MENJUAL SESUATU YANG TIDAK DIMILIKI

MENJUAL SESUATU YANG TIDAK DIMILIKI

Di antara syarat sah jual beli adalah bahwa barang yang diperjual-belikan adalah milik pemilik barang atau orang yang menempati posisinya. Dalil syarat ini adalah al-Qur’an, as-Sunnah, dan penalaran yang benar.

Dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian. Sesungguhnya Allah adalah Mahapenyayang kepada kalian.” (QS an-Nisa’: 29)

Sudah maklum bahwa tidak seorang pun rela jika harta miliknya diperjual-belikan oleh orang lain.

Dalil dari as-Sunnah adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hukaim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu,

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Janganlah engkau menjual sesuatu yang bukan kepunyaanmu.” (HR at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Abu Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Hukaim menjual sesuatu yang tidak dimiliki Hukaim. Maksudnya, sesuatu yang tidak berada dalam kekuasannya atau yang ia tidak kuasa terhadapnya.

Dalil dari sisi penalaran yang benar adalah bahwa jika seseorang diperbolehkan menjual sesuatu yang bukan miliknya, maka hal itu akan menimbulkan permusuhan dan kekacauan yang kehidupan manusia tidak mungkin tegak dalam keadaan seperti itu.

Menjual sesuatu yang tidak dimiliki adalah sah jika dijalankan oleh orang yang menempati posisi pemilik barang. Mereka terdiri dari empat golongan:

1. Wakil,

2. Washi,

3. Nazhir,

4. Wali.

Mereka adalah orang-orang yang dapat menempati posisi pemilik barang untuk menjual barangnya.

Wakil

Wakil adalah orang yang diizinkan oleh pemilik barang untuk bertransaksi dengan hartanya di saat dia masih hidup, seperti seseorang yang memberikan mobilnya kepada orang lain dan berkata, “Juallah mobil ini!” Orang lain itu adalah wakil yang sah dari pemilik mobil untuk menjual mobilnya, karena dia menempati posisi pemilik mobil dengan perwakilan tersebut, dan juga karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكِّلْ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ

Dan wakilkanlah dalam jual beli.” (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud)

Ini adalah dalil dari as-Sunnah.

Washi

Washi adalah orang yang diperintahkan untuk mengelola harta seseorang setelah kematiannya.

Misalnya, seseorang berwasiat dengan sebagian hartanya kepada Zaid, maka Zaid boleh mengelola (menjual) apa yang telah diwasiatkan kepadanya jika dipandangnya baik. Dia bukan pemilik harta, tapi menduduki posisi pemilik.

Nazhir

Nazhir adalah orang yang diamanahi sebagai pengawas wakaf, yaitu yang dijadikan sebagai wakil dalam hal wakaf.

Misalnya, seseorang berkata, “Aku mewakafkan rumah ini untuk orang-orang fakir dan miskin. Pengawasnya adalah fulan bin fulan.” Maka, orang yang diamanahi boleh mengelola harta wakaf tersebut walaupun dia bukan pemiliknya. Dia mewakili kedudukan pemilik.

Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mewakafkan harta yang dimilikinya di Khaibar. Dia berkata, “Orang yang mengelolanya adalah Hafshah, kemudian orang-orang yang memiliki pemikiran cerdas di antara keluarganya.” Maka, Hafshah diangkat oleh Umar sebagai pengawas atas wakafnya.

Wali

Wali ada dua macam, yaitu wali yang bersifat umum dan wali yang bersifat khusus.

Wali yang bersifat umum adalah para penguasa, seperti hakim. Mereka memiliki wewenang atas harta yang tidak diketahui pemiliknya, dan atas harta anak yatim yang tidak memiliki wali khusus, dan sebagainya.

Wali yang bersifat khusus adalah wali bagi anak yatim dari orang tertentu, seperti wali paman bagi keponakannya yang yatim. Kami memosisikannya sebagai wali, bukan wakil, karena dia memperoleh hak untuk mengelola (harta) melalui jalur syariat. Perwalian wali diambil melalui jalur syariat, sedangkan wakil, washi, dan nazhir langsung oleh pemilik.

Dengan demikian, jika seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk menjual sesuatu, kemudian orang itu menjualnya, maka penjualan itu sah, meskipun ia seorang wakil, bukan pemilik. Akan tetapi, seorang wakil harus bertransaksi dengan sesuatu yang dipandangnya baik. Jika barang dagangan itu bertambah, maka dia tidak boleh menjualnya sampai pertambahan itu berakhir. Berbeda dengan orang yang bertransaksi untuk dirinya sendiri, dimana dia boleh menjual barang dagangannya sekehendaknya.

Perbedaan antara keduanya adalah orang yang menjual untuk orang lain wajib baginya untuk menjual dengan keuntungan, sedangkan orang yang bertransaksi untuk dirinya sendiri dapat bertransaksi sesuai dengan yang dia kehendaki (sekalipun rugi-ed).

Sesunguhnya menjual sesuatu yang bukan miliknya adalah tidak sah, sebab dia bukan pemilik benda sehingga satu syarat hilang, yaitu kepemilikan. Jika dia menjual sesuatu milik bapaknya atau milik anaknya, maka penjualannya tidak sah.

Jika ada orang yang berkata, “Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ

Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu,” (HR Ibnu Majah dan ath-Thabrani) maka kami mengatakan, “Benar. Tetapi, jika seorang bapak ingin menjual harta anaknya, maka dia harus memilikinya terlebih dahulu, kemudian baru menjualnya. Karena sebelum dia memilikinya, status harta adalah milik anaknya. Kamu tidak berhak menjual barang milik anakmu tanpa seizinnya.”

Baca juga: BERJUAL BELI DENGAN ALLAH DAN DENGAN MANUSIA

Baca juga: HUKUM JUAL BELI

Baca juga: MACAM-MACAM RAHN (GADAI)

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Fikih