2️⃣ Kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla pada Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukum-hukum-Nya.
3️⃣ Bahwa Allah Ta’ala Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk, sehingga Dia tidak menerima kecuali yang baik, berdasarkan sabda-Nya, “Dia tidak menerima kecuali yang baik.”
Amal yang mengandung kesyirikan tidak diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla karena tidak baik. Demikian pula bersedekah dengan harta hasil curian tidak diterima oleh Allah karena tidak baik. Bersedekah dengan sesuatu yang haram karena zatnya juga tidak diterima oleh Allah karena tidak baik.
4️⃣ Pembagian amal menjadi yang diterima dan yang tertolak, berdasarkan sabda, “Dia tidak menerima kecuali yang baik.” Penafian penerimaan menunjukkan bahwa penerimaan ada apabila amal tersebut baik. Hal ini jelas.
Di antaranya pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأ
“Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadas hingga ia berwudu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6954 dan Muslim no. 225/2)
Ini berkaitan dengan amal yang diterima.
Dan sabda beliau,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalan itu tertolak.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 1718/17)
Ini berkaitan dengan amal yang tertolak.
5️⃣ Bahwa para rasul ‘alaihim ashshalatu wassalam juga diberi perintah dan larangan, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.”
Demikianlah adanya. Para rasul ‘alaihim ashshalatu wassalam adalah hamba-hamba yang paling sempurna dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdiri shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak. Beliau ditanya tentang hal itu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
Beliau menjawab,
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟
“Tidakkah aku sepatutnya menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4836 dan Muslim no. 2819)
Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya.
Bandingkanlah keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keadaan kita pada hari ini. Seseorang di antara kita tidur hingga terbit fajar, padahal nikmat Allah yang diberikan kepada kita tidak terhitung jumlahnya. Bahkan pernah tiga orang pemuda berusaha beribadah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka tidak mampu menyamai beliau dalam shalat tahajudnya.
Sahabat yang mulia ini, Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, pernah berdiri (shalat malam) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam untuk bertahajud. Ia berkata, “Beliau membaca Surah al-Baqarah. Aku berkata dalam hati, ‘Beliau akan rukuk pada ayat ke-100,’ namun beliau terus melanjutkannya hingga selesai. Aku berkata, ‘Beliau akan rukuk,’ ternyata beliau mulai membaca Surah an-Nisa’ dan menyelesaikannya, kemudian beliau mulai membaca Surah Ali ‘Imran dan menyelesaikannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 772)
Padahal Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ketika itu masih seorang pemuda.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga pernah berdiri (shalat malam) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, dan ia menyaksikan betapa panjangnya tahajud beliau.
Kesimpulannya, para rasul adalah hamba-hamba yang diperintah dan dilarang. Mereka adalah manusia yang paling sempurna dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
6️⃣ Bahwa orang-orang beriman juga diperintah dan dilarang, berdasarkan sabdanya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.”
Setiap kali iman seseorang semakin kuat, maka semakin besar pula ketaatannya dalam melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Jika kamu melihat pada dirimu penurunan dalam melaksanakan perintah-perintah, maka tuduhlah dirimu sendiri karena lemahnya iman. Perbaikilah keadaan itu sebelum penyakit itu menyebar sehingga kamu kelak tidak mampu lagi untuk istiqamah.
7️⃣ Dianjurkannya menggunakan cara yang dapat mendorong dan memotivasi untuk beramal. Sisi pengambilannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.”
Apabila seorang mukmin mengetahui bahwa hal tersebut termasuk perintah-perintah yang juga ditujukan kepada para rasul, maka ia akan menjadi lebih kuat dan lebih terdorong untuk melaksanakannya.
8️⃣ Perintah untuk memakan yang baik-baik (thayyibat) bagi orang-orang beriman dan para rasul.
