MABUK CINTA

MABUK CINTA

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Zaadul Ma’aad:

Isyq (mabuk cinta) merupakan penyakit hati yang memiliki bentuk, sebab, dan cara penyembuhan yang berbeda dengan penyakit hati lainnya. Jika penyakit ini sudah masuk dan menguasai diri seseorang, maka sulitlah bagi dokter untuk mengobatinya. Akibatnya, penyakit ini membuat penderita semakin lemah. Di dalam al-Qur-an Allah Ta’ala menceritakan perihal isyq yang menimpa dua golongan manusia, yaitu dari kalangan perempuan dan laki-laki yang menyukai amrad (remaja yang belum berkumis dan berjenggot).

Allah Ta’ala menceritakan isyq isteri al-’Aziz yang tergila-gila kepada Yusuf ‘alaihissalam. Allah Ta’ala juga menceritakan isyq kaum Nabi Luth ‘alaihissalam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَآءَ أَهْلُ ٱلْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ، قَالَ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ ضَيْفِى فَلَا تَفْضَحُونِ، وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ، قَالُوٓا۟ أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ، قَالَ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِىٓ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ، لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِى سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata, ‘Sesungguhnya mereka adalah tamuku, maka janganlah kalian memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian membuat aku terhina.’ Mereka berkata, ‘Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?’ Luth berkata, ‘Inilah puteri-puteri (negeri)ku. (Menikahlah dengan mereka) jika kalian hendak berbuat (secara yang halal).’ (Allah berfirman), ‘Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).’” (QS al-Hijr: 67-72)

Benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai isteri-isteri beliau, bahkan di antara mereka terdapat isteri yang paling dicintainya, yaitu ‘Aisyah. Meskipun demikian, kecintaan Nabi kepada ‘Aisyah dan isteri-isteri beliau yang lain tidak menyamai kecintaan beliau kepada Rabbnya, yang merupakan puncak kecintaan beliau.

Penyakit cinta terhadap sosok tertentu dapat menimpa hati yang hampa dari rasa cinta kepada Allah, yakni hati yang selalu berpaling dari-Nya dan mencari pengganti selain-Nya. Sungguh, apabila hati seseorang dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan perasaan selalu berharap berjumpa dengan-Nya, niscaya segala bentuk penyakit isyq akan menjauh. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman ketika bercerita tentang kisah Yusuf:

كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلْفَحْشَآءَ ۚ إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ

Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS Yusuf: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa sikap ikhlas adalah salah satu cara untuk melawan penyakit isyq dan penyakit-penyakit lain yang mengiringinya, seperti perbuatan buruk dan keji yang merupakan dampak dari penyakit ini. Pasalnya, mencegah lahirnya dampak buruk dari sesuatu harus dilakukan dengan mencegah penyebab terjadinya sesuatu tersebut. Oleh karena itu, ulama salaf berkata, “Isyq adalah gejolak hati yang hampa.” Maksudnya, hampa dari hal-hal lain selain sesuatu yang dirindukannya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَٰرِغًا ۖ إِن كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِ

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa.” (QS al-Qashshash: 10)

Maksud ayat ini adalah tidak ada yang mengisi hati perempuan itu selain sosok Musa dikarenakan rasa cinta yang sangat besar kepadanya.

Mahabbah (rasa cinta dan kasih sayang) memiliki bermacam-macam bentuk. Mahabbah yang paling utama dan mulia adalah mahabbah fillah (rasa cinta di jalan Allah) dan mahabbah lillah (rasa cinta karena Allah). Sikap ini akan melahirkan sikap mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah Ta’ala, serta mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bentuk mahabbah yang lain adalah mahabbah karena sama-sama berada dalam satu pemahaman, agama, mazhab, keyakinan, hubungan kekerabatan, pekerjaan dan lain-lain.

Mahabbah lainnya adalah mahabbah untuk mendapatkan (menggapai) sesuatu yang ada pada sosok yang dicintai, baik kedudukannya, hartanya, maupun ilmu dan petunjuknya; atau untuk menunaikan keperluannya dengan orang itu. Ini adalah mahabbah yang datang pada momen tertentu saja, yang dapat hilang seiring dengan hilangnya penyebab kecintaan tersebut. Seperti dimaklumi, orang yang menyukaimu karena sesuatu akan berpaling darimu setelah ia mendapatkan sesuatu itu darimu.

Adapun mahabbah karena adanya kesamaan dan kecocokan hati antara orang yang mencintai dan yang dicintai adalah mahabbah yang kekal. Jenis mahabbah seperti ini tidak akan hilang begitu saja tanpa ada sebab yang menghilangkannya, termasuk di dalamnya isyq. Ia adalah sesuatu yang dianggap baik oleh roh dan merupakan peleburan dua jiwa menjadi satu. Tidak ada satu pun akibat yang menimpa jenis mahabbah yang lain, seperti rasa waswas, tubuh menjadi kurus, pikiran yang kacau, dan kebinasaan, yang lebih parah daripada akibat yang menimpa dikarenakan mahabbah isyq ini.”

(Demikian yang dinukil dari Ibnul Qayyim)

Penyakit isyq akan memalingkan kamu dari mengingat Allah Ta’ala, padahal kamu seharusnya mencintai Allah melebihi diri sendiri, harta kamu, dan seluruh manusia lainnya. Penyakit ini tidak lain merupakan azab, sementara seseorang tidak mendapatkan pahala apa pun karena memilikinya. Bahkan, penyakit ini akan menjerumuskan seseorang kepada syirik, menyekutukan Allah, yaitu karena ia lebih mendahulukan apa yang dicintai itu daripada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parah lagi, sebagian orang yang mabuk asmara ini ketika ditanya, “Jika seseorang memintamu murtad untuk mendapatkan simpati orang yang kamu cintai, apakah kamu mau melakukannya?” mereka akan menjawab, “Mau!” Na’udzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan.

Isyq dapat menjerumuskan penderitanya kepada kehinaan. Sebab, karenanya ia tidak menginginkan sesuatu apa pun selain orang yang dicintainya. Setiap kali orang datang melamar, walaupun mereka adalah orang yang memiliki kehidupan agama dan akhlak yang baik, niscaya kebohongan akan membungkus sekian banyak alasan yang ia lontarkan demi menolak lamaran tersebut.

Hal terbaik yang bisa dilakukan pemuda atau pemudi dalam hal ini adalah melepaskan diri dari orang yang dicintainya serta terus berusaha dengan penuh kesungguhan dan ketekunan untuk dapat melaksanakan pernikahan yang sah di bawah lentera sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ، فَأَنْكِحُوهُ

Jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridai agama dan akhlaknya untuk meminang, maka nikahkanlah ia.” (HR at-Tirmidzi. Syekh al-Albani berkata dalam Shahih at-Tirmidzi bahwa hadis ini hasan lighairihi)

Tentunya, hal itu dilakukan dengan tetap mempertimbangkan aspek-aspek ketampanan/kecantikan dan semisalnya, yang mungkin diperoleh bersamaan dengan aspek agama yang disebutkan pada hadis ini.

Kamu akan mendapati setiap laki-laki yang dimabuk cinta menyangka bahwa perempuan yang dicintainya adalah ratu tercantik di antara seluruh perempuan yang diciptakan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Perasaan demikian dikarenakan hatinya kosong, sehingga penyakit isyq dapat leluasa masuk ke dalam hatinya.

Isyq bisa saja menimpa perempuan baik-baik yang baru saja dilamar sesuai dengan syariat Islam dan telah mendapatkan persetujuan dari wali agar hubungan mereka berdua sah. Dengan lamaran tersebut pula mereka berdua merasakan kegembiraan, kesenangan, dan kemesraan ketika berbicara, berjumpa, dan sebagainya. Maka waspadalah, jangan sampai kamu hidup dalam angan-angan dan memilih jalan penderitaan. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mampu berpikir lurus.

Baca juga: PENYEBAB PANJANG ANGAN-ANGAN DAN SOLUSINYA

Baca juga: CINTA DAN BENCI KARENA ALLAH

Baca juga: ALLAH MENCINTAINYA SEBAGAIMANA IA MENCINTAI SAUDARANYA

(Syekh Husain bin ‘Audah al-‘Awaisyah)

Serba-Serbi