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengharamkan tindakan bunuh diri dan mengancam pelakunya dengan siksaan yang sangat berat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا. وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam Neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS an-Nisa: 29-30)
Dalam as-Sunnah juga terdapat hadis yang menekankan besarnya dosa bunuh diri, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan kaum musyrikin, dan mereka pun berperang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke perkemahannya dan kaum musyrikin kembali ke perkemahan mereka, di antara para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat seorang laki-laki yang tidak meninggalkan seorang pun dari musuh kecuali ia mengejarnya dan memukulnya dengan pedangnya. Maka para sahabat berkata, “Hari ini, tidak ada yang lebih hebat dari fulan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَمَا إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
“Ketahuilah, dia adalah penghuni Neraka.”
Seorang laki-laki dari kaum itu berkata, “Aku akan mengikutinya.” Maka ia keluar bersama laki-laki itu. Setiap kali laki-laki itu berhenti, ia pun berhenti bersamanya. Dan setiap kali laki-laki itu mempercepat langkahnya, ia pun mempercepat langkahnya. Kemudian, laki-laki itu terluka parah dan ingin segera mati. Ia pun meletakkan pangkal pedangnya di tanah dan ujungnya di antara dadanya, lalu ia menekan pedang itu dan membunuh dirinya.
Laki-laki yang mengikutinya keluar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah utusan Allah.”
Rasulullah bertanya,
وَمَا ذَاكَ؟
“Apa yang membuatmu berkata demikian?”
Ia menjawab, “Laki-laki yang tadi engkau sebut sebagai penghuni Neraka, hal itu membuat orang-orang merasa takjub. Maka aku berkata, ‘Aku akan membuktikannya untuk kalian.’ Lalu aku keluar mencarinya hingga ia terluka parah, dan ia ingin segera mati. Ia pun meletakkan pangkal pedangnya di tanah dan ujungnya di antara dadanya, kemudian ia menekan pedangnya itu dan membunuh dirinya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيْمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya seseorang mungkin melakukan perbuatan ahli Surga di mata manusia, tetapi ia adalah penghuni Neraka. Dan seseorang mungkin melakukan perbuatan ahli Neraka di mata manusia, tetapi ia adalah penghuni Surga.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيْدَةٍ فَحَدِيْدَتُهُ فِيْ يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِيْ بَطْنِهِ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيْهَا أَبَدًا. وَمَنْ شَرِبَ سَمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا. وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيْهَا أَبَدًا
“Barang siapa membunuh dirinya dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan berada di tangannya, menusuk perutnya di dalam neraka Jahanam, kekal di dalamnya selamanya. Barang siapa meminum racun hingga membunuh dirinya, maka ia akan terus meminumnya di dalam neraka Jahanam, kekal dan abadi di dalamnya. Dan barang siapa menjatuhkan dirinya dari gunung hingga membunuh dirinya, maka ia akan terus terjatuh di dalam neraka Jahanam, kekal dan abadi di dalamnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya bunuh diri adalah perbuatan yang membuat seseorang sangat sulit selamat dari Neraka, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis. Namun, apakah pelaku bunuh diri akan tinggal abadi di Neraka? Ahlussunnah wal-jama’ah berpendapat bahwa ahli tauhid, meskipun melakukan dosa-dosa besar di dunia, pada akhirnya akan kembali ke Surga. Mereka mungkin akan disiksa terlebih dahulu sebagai konsekuensi dari dosa-dosa mereka, tetapi tidak akan tinggal abadi di Neraka. Allah akan mengeluarkan mereka dari Neraka menuju Surga berkat karunia tauhid dan iman mereka, dengan rahmat dan ampunan-Nya.
Semoga Allah menjauhkan kami dan kalian semua dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaan ar-Rahman. Semoga Dia mengaruniakan ridha-Nya kepada kita semua dan menempatkan kita di dalam Surga-Nya yang luas.
Ya Allah, kabulkanlah doa kami. Shalawat, salam, dan berkah semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta.
Baca juga: PENYAKIT SOMBONG
Baca juga: PENYESALAN DI DUNIA
Baca juga: ITSAR – MENDAHULUKAN ORANG LAIN DARIPADA DIRI SENDIRI
(Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub)

