Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الطَّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآنِ -أَوْ: تَمْلَأُ- مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
“Bersuci adalah sebagian dari iman, alhamdulillah memenuhi timbangan, subhanallah wa alhamdulillah dapat memenuhi -atau memenuhi- semua yang ada di antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, sedangkan al-Qur’an adalah hujah (yang membela)mu atau (menentang)mu. Setiap orang pergi di waktu pagi menjual dirinya. (Di antara mereka) ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR Muslim)
PENJELASAN
Dalam hadis ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sabar adalah sinar yang dapat menerangi manusia. Sabar dapat menerangi manusia di saat gelap dan ketika tertimpa musibah. Jika seseorang bersabar, kesabarannya merupakan penerang yang dapat menunjukinya kepada kebenaran. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa sabar termasuk salah satu sarana untuk meminta pertolongan. Sabar adalah penerang hati manusia, cahaya dalam jalan hidup dan perbuatannya. Setiap kali seseorang berjalan menuju Allah Azza wa Jalla di atas jalan kesabaran, Allah akan menambah baginya hidayah dan penerang di hati dan penglihatannya.
1. Bersuci Sebagian dari Iman
Sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bersuci adalah sebagian dari iman.”
Sebagian ulama memaknainya membersihkan diri dari kesyirikan karena menyekutukan Allah adalah najis, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang musyrik adalah najis.” (QS at-Taubah: 28)
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah: 222)
Karena itulah bersuci adalah sebagian dari iman.
Sebagian lagi memaknainya berwudhu, karena shalat adalah buah keimanan. Tidaklah terlaksana shalat kecuali dengan berwudhu.
Makna pertama adalah lebih bagus dan lebih umum daripada makna kedua.
Hendaklah setiap orang bersuci secara jasmani dan rohani dari segala keburukan, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bersuci setengah dari iman.
2. Alhamdulillah Memenuhi Timbangan
Sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alhamdulillah memenuhi timbangan.”
Alhamdulillah adalah pujian kepada Allah yang dilakukan secara murni, penuh ketundukan kepada-Nya, dan ridha dengan ketetapan-Nya.
Makna hakiki dari timbangan (mizan) adalah sesuatu yang dengannya amal ditimbang, baik dengan menimbang jasad maupun catatan amal. Timbangan seseorang menjadi ringan apabila ia banyak berbuat buruk, dan menjadi berat apabila ia banyak berbuat baik.
Kalimat ini mengandung pahala yang sangat besar yang memenuhi sisi timbangan (walaupun sisi timbangan itu besar), karena kalimat ini mengandung makna amal-amal yang saleh lagi kekal.
Pujian kepada Allah diberikan untuk menetapkan kesempurnaan bagi Allah, menolak kekurangan dari Allah, mengakui kelemahan hamba, dan menempatkan hamba pada derajat yang tinggi.
Huruf alif dan laam dalam kata ‘alhamdu’ mencakup seluruh jenis pujian, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Hanya Allah-lah yang berhak memilikinya. Barangsiapa memiliki sifat tersebut, ia berhak menjadi ilah (yang disembah). Semua pujian yang lain derajatnya berada di bawah alhamdulillah.
3. Subhanallah dan Alhamdulillah Memenuhi Semua yang Ada di antara Langit dan Bumi
Pada sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Subhanallah wa alhamdulillah dapat memenuhi -atau memenuhi- semua yang ada di antara langit dan bumi,” terdapat keraguan dari perawi, tapi maknanya tidak berbeda. Atau bahwa kalimat, “subhanallah wa alhamdulillah” dapat memenuhi semua yang ada di antara langit dan bumi, karena kedua kalimat itu mencakup penyucian Allah dari segala kekurangan dalam sabdanya “subhanallah”, dan penyifatan Allah dengan segala kesempurnaan dalam sabdanya “alhamdulillah”.
Tasbih (kata subhanallah) adalah menyucikan Allah dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya, baik dalam nama dan sifat-Nya, maupun dalam perbuatan dan hukum-Nya. Allah terhindar dari segala macam aib tersebut.
Kamu tidak akan mendapati di antara nama-nama Allah nama yang mengandung sifat kurang atau aib. Allah Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna.” (QS al-A’raf: 180)
Begitu pula, kamu tidak akan mendapati di antara sifat-sifat Allah sifat yang tercela atau mengandung kekurangan. Allah Ta’ala berfirman:
لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِۚ وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَعْلٰىۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai sifat yang buruk, dan Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS an-Nahl: 60)
Allah mempunyai sifat sempurna dalam semua aspek.
