Sekelompok kaum muslimin melarikan diri dari medan tempur, sebagian lainnya hanya duduk tanpa memberikan perlawanan, sementara yang lain tetap menghadapi kaum musyrikin dan terus memotivasi kaum muslimin untuk bertempur hingga meraih syahid.
Di antara mereka terdapat Anas bin an-Nadhr, yang sangat ingin menebus ketertinggalannya pada perang Badar. Ketika ia melihat sebagian kaum muslimin hanya duduk, ia berkata, “Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu atas apa yang dilakukan oleh mereka,” yakni para sahabatnya, “dan aku berlepas diri darimu atas apa yang dilakukan oleh orang-orang itu,” yakni kaum musyrikin.
Ia kemudian maju dan bertemu Sa‘ad bin Mu‘adz.
Ia berkata, “Wahai Sa‘ad bin Mu‘adz, demi Surga dan Rabb-nya an-Nadhr, sungguh aku telah mencium aromanya.”
Sa‘ad lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Anas.”
Ketika perang usai, ditemukan lebih dari delapan puluh tusukan pada tubuh Anas, baik karena panah maupun tombak. Tidak ada yang dapat mengenalinya kecuali saudarinya yang mengenalinya dari jari-jarinya. Berkenaan dengan dirinya dan seluruh mujahid yang jujur dalam jihad mereka, Allah Ta’ala berfirman:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).” (QS al-Ahzab: 23)
Baca sebelumnya: KETIKA PEMANAH MENINGGALKAN POS: TITIK BALIK KEKALAHAN DI PERANG UHUD
Baca setelahnya: PELARIAN DI UHUD DAN TURUNNYA AMPUNAN ALLAH
(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

