KEUTAMAAN BERSUCI, DZIKIR, SHALAT, SEDEKAH, SABAR, …

KEUTAMAAN BERSUCI, DZIKIR, SHALAT, SEDEKAH, SABAR, …

Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطَّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآنِ -أَوْ: تَمْلَأُ- مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

Bersuci adalah sebagian dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah wa alhamdulillah dapat memenuhi -atau memenuhi- semua yang ada di antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, sedangkan al-Qur’an adalah hujah (yang membela)mu atau (menentang)mu. Setiap orang pergi di waktu pagi menjual dirinya. (Di antara mereka) ada yang membebaskan diri dan ada pula yang membinasakan diri.” (HR Muslim)

PENJELASAN

Hadis ini menjelaskan keutamaan bersuci dan amal saleh lainnya, yaitu:

Bersuci adalah Sebagian dari Iman

Sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bersuci adalah sebagian dari iman.”

Sebagian ulama memaknainya dengan membersihkan diri dari kesyirikan, karena menyekutukan Allah adalah najis, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ

Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.” (QS at-Taubah: 28)

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah: 222)

Oleh karena itu, bersuci adalah sebagian dari iman.

Sebagian lagi memaknainya dengan berwudhu, karena shalat adalah buah keimanan. Tidaklah shalat terlaksana kecuali dengan berwudhu.

Makna pertama adalah lebih bagus dan lebih umum.

Hendaklah setiap orang bersuci secara jasmani dan rohani dari segala keburukan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bersuci setengah dari iman.

Alhamdulillah Memenuhi Timbangan

Sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.”

Alhamdulillah adalah pujian kepada Allah yang dilakukan secara murni, penuh ketundukan kepada-Nya, dan rida dengan ketetapan-Nya.

Makna hakiki dari timbangan (mizan) adalah sesuatu yang dengannya amal ditimbang, baik dengan menimbang jasad maupun catatan amal. Timbangan seseorang menjadi ringan apabila ia banyak berbuat buruk, dan menjadi berat apabila ia banyak berbuat baik.

Kalimat ini mengandung pahala yang sangat besar yang memenuhi sisi timbangan (walaupun sisi timbangan itu besar), karena kalimat ini mengandung makna amal-amal yang saleh lagi kekal.

Pujian kepada Allah diberikan untuk menetapkan kesempurnaan bagi Allah, menolak kekurangan dari Allah, mengakui kelemahan hamba, dan menempatkan hamba pada derajat yang tinggi.

Huruf alif dan laam dalam kata ‘alhamdu’ mencakup seluruh jenis pujian, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Hanya Allah-lah yang berhak memilikinya. Barangsiapa memiliki sifat tersebut, ia berhak menjadi ilah (yang disembah). Semua pujian yang lain derajatnya berada di bawah alhamdulillah.

Subhanallah dan Alhamdulillah Memenuhi Semua yang Ada di antara Langit dan Bumi

Pada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Subhanallah wa alhamdulillah dapat memenuhi -atau memenuhi- semua yang ada di antara langit dan bumi,” terdapat keraguan dari perawi, tapi maknanya tidak berbeda. Atau bahwa kalimat, “subhanallah wa alhamdulillah” dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, karena kedua kalimat itu mencakup penyucian Allah dari segala kekurangan dalam sabdanya “subhanallah”, dan penyifatan Allah dengan segala kesempurnaan dalam sabdanya “alhamdulillah”.

Tasbih (kata subhanallah) adalah menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya, baik dalam nama dan sifat-Nya, maupun dalam perbuatan dan hukum-Nya. Allah terhindar dari segala macam aib tersebut.

Kamu tidak akan mendapati di antara nama-nama Allah nama yang mengandung sifat kurang atau aib. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى

Hanya milik Allah asmaa-ul husna.” (QS al-A’raf: 180)

Begitu pula, kamu tidak akan mendapati di antara sifat-sifat Allah sifat yang tercela atau mengandung kekurangan. Allah Ta’ala berfirman:

لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِۚ وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰىۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk, dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nahl: 60)

Allah mempunyai sifat sempurna dalam semua aspek.

