ILMU HARI KIAMAT DAN TANDA-TANDANYA

ILMU HARI KIAMAT DAN TANDA-TANDANYA

Jibril berkata, “Maka beritahukanlah kepadaku tentang Hari Kiamat,” dan ia tidak mengatakan “Engkau benar,” karena telah mencukupkan diri dengan ucapan tersebut sebelumnya.

as-Sa’ah (Hari Kiamat) adalah bangkitnya manusia dari kubur mereka untuk menghadap Rabb semesta alam, yakni kebangkitan. Ia dinamakan as-sa’ah karena kengerian dan kedahsyatannya yang luar biasa.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ، إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian. Sesungguhnya guncangan Hari Kiamat adalah sesuatu yang sangat dahsyat.” (QS al-Hajj: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.”

Yakni, beliau berbicara tentang dirinya sendiri, sedangkan yang bertanya adalah Jibril ‘alaihissalam.

Maknanya, jika aku tidak mengetahui kapan terjadinya, maka aku tidak mampu mengabarkannya kepadamu. Sebab, ilmu tentang Hari Kiamat termasuk perkara ghaib yang Allah Ta’ala khususkan bagi diri-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ، قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ، وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat. Katakanlah, ‘Sesungguhnya ilmu tentangnya hanya ada di sisi Allah.’ Dan tahukah engkau, boleh jadi Hari Kiamat itu sudah dekat.” (QS al-Ahzab: 63)

Dan firman-Nya:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا، قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي، لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ، ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً، يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا، قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat, ‘Kapan terjadinya?’ Katakanlah, ‘Ilmunya hanya ada di sisi Rabb-ku. Tidak ada yang dapat menjelaskannya pada waktunya selain Dia. Berat (kejadiannya) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepada kalian kecuali secara tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya ilmunya hanya ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (QS al-A’raf: 187)

Oleh karena itu, wajib bagi kita mendustakan setiap orang yang menentukan usia dunia atau menetapkan waktu terjadinya Hari Kiamat di masa depan. Siapa pun yang mengucapkan hal tersebut atau membenarkannya, maka ia adalah kafir (karena ia telah mendustakan al-Qur’an— pent).

Apa yang kita dengar dari sebagian ahli kebatinan bahwa umur dunia sekian dan sekian, atau bahwa mereka telah memperkirakannya hingga masa tertentu, maka wajib bagi kita mengatakan dengan lisan dan meyakini dalam hati bahwa mereka adalah para pendusta.

Siapa yang membenarkan ucapan semacam ini, maka ia kafir, karena manusia yang paling berilmu di antara para rasul manusia —yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam— dan makhluk paling agung di antara para rasul malaikat—yaitu Jibril ‘alaihissalam— pun tidak mengetahui kapan Hari Kiamat terjadi. Maka bagaimana mungkin selain mereka mengetahuinya, padahal mereka lebih pantas untuk mengetahuinya seandainya hal itu dapat diketahui?

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya,” Jibril ‘alaihissalam berkata, “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.” Yaitu tanda-tanda kedatangannya, karena amarah berarti tanda.

Yang dimaksud dengan tanda-tanda Hari Kiamat adalah tanda-tanda kedekatannya, yaitu apa yang dikenal sebagai isyarat-isyaratnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً، فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا

Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan Hari Kiamat kepada mereka secara tiba-tiba, padahal sungguh telah datang tanda-tandanya.” (QS Muhammad: 18)

Tanda-tanda Hari Kiamat dibagi oleh para ulama menjadi tiga macam:

1. Tanda-tanda yang telah berlalu dan berakhir.

2. Tanda-tanda yang masih terus terjadi, dan inilah yang disebut tanda-tanda pertengahan.

3. Tanda-tanda besar, yaitu tanda-tanda yang terjadi menjelang terjadinya Hari Kiamat.

Di antara tanda-tanda Hari Kiamat yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis ini adalah sabdanya, “Yaitu jika  seorang budak perempuan melahirkan tuannya.”

Pada lafaz “rabbaha”, maknanya adalah tuannya, yaitu orang yang berkuasa atasnya. Maksudnya, seorang budak perempuan (amat) melahirkan tuannya.

Kemudian timbul pertanyaan: “Apakah yang dimaksud dengan “tuannya” itu laki-laki atau perempuan?”

Jawabannya: Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini.

Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah budak perempuan melahirkan tuannya, yaitu ia melahirkan seorang anak yang kelak menjadi tuan bagi selain ibunya. Dengan demikian,  yang dimaksud dengan “budak perempuan” di sini adalah budak perempuan secara jenis (bukan terbatas pada hubungan langsung antara ibu dan anak —pent).

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah budak perempuan itu secara langsung melahirkan tuannya atau nyonyanya, yaitu seorang raja (tuan) memiliki seorang budak perempuan, lalu ia menghamilinya. Anak yang dilahirkan budak perempuan itu menjadi tuannya, baik karena ayahnya adalah tuannya, atau karena kelak anak itu menggantikan ayahnya sehingga ia menjadi tuan bagi ibunya.

Makna yang pertama lebih kuat, yaitu budak perempuan melahirkan anak yang kemudian menjadi tuan dan pemilik, sementara pada awalnya ia adalah seorang budak. Ini merupakan ungkapan (kinayah) tentang cepatnya perubahan keadaan.

Makna ini diperkuat oleh kelanjutan sabda beliau, “Dan apabila engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan miskin.”

Makna “tidak beralas kaki” adalah tidak memiliki alas kaki. Makna “tidak berpakaian” adalah tidak memiliki pakaian yang menutup dan mencukupi. Sedangkan “miskin” maksudnya tidak memiliki kecukupan hidup, yakni tidak mempunyai nafkah, tempat tinggal, atau hal-hal semisalnya. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang fakir.

Sabda beliau, “Mereka berlomba-lomba meninggikan bangunan,” yaitu orang-orang yang sebelumnya berada dalam kondisi fakir tersebut berubah menjadi orang-orang kaya hingga mereka berlomba-lomba dalam membangun, masing-masing ingin bangunannya lebih tinggi daripada yang lain.

Lalu timbul pertanyaan: “Apakah yang dimaksud dengan berlomba-lomba itu dari sisi ketinggian bangunan, keindahannya, atau keduanya sekaligus?”

Jawabannya: Allahu a’lam. Sangat mungkin bahwa yang paling dominan pada masa ini adalah keduanya sekaligus, karena pada setiap kelompok manusia dan setiap generasi tampak adanya saling berlomba dan berbangga dalam bangunan, baik dari sisi ketinggian maupun keindahannya.

Pada setiap zaman selalu ada orang-orang yang berkata, “Ini termasuk tanda-tanda Hari Kiamat.” Namun tanda yang disebutkan dalam hadis ini tampak jelas dan nyata, dan wallahu a’lam.

Ucapannya, “Kemudian ia pergi, lalu beliau tetap tinggal cukup lama,” maksudnya adalah beberapa waktu yang panjang, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَأَخْبَرَنِي مَلَكًا

Dan ia meninggalkan kaumnya dalam waktu yang lama.” (QS Maryam: 46)

Yaitu dalam waktu yang panjang. Ada yang mengatakan tiga hari, ada yang mengatakan lebih dari itu, dan ada pula yang mengatakan kurang. Namun makna yang telah dikenal dari kata al-mili adalah waktu yang panjang.

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Umar,” dan yang berkata adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah engkau mengetahui siapa orang yang bertanya itu?

Aku (‘Umar) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia adalah Jibril.”

Boleh jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpainya kembali setelah itu lalu menanyakan kepadanya, “Apakah engkau mengetahui siapa orang yang bertanya itu?’ Maksudnya: “Apakah engkau mengetahui siapa dia?” Maka Umar berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Ini merupakan dalil bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu tidak mengetahui siapa orang yang bertanya tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ia adalah Jibril.”

Isyarat kata “ia” di sini kembali kepada sosok yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Jibril. Seakan-akan beliau mengatakan, “Orang ini adalah Jibril.”

Sabda beliau, “Ia datang untuk mengajarkan agama kalian.”

Ungkapan itu disampaikan dengan bentuk pertanyaan, yaitu gaya bertanya, karena cara ini lebih kuat tertanam dalam jiwa dan lebih berpengaruh.

Baca juga: TANDA-TANDA KECIL KIAMAT

Baca juga: TANDA-TANDA KIAMAT: KELUARNYA AL-MAHDI

Baca juga: TANDA-TANDA BESAR KIAMAT: TERBITNYA MATAHARI DARI BARAT, BINATANG MELATA, DAN API

(Syekh Muhammadd bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Arba'in an-Nawawiyyah