Allah memiliki kesempurnaan yang terhindar dari aib dalam perbuatan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main.” (QS ad-Dukhan: 38)
Tidak satu pun ciptaan Allah diciptakan-Nya untuk main-main atau sia-sia. Semuanya diciptakan Allah berdasarkan hikmah.
Begitu pula hukum-hukum-Nya, kamu tidak akan mendapati di dalam hukum-hukum Allah aib atau kekurangan. Allah Ta’ala berfirman:
اَلَيْسَ اللّٰهُ بِاَحْكَمِ الْحٰكِمِيْنَ
“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS at-Tin: 8)
اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al- Ma’idah: 50)
Allah Azza wa Jalla senantiasa terpuji dalam segala keadaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, beliau mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
“Alhamdulillahi al-ladzi bini’matihi tatimmu ash-shalihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal saleh menjadi sempurna).”
Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Alhamdulillah ‘ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan).” (HR Ibnu Majah. Lihat Shahih al-Jami’)
Akhir-akhir ini tersebar di kalangan masyarakat kata-kata, (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَا يُحْمَدُ عَلَى مَكْرُوْهٍ سِوَاهُ) “Segala puji bagi Allah yang tidak ada Zat yang dipuji atas sesuatu yang tidak disukai kecuali diri-Nya”. Ini adalah pujian yang kurang tepat. Hal itu karena kata-kata “atas sesuatu yang tidak disukai” menunjukkan bahwa kamu kurang sabar atau setidaknya kesabaranmu kurang sempurna, atau bahkan kamu membencinya. Padahal tidak sepatutnya seseorang mengungkapkan pujian dengan ungkapan ini. Seharusnya dia mengucapkan apa yang diucapkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni, (الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ) “Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan,” atau (الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لا يُحْمَدُ عَلَى كُلِّ حَالٍ سِوَاهُ) “Segala puji bagi Allah yang tidak dipuji dalam segala keadaan selain diri-Nya.”
Ungkapan “Segala puji bagi Allah yang tidak ada Zat yang dipuji atas sesuatu yang tidak disukai kecuali diri-Nya” jelas-jelas merupakan sikap perlawanan terhadap apa yang menimpa dirinya dari Allah dan dia membenci hal itu.
Aku tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh membenci musibah yang menimpa dirinya, karena secara naluriah manusia membenci musibah. Akan tetapi, kebencian itu jangan diucapkan dengan lidahmu ketika kamu sedang memuji Allah. Ucapkanlah seperti yang diucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
4. Shalat adalah Cahaya
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Shalat adalah cahaya”, yaitu cahaya di hati, wajah, kuburan, dan mahsyar. Oleh karenanya, kamu dapati bahwa orang yang wajahnya paling bercahaya adalah orang yang paling banyak dan paling khusyu’ shalatnya, yang ia lakukan semata-mata karena Allah Ta’ala.
Shalat adalah cahaya di hati sehingga hati terbuka untuk mengenal Allah Ta’ala, mengenal hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan sifat-sifat-Nya.
Shalat adalah cahaya di kubur karena shalat adalah tiang Islam. Apabila tiang tegak, tegak pula bangunan. Apabila tiang tidak tegak, tidak tegak pula bangunan.
Shalat adalah cahaya di padang mahsyar pada Hari Kiamat, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا، كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا، لَمْ تَكُنْ لَهُ نُورًا، وَلَا نَجَاةً، وَلَا بُرْهَانًا. وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ
“Barangsiapa menjaganya (shalat), maka ia akan menjadi cahaya, hujah dan keselamatan baginya dari Neraka pada Hari Kiamat. Barangsiapa tidak menjaganya (shalat), maka ia tidak akan menjadi cahaya, tidak pula menjadi keselamatan dan hujah baginya. Dan pada Hari Kiamat, dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR ad-Darimi)
Shalat adalah cahaya bagi manusia dalam berbagai keadaan. Setiap orang harus menjaga shalat, memperhatikannya dan memperbanyaknya agar dia memiliki banyak cahaya, ilmu, dan iman.
5. Sabar adalah Sinar
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sabar adalah sinar.”
Dalam kesabaran terdapat cahaya (sinar), dan dalam sinar terdapat panas, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (QS Yunus: 5)
Kata dhau’ adalah cahaya yang memiliki sedikit panas. Begitu pula kesabaran. Di dalam kesabaran terdapat panas dan lelah karena kesabaran sangat sulit. Oleh karena itu, pahala kesabaran tidak terhitung besarnya.