Begitu pula, Allah memiliki kesempurnaan yang terhindar dari aib dalam perbuatan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

 وَمَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.” (QS ad-Dukhan: 38)

Tidak satu pun ciptaan Allah diciptakan-Nya untuk main-main atau sia-sia. Semuanya diciptakan Allah berdasarkan hikmah.

Begitu pula hukum-hukum-Nya, kamu tidak akan mendapati di dalam hukum-hukum Allah aib atau kekurangan. Allah Ta’ala berfirman:

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS at-Tin: 8)

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al- Ma’idah: 50)

Begitu pula, Allah Azza wa Jalla senantiasa terpuji dalam segala keadaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Alhamdulillahi al-ladzi bini’matihi tatimmu ash-shalihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal saleh menjadi sempurna).”

Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan,

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Alhamdulillah ‘ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan).” (HR Ibnu Majah. Lihat Shahih al-Jami’)

Akhir-akhir ini tersebar di kalangan masyarakat kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang tidak ada Zat yang dipuji atas sesuatu yang tidak disukai kecuali diri-Nya”. Ini adalah pujian yang kurang tepat. Hal itu karena kata-kata “atas sesuatu yang tidak disukai” menunjukkan bahwa kamu kurang sabar atau setidaknya kesabaranmu kurang sempurna, atau bahkan kamu membencinya. Padahal tidak sepatutnya seseorang mengungkapkan pujian dengan ungkapan ini. Seharusnya dia mengucapkan apa yang diucapkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni, “Alhamdulillah ‘ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan)” atau “Alhamdulillahi al-ladzi laa yuhmadu ‘ala kulli hal siwahu (Segala puji bagi Allah yang tidak dipuji dalam segala keadaan selain diri-Nya).”

Ungkapan “Segala puji bagi Allah yang tidak ada Zat yang dipuji atas sesuatu yang tidak disukai kecuali diri-Nya” jelas-jelas merupakan sikap perlawanan terhadap apa yang menimpa dirinya dari Allah dan dia membenci hal itu.

Aku tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh membenci musibah yang menimpa dirinya, karena secara naluriah manusia membenci musibah. Akan tetapi, kebencian itu jangan diucapkan dengan lidahmu ketika kamu sedang memuji Allah. Ucapkanlah seperti yang diucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalat adalah Cahaya

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat adalah cahaya”, yaitu cahaya di hati, wajah, kubur, dan mahsyar. Oleh karenanya, kamu dapati bahwa orang yang wajahnya paling bercahaya adalah orang yang paling banyak dan paling khusyu’ shalatnya, yang ia lakukan semata-mata karena Allah Ta’ala.

Shalat adalah cahaya di hati sehingga hati terbuka untuk mengenal Allah Ta’ala, mengenal hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan sifat-sifat-Nya.

Shalat adalah cahaya di kubur karena shalat adalah tiang Islam. Apabila tiang tegak, tegak pula bangunan. Apabila tiang tidak tegak, tidak tegak pula bangunan.

Shalat adalah cahaya di padang mahsyar pada Hari Kiamat, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا، كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا، لَمْ تَكُنْ لَهُ نُورًا، وَلَا نَجَاةً، وَلَا بُرْهَانًا. وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

Barangsiapa menjaganya (shalat), maka ia akan menjadi cahaya, hujah dan keselamatan baginya dari Neraka pada Hari Kiamat. Barangsiapa tidak menjaganya (shalat), maka ia tidak akan menjadi cahaya, tidak pula menjadi keselamatan dan hujah baginya. Dan pada Hari Kiamat, dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR ad-Darimi)

Shalat adalah cahaya bagi manusia dalam berbagai keadaan. Setiap orang harus menjaga shalat, memerhatikan dan memperbanyaknya agar dia memiliki banyak cahaya, ilmu, dan iman.

Sabar adalah Sinar

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sabar adalah sinar.”

Dalam kesabaran terdapat sinar, dan dalam sinar terdapat panas, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS Yunus: 5)

Kata dhau’ adalah cahaya yang memiliki sedikit panas. Begitu pula kesabaran. Di dalam kesabaran terdapat panas dan lelah karena kesabaran memang sangat sulit. Oleh karena itu, pahala kesabaran tidak terhitung besarnya.

Perbedaan cahaya dalam shalat dan cahaya dalam kesabaran adalah bahwa cahaya dalam kesabaran disertai dengan panas (dhiya’) karena dalam menjalankannya ada kelelahan hati dan kadang-kadang keletihan fisik. Sedangkan cahaya dalam shalat adalah cahaya dingin dan sejuk (nur).

Dalam hadis ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa sabar adalah sinar yang dapat menerangi manusia. Sabar dapat menerangi manusia di saat gelap dan ketika tertimpa musibah. Jika seseorang bersabar, kesabarannya merupakan penerang yang dapat menunjukinya kepada kebenaran. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa sabar termasuk salah satu sarana untuk meminta pertolongan. Sabar adalah penerang hati manusia, cahaya dalam jalan hidup dan perbuatannya. Setiap kali seseorang berjalan menuju Allah Azza wa Jalla di atas jalan kesabaran, Allah akan menambah baginya hidayah dan penerang di hati dan penglihatannya.

Sedekah adalah Bukti

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah adalah bukti.”

Sedekah adalah mengeluarkan harta dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sedekah diberikan kepada keluarga, orang fakir atau untuk kepentingan umum seperti membangun masjid.

Sedekah adalah bukti keimanan karena harta sangat dicintai jiwa, sedangkan jiwa pada dasarnya kikir. Manusia tidak mengeluarkan sesuatu yang dicintainya kecuali untuk sesuatu yang lebih dicintainya. Jika seseorang mengeluarkan hartanya karena Allah, maka hal itu sebagai bukti keimanannya kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang paling beriman kepada Allah adalah orang yang paling banyak bersedekah.

al-Qur’an adalah Hujah (yang Membela)mu atau (Menentang)mu

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “al-Qur’an adalah hujah (yang membela)imu atau (menentang)mu” terhadap apa-apa yang tidak kamu sukai. Hal itu karena al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat dan hujah Allah bagi makhluk-Nya. Ia akan menjadi pembela bagimu jika kamu menjadikan al-Qur’an sebagai pengantar menuju Allah, memenuhi kewajibanmu yang terkandung di dalam al-Qur’an dengan membenarkan (memercayai) setiap berita yang diberitakannya, menjalankan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, memuliakan al-Qur’an dan menghormatinya. Jika perlakuan kamu terhadap al-Qur’an seperti itu, maka ia akan menjadi pembela bagimu.

Jika kamu merendahkan dan berpaling dari al-Qur’an dengan tidak mau membacanya, tidak mau memahami maknanya, tidak mau mengamalkan isinya dan tidak mau menjalankan kewajiban yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi saksi atas perbuatanmu yang tercela itu pada Hari Kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan posisi di antara keduanya. Beliau hanya mengatakan, “al-Qur’an adalah hujah (yang membela)mu atau (menentang)mu” terhadap yang tidak kamu sukai. Tidak ada posisi di antara keduanya (tidak menjadi pembela dan tidak juga menjadi penentang) karena memang cuma ada dua posisi, yaitu pembelamu atau penentangmu.

Kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan menjadikan al-Qur’an sebagai pembela yang dapat menunjuki kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Mahabaik lagi Mahamulia.

Membebaskan atau Membinasakan Diri

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap orang pergi di waktu pagi menjual dirinya. (Di antara mereka) ada yang membebaskan diri dan ada pula yang membinasakan diri.” Yakni, setiap orang memulai harinya di waktu pagi dengan aktivitas. Itu karena Allah menjadikan malam harinya sebagai waktu untuk beristrirahat.

