KUBURAN NABI TIDAK BERADA DI DALAM MASJID

KUBURAN NABI TIDAK BERADA DI DALAM MASJID

Syekh al-’Utsaimin rahimahullah ditanya:

Bagaimana memberi jawaban kepada para penyembah kuburan yang berargumentasi dengan dikuburkannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Masjid Nabawi?

Syekh al-’Utsaimin rahimahullah menjawab:

Jawabannya dapat ditinjau dari beberapa aspek:

🟤 Bahwa masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan. Ia sudah dibangun semasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

🟤 Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikuburkan di dalam Masjid tersebut sehingga dikatakan ‘ini adalah sama artinya dengan penguburan orang-orang saleh di dalam masjid’. Akan tetapi, beliau dikuburkan di rumahnya.

🟤 Bahwa melokalisir rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha sehingga menyatu dengan masjid bukanlah berdasarkan kesepakatan para sahabat. Hal itu terjadi setelah mayoritas mereka sudah wafat, yaitu sekitar tahun 94 H. Jadi, ia bukanlah atas dasar pembolehan dari para sahabat semuanya. Sebagian mereka ada yang menentang hal itu. Di antara mereka yang menentang adalah Said bin al-Musayyib dari kalangan tabiin.

🟤 Bahwa kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berada di dalam masjid. Kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan telah dilokalisir, karena ia berada di dalam bilik tersendiri yang terpisah dari masjid. Jadi, masjid tersebut tidaklah dibangun di atasnya. Oleh Karena itu, di tempat ini dibuat penjagaan dan dipagari dengan tiga buah dinding. Dinding ini diletakkan pada sisi yang melenceng dari arah kiblat alias berbentuk segitiga. Sudut ini berada di sisi utara sehingga orang yang melakukan shalat tidak dapat menghadap ke arahnya karena ia berada pada posisi yang melenceng (dari arah kiblat).

Dengan demikian, argumentasi para budak (penyembah) kuburan dengan syubhat tersebut sama sekali termentahkan.

Baca juga: HIKMAH DIMASUKKANNYA KUBURAN NABI KE DALAM MASJID

Baca juga: LARANGAN MEMBANGUN TEMPAT PERIBADATAN DI ATAS KUBURAN

Baca juga: KISAH ORANG MATI YANG HIDUP KEMBALI

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Serba-Serbi