Dari sini bercabang satu faedah, yaitu celaan terhadap orang yang menahan diri dari yang baik-baik tanpa alasan syar’i. Seandainya seseorang —setelah Allah menganugerahkan kepada umat ini kelapangan dan beragam hasil bumi serta buah-buahan— berkata, “Aku tidak akan memakan ini sebagai bentuk wara’, bukan karena tidak menginginkannya,” maka sungguh ia telah keliru. Perbuatannya bertentangan dengan praktik salafus shalih.
Sesungguhnya para salafus shalih, ketika negeri-negeri ditaklukkan, mereka makan dan minum dengan jenis makanan dan minuman yang sebelumnya tidak mereka kenal pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa yang menahan diri dari yang baik-baik tanpa alasan syar’i, ia tercela dan telah menolak karunia Allah ‘Azza wa Jalla atasnya. Secara akal pun diketahui bahwa menolak karunia dari pihak yang berbuat baik adalah sikap tidak beradab. Seandainya seorang dermawan menghadiahkan sesuatu kepadamu lalu kamu menolaknya, hal itu dipandang sebagai akhlak dan adab yang buruk. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak hadiah. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2585) Walaupun hadiah itu sedikit, beliau menerimanya dan membalasnya.
Kesimpulan: Menahan diri dari yang baik-baik tanpa alasan syar’i adalah perbuatan tercela.
9️⃣ Wajib mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla dengan amal saleh, berdasarkan firman-Nya:
كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً
“Makanlah dari yang baik-baik dan beramallah dengan amal saleh.” (QS al-Mu’minun: 51)
dan dalam ayat tentang orang-orang beriman Allah berfirman:
كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّه
“Makanlah dari yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah.” (QS al-Baqarah: 172)
Dari penggabungan kedua ayat ini dipahami bahwa syukur adalah amal saleh, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.”
Apa yang diperintahkan kepada para rasul terdiri dari dua perkara: Pertama, makan dari yang baik-baik; Kedua, beramal saleh. Maka tidak setiap orang yang mengucapkan, “syukur kepada Allah” atau “alhamdulillah,” telah benar-benar bersyukur hingga ia beramal saleh. Oleh karena itu, sebagian fuqaha berkata, “Syukur adalah ketaatan kepada Sang Pemberi nikmat,” yakni melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Inilah makna firman Allah: “Beramallah dengan amal saleh.” (QS al-Mu’minun: 51)
1️⃣0️⃣ Mengarahkan perintah kepada orang yang memang telah memiliki sifat tersebut. Hal ini berdasarkan firman-Nya: “Beramallah dengan amal saleh.” Perintah beramal saleh ditujukan kepada para rasul, padahal mereka pasti telah mengerjakan amal-amal saleh.
Demikian pula firman Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ
“Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah.” (QS al-Ahzab: 1),
dan firman-Nya:
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ
“(Ingatlah) ketika engkau berkata kepada orang yang telah Allah beri nikmat dan engkau pun telah memberinya nikmat, ‘Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah,’ sementara engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menampakkannya.” (QS al-Ahzab: 37)
Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertakwa, padahal beliau adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Adapun salah seorang di antara kita —padahal kita banyak lalai— apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” justru marah dan tersinggung. Bahkan jika dikatakan, “Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu,” ia akan bertanya, “Apa kesalahanku?” Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rabb-nya sendiri menegurnya dengan firman-Nya: “Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah.” (QS al-Ahzab: 1)
Jadi, para rasul ‘alaihim ashshalatu wassalam tetap diperintahkan untuk beramal saleh meskipun mereka telah mengerjakannya, sebagai bentuk peneguhan atas apa yang telah mereka lakukan agar mereka terus istiqamah di atasnya.
Baca juga: KEUTAMAAN PARA IMAM AGAMA
Baca juga: BEBERAPA KEUTAMAAN PARA SAHABAT NABI
Baca juga: CIRI GENERASI YANG MENYELISIHI PETUNJUK PARA NABI
Baca juga: ALLAH MAHABAIK DAN TIDAK MENERIMA KECUALI YANG BAIK
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

