PEMUDA YANG TUMBUH DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH

PEMUDA YANG TUMBUH DALAM BERIBADAH KEPADA ALLAH

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ مُعَلَّقٌ قَلْبُهُ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ؛ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Ta’ala dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid-masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lalu kedua matanya berlinang.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)

Allah mengumpulkan seluruh makhluk pada Hari Kiamat, dari yang pertama hingga yang terakhir:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan balasan yang lebih baik.” (QS an-Najm: 31)

Pada suatu hari yang panjang waktunya, sangat dahsyat kengeriannya, dan sangat berat kesusahannya. Allah telah memperingatkan hamba-hamba-Nya tentang hari itu dan memerintahkan mereka agar mempersiapkan diri menghadapinya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ۝ يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian. Sesungguhnya guncangan Hari Kiamat adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari ketika kalian melihatnya, setiap perempuan yang menyusui akan lalai terhadap anak yang disusuinya, setiap perempuan yang hamil akan menggugurkan kandungannya, dan engkau melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah sangat keras.” (QS al-Hajj: 1–2)

Allah Ta’ala berfirman:

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

“Lalu bagaimana kalian akan dapat menjaga diri jika kalian tetap kafir terhadap suatu hari yang menjadikan anak-anak beruban?” (QS al-Muzzammil: 17)

Dari al-Miqdad bin al-Aswad, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُدْنَى الشَّمْسُ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ بِمِقْدَارِ مِيلٍ؛ فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ؛ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حِقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا

“Matahari didekatkan kepada makhluk hingga jaraknya dari mereka hanya satu mil. Maka manusia berada dalam keringat sesuai dengan kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, ada yang mencapai kedua lututnya, ada yang mencapai pinggangnya, dan ada pula yang keringat benar-benar mengekangnya hingga ke mulutnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2864)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَعْرَقُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى يَذْهَبَ عَرَقُهُمْ فِي الْأَرْضِ سَبْعِينَ ذِرَاعًا، وَيُلْجِمُهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ آذَانَهُمْ

“Manusia berkeringat pada Hari Kiamat hingga keringat mereka meresap ke dalam bumi sejauh tujuh puluh hasta dan mengekang mereka hingga mencapai telinga mereka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6532 dan Muslim no. 2863)

Waktu tidak cukup luas untuk membicarakan ketujuh golongan tersebut. Akan tetapi, kita berhenti sejenak pada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah.”

Pemuda ini telah diberi taufik oleh Allah sejak tumbuh dewasa untuk melakukan amal-amal saleh. Allah menjadikan amal-amal tersebut dicintainya, menjadikan amal-amal buruk dibencinya, serta membantunya meninggalkannya, baik karena pendidikan yang saleh, pergaulan yang baik, maupun sebab lainnya. Allah telah menjaganya dari apa yang menjadi kebiasaan banyak pemuda, berupa kesia-siaan dan permainan, menyia-nyiakan shalat, serta tenggelam dalam syahwat dan berbagai kenikmatan. Allah telah memuji generasi yang diberkahi ini dengan firman-Nya:

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS al-Kahfi: 13)

Karena masa muda merupakan pendorong yang kuat terhadap berbagai syahwat, maka termasuk perkara yang paling menakjubkan adalah seorang pemuda yang mengharuskan dirinya untuk taat dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan tersebut. Dengan itu, ia berhak menjadi salah seorang dari tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya.

Ia telah mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban tentang masa mudanya, untuk apa ia menghabiskannya. Oleh karena itu, ia mengamalkan wasiat nabinya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang beliau wasiatkan ketika bersabda,

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, kehidupanmu sebelum kematianmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, dan kekayaanmu sebelum kemiskinanmu.” (Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 7846)

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Kedua kaki anak Adam tidak akan bergeser pada Hari Kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ia ditanya tentang lima perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan; tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; serta apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang telah diketahuinya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2416)

Para pemuda adalah tiang penyangga umat dan mereka adalah generasi masa depan. Dari mereka bangunan umat terbentuk, dan dari mereka lahir para ulama, pembaharu, mujahid, serta anggota masyarakat lainnya, yang apabila mereka baik, masyarakat mereka akan memperoleh manfaat dari mereka di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS ath-Thur: 21)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 1631)

Di antara contoh pemuda yang berpegang teguh pada ketaatan kepada Rabb-nya adalah para pemuda dari kalangan sahabat. Di antaranya adalah Usamah bin Zaid, yang diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memimpin pasukan kaum muslimin yang menuju Syam, sementara usianya belum melewati tujuh belas tahun. Di dalam pasukan tersebut terdapat para sahabat senior. Bahkan, Abu Bakar meminta izin kepada Usamah bin Zaid agar membiarkan Umar tetap bersamanya di Madinah, lalu Usamah mengizinkannya.

Demikian pula Ali bin Abi Thalib yang tidur di tempat tidur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berhijrah ke Madinah. Ia mempertaruhkan dirinya untuk dibunuh sebagai tebusan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula Ja’far bin Abi Thalib yang menjadi pemimpin pasukan kaum muslimin dalam Perang Mu’tah yang terkenal, menggantikan panglima Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu yang terbunuh dalam peperangan tersebut. Ia pun membawa panji kaum muslimin dan mengambil pedangnya seraya berkata:

“Betapa indahnya Surga dan betapa dekatnya ia.

Ia baik dan minumannya sejuk.

Bangsa Romawi adalah bangsa Romawi yang azabnya telah dekat.

Kewajibanku apabila bertemu mereka adalah menebaskan pedang kepada mereka.”

Mereka pun memotong tangan kanannya. Lalu ia memegang panji dengan tangan kirinya. Kemudian mereka memotong tangan kirinya. Ia pun mendekap panji itu ke dadanya. Mereka kemudian mengeroyoknya dan membunuhnya.

Abdullah bin Umar berkata, “Kami mencari Ja’far bin Abi Thalib di antara orang-orang yang terbunuh. Ternyata pada tubuhnya terdapat lebih dari sembilan puluh luka, antara luka akibat tebasan pedang dan tusukan tombak.” (HR al-Bukhari no. 4261)

Allah Ta’ala berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu, dan mereka sama sekali tidak mengubah janjinya.” (QS al-Ahzab: 23)

Contoh lainnya adalah Muhammad bin al-Qasim, yang menaklukkan negeri Sind dan India ketika usianya belum melewati tujuh belas tahun, sebagaimana diriwayatkan kepada kita oleh kitab-kitab sirah.

Seorang penyair berkata:

“Mereka adalah para ahli ibadah pada malam hari ketika kegelapan menyelimuti mereka.

Betapa banyak ahli ibadah yang air matanya mengalir di pipinya.

Dan mereka adalah singa-singa rimba ketika jihad memanggil mereka.

Mereka bangkit menuju kematian, memohon untuk melihatnya.

Wahai Rabbku, bangkitkanlah bagi kami sekelompok orang seperti mereka,

yang akan membangun kembali bagi kami kejayaan yang telah kami sia-siakan.”

Di antara contoh pada masa sekarang adalah para pemuda yang memenuhi masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan universitas-universitas. Mereka menuntut ilmu syar’i, berdakwah kepada agama Allah, memerintahkan yang makruf, mencegah yang mungkar, dan bergabung dengan halaqah-halaqah tahfizh al-Qur’an. Ini merupakan sesuatu yang menyejukkan dada, dan umat kita akan senantiasa memiliki kebaikan hingga hari Kiamat.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.

Baca juga: MUKMIN YANG KUAT

Baca juga: DAKWAH SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI

Baca juga: KISAH SEORANG PEMUDA DAN RAJA YANG ZALIM

Baca juga: KEBERANIAN DUA PEMUDA ANSHAR MEMBUNUH ABU JAHAL

Baca juga: KISAH NABI YUSUF – MEREKA TERPESONA DENGAN KETAMPANAN YUSUF

(Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi)

Akidah Kelembutan Hati