KABAR GEMBIRA BAGI ORANG YANG SABAR

KABAR GEMBIRA BAGI ORANG YANG SABAR

Allah Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-Baqarah: 155-157)

PENJELASAN

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan ujian, Dia juga berfirman, (وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ) “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Seruan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap orang yang menerima seruan ini. Artinya, sampaikanlah berita gembira, wahai Muhammad, wahai orang-orang yang menerima kabar ini, kepada orang-orang yang sabar atas ujian ini sehingga mereka tidak menyikapinya dengan kemarahan, melainkan dengan kesabaran. Dan yang lebih sempurna dari itu adalah mereka menyikapinya dengan ridha. Dan yang lebih sempurna dari itu adalah mereka menyikapinya dengan bersyukur.  Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tingkatan sabar terhadap takdir Allah yang tidak disukai.

Di sini Allah Ta’ala berfirman: (وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ  اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ) “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

Firman-Nya: (قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ) “Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah.’” Jika mereka ditimpa musibah, mereka mengakui bahwa segala sesuatu milik Allah Azza wa Jalla. Mereka milik Allah dan Allah berhak melakukan apa saja yang Dia kehendaki terhadap milik-Nya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada salah seorang putrinya,

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى

Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil dan milik-Nya apa yang Dia berikan.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Kamu milik Rabb Azza wa Jalla. Dia berhak melakukan apa saja yang Dia kehendaki terhadap dirimu sesuai dengan hikmah-Nya.

Kemudian Dia berfiman, (وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ) “Wa innaa ilaihi raaji’uun (dan kepada-Nyalah kami kembali).” Mereka mengakui bahwa mereka akan kembali kepada Allah dan Dia akan membalas mereka. Jika mereka marah, maka Dia akan menghukum mereka karena kemarahan mereka. Jika mereka bersabar, seperti halnya keadaan orang-orang ini, maka Allah akan memberikan pahala kepada mereka atas kesabarannya terhadap musibah itu. Maka, orang-orang yang sabar menghadapi ujian akan memperoleh kemuliaan.

Allah Azza wa Jalla berfirman, (أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ) “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabb mereka.” Maksud ‘mereka’ di sini adalah orang-orang yang sabar. Shalawat adalah bentuk jamak dari shalat, yang berarti pujian Allah kepada mereka di kalangan yang lebih tinggi. Allah memuji mereka di hadapan para malaikat-Nya.

Dan firman-Nya, (وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ) “…dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” yaitu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Azza wa Jalla saat ditimpa musibah sehingga mereka tidak marah, melainkan bersabar atas apa yang menimpa mereka.

Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa shalawat Allah Azza wa Jalla bukan rahmat, melainkan sesuatu yang lebih khusus, lebih sempurna, dan lebih baik. Barangsiapa di antara ulama menafsirkan bahwa shalawat dari Allah adalah rahmat, dari malaikat adalah doa, dan dari manusia adalah istighfar, maka ini tidak benar. Shalawat berbeda dengan rahmat, karena Allah Ta’ala menggabungkan rahmat dengan shalawat, dan penggabungan ini menunjukkan bahwa keduanya berbeda.

Ulama sepakat bahwa kamu boleh mengatakan kepada orang yang beriman, (اللهم ارحم فلاناً) “Ya Allah, rahmatilah fulan.” Akan tetapi mereka berbeda pendapat, apakah boleh mengatakan (اللهم صلِّ عليه) “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepadanya,” atau tidak? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat:

Di antara mereka ada yang membolehkan secara mutlak, ada yang melarangnya secara mutlak, dan ada yang membolehkannya jika diucapkan sebagai bagian (pengikut). Yang benar adalah bahwa itu diperbolehkan jika sebagai bagian, sebagaimana dalam ucapan, (اللهم صلِّ على مُحمّدٍ وعلى آلِ مُحمّدٍ) “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad,” atau jika bukan merupakan tambahan, namun ada sebab, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.” (QS at-Taubah: 103)

Jika ada sebab dan tidak dijadikan syiar (kebiasaan), maka tidak mengapa. Tidak mengapa kamu mengatakan, (اللهم صلِّ على فلان) “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada fulan.” Jika seseorang datang kepadamu dengan zakatnya dan berkata, “Ambillah zakatku ini dan bagikan kepada orang-orang miskin,” maka kamu boleh mengucapkan (صلى الله عليك) “Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadamu.” Kamu berdoa agar Allah melimpahkan shalawat kepadanya sebagaimana Allah memerintahkan Nabi-Nya demikian.

Baca juga: SABAR DAN TENANG

Baca juga: KEADAAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

Baca juga: BERSABAR DARI GANGGUAN ORANG LAIN DAN MEMAAFKAN

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Kelembutan Hati Riyadhush Shalihin