DZIKIR DAN DOA UNTUK MENGATASI KESUSAHAN

DZIKIR DAN DOA UNTUK MENGATASI KESUSAHAN

Telah disebutkan dalam as-Sunnah hadis-hadis yang sangat banyak dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasi kesusahan yang menimpa manusia. Kesusahan adalah kesulitan dan kepedihan yang didapatkan seseorang pada dirinya, disebabkan musibah dan kejadian-kejadian besar yang menimpanya. Kesusahan melanda seseorang yang membuatnya kalut, sedih, dan tidak bisa tidur.

Di antara hadis untuk mengatasi hal tersebut adalah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ketika kesusahan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah Yang Mahaagung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sembahan yang haq kecuali Rabb Arsy yang Agung. Tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah, Rabb langit dan Rabb bumi serta Rabb Arsy yang mulia.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan selain keduanya, dari Asma binti Umais radhiyallahu ‘anha, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat-kalimat yang engkau ucapkan ketika kesusahan -atau pada saat kesusahan-?:

اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لَاأُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا

Allah… Allah… Rabbku, aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.’” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib)

Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, “Doa-doa saat kesusahan adalah:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

‘Ya Allah, rahmat-Mulah yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan aku pada diriku sendiri sekejap mata pun, dan perbaikilah untukku urusanku seluruhnya. Tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau.’” (HR Abu Dawud. Dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’)

at-Tirmidzi meriwayatkan dari Said bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa sahabat ikan paus ketika berdoa, dan dia berada di perut ikan,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

‘Tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.’

Sungguh tidaklah seorang laki-laki muslim berdoa dengannya pada sesuatu pun melainkan Allah mengabulkan untuknya.” (HR at-Tirmidzi. Dinyatakan sahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih al-Jaami’)

Semua kalimat yang disebutkan pada hadis-hadis di atas adalah kalimat-kalimat keimanan, tauhid, ikhlas kepada Allah, dan jauh dari seluruh syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Maka di sini terdapat petunjuk yang paling jelas bahwa seagung-agung solusi kesusahan adalah memperbaharui iman dan mengulang-ulang kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah’. Hal itu karena tidak ada yang melenyapkan dari seseorang kesulitan, tidak pula menghilangkan darinya kerisauan dan kesusahan seperti halnya mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan agama kepada-Nya, serta merealisasikan ibadah yang hamba diciptakan karenanya dan diadakan untuk merealisasikannya. Sebab, hati ketika dipenuhi tauhid dan ikhlas serta disibukkan dengan urusan agung ini yang merupakan sebesar-besar urusan dan seagung-agung perkara secara mutlak, niscaya akan hilang darinya kesusahan, lenyap darinya kesulitan dan kerisauan, lalu merasakan puncak kebahagiaan.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Tauhid adalah tempat benaung musuh Allah dan para wali-Nya. Adapun musuh-musuh Allah diselamatkan oleh tauhid dari kesusahan dan kesulitan dunia:

فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Apabila mereka menaiki perahu niscaya mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya. Ketika Dia menyelamatkan mereka ke daratan ternyata mereka berbuat syirik.’ (QS al-Ankabut: 65)

Sedangkan wali-wali Allah diselamatkan oleh tauhid dari kesusahan dan kesulitan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Yunus bernaung kepadanya sehingga Allah menyelamatkannya dari kegelapan-kegelapan itu. Begitu pula para sahabat Rasul bernaung kepadanya sehingga mereka selamat dari azab yang menimpa kaum musyrikin di dunia dan apa yang disiapkan atas mereka di akhirat.

Ketika Fir’aun bernaung kepadanya saat melihat kebinasaan dan hampir tenggelam, maka hal itu tidak memberi manfaat baginya, sebab keimanan, apabila sudah tampak di depan mata, tidak akan diterima. Inilah sunah Allah Ta’ala pada hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang menolak kesulitan dunia seperti tauhid. Oleh karena itu, doa kesusahan adalah tauhid. Doa sahabat ikan paus yang tidaklah digunakan untuk berdoa oleh orang yang kesusahan melainkan Allah lapangkan baginya adalah tauhid. Tidak ada yang mencampakkan dalam kesusahan yang besar kecuali syirik, dan tidak ada yang menyelamatkan darinya kecuali tauhid. Ia adalah tempat bernaung, berlindung, benteng dan puncaknya bagi ciptaan. Wabillahi taufik.” (al-Fawa’d)

Pada pembahasan yang lalu sudah disebutkan hadis-hadis yang menunjukkan makna ini, yaitu:

Pertama, hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan semuanya adalah tauhid dan pemuliaan untuk Allah Ta’ala, pengulang-ulangan bagi kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah’, bergandengan dengan perkara yang menunjukkan kebesaran, keagungan dan kesempurnaan Allah, juga rububiyah-Nya terhadap langit, bumi, dan Arsy yang agung. Kalimat-kalimat tersebut telah mengurut ketiga jenis tauhid, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma washifat. Apabila seorang muslim mengucapkannya seraya mencermati makna-maknanya dan memikirkan kandungannya, niscaya hatinya menjadi tenang, jiwanya menjadi tentram, hilang darinya kesusahan dan kesulitan, serta diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Kedua, hadis Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi bimbingan kepadanya, yaitu apabila ditimpa kesusahan atau dalam kesusahan, hendaklah ia bernaung kepada tauhid, di mana tidak ada yang menolak dari seorang hamba kesulitan-kesulitan, dan tidak ada yang melenyapkan darinya kesusahan-kesusahan seperti halnya tauhid. Beliau membangkitkan perhatian Asma terhadap urusan ini dan menjadikannya rindu untuk mengetahuinya serta menyiapkan dirinya untuk menerimanya. Beliau lebih dahulu memulai dengan pertanyaan yang membangkitkan keinginan Asma, “Maukah aku ajarkan kepada-Mu kalimat-kalimat yang Engkau ucapkan saat kesusahan atau dalam kesusahan.” Maka tidak diragukan lagi bahwa jiwa Asma sudah sangat ingin mengetahui kalimat-kalimat itu. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbingnya untuk mengucapkan, “Allah… Allah… Rabbku, aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.” Ini adalah kalimat ikhlas dan tauhid.

Lafaz, “Allah… Allah…”  sama-sama diberi tanda ‘dhammah’ di huruf akhirnya, atas dasar kata pertama sebagai pokok kalimat dan kata kedua sebagai penegas baginya. Hal ini mengisyaratkan keagungan persoalan dan kepentingan urusan. Adapun kalimat penjelasnya adalah lafaz, “Rabbku.” Maknanya adalah sungguh sembahanku yang aku sembah dan aku khususkan dengan semua jenis ibadah berupa takut, harap, kerendahan, ketundukan, kekhusyukan, keluluhan hati dan selain itu adalah Rabb-ku yang telah memeliharaku dengan nikmat-Nya. Dia mengadakanku dari tidak ada, lalu mengaruniakan kepadaku berbagai jenis pemberian dan nikmat.

Lafaz, “Aku tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.” Yakni, aku tidak menjadikan bersamanya sekutu dalam ibadah bagaimana pun hal itu. Adapun lafaz ‘sesuatu’ disebutkan dalam bentuk nakirah (kata tidak tentu) dan konteks penafian sehingga mencakup keseluruhan.

Kesimpulannya: Kalimat agung ini mengandung perealisasian tauhid dengan kedua rukunnya: penafian dan penetapan. Penafian ubudiyah dari segala sesuatu selain Allah, dan penetapannya kepada-Nya semata.

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa tauhid adalah tempat bernaung dalam kesusahan dan sebab yang paling besar untuk menghilangkan kegelisahan dan menghapus kerisauan.

Ketiga, hadis Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Doa-doa kesusahan: Ya Allah, rahmat-Mulah yang aku harapkan. Maka janganlah Engkau serahkan aku pada diriku sendiri sekejap mata pun, dan perbaikilah untukku urusanku seluruhnya. Tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau.” Semuanya adalah tauhid kepada Allah, bernaung kepada-Nya, dan berpegang dengan-Nya.

Lafaz, “Ya Allah, rahmat-Mulah yang aku harapkan.” Pada pengakhiran kata kerja terdapat petunjuk pengkhususan, yakni kami mengkhususkan-Mu dengan harapan rahmat dari-Mu. Kami tidak mengharapkannya dari sesuatu selain Engkau.

Lafaz, “Janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri sekejap mata pun, dan perbaikilah untukku urusanku seluruhnya.” Di sini terdapat besarnya kebutuhan hamba kepada Allah Ta’ala, bahwa tidak mungkin seorang hamba tidak membutuhkan Rabbnya meski sekejap mata dalam setiap urusannya. Oleh karena itu, dikatakan, “Dan perbaikilah untukku urusanku seluruhnya.” Yakni, pada setiap bagian dan setiap sisi urusannya. Kemudian doa yang penuh berkah ini diakhiri dengan kalimat tauhid ‘laa ilaaha illallah’.

Keempat, hadis Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Di dalamnya terdapat doa sahabat ikan paus ketika beliau berada di perut ikan, “Tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Sehubungan dengan doa ini, Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Sungguh padanya terdapat kesempurnaan tauhid, penyucian bagi Rabb dan pengakuan hamba akan kezaliman serta dosanya, di mana semua itu merupakan obat yang paling manjur untuk mengatasi kesusahan, kegelisaan, dan kerisauan, serta sarana yang paling tepat kepada Allah Ta’ala dalam menunaikan kebutuhan-kebutuhan. Sebab, tauhid dan penyucian mengandung penetapan semua kesempurnaan bagi Allah Ta’ala dan penafian setiap kekurangan dan aib serta penyerupaan dari-Nya. Sedangkan pengakuan akan kezaliman mengandung keimanan hamba terhadap syariat, balasan, dan siksaan. Mengharuskan pula keluluhan hati dan kembalinya kepada Allah Ta’ala, pemaafan kesalahan-kesalahan, pengakuan akan rububiyah-Nya, dan kebutuhan hamba kepada Rabbnya. Maka di sini terdapat empat perkara yang digunakan untuk bertawasul, yaitu tauhid, penyucian, penghambaan, dan pengakuan.” (Zaadul Ma’ad)

Baca juga: DOA KETIKA SEDANG SEDIH, SUSAH, DAN GELISAH

Baca juga: DOA AGAR HATI DIPALINGKAN KEPADA KETAATAN

Baca juga: DOA KESEMBUHAN

(Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

Adab