AGAMA ADALAH NASIHAT (1)

AGAMA ADALAH NASIHAT (1)

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama adalah nasihat. Agama adalah nasihat. Agama adalah nasihat.”

Para sahabat bertanya, “Kepada siapa, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

للهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْن وَعَامَّتِهِمْ

Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan kepada seluruh kaum muslimin.” (HR Muslim)

PENJELASAN

Penulis rahimahullah menyebutkan dalam bab “Nasihat” tiga hadis. Hadis pertama berasal dari Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat, agama adalah nasihat, agama adalah nasihat.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulanginya sebanyak tiga kali agar orang yang diajak bicara dan yang mendengarkan benar-benar memperhatikan, sehingga mereka menerima apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh perhatian.

Kami (para sahabat) bertanya, “Kepada siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum muslimin, dan kepada seluruh kaum muslimin.” Lima perkara inilah yang menjadi objek nasihat.

Nasihat kepada Allah

Nasihat kepada Allah ‘Azza wa Jalla terwujud dengan ikhlas kepada Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya dengan landasan cinta dan pengagungan. Seorang hamba beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena cinta, sehingga ia melaksanakan perintah-perintah-Nya dengan harapan meraih cinta-Nya ‘Azza wa Jalla; dan karena pengagungan, sehingga ia menjauhi larangan-larangan-Nya karena takut kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara bentuk nasihat kepada Allah adalah hendaklah seseorang senantiasa mengingat Rabb-nya dengan hati, lisan, dan anggota badannya. Adapun hati, maka tidak ada batas bagi dzikirnya. Seseorang mampu mengingat Allah dengan hatinya dalam setiap keadaan, dalam segala yang ia kehendaki, dan dalam setiap hal yang ia dengar. Hal itu karena pada setiap sesuatu terdapat tanda (ayat) bagi Allah Ta’ala yang menunjukkan keesaan-Nya, keagungan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Maka ia merenungkan penciptaan langit dan bumi, merenungkan malam dan siang, serta merenungkan ayat-ayat Allah berupa matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan, dan selainnya. Semua itu menimbulkan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di dalam hatinya.

Di antara bentuk nasihat kepada Allah adalah adanya rasa cemburu karena Allah; yakni seseorang cemburu karena Allah ‘Azza wa Jalla apabila larangan-larangan-Nya dilanggar. Demikianlah keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ‘alaihish-shalatu wa as-salam sama sekali tidak pernah membalas demi kepentingan dirinya sendiri, seberapa pun manusia berkata tentang beliau. Beliau tidak membalas untuk dirinya. Namun apabila larangan-larangan Allah dilanggar, maka beliau menjadi orang yang paling keras sikapnya terhadap siapa pun yang melanggar larangan Allah Ta’ala.

Maka seseorang hendaklah cemburu terhadap Rabb-nya. Ia tidak membiarkan seorang pun mencela Allah, mencaci Allah, atau memperolok-olok Allah, melainkan ia merasa cemburu karena itu dan mengingkarinya, bahkan meskipun dengan mengadukan perkaranya kepada penguasa. Sikap tersebut termasuk bentuk nasihat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Termasuk nasihat kepada Allah adalah membela agama Allah Ta’ala yang telah Dia syariatkan bagi hamba-hamba-Nya, dengan membatalkan tipu daya orang-orang yang berbuat makar dan membantah kaum ateis yang menampilkan agama seakan-akan sebagai belenggu yang membatasi kebebasan manusia. Padahal hakikatnya, agama adalah pengikat kebebasan. Sebab manusia terikat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, terikat dengan-Nya, dan terikat dalam agama Allah. Barang siapa tidak terikat dengan itu, niscaya ia akan terikat kepada setan dan mengikuti langkah-langkah setan. Sebab jiwa selalu memiliki dorongan dan tekad. Jiwa seseorang tidak pernah diam sama sekali, melainkan pasti memiliki tekad dalam suatu hal: entah pada kebaikan atau pada keburukan.

Betapa indah perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam an-Nuniyyah, ketika ia berkata, “Mereka lari dari perbudakan yang untuk itulah mereka diciptakan, lalu mereka diuji dengan perbudakan hawa nafsu dan setan.”