Perbedaan cahaya dalam shalat dan cahaya dalam kesabaran adalah bahwa cahaya dalam kesabaran disertai dengan panas (dhiya’) karena dalam menjalankannya ada kelelahan hati dan kadang-kadang keletihan fisik. Sedangkan cahaya dalam shalat adalah cahaya dingin dan sejuk (nur).
6. Sedekah adalah Bukti
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah adalah bukti.”
Sedekah adalah mengeluarkan harta dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Sedekah diberikan kepada keluarga, orang fakir atau untuk kepentingan umum seperti membangun masjid.
Sedekah adalah bukti keimanan karena harta sangat dicintai jiwa, sedangkan jiwa pada dasarnya kikir. Manusia tidak mengeluarkan sesuatu yang dicintainya kecuali untuk sesuatu yang lebih dicintainya. Jika seseorang mengeluarkan hartanya karena Allah, maka hal itu sebagai bukti keimanannya kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang paling beriman kepada Allah adalah orang yang paling banyak bersedekah.
7. al-Qur’an adalah Hujah (yang Membela)mu atau (Menentang)mu
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “al-Qur’an adalah hujah (yang membela)imu atau (menentang)mu” terhadap apa-apa yang tidak kamu sukai. Hal itu karena al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat dan hujah Allah bagi makhluk-Nya. Ia akan menjadi pembela bagimu jika kamu menjadikan al-Qur’an sebagai pengantar menuju Allah, memenuhi kewajibanmu yang terkandung di dalam al-Qur’an dengan membenarkan (memercayai) setiap berita yang diberitakannya, menjalankan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, memuliakan al-Qur’an dan menghormatinya. Jika perlakuan kamu terhadap al-Qur’an seperti itu, maka ia menjadi pembela bagimu.
Jika kamu merendahkan dan berpaling dari al-Qur’an dengan tidak mau membacanya, tidak mau memahami maknanya, tidak mau mengamalkan isinya dan tidak mau menjalankan kewajiban yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi saksi atas perbuatanmu yang tercela itu pada Hari Kiamat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan posisi di antara keduanya. Beliau hanya mengatakan, “al-Qur’an adalah hujah (yang membela)mu atau (menentang)mu” terhadap yang tidak kamu sukai. Tidak ada posisi di antara keduanya (tidak menjadi pembela dan tidak juga menjadi penentang) karena memang cuma ada dua posisi, yaitu pembelamu atau penentangmu.
Kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan menjadikan al-Qur’an sebagai pembela yang dapat menunjuki kita di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Mahabaik lagi Mahamulia.
8. Pembebasan Diri atau Pembinasaan Diri
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap orang pergi di waktu pagi menjual dirinya. (Di antara mereka) ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.”
Yakni, setiap orang memulai harinya di waktu pagi dengan melakukan aktivitas. Itu karena Allah menjadikan malam harinya sebagai waktu untuk beristrirahat.
Allah Ta’ala befirman:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ
“Dan Dia menidurkan kalian di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari. Kemudian Dia membangunkan kalian di siang hari.” (QS al-An’am: 60)
Tidur di malam hari adalah wafat sughra (kematian kecil) yang dengannya saraf-saraf menjadi tenang, tubuh beristirahat, dan energi dipulihkan untuk bekerja kembali di hari berikutnya, serta merehatkan diri dari pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya.
Ketika pagi tiba – yang merupakan waktu untuk berangkat – orang-orang pergi dan mempersiapkan diri untuk setiap aktivitasnya. Di antara mereka melakukan kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang beriman. Di antara mereka melakukan kejahatan. Mereka adalah orang-orang kafir.
Seorang muslim memulai harinya dengan berwudhu dan bersuci (bersuci adalah separuh dari iman), sebagaimana dalam hadis ini, kemudian dia pergi shalat. Dia memulai harinya dengan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan bersuci, kebersihan, dan shalat; yang merupakan hubungan antara hamba dan Rabb-nya. Maka dia memulai harinya dengan amal saleh, bahkan dia memulai harinya dengan tauhid. Karena disyariatkan bagi manusia, ketika bangun dari tidurnya untuk mengingat Allah Azza wa Jalla dan membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali Imran, yaitu firman-Nya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ٠٠٠
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang…” (QS Ali Imran: 190-200)
Muslim sejati adalah muslim yang menjalani harinya dengan menjual dirinya. Dia menjual dirinya untuk membebaskan diri dari api Neraka. Oleh karena itu, beliau bersabda, “Setiap orang pergi di waktu pagi menjual dirinya. (Di antara mereka) ada yang membebaskan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.”
“Ada pula yang membinasakan dirinya.” Artinya menjual dirinya dan menghancurkannya. Orang kafir melakukan aktivitas yang akan menghancurkannya, karena makna “menghancurkannya” adalah membinasakannya. Hal ini karena orang kafir memulai harinya dengan mendurhakai Allah, sekalipun memulainya dengan makan dan minum. Maka, dia akan dihukum karenanya pada Hari Kiamat, dan dihisab atas perbuatannya itu.
Setiap suapan yang diangkat oleh orang kafir ke mulutnya, dia akan dihukum karenanya. Setiap tegukan air yang ditelannya, dia akan dihukum karenanya. Setiap pakaian yang dipakainya, dia akan dihukum karenanya. Dalil atas hal ini adalah firman Allah Ta’ala:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِىٓ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزْقِ ۚ قُلْ هِىَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ
“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) di Hari Kiamat,’” (QS al-A’raf: 32).
Allah mengingkari orang yang keras kepala dan mengharamkan hal-hal baik yang dihalalkan oleh Allah, dan berfirman: “Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya…’” dari berbagai macam pakaian dengan berbagai jenisnya, dan rezeki yang baik-baik berupa makanan dan minuman dengan beragam macamnya. Siapakah gerangan yang berani mengharamkan apa yang Allah halalkan sebagai nikmat kepada hamba-hamba-Nya? Siapakah gerangan yang mempersulit mereka pada apa yang telah dilonggarkan oleh Allah? Allah memberikan kelonggaran kepada hamba-hamba-Nya untuk menggunakannya sebagai penolong dalam beribadah kepada-Nya. Maka Dia tidak membolehkannya kecuali hanya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Oleh karena itu Dia berfirman: “Katakanlah, ‘Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus untuk mereka saja di hari kiamat.”
Sesungguhnya perhiasan dan hal-hal baik dari rezeki, Allah telah menciptakannya di dunia untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya turut menikmatinya. Namun, perhiasan dan hal-hal baik tersebut khusus bagi orang-orang beriman di akhirat, tidak ada seorang pun dari orang-orang kafir akan ikut menikmatinya pada hari itu.
Mafhum (pemahaman) ayat ini adalah bahwa barangsiapa tidak beriman kepada Allah, bahkan menggunakan kebaikan yang diberikan oleh Allah sebagai sarana untuk bermaksiat kepada-Nya, maka nikmat itu tidaklah khusus untuk mereka dan tidak pula dibolehkan untuk mereka, bahkan mereka dihukum karenanya dan atas penggunaannya, dan nikmat-nikmat itu akan ditanyakan kepada mereka pada Hari Kiamat.
Hal ini dijelaskan pula oleh Allah Ta’ala dalam surah al-Ma’idah yang termasuk ayat terakhir yang diturunkan:
لَيْسَ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جُنَاحٌ فِيْمَا طَعِمُوْٓا
“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan (dahulu).” (QS al-Ma’idah: 93)
Maka pemahaman dari ayat yang mulia ini adalah bahwa selain orang-orang beriman, mereka berdosa terhadap apa yang mereka makan.
Orang kafir menjual dirinya dengan sesuatu yang dapat membinasakannya sejak pagi. Sementara orang yang beriman menjual dirinya dengan sesuatu yang dapat membebaskan dan menyelamatkan diri dari api Neraka. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita semua termasuk dari mereka.
Pada penghujung hadis ini, Rasulullah ‘alaihisshalatu wassalam menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan:
Pertama, orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pembela, seperti yang disabdakannya, “al-Qur’an adalah hujah (yang membela)mu.”
Kedua, orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai penentang.
Golongan pertama adalah orang-orang yang membebaskan diri dari api Neraka dengan mengerjakan amal saleh. Golongan kedua adalah orang-orang yang menghancurkan diri dengan melakukan perbuatan tercela.
Baca juga: MEMOHON PERTOLONGAN DENGAN SABAR DAN SHALAT
Baca juga: BEBERAPA CATATAN TENTANG KESUCIAN PAKAIAN, BADAN, DAN TEMPAT SHALAT
Baca juga: PESAN DI AWAL RAMADAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