Allah Ta’ala befirman:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ

Dan Dia menidurkan kalian di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kalian di siang hari.” (QS al-An’am: 60)

Tidur di malam hari adalah wafat sughra (kematian kecil). Seluruh otot mengendur. Tubuh beristirahat setelah beraktivitas di waktu sebelumnya untuk memperbaharui semangat beraktivitas keesokan harinya.

Di awal hari setiap hari orang-orang melakukan aktivitas. Di antara mereka ada yang melakukan kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang beriman. Di antara mereka ada yang melakukan kejahatan. Mereka adalah orang-orang kafir.

Aktivitas pertama seorang muslim di awal hari adalah berwudhu, kemudian shalat. Dia memulai harinya dengan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Bahkan ada yang membuka harinya dengan tauhid, karena setiap muslim disyariatkan untuk mengingat Allah Azza wa Jalla saat bangun dari tidur dengan membaca sepuluh ayat terakhir surah Ali ‘Imran.

Muslim sejati adalah muslim yang menjalani harinya dengan menjual dirinya. Dia menjual dirinya untuk membebaskan diri dari api Neraka. Oleh karena itu, beliau bersabda, “Setiap orang pergi di waktu pagi menjual dirinya. (Di antara mereka) ada yang membebaskan diri dan ada pula yang membinasakan diri.”

Orang kafir menjalani harinya dengan aktivitas yang menghancurkan dirinya. Dia memulai harinya dengan bermaksiat kepada Allah. Sekalipun memulainya dengan makan atau minum, dia akan disiksa karena telah menggunakan kenikmatan yang bukan untuknya, karena Allah Ta’ala berfirman:

 قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat.’” (QS al-A’raf: 32)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa semua kenikmatan berupa perhiasan (seperti pakaian) maupun rezeki yang baik (makanan dan minuman) disediakan Allah di kehidupan dunia khusus bagi orang-orang beriman. Walaupun orang-orang kafir di kehidupan dunia mendapatkan dan menggunakan kenikmatan itu, namun sesungguhnya kenikmatan itu bukan untuk mereka. Mereka berdosa karena telah menggunakan kenikmatan itu.

Di Hari Kiamat hanya orang-orang beriman yang akan mendapatkan kenikmatan itu, sedangkan orang-orang kafir tidak akan mendapatkannya. Bahkan mereka akan ditanya dan disiksa karena telah menggunakan kenikmatan-kenikmatan itu di kehidupan dunia.

Hal ini dijelaskan pula oleh Allah Ta’ala dalam surah al-Ma’idah yang termasuk ayat terakhir yang diturunkan:

لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جُنَاحٌ فِيْمَا طَعِمُوْٓا

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan (dahulu).” (QS al-Ma’idah: 93)

Orang kafir menjual dirinya dengan sesuatu yang dapat membinasakannya sejak pagi. Sementara orang yang beriman menjual dirinya dengan sesuatu yang dapat membebaskan diri dan menyelamatkannya dari api Neraka.

Pada penghujung hadis ini, Rasulullah ‘alaihisshalatu wassalam menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan:

Pertama, orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pembela, seperti yang disabdakannya, “al-Qur’an adalah hujah (yang membela)mu.”

Kedua, orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai penentang.

Golongan pertama adalah orang-orang yang membebaskan diri dari api Neraka dengan mengerjakan amal saleh. Golongan kedua adalah orang-orang yang menghancurkan diri dengan melakukan perbuatan tercela.

Baca juga: MEMOHON PERTOLONGAN DENGAN SABAR DAN SHALAT

Baca juga: BEBERAPA CATATAN TENTANG KESUCIAN PAKAIAN, BADAN, DAN TEMPAT SHALAT

Baca juga: PESAN DI AWAL RAMADAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati