ADAB ORANG SAKIT DALAM ISLAM SESUAI AL-QUR’AN DAN SUNAH

ADAB ORANG SAKIT DALAM ISLAM SESUAI AL-QUR’AN DAN SUNAH

◼️ Hendaklah orang yang sakit ridha terhadap qadha dan qadar Allah, serta menyadari bahwa apa yang luput darinya tidak akan menimpanya, dan apa yang menimpanya tidak akan luput darinya.

◼️ Tidak boleh mencela penyakit, karena hal itu termasuk bentuk ketidaksenangan terhadap qadha dan qadar Allah. Seorang muslim diperintahkan untuk ridha terhadap qadha dan qadar Allah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Ummu as-Sa’ib —atau Ummu al-Musayyib —lalu beliau bersabda,

مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ – أَوْ يَا أُمَّ الْمُسَيِّبِ – تُزَفْزِفِينَ؟

Ada apa denganmu, wahai Ummu as-Sa’ib —atau wahai Ummu al-Musayyib— mengapa engkau menggigil?

Ia menjawab, “Demam. Semoga Allah tidak memberkahinya.”

Beliau bersabda,

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

Janganlah engkau mencela demam, karena sesungguhnya demam menghapus dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku pandai besi menghilangkan kotoran besi.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2575 dan at-Tirmidzi no. 2250)

Makna “tuzafzifīna” “Engkau menggigil,” yaitu bergerak dengan gerakan yang kuat dan berulang-ulang.

◼️ Hendaklah ia bersabar atas penyakitnya dan mengharapkan pahala serta ganjaran dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS az-Zumar: 10)

Allah Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-Baqarah: 155–157)

Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا الْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya baik baginya dan itu tidak terjadi kecuali pada orang beriman. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Jika tertimpa kesulitan, ia bersabar, maka hal itu baik pula baginya.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2999)

◼️ Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hendaklah orang yang sakit berusaha memperbaiki akhlaknya, menjauhi pertengkaran dan perselisihan dalam urusan dunia, serta menghadirkan dalam pikirannya bahwa ini adalah waktu-waktu terakhirnya di negeri amal. Dengan demikian, ia menutup hidupnya dengan kebaikan. Hendaklah ia meminta kerelaan istrinya, anak-anaknya, seluruh keluarganya, para pelayannya, tetangganya, sahabat-sahabatnya, dan setiap orang yang pernah memiliki hubungan muamalah, persahabatan, atau keterkaitan dengannya, serta meminta mereka memaafkannya.”

Hendaklah ia menyibukkan dirinya dengan membaca al-Qur’an, berdzikir, dan membaca kisah-kisah orang saleh serta keadaan mereka ketika menghadapi kematian.

Hendaklah ia menjaga shalat, menjauhi najis, dan berbagai kewajiban agama lainnya. Janganlah ia menerima ucapan siapa pun yang membuatnya lalai dari hal-hal tersebut, karena hal itu berasal dari orang yang tidak menginginkan kebaikan baginya. Orang seperti itu adalah teman yang bodoh, musuh yang tersembunyi.

Hendaklah ia mewasiatkan keluarganya agar bersabar terhadap keadaannya dan meninggalkan ratapan atas dirinya. Demikian pula hendaklah ia memerintahkan mereka untuk meninggalkan banyak menangis, serta mewasiatkan agar meninggalkan berbagai bid’ah yang biasa dilakukan masyarakat dalam urusan jenazah.

Hendaklah ia senantiasa didoakan.

Dengan Allah-lah taufik itu.

◼️ Hendaklah ia berbaik sangka kepada Allah dan berada di antara rasa takut dan harapan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ

Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh Muslim no. 2877, Abu Dawud no. 3112, dan Ibnu Majah no. 4167)

Telah disebutkan sebelumnya hadis Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang pemuda yang sedang menghadapi kematian, lalu beliau bertanya,

كَيْفَ تَجِدُكَ؟

Bagaimana keadaanmu?

Ia menjawab,  “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah dan sesungguhnya aku takut terhadap dosa-dosaku.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو، وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

Tidaklah keduanya berkumpul dalam hati seorang hamba pada keadaan seperti ini, melainkan Allah akan memberinya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan.” (Hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 983 dan Ibnu Majah no. 1431)

◼️ Hendaklah ia menunaikan hak-hak yang menjadi kewajibannya terhadap para pemiliknya. Jika ia tidak mampu melakukannya, maka hendaklah ia berwasiat mengenai hal itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مَالِهِ فَلْيُؤَدِّهَا إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ لَا يُقْبَلُ فِيهِ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ وَأُعْطِيَ صَاحِبَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَتْ عَلَيْهِ

Barang siapa memiliki suatu kezaliman terhadap saudaranya, baik yang berkaitan dengan kehormatannya maupun hartanya, maka hendaklah ia menyelesaikannya sebelum datang Hari Kiamat, ketika dinar dan dirham tidak lagi diterima. Jika ia memiliki amal saleh, maka akan diambil dari amal salehnya dan diberikan kepada orang yang dizaliminya. Jika ia tidak memiliki amal saleh, maka akan diambil dari dosa-dosa orang yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2449 dan at-Tirmidzi no. 2419)

◼️ Hendaklah ia menuliskan wasiatnya dan menghadirkan saksi atasnya, serta berhati-hati agar tidak menimbulkan mudarat melalui wasiat tersebut.

◼️ Tidak boleh mengharapkan kematian, meskipun penyakit yang dideritanya sangat berat, berdasarkan hadis yang telah sahih:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ

Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian karena suatu musibah yang menimpanya. Jika ia harus mengucapkan sesuatu, maka hendaklah ia berkata,

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6351, Muslim no. 2680, Abu Dawud no. 3108, at-Tirmidzi no. 571, an-Nasa’i no. 4/3, dan Ibnu Majah no. 4265)

Baca juga:  ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT 

Baca juga:  IKHLAS DALAM BERAMAL DAN MENAFKAHKAN HARTA 

Baca juga:  CINTA KARENA ALLAH 

Baca juga:  RUKUN ISLAM: SYAHADAT 

Baca juga:  SYAHADAT, KEPEMIMPINAN, DAN KETEGASAN ISLAM: PELAJARAN DARI KHAIBAR 

(Syekh Abu Abdurrahman Adil bin Yusuf al-Azazy)

Adab Fikih