STRATEGI RASULULLAH DAN PENEMPATAN PASUKAN DI MEDAN PERANG UHUD

STRATEGI RASULULLAH DAN PENEMPATAN PASUKAN DI MEDAN PERANG UHUD

Ketika pasukan bergerak kembali pada pagi hari Sabtu untuk menyongsong musuh, mereka melewati kebun milik Mirba‘ bin Qazhi —seorang munafik yang buta matanya. Ia melemparkan tanah kepada kaum muslimin sambil berkata, “Jika engkau adalah Rasulullah, maka sesungguhnya aku tidak menghalalkanmu untuk memasuki kebunku. Demi Allah, jika aku tahu tanah ini tidak akan mengenai orang selainmu, niscaya aku akan melemparkannya semuanya ke wajahmu.”

Kaum muslimin serentak ingin membunuhnya, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan bunuh dia. Sesungguhnya orang buta ini telah buta hati dan matanya.”

Sa‘ad bin Zaid sempat bertindak sebelum beliau melarangnya.

Dalam perjalanan menuju medan perang, ‘Umar meminta saudaranya Zaid untuk mengambil baju besinya, tetapi Zaid menjawab, “Sesungguhnya aku juga menginginkan syahid sepertimu,” sehingga keduanya meninggalkannya.

Setibanya pasukan kaum muslimin di Gunung Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar memunggungi gunung dan menghadap ke arah Madinah. Beliau memilih lima puluh pemanah di bawah pimpinan Abdullah bin Jubair dan menempatkan mereka di atas bukit Ainain, tepat di depan Gunung Uhud, untuk mencegah kaum musyrikin mengepung kaum muslimin.

Beliau memberi perintah kepada mereka, “Jika kalian melihat kami disambar oleh burung (kalah), maka jangan tinggalkan tempat kalian ini hingga aku mengirim pesan kepada kalian.”

Dengan demikian kaum muslimin menguasai seluruh dataran tinggi, sedangkan lembah dibiarkan untuk pasukan Makkah yang berperang dengan menghadap Gunung Uhud dan membelakangi Madinah.

Ketika kedua pasukan bertemu, Abu Amir —Abdu Amru bin Shaifi— berseru kepada kaumnya dari Aus agar bergabung dengan barisan musyrikin. Ia sendiri telah menyertai mereka di Makkah. Ia menghasut kaumnya untuk berperang melawan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka menolak dengan keras dan berkata, “Semoga Allah tidak memberi taufik, wahai orang fasik!”

Abu Amir membalas, “Sungguh kaumku mendapat keburukan setelahku,” lalu ia menyerang mereka dengan batu.

Perang dimulai dengan duel antara ‘Ali dan Thalhah bin Utsman, pembawa panji kaum musyrikin. ‘Ali berhasil mengalahkan Thalhah. Kedua pasukan kemudian saling serang dan pertempuran memanas. Kaum muslimin bertempur sengit hingga berhasil memukul mundur musyrikin ke markas mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengobarkan semangat dengan mengambil sebilah pedang seraya bertanya, “Siapa yang akan mengambil ini dariku?

Semua menjawab, “Aku, aku.”

Beliau melanjutkan, “Siapa yang akan mengambilnya dan menunaikan haknya?

Mereka pun terdiam.

Abu Dujanah —Samak bin Kharasyah— bertanya, “Apa haknya, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Engkau memukul musuh dengannya hingga bengkok.”

Abu Dujanah menyatakan, “Aku akan mengambilnya dan menunaikan haknya,” lalu mengambil pedang itu dan dengan senjata tersebut menghancurkan pasukan kaum musyrikin.

Baca sebelumnya: PEMILIHAN PASUKAN DAN SIKAP KAUM MUNAFIK SEBELUM PERANG UHUD

Baca setelahnya: KEGIGIHAN PARA SAHABAT DI UHUD DAN GUGURNYA HAMZAH RADHIYALLAHU ‘ANHU

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah