Nasihat kepada para Pemimpin Kaum Muslimin
Keempat: beliau bersabda, “kepada para pemimpin kaum muslimin.”
Kata a’immah adalah bentuk jamak dari imam. Yang dimaksud dengan imam ialah orang yang dijadikan teladan dan diikuti perintahnya.
Kepemimpinan (imamah) terbagi menjadi dua: kepemimpinan dalam agama dan kepemimpinan dalam kekuasaan (pemerintahan).
Ulama
Adapun kepemimpinan dalam agama, maka ia berada di tangan para ulama. Para ulama adalah imam-imam agama yang menuntun manusia kepada Kitab Allah, memberi petunjuk kepadanya, dan menunjukkan mereka kepada syariat Allah.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman dalam doa ‘ibad ar-Rahman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami penyejuk mata, dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 74)
Mereka tidak memohon kepada Allah kepemimpinan kekuasaan atau jabatan pemerintahan, melainkan memohon kepemimpinan dalam agama. Karena ‘ibad ar-Rahman tidak menginginkan kekuasaan atas manusia dan tidak pula mengejar jabatan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abdur-Rahman bin Samurah radhiyallahu ‘anhu,
لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
“Janganlah engkau meminta jabatan. Jika engkau diberi jabatan karena memintanya, maka engkau akan diserahkan kepadanya. Jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, maka engkau akan ditolong dalam menjalankannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Mereka memohon kepemimpinan dalam agama, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka para imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah: 24)
Maka Allah berfirman: “para imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.”
Nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dalam agama dan ilmu adalah hendaklah seseorang bersungguh-sungguh menerima ilmu yang ada pada mereka. Sesungguhnya para ulama adalah perantara antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. Oleh karena itu, hendaklah ia bersemangat mengambil ilmu dari mereka dengan berbagai sarana. Pada zaman kita —walillahil-hamd— sarana-sarana tersebut telah banyak, seperti melalui tulisan, rekaman, dan belajar langsung.
Hendaklah ia bersemangat menimba ilmu dari para ulama, dan hendaklah proses penerimaannya dilakukan dengan penuh ketenangan, bukan dengan tergesa-gesa. Seseorang jika tergesa-gesa dalam menerima ilmu, dikhawatirkan ia menerimanya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh gurunya.
Allah Ta’ala telah mendidik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan adab ini. Allah berfirman:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak segera menguasainya. Sesungguhnya Kami-lah yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya.” (QS al-Qiyamah: 16–19)
Hal itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu menyegerakan membaca bersama Jibril ‘alaihis salam ketika Jibril menyampaikan al-Qur’an kepadanya. Maka Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak segera menguasainya,” yakni jangan engkau menggerakkan lidah, baik secara pelan maupun lirih, hingga Jibril selesai membacanya. Setelah itu, barulah engkau membacanya.
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
“Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya. Kemudian sesungguhnya Kami-lah yang bertanggung jawab menjelaskannya.” (QS al-Qiyamah: 18–19)
Allah ‘Azza wa Jalla menjamin penjelasannya, maksudnya bahwa engkau tidak akan melupakannya. Padahal secara kebiasaan, seseorang jika diam hingga penyampai selesai menyampaikan, mungkin saja ia melupakan sebagian kalimat. Namun Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Kemudian sesungguhnya Kami-lah yang bertanggung jawab menjelaskannya.”
Termasuk bentuk nasihat kepada para ulama kaum muslimin adalah tidak menelusuri aib-aib mereka, tidak memburu kesalahan dan kekeliruan yang terjadi pada diri mereka. Sesungguhnya mereka bukan orang-orang yang maksum. Mereka bisa tergelincir dan bisa melakukan kesalahan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertobat.” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
Terlebih lagi bagi penuntut ilmu, tidak sepantasnya ia menjadi orang yang paling keras dan berlebihan dalam menyikapi kesalahan-kesalahan gurunya. Bahkan tidak jarang seseorang justru mendapat manfaat dari murid-muridnya. Mereka mengingatkannya terhadap sebagian perkara, baik kesalahan ilmiah, kesalahan praktis, maupun berbagai kekeliruan lainnya. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang bersifat manusiawi.
