PERANG UHUD: UPAYA BALAS DENDAM KAUM QURAISY

PERANG UHUD: UPAYA BALAS DENDAM KAUM QURAISY

Perang Uhud terjadi pada bulan Syawwal tahun ketiga hijriah. Para ulama sirah berbeda pendapat mengenai hari terjadinya, namun pendapat yang paling masyhur menyebutkan bahwa perang tersebut berlangsung pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawwal.

Penyebab langsung Perang Uhud adalah keinginan kaum Quraisy untuk membalas dendam atas kekalahan mereka pada Perang Badar, di mana banyak tokoh penting mereka gugur. Selain itu, mereka juga ingin mengembalikan wibawa yang sempat goyah di kalangan bangsa Arab akibat kekalahan tersebut.

Adapun sebab-sebab lainnya yang dapat disimpulkan dari berbagai peristiwa yang terjadi ialah keinginan kaum Quraisy untuk mengakhiri ancaman kaum muslimin terhadap jalur perdagangan mereka menuju Syam, serta menghancurkan kekuatan Islam sebelum kaum muslimin tumbuh menjadi kekuatan besar yang dapat mengancam kedudukan mereka.

Untuk menghadapi kaum muslimin, orang-orang Quraisy memanfaatkan seluruh hasil keuntungan dari kafilah Abu Sufyan, yang sebelumnya selamat dari kaum muslimin, guna mempersiapkan pasukan besar untuk Perang Uhud. Mereka berhasil mengumpulkan tiga ribu prajurit, terdiri dari kaum Quraisy, Kinanah, dan penduduk Tihamah yang berada di pihak mereka.

Pasukan tersebut dilengkapi dengan dua ratus ekor kuda dan tujuh ratus baju besi. Khalid bin al-Walid memimpin sayap kanan, sementara Ikrimah bin Abu Jahal memimpin sayap kiri. Bersama mereka turut serta sekelompok perempuan yang bertugas menyemangati pasukan dan mengingatkan mereka agar tidak lari dari medan perang.

Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa jumlah perempuan tersebut delapan orang, sedangkan al-Waqidi mengatakan jumlah mereka empat belas orang dan menyebutkan nama-nama mereka. Sementara itu, Ibnu Sa‘ad menyebutkan bahwa jumlah mereka lima belas orang.

Dalam tidurnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlihatkan apa yang akan terjadi pada Perang Uhud. Beliau menceritakan mimpi tersebut kepada para sahabat dan bersabda, “Aku bermimpi bahwa pedang yang aku ayunkan patah di tengahnya, dan itu adalah apa yang menimpa kaum muslimin pada Perang Uhud. Lalu aku mengayunkannya sekali lagi, dan ia pun kembali seperti sedia kala. Itu adalah kemenangan yang Allah berikan serta berkumpulnya kembali kekuatan kaum muslimin. Lalu aku melihat seekor lembu –dan demi Allah, itu adalah pertanda baik– dan itu merupakan perumpamaan bagi kaum muslimin pada Perang Uhud.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku melihat diriku berada di dalam benteng yang kokoh, dan aku menafsirkannya sebagai Madinah.”

Dari mimpi itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan bahwa kekalahan dan terbunuhnya sebagian sahabat beliau akan terjadi dalam peperangan tersebut.

Baca sebelumnya: RANGKAIAN PERISTIWA MENUJU PERANG UHUD: DARI DZI AMAR HINGGA AL-QARADAH

Baca setelahnya: MUSYAWARAH RASULULLAH DENGAN PARA SAHABAT MENJELANG PERANG UHUD

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah