APAKAH HADITS QUDSI ITU?

APAKAH HADITS QUDSI ITU?

Hadits qudsi adalah perkataan yang diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabbnya. Para ahli hadits memasukkan hadits qudsi ke dalam hadits nabawi karena hadits qudsi dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penyampainya. Hadits qudsi bukan bagian dari al-Qur’an berdasarkan ijmak, meskipun keduanya sama-sama disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat beliau dari Allah Ta’ala.

Ulama berbeda pendapat terkait lafaz (redaksi) hadits qudsi, apakah kalam (firman) Allah atau Allah mewahyukan maknanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sedangkan lafaznya dari Rasulullah.

Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

Pendapat pertama: Lafaz dan makna hadits qudsi adalah dari Allah Ta’ala karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkannya kepada Allah. Seperti diketahui bahwa perkataan yang disandarkan kepada suatu sumber pada dasarnya menggunakan lafaz sumber yang mengucapkannya, bukan lafaz orang yang menukilnya. Terlebih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling kuat amanahnya dan paling terpercaya riwayatnya.

Pendapat kedua: Makna hadits qudsi adalah dari Allah Ta’ala, sedangkan lafaznya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alasannya adalah sebagai berikut:

1️⃣ Jika lafaz dan makna hadits qudsi dari Allah Ta‘ala, tentu sanadnya lebih tinggi dari al-Qur’an, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkannya dari Allah Ta’ala tanpa perantara seperti yang tampak jelas dari rangkaian kalimat. Sedangkan al-Qur’an turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantaraan Jibril ‘alaihissalam, seperti yang Allah Ta’ala firmankan:

قُلْ نَزَّلَهٗ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ

Katakanlah, Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Quran itu dari Rabb-mu dengan kebenaran.” (QS an-Nahl: 102)

Dan firman-Nya:

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ؛ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ؛ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ

Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS asy-Syu’ara: 193-195)

2️⃣ Jika lafaz hadits qudsi dari Allah, tentu hadits qudsi tidak ada bedanya dengan al-Qur’an. Keduanya sama-sama kalamullah Ta’ala. Ketika asasnya sama, hikmah mengharuskan keduanya memiliki hukum yang sama, padahal seperti yang kita ketahui bahwa banyak perbedaan antara al-Qur’an dan hadits qudsi.

Di antara perbedaan itu adalah bahwa membaca hadits qudsi tidak bernilai ibadah. Maksudnya, seseorang tidak mendekatkan diri kepada Allah dengan sekedar membaca hadits qudsi. Setiap huruf yang dibaca tidak dibalas dengan sepuluh kebaikan. Berbeda dengan al-Qur’an, dimana membacanya bernilai ibadah. Setiap huruf yang dibaca dibalas dengan sepuluh kebaikan.

Di antara perbedaannya adalah bahwa Allah Ta’ala menantang manusia membuat sesuatu seperti al-Qur’an atau satu ayat saja dari al-Qur’an. Tantangan serupa tidak berlaku pada hadits qudsi.

Perbedaan yang lain adalah bahwa al-Qur’an dipelihara dan dijaga oleh Allah Ta’ala, seperti yang Allah sampaikan dalam firman-Nya:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS al-Hijr: 9)

Sementara hadits qudsi tidak seperti itu. Hadits qudsi ada yang sahih, hasan, dan bahkan daif atau maudhu’ (palsu).

Jika tidak daif atau maudhu’, ada lafaz hadits qudsi yang didahulukan dan diakhirkan, ada yang ditambah dan ada juga yang dikurangi.

Perbedaan yang lain adalah bahwa al-Qur’an tidak boleh dibaca secara makna berdasarkan ijmak kaum muslimin, sementara hadits qudsi boleh diriwayatkan secara makna menurut pendapat mayoritas ulama, meskipun ada perbedaan pendapat ulama dalam hal itu.

Di antara perbedaannya adalah bahwa al-Qur’an disyariatkan dibaca dalam salat. Dalam al-Qur’an terdapat (surah yang) jika tidak dibaca, maka salat tidak sah (yakni surah al-Fatihah). Berbeda dengan hadits qudsi.