“Mereka lari dari perbudakan yang untuk itulah mereka diciptakan,” yaitu beribadah kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat: 56)

Namun mereka lari dari perbudakan ini —yang merupakan puncak kebebasan dan puncak kebahagiaan— menuju perbudakan hawa nafsu dan setan. Hawa nafsu —na’udzu billah min syarriha— memperbudak manusia dan mendiktekan keinginan-keinginan, sehingga manusia tunduk kepadanya. Apabila hawa nafsu telah menguasai, maka akal pun lenyap, sebagaimana ucapan seorang penyair, “Ada dua orang mabuk: mabuk karena hawa nafsu dan mabuk karena minuman keras. Maka kapan kesadaran datang bagi orang yang mabuk dengan dua mabuk ini?”

Ia menggambarkan seseorang yang meminum khamar —wal-’iyadzu billah— bahwa ia berada dalam dua kemabukan: kemabukan hawa nafsu dan kemabukan minuman keras. Maka kapan orang yang demikian akan sadar? Jelas, orang seperti ini tidak diharapkan akan sadar.

Kesimpulannya, manusia beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada hawa nafsu dan bukan pula kepada setan, agar ia terbebas dari belenggu-belenggu yang membahayakannya dan tidak memberinya manfaat.

Termasuk nasihat kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah menyebarkan agama Allah di tengah hamba-hamba Allah. Inilah kedudukan seluruh rasul. Mereka adalah para penyeru kepada Allah, mengajak manusia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang mereka:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ

Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (dengan seruan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’ Maka di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan di antara mereka ada yang telah pasti kesesatan menimpanya.” (QS an-Nahl: 36)

Firman-Nya “di antara mereka” maksudnya adalah dari umat yang kepadanya rasul itu diutus.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia memberi petunjuk kepada kami dan kepada kalian menuju jalan-Nya yang lurus.

Nasihat kepada Kitab-Nya

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kepada Kitab-Nya,” maksudnya bahwa termasuk bagian dari agama adalah nasihat kepada kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini mencakup Kitab Allah yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.

Nasihat kepada kitab-kitab tersebut diwujudkan dengan membenarkan seluruh berita yang dikandungnya, yaitu bahwa apa pun yang diberitakan olehnya wajib kita benarkan.

Adapun terkait al-Qur’an, maka perkaranya jelas. al-Qur’an —walillahil-hamd— telah diriwayatkan secara mutawatir sejak masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari ini, dan akan terus demikian sampai Allah ‘Azza wa Jalla mengangkatnya pada akhir zaman. al-Qur’an dibaca oleh yang kecil maupun yang besar.

Adapun kitab-kitab sebelumnya, maka sungguh telah terjadi pada kitab-kitab tersebut perubahan, penyimpangan, dan penggantian. Akan tetapi, bagian yang sahih darinya wajib kita benarkan beritanya dan kita yakini kebenaran hukumnya. Namun demikian, kita tidak dibebani untuk mengamalkan hukum-hukum kitab-kitab terdahulu kecuali jika terdapat dalil dari syariat kita yang menetapkannya.

Termasuk nasihat kepada Kitab Allah adalah bahwa seseorang membelanya; membela dari orang yang melakukan penyimpangan terhadapnya, baik penyimpangan secara lafaz maupun penyimpangan secara makna; atau dari orang yang mengklaim bahwa di dalamnya terdapat kekurangan atau tambahan.

Kaum Rafidhah misalnya, mereka mengklaim bahwa al-Qur’an memiliki kekurangan, dan bahwa al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak daripada yang ada di tangan kaum muslimin saat ini.

Dengan klaim tersebut mereka menyelisihi ijma’ kaum muslimin. al-Qur’an —walillahil-hamd— tidak berkurang sedikit pun darinya. Barang siapa mengklaim bahwa darinya telah berkurang sesuatu, sungguh ia telah mendustakan firman Allah Ta’ala:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami pula yang benar-benar menjaganya.” (QS al-Hijr: 9)

Allah ‘Azza wa Jalla telah menjamin pemeliharaannya. Maka siapa pun yang mengaku bahwa satu huruf saja telah dikurangi darinya, berarti ia telah mendustakan Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, ia wajib bertobat dan kembali kepada Allah dari perbuatan murtad tersebut.

Termasuk nasihat kepada Kitab Allah adalah menyebarkan maknanya di tengah kaum muslimin; yaitu makna yang benar, sesuai dengan makna lahiriahnya, tanpa ada penyimpangan dan tanpa perubahan.

Apabila seseorang duduk dalam suatu majelis, maka termasuk kebaikan dan nasihat kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla adalah ia membacakan satu ayat dari Kitab Allah, lalu menjelaskannya kepada manusia dan menerangkan maknanya. Terlebih lagi ayat-ayat yang sering dibaca oleh kaum muslimin, seperti Surah al-Fatihah.

Surah al-Fatihah merupakan rukun dari rukun-rukun shalat pada setiap rakaat, baik bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. Oleh karena itu, manusia sangat membutuhkan pemahamannya. Apabila seseorang menafsirkannya di hadapan manusia dan menjelaskannya kepada mereka, hal itu termasuk bentuk nasihat kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla.

Termasuk nasihat kepada Kitab Allah adalah beriman bahwa Allah Ta’ala benar-benar berbicara dengan al-Qur’an ini, dan bahwa ia adalah kalam-Nya ‘Azza wa Jalla, baik huruf maupun maknanya. Bukan huruf tanpa makna, dan bukan pula makna tanpa huruf; bahkan ia adalah kalam Allah secara lafaz dan makna, yang Allah ucapkan, lalu diterima dari-Nya oleh Jibril ‘alaihis salam, kemudian diturunkan olehnya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ ۝ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Roh al-Amin membawanya turun ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS asy-Syu’ara’: 192–195)

Perhatikan bagaimana Allah berfirman “ke dalam hatimu”, padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya dengan kedua telinganya. Namun telinga, apabila apa yang didengarnya tidak sampai ke hati, maka tidak akan menetap dalam jiwa. Yang menetap dalam jiwa hanyalah apa yang sampai ke hati, baik melalui pendengaran dengan telinga, penglihatan dengan mata, sentuhan dengan tangan, penciuman dengan hidung, maupun pengecapan dengan mulut. Yang terpenting adalah tempat menetapnya, yaitu hati. Oleh karena itu, Allah berfirman: “ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan.”

Berdasarkan hal ini, bukan termasuk nasihat apabila seseorang mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah ungkapan tentang kalam Allah, bukan kalam Allah itu sendiri; atau mengatakan bahwa ia adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah, atau semisalnya. Bahkan termasuk nasihat adalah beriman bahwa al-Qur’an benar-benar kalam Allah secara hakiki, baik lafaz maupun maknanya.

Termasuk nasihat kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla adalah hendaklah seseorang menghormati al-Qur’an yang agung ini. Di antaranya, tidak menyentuh al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci dari dua hadas: hadas kecil dan hadas besar, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

Tidak menyentuh al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR ath-Thabarani, ad-Daraquthni, dan al-Baihaqi. Disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Atau menyentuhnya dari balik penghalang, karena orang yang menyentuh dari balik penghalang pada hakikatnya tidak menyentuhnya secara langsung.

Dianjurkan —bukan dalam rangka kewajiban— agar seseorang tidak membaca al-Qur’an, meskipun dari hafalan, kecuali dalam keadaan berwudhu. Hal itu termasuk bentuk penghormatan terhadap al-Qur’an.

Termasuk nasihat kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla adalah tidak meletakkannya di tempat yang menghinakannya dan menjadikan peletakannya sebagai bentuk penghinaan, seperti di tempat kotoran dan semisalnya. Oleh karena itu, wajib berhati-hati terhadap perbuatan sebagian anak-anak ketika mereka selesai dari pelajaran di sekolah-sekolah mereka. Mereka melemparkan buku-buku pelajaran mereka —yang di antaranya terdapat bagian-bagian dari mushaf— ke jalanan, ke tempat sampah, atau semisalnya. Wal-’iyadzu billah.

Adapun meletakkan mushaf di atas tanah yang bersih dan baik, maka hal itu tidak mengapa dan tidak ada larangan di dalamnya. Perbuatan tersebut tidak mengandung unsur merendahkan al-Qur’an dan tidak pula merupakan penghinaan terhadapnya.

Hal ini sering dilakukan oleh banyak orang, misalnya ketika seseorang shalat dan membaca dari mushaf, lalu ia hendak sujud sehingga ia meletakkannya di hadapannya. Perbuatan seperti ini tidak dianggap sebagai pelecehan atau penghinaan terhadap mushaf, sehingga tidak mengapa. Wallahu a’lam.

Nasihat kepada Rasul-Nya

Adapun yang ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “kepada Rasul-Nya.”

Nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup beberapa perkara.

Pertama: beriman secara sempurna terhadap risalah beliau, dan meyakini bahwa Allah Ta’ala mengutus beliau kepada seluruh makhluk, baik Arab maupun non-Arab, bahkan kepada manusia dan jin. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولاً

Dan Kami mengutusmu kepada manusia sebagai seorang rasul.” (QS an-Nisa’: 79)

Allah Ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً

Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” (QS al-Furqan: 1)

Ayat-ayat dalam hal ini sangat banyak. Maka wajib beriman bahwa Muhammad adalah Rasul Allah bagi seluruh makhluk, dari kalangan jin dan manusia.

Termasuk nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membenarkan seluruh berita yang beliau sampaikan, serta meyakini bahwa beliau adalah sosok yang jujur lagi dibenarkan: jujur dalam apa yang beliau kabarkan, dan dibenarkan dalam apa yang beliau sampaikan dari wahyu. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berdusta dan tidak pula didustakan.

Termasuk nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengikuti beliau dengan sebenar-benarnya, sehingga tidak melampaui syariat beliau dan tidak pula menguranginya. Kamu menjadikan beliau sebagai imam dalam seluruh bentuk ibadah.

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam umat ini dan teladan yang diikuti. Tidak halal bagi siapa pun untuk mengikuti selain beliau, kecuali orang yang menjadi perantara antara dirinya dengan Rasul, yakni seseorang yang memiliki ilmu tentang sunah yang tidak dimiliki oleh kita. Dalam kondisi seperti ini, tidak mengapa mengikuti orang tersebut dengan syarat diyakini bahwa ia hanyalah perantara antara kita dan syariat, bukan sosok yang berdiri sendiri.

Tidak seorang pun berhak menetapkan syariat secara mandiri kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perintah Allah. Adapun selain beliau, maka mereka hanyalah penyampai dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR al-Bukhari)

Termasuk nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membela syariat beliau dan menjaganya. Membela syariat berarti tidak membiarkan seorang pun merendahkannya, dan tidak membiarkannya ditambahi oleh siapa pun dengan sesuatu yang bukan bagian darinya. Oleh karena itu, hendaklah memerangi para pelaku bid’ah —baik bid’ah dalam ucapan, perbuatan, maupun akidah— karena bid’ah-bid’ah itu hakikatnya satu pintu dan satu medan. Semuanya adalah kesesatan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Muslim)

Tidak dikecualikan dari hal ini bid’ah ucapan, perbuatan, ataupun akidah. Setiap perkara yang menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang beliau bawa —baik dalam akidah, ucapan, maupun amalan— maka itu adalah bid’ah.

Maka termasuk nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memerangi para pelaku bid’ah dengan cara yang sepadan dengan cara mereka memerangi sunah. Jika mereka memerangi dengan ucapan, maka dilawan dengan ucapan; jika mereka memerangi dengan perbuatan, maka dilawan dengan perbuatan —sebagai balasan yang setimpal. Semua itu termasuk bentuk nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Termasuk nasihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menghormati para sahabat beliau, mengagungkan mereka, dan mencintai mereka. Para sahabat seseorang —tidak diragukan— adalah orang-orang yang paling dekat dan paling khusus baginya. Oleh sebab itu, para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah sebaik-baik generasi, karena mereka adalah sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Siapa pun mencaci para sahabat, membenci mereka, merendahkan mereka, atau memberi isyarat kepada sesuatu untuk mencemarkan mereka, sungguh ia tidak menasihati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekalipun ia mengklaim sebagai penasihat Rasul, maka ia adalah pendusta. Bagaimana mungkin seseorang mencaci dan membenci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara ia mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menasihati beliau?

Sungguh telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabda beliau,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang berada di atas agama sahabat karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad, ath-Thayalisi. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Apabila para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dicaci oleh pencaci yang dusta, maka hakikatnya ia telah mencaci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak menasihati beliau. Bahkan pada hakikatnya, itu adalah celaan terhadap syariat, karena para pembawa syariat kepada kita adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Jika mereka layak untuk dicaci dan dicela, niscaya syariat tidak dapat dipercaya, karena para perawinya adalah orang-orang yang tercela dan tercacat.

Bahkan, mencaci para sahabat radhiyallahu ‘anhum berarti mencaci Allah ‘Azza wa Jalla nas’alullahal-’afiyah— dan mencela hikmah-Nya dalam memilih untuk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan untuk membawa agama-Nya, orang-orang yang pantas dicela dan dicacat (menurut anggapan mereka). Maka dengan demikian, termasuk nasihat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mencintai para sahabat beliau, menghormati mereka, dan mengagungkan mereka. Dan ini termasuk bagian dari agama.

Baca juga: NASIHAT

Baca juga: WASIAT TAKWA DAN KETAATAN KEPADA PEMIMPIN

Baca juga: AGAMA ADALAH NASIHAT (2)

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin