PENYERAGAMAN AL-QUR’AN DALAM SATU DIALEK

PENYERAGAMAN AL-QUR’AN DALAM SATU DIALEK

Ketahuilah bahwa al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf, karena bangsa Arab terdiri dari banyak kabilah dengan dialek yang berbeda-beda. Engkau dapat memperhatikan bahwa apabila seseorang berbicara dengan dialek lain, maka ia akan kesulitan mengucapkannya. Ini termasuk rahmat Allah Ta’ala yang menjadikan al-Qur’an sebanyak tujuh huruf. Setiap kabilah membaca al-Qur’an sesuai dengan dialek masing-masing.

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan yang kubaca sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bacakan kepadaku. Aku hampir melakukan tindakan terhadapnya, namun akhirnya aku biarkan dia sejenak hingga menyelesaikan bacaannya. Setelah itu aku ikat dia dengan kainku, lalu kugiring menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aku berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, aku mendengar dia membaca al-Qur’an (dengan cara) yang berbeda dengan yang engkau bacakan kepadaku.”

Beliau berkata kepadaku,

أَرْسِلْهُ

Bawalah dia kemari!

Kemudian beliau berkata kepadanya,

اقْرَأْ

Bacalah!

Dia pun membaca.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَكَذَا أُنْزِلَتْ

Memang begitu yang diturunkan.”

Kemudian beliau berkata kepadaku,

اقْرَأْ

Bacalah!

Aku pun membaca.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَكَذَا أُنْزِلَتْ. إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ. فَاقْرَءُوا مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ

Memang begitu yang diturunkan. Sesungguhnya al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf. Maka bacalah oleh kalian (bacaan) yang mudah.” (HR al-Bukhari)

Demikianlah yang berlangsung pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu.

Pada masa pemerintahan Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma, setiap orang membaca al-Qur’an dengan dialek masing-masing sehingga terjadi perbedaan hebat di kalangan para sahabat. Waktu itu dialek Quraisy lebih dominan daripada dialek Arab lainnya. Itu karena para khalifah berasal dari kabilah Quraisy.

Muncul kekhawatiran di hati Amirul Mukminin Utsman radhiyallahu ‘anhu bahwa akan terjadinya perbedaan yang mencolok di kalangan kaum muslimin tentang al-Qur’an, kekhawatiran akan timbulnya perpecahan umat akibat tujuh huruf tersebut. Kemudian Utsman bin Affan mengambil inisiatif untuk menyeragamkan al-Qur’an hanya dalam satu dialek, yaitu dialek Quraisy, seperti yang kita baca sekarang. Lalu ia memerintahkan untuk membakar al-Qur’an yang berdialek selain dialek Quraisy untuk menghindari timbulnya fitnah di kalangan kaum muslimin.

Inisiatif Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu ini membuahkan manfaat yang sangat besar bagi kaum muslimin. Jasa besar Amirul Mukminin Utsman bin Affan sangat sulit untuk diungkapkan. Semoga Allah memberinya pahala atas kebaikan yang telah ia sumbangkan kepada kaum muslimin.

Baca juga: AL-QUR’AN MEMBERI SYAFAAT PADA HARI KIAMAT

Baca juga: HUKUM MENGERASKAN BACAAN AL-QUR’AN SEMENTARA ORANG LAIN SEDANG SALAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Serba-Serbi