Perkara yang penting adalah jangan sampai seseorang bersemangat mencari-cari kesalahan dan kekeliruan. Sebab telah datang dalam hadis,
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya, sementara iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum muslimin dan jangan pula mengikuti aib-aib mereka. Sesungguhnya barang siapa mengikuti aib-aib mereka, Allah akan mengikuti aibnya; dan barang siapa Allah mengikuti aibnya, niscaya Dia akan membongkarnya meskipun di dalam rumahnya.” (Hadis hasan sahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad. Lihat Shahih Abi Dawud)
Jika larangan ini berlaku terhadap kaum muslimin secara umum, maka terlebih lagi terhadap para ulama.
Sesungguhnya orang-orang yang mencari-cari kesalahan-kesalahan para ulama untuk kemudian menyebarkannya, bukan hanya berbuat buruk terhadap pribadi para ulama semata, tetapi juga berbuat buruk terhadap para ulama sebagai pribadi, terhadap ilmu yang mereka bawa, dan terhadap syariat yang diterima melalui mereka. Hal itu karena apabila manusia tidak lagi percaya kepada para ulama, dan mereka disibukkan dengan apa yang dianggap sebagai aib-aib para ulama —yang hakikatnya bisa jadi bukan aib, melainkan sekadar penilaian orang yang memiliki maksud buruk— maka kepercayaan mereka kepada para ulama dan kepada ilmu yang ada pada mereka akan berkurang. Dengan demikian, hal ini menjadi bentuk kezaliman terhadap syariat yang mereka bawa dari sunah Rasulullah ‘alaihish-shalatu wa as-salam.
Oleh karena itu, termasuk nasihatmu kepada para imam kaum muslimin dari kalangan ahli ilmu adalah membela kehormatan mereka, menutupi kekeliruan mereka semampumu, dan tidak berdiam diri ketika mendengar sesuatu tentang mereka. Hendaklah kamu menasihati sang ulama, meneliti perkara itu bersamanya, dan bertanya langsung kepadanya. Bisa jadi disandarkan kepada seorang ulama perkataan-perkataan yang tidak benar.
Sungguh, telah dinisbatkan kepada kami dan kepada selain kami berbagai perkataan yang tidak benar. Akan tetapi manusia —nas’alullahal-’afiyah— apabila mereka memiliki hawa nafsu, mencintai suatu pendapat, dan mengetahui seorang ulama yang ucapannya diterima oleh manusia, maka mereka menisbatkan pendapat tersebut kepada ulama itu. Kemudian apabila orang yang dinisbatkan kepadanya pendapat itu ditanya, ia berkata, “Tidak, aku tidak pernah mengatakan demikian.”
Terkadang pula orang yang bertanya keliru dalam merumuskan pertanyaannya, lalu sang ulama menjawab sesuai dengan bentuk pertanyaan tersebut, sementara si penanya memahaminya sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri. Maka terjadilah kesalahan. Bisa jadi ulama menjawab dengan benar setelah memahami pertanyaan, namun si penanya memahaminya tidak sesuai dengan maksudnya, sehingga ia pun keliru dalam menukilkannya.
Bagaimanapun keadaannya, termasuk nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dalam ilmu dan agama adalah tidak mencari-cari aib mereka, tetapi berusaha memberi uzur kepada mereka. Hendaklah ia menghubungi dan berkata, “Aku mendengar tentangmu begini dan begitu, apakah benar?” Jika ia menjawab, “Ya,” maka katakan, “Menurutku itu keliru,” hingga ia menjelaskannya kepadamu. Bisa jadi ia menerangkan sesuatu yang tidak kamu ketahui, sementara kamu menyangka ia keliru. Bisa pula ada sesuatu yang luput darinya, lalu kamu mengingatkannya, dan kamu pun mendapat pahala atas hal tersebut.
Sungguh, hal ini telah dikatakan oleh imam pertama dalam agama dan kekuasaan di umat ini setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Aba Bakr radhiyallahu ‘anhu. Ketika ia menyampaikan khotbah pertamanya, ia berkata kepada manusia —seraya berbicara tentang dirinya sendiri, “Jika aku menyimpang, maka luruskanlah aku.” Hal itu karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang bersifat manusiawi.
Maka luruskanlah saudaramu —terlebih lagi para ahli ilmu— karena kedudukan seorang alim sangat besar risikonya: risiko tergelincir dan juga risiko ketinggian. Kata khathar digunakan untuk makna naik dan turun. Risikonya besar: bila ia benar, Allah memberi petunjuk melalui tangannya kepada banyak makhluk. Namun bila ia keliru, banyak makhluk pula yang tersesat melalui kesalahannya. Oleh karena itu, tergelincirnya seorang alim termasuk di antara kesalahan yang paling besar.
Oleh karena itu, aku mengatakan: Wajib bagi kita untuk menjaga kehormatan para ulama kita, membela mereka, dan mencari-cari alasan pembenar atas kesalahan-kesalahan mereka. Namun hal ini tidak menghalangi kita untuk menghubungi mereka, bertanya kepada mereka, meneliti bersama mereka, dan berdiskusi dengan mereka, agar kita benar-benar menjadi orang-orang yang tulus dan memberi nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin.
Penguasa
Jenis kedua dari para pemimpin kaum muslimin adalah pemimpin dalam kekuasaan, yaitu para penguasa. Para penguasa pada umumnya lebih banyak melakukan kesalahan dibandingkan para ulama, karena kekuasaan sering menyeret kepada kesombongan yang dibalut dosa, sehingga ia ingin memaksakan otoritasnya baik dalam kebenaran maupun kesalahan. Oleh sebab itu, yang lazim pada para pemimpin kaum muslimin dalam ranah kekuasaan —yaitu para penguasa— adalah kesalahan mereka lebih banyak dibandingkan para ulama, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
Nasihat kepada mereka adalah menahan diri dari menyebarkan keburukan-keburukan mereka, tidak menyiarkannya di tengah masyarakat, serta berusaha memberikan nasihat kepada mereka semampu kita secara langsung jika kita mampu menemui mereka; atau melalui tulisan jika tidak mampu bertemu langsung; atau dengan menghubungi orang yang memiliki akses kepada mereka apabila kita tidak dapat menulis.
Terkadang seseorang tidak mampu menulis kepada mereka, atau meskipun menulis, tulisannya tidak sampai kepada pejabat yang dimaksud. Maka ia menghubungi orang yang bisa berhubungan dengan pejabat tersebut untuk menyampaikan dan mengingatkannya. Semua itu termasuk bentuk nasihat.
Adapun menyebarkan keburukan-keburukan mereka, maka hal itu bukan sekadar bentuk permusuhan pribadi terhadap mereka saja, tetapi juga merupakan permusuhan terhadap mereka dan terhadap seluruh umat. Apabila dada-dada umat dipenuhi kebencian kepada para pemimpin mereka, niscaya umat akan durhaka kepada para pemimpin, menentang mereka, dan pada saat itu terjadi kekacauan, ketakutan merajalela, dan keamanan pun hilang.
Sebaliknya, apabila wibawa para pemimpin tetap terjaga di dalam hati, maka mereka akan memiliki kewibawaan. Perintah-perintah dan aturan-aturan mereka —selama tidak menyelisihi syariat— akan dijaga dan dihormati.
Intinya, para pemimpin kaum muslimin mencakup dua jenis: pemimpin dalam agama, yaitu para ulama, dan pemimpin dalam kekuasaan, yaitu para penguasa. Jika dikehendaki, dapat pula dikatakan: pemimpin penjelasan dan pemimpin kekuasaan.
Pemimpin penjelasan adalah para ulama yang menjelaskan agama kepada manusia, sedangkan pemimpin kekuasaan adalah para penguasa yang menegakkan syariat Allah dengan kekuatan wewenang.
Para pemimpin kaum muslimin —baik pemimpin ilmu dan penjelasan maupun pemimpin kekuatan dan kekuasaan— wajib kita nasihati. Kita hendaklah bersungguh-sungguh dalam memberikan nasihat kepada mereka, dengan membela mereka, menutupi kekurangan-kekurangan mereka, serta bersikap bersama mereka apabila terjadi kesalahan: menjelaskan kesalahan itu secara pribadi antara kita dan mereka. Bisa jadi kita menyangka seorang ulama keliru, atau seorang penguasa keliru, namun ketika kita berdiskusi dan bermusyawarah dengannya, ternyata jelas bahwa ia tidak keliru. Hal seperti ini sering terjadi.
Demikian pula, terkadang berita tentang seorang ulama atau penguasa dinukil kepada kita tidak sesuai dengan kenyataannya. Hal itu bisa terjadi karena buruknya niat orang yang menukilkannya. Sebagian manusia —wal-‘iyadzu billah— senang menyebarkan keburukan dan mencemarkan nama para ulama serta para penguasa. Karena niat yang buruk tersebut, mereka menisbatkan kepada para ulama dan penguasa sesuatu yang tidak pernah mereka ucapkan, serta menyandarkan kepada mereka sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan.
Apabila kita mendengar sesuatu tentang seorang ulama atau penguasa yang menurut kita merupakan kesalahan, maka kesempurnaan nasihat menuntut agar kita membahasnya, menjelaskannya, dan menelitinya dengan cermat hingga jelas kebenarannya. Dengan demikian, kita bersikap di atas dasar ilmu dan kejelasan.
Nasihat kepada Seluruh Kaum Muslimin
Adapun penutup hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kepada seluruh kaum muslimin,” maksudnya nasihat kepada kaum muslimin secara umum.
Para pemimpin didahulukan penyebutannya daripada masyarakat umum, karena apabila para pemimpin itu baik, maka masyarakat pun akan baik. Jika para penguasa baik, masyarakat akan baik. Jika para ulama baik, masyarakat pun akan baik. Oleh karena itu, mereka didahulukan penyebutannya.
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan para pemimpin kaum muslimin bukan hanya mereka yang memegang kepemimpinan tertinggi saja, tetapi maknanya lebih umum. Setiap orang yang memiliki wewenang kepemimpinan, meskipun hanya di sebuah sekolah, termasuk dalam kategori pemimpin kaum muslimin. Apabila ia dinasihati dan menjadi baik, maka orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya pun akan menjadi baik.
Nasihat kepada kaum muslimin secara umum adalah dengan mencintai bagi mereka apa yang kamu cintai bagi dirimu sendiri, membimbing mereka kepada kebaikan, menunjuki mereka kepada kebenaran apabila mereka menyimpang darinya, dan mengingatkan mereka apabila mereka melupakannya. Hendaklah kamu menempatkan mereka pada kedudukan persaudaraan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Beliau bersabda,
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ؛ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berempati adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim)
Maka apabila kamu merasakan sakit pada bagian tubuh yang paling kecil sekalipun, rasa sakit itu akan menjalar ke seluruh tubuh. Demikian pula seharusnya keadaan seorang muslim terhadap kaum muslimin lainnya: apabila seorang muslim tertimpa keluhan, seakan-akan perkara itu kembali kepadamu sendiri.
Perlu diketahui bahwa nasihat adalah menyampaikan kepada seseorang secara sembunyi-sembunyi, antara kamu dan dia. Apabila kamu menasihatinya secara rahasia, hal itu akan lebih berpengaruh pada jiwanya dan ia akan mengetahui bahwa kamu benar-benar menasihatinya. Namun apabila kamu berbicara tentangnya di hadapan orang banyak, bisa jadi ia dikuasai oleh kesombongan yang disertai dosa sehingga ia tidak menerima nasihat. Bahkan ia mungkin menyangka bahwa kamu hanya ingin membalas dendam, mencelanya, dan merendahkan kedudukannya di hadapan manusia, sehingga ia pun menolak nasihat tersebut. Akan tetapi, jika nasihat itu disampaikan antara kamu dan dia saja, maka nasihat itu memiliki bobot dan nilai yang besar di sisinya, dan ia akan menerimanya.
Sebelum itu semua, kepada Allah-lah kita memohon agar Dia memberi taufik kepada kita semua menuju apa yang Dia cintai dan Dia ridhai.
Baca juga: AGAMA ADALAH NASIHAT (1)
Baca juga: WASIAT TAKWA DAN KETAATAN KEPADA PEMIMPIN
Baca juga: BENTUK-BENTUK NASIHAT KEPADA PEMIMPIN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

