MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR

MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR

Hamba yang bersyukur mewujudkan rasa syukur dengan melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala sesuai dengan kemampuannya, bukan hanya sekedar mengucapkan ‘alhamdulillah’.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam hingga kedua kakinya bengkak. Aku bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‏‏أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Tidak bolehkah aku bergembira menjadi hamba yang bersyukur?” (Muttafaq ‘alaih)

PENJELASAN

Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah salah seorang yang paling mengetahui perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya, demikian pula dengan istri-istri beliau yang lainnya. Oleh karena itu, generasi awal para sahabat mengutus perempuan-perempuan untuk bertanya kepada istri-istri beliau mengenai perbuatan Rasulullah di rumah. Mereka menjelaskan bahwa salah satu perbuatan beliau adalah selalu mengerjakan shalat tahajud, sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

اِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ اَنَّكَ تَقُوْمُ اَدْنٰى مِنْ ثُلُثَيِ الَّيْلِ وَنِصْفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَاۤىِٕفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَ

Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasannya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiga malam, dan (demikian pula) segolongan orang-orang yang bersamamu.” (QS al-Muzammil: 20)

Terkadang beliau shalat hampir sepanjang malam, atau setengah malam, atau sepertiga malam untuk memberikan hak istirahat bagi dirinya dengan beribadah kepada Rabb-nya. Ada kalanya beliau memulai shalat di sepertiga malam, pertengahan malam, atau dua pertiga malam, sesuai dengan kondisinya. Beliau berdiri shalat hingga kedua kakinya membengkak karena lamanya berdiri.

Beberapa sahabat pernah mengerjakan shalat malam bersama beliau dan mengalami kelelahan, seperti yang dialami oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dia bercerita, “Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdiri sangat lama sehingga aku berniat untuk duduk.” Para sahabat bertanya, “Apa yang kau niatkan, wahai Abu Abdurrahman?” Ia menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan beliau.” (HR al-Bukhari) Maksudnya, Ibnu Mas’ud ingin duduk karena tidak kuat dan tidak sabar mengerjakan shalat sepanjang yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Khudzaifah al-Yaman radhiyallahu ‘anhu pernah shalat malam bersama beliau. Beliau membaca surat al-Baqarah, an-Nisa’, dan Ali Imran, hingga kira-kira lima seperempat jus. Khudzaifah berkata, “Setiap kali melewati ayat-ayat yang berbicara tentang rahmat, beliau memohon. Setiap kali melewati ayat-ayat tasbih, beliau bertasbih. Dan setiap kali melewati ayat-ayat peringatan, beliau berlindung. Beliau membaca ayat-ayat tersebut dengan tartil.”

Beliau membaca lima seperempat juz dalam shalat malam, memohon setiap kali melewati ayat-ayat rahmat, berlindung setiap kali melewati ayat-ayat peringatan, dan bertasbih setiap kali melewati ayat-ayat tasbih. Betapa lamanya shalat beliau. Demikianlah beliau menghabiskan malam-malamnya.

Jika beliau membaca ayat yang panjang dalam satu rakaat, beliau juga memanjangkan rukuk, berdiri setelah rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud.

Pada musim dingin, beliau shalat sekitar dua pertiga malam, yang berarti beliau shalat selama kira-kira tujuh jam. Betapa lamanya beliau shalat malam. Itu karena beliau mampu bersabar dan menekan hawa nafsu.

Beliau bersabda, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” Hal ini menunjukkan bahwa syukur terwujud dengan melakukan ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Setiap kali seseorang bertambah ketaatannya kepada Allah, syukurnya kepada Allah pun bertambah. Syukur hakikatnya bukan hanya sekedar mengucapkan ‘alhamdulillah’, tetapi juga dalam bentuk amalan, yaitu mengerjakan ketaatan sesuai dengan kemampuannya.

Pada hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa semua kesalahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diampuni oleh Allah Ta’ala, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, sehingga beliau meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih dari noda.

Allah juga telah mengkhususkan kaum tertentu dengan ampunan atas dosa-dosanya karena telah mengamalkan amal saleh tertentu, seperti lebih dari tiga ratus orang Ahli Badar. Di antara mereka adalah Hatib bin Baltaah radhiyallahu ‘anhu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar radhiyallahu ‘anhu dalam kisah yang masyhur, “Apakah kalian tidak tahu bahwa Allah telah mengkhususkan Ahli Badar dengan firman-Nya, ‘Berbuatlah sekehendak kalian, karena dosa-dosa kalian telah diampuni.’” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah keistimewaan para sahabat yang mengikuti Perang Badar. Allah telah mengampuni dosa-dosanya.

Hatib radhiyallahu ‘anhu pernah melakukan kesalahan besar. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana menyerbu orang-orang Quraisy yang telah mengingkari perjanjian Hudaibiyyah, Hatib mengirim sepucuk surat kepada penduduk Makkah yang berisi rencana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerbu mereka. Kemudian Nabi mendapatkan wahyu. Beliau mengutus Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dan seorang sahabat untuk menyusul perempuan pembawa surat Hatib. Mereka menangkap perempuan itu di sebuah taman di Khakh yang dekat dengan jalan menuju Makkah. Mereka berkata kepada perempuan itu, “Keluarkan surat yang kau bawa untuk penduduk Makkah!” Perempuan itu menyangkal, “Aku tidak membawa surat.” Mereka mengancam bahwa jika surat tidak dikeluarkan, mereka akan menggeladah perempuan itu. Perempuan itu akhirnya mengeluarkan surat dari terompahnya. Ternyata surat itu dari Hatib radhiyallahu ‘anhu untuk penduduk Makkah. Ali dan sahabatnya kembali ke Madinah dan menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar meminta izin untuk membunuh Hatib, dengan alasan bahwa Hatib adalah seorang munafik yang ingin membocorkan rahasia mereka kepada musuh. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tidak mengetahui bahwa Allah telah mengkhususkan Ahli Badar dengan firman-Nya, ‘Berbuatlah sekehendak kalian, karena dosa-dosa kalian telah diampuni!’” Jika tidak demikian, perbuatan Hatib tentu termasuk penghianatan dan dosa besar.

Seorang pemimpin umat Islam boleh membunuh mata-mata dari pihak kafir, meskipun mata-mata tersebut seorang muslim, karena ia telah melakukan kerusakan besar di muka bumi. Namun, hukum tersebut tidak berlaku terhadap Hatib karena beliau termasuk Ahli Badar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Apakah engkau tidak mengetahui bahwa ia seorang muslim,” melainkan beliau bersabda, “Apakah kalian tidak mengetahui bahwa Allah telah mengkhususkan Ahli Badar?”

Di dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan salah satu keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Selain itu, dalam hadis ini juga terdapat dalil yang menunjukkan keutamaan qiyamullail dan memperpanjang shalat. Allah Ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang memperpanjang shalat malam, sebagaimana firman-Nya:

 تَتَجَافٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,” Yaitu menjauhi tempat tidur.

يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًا

Mereka berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.”

Setiap ingat dosanya, mereka takut, setiap ingat luasnya rahmat Allah, mereka berharap.

وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَس

Dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS as-Sajdah: 16)

Lambung mereka jauh dari tempat tidur, bukan untuk begadang di depan televisi, bermain kartu, atau membicarakan aib orang lain. Melainkan mereka berdoa dan beribadah kepada Allah dengan mengharap rahmat-Nya, takut akan siksa-Nya, serta menafkahkan apa yang telah Allah berikan kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ اُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ اَعْيُنٍۚ جَزَاۤءًۢ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati, sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS as-Sajdah: 17)

Apakah yang disembunyikan untuk mereka ini? Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis qudsi, bahwasanya Allah Ta’ala berfirman:

 أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh pahala yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh pendengaran, dan belum pernah terbayang oleh benak manusia.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Itulah yang disembunyikan untuk mereka.

Semoga kita semua termasuk penghuni Surga-Nya.

Baca juga: ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

Baca juga: DUA NIKMAT YANG MENIPU

Baca juga: SUNGGUH MENAKJUBKAN URUSAN ORANG BERIMAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati