PENYESALAN SAAT KEMATIAN DAN DI ALAM KUBUR

PENYESALAN SAAT KEMATIAN DAN DI ALAM KUBUR

Termasuk rahmat Allah Ta’ala kepada manusia adalah bahwa Dia telah mengabarkan kepada kita segala yang telah Dia persiapkan bagi orang-orang yang bermaksiat berupa azab yang pedih. Bahkan, Dia telah mengabarkan kepada kita penyesalan, ratapan dan ucapan orang-orang tersebut di saat kematian, di alam kubur, dan di akhirat.

Agar penyesalan dapat direalisasikan sebelum kematian dan bersegera mempersiapkan diri menghadapi hari itu, beberapa penyesalan terbesar yang dirasakan oleh orang-orang yang lalai dan berbuat maksiat yang tidak bertobat akan disajikan di sini. Dimulai dengan penyesalan di saat kematian, di alam kubur, ketika tiupan sangkakala di Hari Kiamat dan ketika berada di Neraka.

Penyesalan Saat Kematian

Saat kematiannya, ahli maksiat akan memohon agar dikembalikan ke dunia untuk melakukan amal saleh.

Allah Ta’ala berfirman:

حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ؛ لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat melakukan amal saleh yang dahulu telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak (ada pengembalian ke dunia)! Sesungguhnya itu adalah kalimat yang dia ucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS al-Muminun: 99-100)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setiap orang yang lalai akan menyesal di saat sekarat. Dia meminta tambahan umur walau hanya sedikit untuk memperbaiki hal-hal yang luput darinya. Dan sungguh jauh! Telah lalu apa yang telah berlalu, dan akan datang apa yang akan datang. Masing-masing sesuai dengan tingkat kelalaiannya.”

Berdasarkan hal itu, permohonan agar dikembalikan ke dunia pada ayat di atas tidak khusus diucapkan oleh orang-orang kafir saja, tetapi juga oleh semua orang yang lalai. Inilah pendapat al-Qurthubi, Ibnu Katsir, dan Ibnu Sa’di.

Ahli maksiat dan orang fajir akan mendoakan celaka bagi diri sendiri ketika jenazahnya dipikul.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وُضِعَتِ الْجَنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً، قَالَتْ: قَدِّمُونِي. وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ، قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا. أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ. وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ

Apabila jenazah telah diletakkan dan dipikul oleh orang-orang di atas pundak-pundak mereka, jika dia (semasa hidupnya) termasuk orang saleh, dia berkata, ‘Bersegeralah kalian (membawa aku)!Jika dia bukan orang saleh, dia berkata, ‘Celaka! Kemanakah mereka hendak membawa jenazahku?’ Suaranya akan didengar oleh semua makhluk kecuali manusia. Seandainya manusia bisa mendengarnya pasti ia akan pingsan.” (HR al-Bukhari, an-Nasa-I, dan Ahmad)

Penyesalan di Alam Kubur

Di alam kubur ahli maksiat akan menyesal dengan penyesalan yang mendalam dan berharap kembali ke dunia untuk berzikir kepada Allah Ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kuburan seraya bertanya,

مَنْ صَاحِبُ هذَا الْقَبْرِ؟

Siapakah pemilik kuburan ini?

Para sahabat menjawab, “Si Fulan.”

Beliau bersabda,

رَكْعَتَانِ أَحَبُّ إِلَى هَذَا مِنْ بَقِيَّةِ دُنْيَاكُمْ

Dua rakaat lebih disukai orang ini daripada seluruh dunia kalian.” (HR ath-Thabrani. Lihat as-Silsilah ash-Shahihah)

Ahli maksiat, jika tidak bertobat, akan diazab di dalam kubur, lalu menyesal dengan penyesalan yang mendalam.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan yang kedua penghuninya sedang disiksa. Beliau bersabda,

يُعَذَّبَانِ. وَ مَا يُعَذَّبَانِ فىِ كَبِيْرٍ. بَلىَ كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَ كَانَ اْلآخَرُ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ

Sesungguhnya keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena perkara besar. Adapun salah seorang dari mereka (diazab karena) tidak menjaga diri dari kencingnya; sedangkan yang lain (diazab karena) mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)

an-Nawawi menjelaskan tentang ‘tidak menjaga diri dari kencingnya’. Maknanya adalah ‘tidak menjauhi air kencingnya dan tidak menjaga diri darinya’. Wallahu a’lam.

Dalam riwayat yang lain,

أَمَّا أَحَدُهُمَا فَيُعَذَّبُ فِي الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُعَذَّبُ فِي الْغَيْبَةِ

Adapun salah seorang dari mereka diazab karena air kencing, sedangkan yang lain diazab karena gibah.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Shahih at-Targhib)

Selain itu, beberapa maksiat lain juga pelakunya diazab di alam kubur jika mereka tidak bertobat, seperti makan riba, zina, dusta, tidur dengan melalaikan salat wajib, dan sombong dalam berjalan.

Baca juga: PENYESALAN KETIKA DIBANGKITKAN

Baca juga: PENYESALAN TERBESAR

(Ibrahim ‘Abdullah bin Saif al-Mazru’i)

Akidah