RANGKAIAN PERISTIWA MENUJU PERANG UHUD: DARI DZI AMAR HINGGA AL-QARADAH

RANGKAIAN PERISTIWA MENUJU PERANG UHUD: DARI DZI AMAR HINGGA AL-QARADAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima kabar bahwa orang-orang dari kabilah Ghathafan berkumpul di lembah Dzi Amar, wilayah Najed. Maka beliau berangkat ke sana bersama 450 orang pasukan pada hari Kamis, 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-3 hijriah. Setibanya di tempat itu, orang-orang Ghathafan melarikan diri.

Dalam perjalanan pulang, kaum muslimin diguyur hujan hingga pakaian mereka basah. Rasulullah pun menuju suatu tempat hingga lembah Dzi Amar berada di antara beliau dan para sahabat. Beliau melepas pakaian, menggantungkannya pada pohon yang agak kering, lalu beristirahat di bawahnya.

Sementara itu, pihak musuh terus mengintai. Mereka menghasut pemimpin mereka, Da’tsur al-Muharibi, agar membunuh Rasulullah dalam keadaan seperti itu. Ketika Da’tsur berdiri di hadapan beliau dengan pedang terhunus, ia berkata, “Siapa yang dapat menghalangimu dariku hari ini?”

Rasulullah menjawab, “Allah.”

Jibril datang dan mendorong Da’tsur hingga pedangnya terjatuh. Rasulullah kemudian mengambil pedang itu dan berdiri di hadapannya sambil berkata, “Siapa yang dapat menghalangimu dariku hari ini?

Da’tsur menjawab, “Tidak seorang pun.”

Rasulullah memaafkan Da’tsur, hingga ia masuk Islam. Ia kembali kepada kaumnya, menceritakan apa yang terjadi, dan menyeru mereka kepada Islam. Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah menurunkan firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.” (QS al-Maidah: 11)

Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama 300 sahabat untuk menghadapi kaum Quraisy menurut riwayat Ibnu Ishaq, atau untuk menghadapi Bani Sulaim menurut al-Waqidi. Beliau tiba di Buhran dari arah al-Furu’, sebuah jalur perdagangan antara Makkah dan Syam. Namun tidak terjadi pertempuran antara kedua pihak. Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadal Ula, 27 bulan setelah hijrah.

Kaum Quraisy mulai khawatir terhadap jalur perdagangan mereka menuju Syam setelah kekalahan di Perang Badar. Mereka pun berencana menempuh jalur Irak. Maka Abu Sufyan berangkat bersama sekelompok pedagang Makkah membawa perak senilai 100.000 dirham —barang dagangan utama mereka— dengan menyewa penunjuk jalan bernama Furat bin Hayyan dari Bani Bakr bin Wa’il.

Ketika Rasulullah mendengar hal ini, beliau mengutus Zaid bin Haritsah bersama sekitar 100 pasukan untuk mengejar mereka. Zaid berhasil menyusul kafilah tersebut di mata air al-Qaradah, wilayah Najed. Ia berhasil merebut harta dagangan itu, namun orang-orang Quraisy berhasil melarikan diri. Peristiwa ini terjadi enam bulan setelah Perang Badar Kubra, tepatnya pada hari pertama bulan Jumadal Akhir tahun ke-27 pasca hijrah.

Upaya kaum Quraisy untuk lolos dari tekanan kaum muslimin berakhir dengan kegagalan dan kerugian besar secara ekonomi. Akhirnya mereka memutuskan untuk mempercepat operasi militer terhadap kaum muslimin di Madinah, dengan harapan dapat menghentikan gangguan ekonomi, memulihkan keamanan jalur dagang, serta mengembalikan kehormatan mereka yang jatuh akibat kekalahan di Perang Badar. Maka terjadilah Perang Uhud.

Baca sebelumnya: KA’AB BIN AL-ASYRAF: PENYAIR YAHUDI YANG TERJERAT DENDAM DAN TIPU DAYA

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah