Syariat telah datang dengan larangan terhadap beberapa ucapan karena kerusakan yang ditimbulkannya, yang bisa saja menjerumuskan orang yang mengucapkannya ke dalam syirik besar atau syirik kecil tanpa ia sadari, atau karena mengandung perendahan terhadap Allah dan penyifatan terhadap-Nya dengan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Kami akan menyebutkan untukmu sebagian dari ucapan-ucapan tersebut.
Di antaranya adalah ucapan “Apa yang dikehendaki Allah dan yang engkau kehendaki.”
Diriwayatkan dari Qutaylah, seorang perempuan dari (kabilah) Juhainah, bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya kalian membuat tandingan (bagi Allah) dan sesungguhnya kalian berbuat syirik. Kalian berkata, ‘Apa yang dikehendaki Allah dan yang engkau kehendaki,’ dan kalian berkata, ‘Demi Ka’bah.’”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka, jika ingin bersumpah, agar mengucapkan, “Demi Rabb Ka’bah,” dan mengucapkan, “Apa yang dikehendaki Allah, kemudian yang engkau kehendaki.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa’i. Dinilai sahih oleh al-Albani)
Ucapan seseorang “Apa yang dikehendaki Allah dan yang engkau kehendaki” termasuk dalam bentuk menyamakan lawan bicara dengan Allah ‘Azza wa Jalla Yang Mahatinggi. Hukum ucapan ini berbeda, tergantung pada apa yang timbul pada diri si pengucap. Jika lawan bicara diagungkan oleh si pengucap, dan dia memiliki keyakinan terhadapnya, serta menyematkan kepadanya sebagian sifat rububiyah, maka ia telah menyekutukan Allah dengan syirik akbar. Jika si pengucap tidak meyakini sesuatu pada lawan bicara dan tidak mengagungkannya, maka ucapan tersebut termasuk syirik kecil. Oleh karena itu, ucapan ini dilarang karena mengandung unsur penyamaan antara Sang Pencipta dan makhluk.
Di antaranya adalah mencela waktu (zaman) atau mencela angin.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الْأَمْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Anak Adam menyakiti-Ku. Ia mencela zaman, padahal Aku-lah zaman. Di tangan-Ku segala urusan, dan Aku yang membolak-balikkan malam dan siang.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan,
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَقُولُ: يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ، فَلَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ: يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ، فَإِنِّي أَنَا الدَّهْرُ، أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ، فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا
“Anak Adam menyakiti-Ku. Ia berkata, ‘Celakalah zaman.’ Maka janganlah salah seorang dari kalian mengatakan, ‘Celakalah zaman,’ karena Aku-lah zaman. Aku membolak-balikkan malam dan siangnya. Jika Aku menghendaki, Aku mencabut keduanya.”
Dan dalam riwayat Muslim juga,
لَا يَسُبَّ أَحَدُكُمُ الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah salah seorang dari kalian mencela zaman, karena sesungguhnya Allah-lah (yang mengatur) zaman itu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa siapa saja mencela zaman, maka sungguh ia telah menyakiti Allah, karena sesungguhnya Allah Dia-lah yang mengatur zaman dan membolak-balikkan malam dan siang. Zaman itu sendiri tidak memiliki kekuasaan apa pun. Seluruh urusan kembali kepada Allah. Maka orang yang mencela zaman sejatinya mencela Allah. Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang berdusta.
Allah telah mengabarkan ucapan orang-orang musyrik dan membantah mereka, sebagaimana firman-Nya:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja. Kami mati dan kami hidup. Tidak ada yang membinasakan kami selain zaman.’ Padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga.” (QS al-Jatsiyah: 24)
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan keadaan orang-orang musyrik bahwa mereka adalah orang yang menduga-duga, berspekulasi, dan berkata atas nama Allah tanpa ilmu.
Adapun angin, maka dari Ubay bin Ka’b, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هٰذِهِ الرِّيحِ، وَخَيْرِ مَا فِيهَا، وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذِهِ الرِّيحِ، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ
“Janganlah kalian mencela angin. Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci, maka ucapkanlah, ‘Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan dari angin ini, kebaikan dari apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan dari apa yang diperintahkan kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan dari apa yang ada di dalamnya, dan keburukan dari apa yang diperintahkan kepadanya.’” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi. at-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan sahih.” al-Albani juga menyatakannya sahih)
Apa yang dikatakan dalam larangan mencela zaman juga dikatakan dalam larangan mencela angin, sama persis.
Di antaranya adalah ucapan orang yang berdoa, “Ya Rabb, ampunilah aku jika Engkau menghendaki,” atau “rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki,’ atau ‘Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki,’ tetapi hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena tidak ada yang dapat memaksa Allah.”
Dalam tambahan riwayat Muslim disebutkan:
وَلَكِنْ لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ، وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ
“Akan tetapi hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permintaan dan memperbesar harapan, karena tidak ada sesuatu pun yang berat bagi Allah untuk Dia berikan.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Orang yang berdoa seperti ini telah melampaui batas dalam doanya dan tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Sebab, Allah adalah Raja yang Mahaluas pemberian-Nya, Pemilik kerajaan langit, keperkasaan, keagungan, dan kebesaran. Tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya untuk diberikan, dan tidak ada yang bisa memaksa-Nya. Siapa yang sifat dan keagungannya seperti ini, bagaimana mungkin orang yang berdoa mengatakan, “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.”?
Dalam doa itu terdapat tiga hal yang tercela:
Pertama, memberi kesan bahwa Allah bisa dipaksa melakukan sesuatu.
Kedua, seolah-olah si pemohon merasa bahwa permintaannya terlalu besar bagi Allah.
Ketiga, memberi kesan bahwa si pemohon tidak terlalu butuh ampunan dan rahmat, seakan berkata, “Jika Engkau mau, ya Rabb, lakukanlah. Jika tidak, maka tidak usah.”
Masih ada larangan-larangan ucapan lainnya, namun kami cukupkan dengan apa yang telah kami sebutkan sebagai peringatan dan pengingat terhadapnya, serta sebagai petunjuk terhadap larangan-larangan ucapan yang serupa.
Allah-lah yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan salam yang berlimpah hingga Hari Kiamat.
Baca juga: LARANGAN MENCELA MAKANAN
Baca juga: AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA
Baca juga: MENGANGGAP ENTENG PERKARA YANG MEMBINASAKAN
(Fuad bin Abdul Aziz asy-Syalhub)