Di antara perbedaannya adalah bahwa al-Qur’an tidak boleh disentuh selain oleh orang yang suci menurut pendapat yang paling sahih, sedangkan hadits qudsi boleh.

Di antara perbedaannya adalah bahwa al-Qur’an tidak boleh dibaca oleh orang yang junub sebelum ia mandi menurut pendapat yang rajih, sedangkan hadits qudsi boleh.

Di antara perbedaannya adalah bahwa al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir, qath’i dan menunjukkan ilmu yakin. Jika seseorang mengingkari satu huruf saja dari al-Qur’an yang sudah disepakati para kari, maka ia kafir. Berbeda dengan hadits qudsi. Jika seseorang mengingkari sebagian dari hadits qudsi karena menganggapnya tidak sahih, maka ia tidak kafir. Namun jika ia mengingkarinya padahal ia tahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya, maka ia kafir karena mendustakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para penganut pendapat kedua menanggapi pendapat pertama sebagai berikut:

Keadaan dan perihal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandarkan hadits qudsi kepada Allah, dan menurut asalnya, perkataan yang disandarkan harus menggunakan lafaz sumber yang mengatakannya, maka memang seperti itu prinsip dan asasnya. Namun terkadang makna suatu perkataan disandarkan kepada sumber yang mengucapkannya, bukan lafaznya, seperti halnya al-Qur’an, dimana Allah Ta’ala menyandarkan banyak perkataan di dalamnya kepada orang-orang yang mengatakannya.

Seperti kita ketahui, perkataan-perkataan tersebut disandarkan kepada orang-orang yang mengatakannya secara makna, bukan secara lafaz, seperti perkataan-perkataan pada kisah para nabi, serta perkataan burung hud-hud dan semut. Bisa dipastikan bahwa perkataan yang dinukil adalah secara makna, bukan secara lafaz.

Dengan demikian tampak jelas bahwa pendapat kedua adalah pendapat yang rajih (yang lebih kuat).

Perbedaan pendapat terkait hal ini tidak seperti perbedaan pendapat antara Asy’ariyah dan Ahli Sunah terkait kalamullah, karena yang diperdebatkan di antara mereka terkait asas kalamullah.

Ahli sunah mengatakan bahwa kalamullah Ta’ala adalah kalam hakiki yang terdengar dan diucapkan oleh Allah Ta’ala dengan suara dan huruf, sedangkan Asy’ariyah tidak berpendapat demikian. Mereka mengatakan hahwa kalamullah adalah makna yang berdiri sendiri, bukan dengan huruf dan suara. Menurut mereka Allah menciptakan suara untuk mengungkapkan makna yang berdiri sendiri tersebut.

Perkataan Asy’ariyah ini jelas batil. Pada hakikatnya, pernyataan ini adalah pernyataan Mu’tazilah karena Mu’tazilah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, padahal ia kalamullah. Sementara Asy’ariyah menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk dan ia ibarat yang mengungkapkan kalamullah. Namun semuanya sepakat bahwa yang ada di antara dua sampul mushhaf adalah makhluk.

Seandainya dikatakan dalam persoalan ini -pembahasan tentang hadits qudsi- lebih baik tidak membicarakan persoalan ini secara mendalam karena dikhawatirkan termasuk sikap berlebihan yang membinasakan pelakunya, dan cukup mengatakan bahwa hadits qudsi adalah perkataan yang diriwayatkan Nabi dari Rabb-nya, tentu hal itu sudah cukup. Pernyataan ini lebih selamat. Wallahu a’lam.

Intinya bahwa jika sanad hadits terhubung sampai kepada Allah Ta’ala, maka dinamakan hadits qudsi, karena kesucian dan keutamaannya. Jika sanad hadits terhubung sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka disebut hadits marfu’. Jika terhubung sampai kepada sahabat saja, maka dinamakan hadits mauquf. Dan jika terhubung sampai kepada tabiin saja, maka ini dinamakan hadits maqthu.

Baca juga: PENYERAGAMAN AL-QUR’AN DALAM SATU DIALEK

Baca juga: LARANGAN MENYEMBUNYIKAN ILMU

Baca juga: AL-QUR’AN MEMBERI SYAFAAT PADA HARI KIAMAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Serba-Serbi