RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

RUKUN IMAN: BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Sabdanya, “dan hari akhir”, yang dimaksud adalah Hari Kiamat. Ia dinamakan ‘akhir’ karena merupakan tahapan terakhir bagi anak Adam dan selain mereka.

Manusia mengalami empat fase kehidupan: di dalam perut ibunya, kehidupan di dunia, kehidupan di alam barzakh, dan Hari Kiamat —dan itulah fase yang terakhir.

Iman kepada hari akhir mencakup:

Pertama: beriman kepada terjadinya hari akhir, dan bahwa Allah Ta’ala akan membangkitkan manusia dari kubur, yaitu menghidupkan mereka kembali ketika sangkakala ditiup. Setelah itu manusia bangkit dan berdiri menghadap Rabb seluruh alam.

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

Kemudian sungguh kalian akan dibangkitkan pada Hari Kiamat.” (QS al-Mu’minun: 16)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا

Manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Hari Kiamat pasti terjadi dan tidak ada keraguan padanya, karena Allah Ta’ala telah mengabarkannya dalam Kitab-Nya, demikian pula Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam as-Sunnah.

Sering kali Allah Ta’ala mengaitkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari akhir, karena orang yang tidak beriman kepada hari akhir tidak akan terdorong untuk beramal. Ia mengira bahwa tidak ada perhitungan dan pembalasan atas amal perbuatan kelak.

Kedua: beriman kepada segala sesuatu yang Allah sebutkan dalam Kitab-Nya dan yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari akhir. Termasuk di dalamnya keyakinan bahwa manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan, serta tidak membawa apa pun, yaitu tidak memiliki harta sedikit pun. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ

Sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama, demikian pula Kami akan mengulanginya.” (QS al-Anbiya’: 104)

Ketiga: beriman kepada apa saja yang disebutkan tentang hari akhir, seperti telaga (haudh), syafaat, Shirath, Surga dan Neraka. Surga adalah negeri kenikmatan, sedangkan Neraka adalah negeri azab yang pedih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam al-’Aqidah al-Wasithiyyah, “Iman kepada hari akhir adalah beriman kepada segala sesuatu yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang terjadi setelah kematian, seperti fitnah kubur. Manusia akan diuji di dalam kuburnya dan ditanya tentang tiga perkara: Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”

Keempat: beriman kepada nikmat kubur dan azabnya, karena hal tersebut ditetapkan oleh al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ salaf.

Di sini perlu diingatkan terhadap apa yang sering kita dengar dari ucapan sebagian orang atau yang kita baca di sebagian tulisan: “Apabila seseorang meninggal, ia berpindah ke tempat tinggalnya yang terakhir.”

Ini adalah kesalahan besar. Seandainya kita mengetahui maksud orang yang mengucapkannya, niscaya kita akan mengatakan bahwa ia mengingkari kebangkitan, karena jika kubur adalah tempat tinggal terakhir, maka hal itu mengandung pengingkaran terhadap kebangkitan. Masalah ini sangat berbahaya, namun sebagian orang menganggapnya remeh jika diucapkan tanpa direnungkan maknanya.

Baca juga: HARI KIAMAT – KEADAAN MANUSIA KETIKA DIKUMPULKAN

Baca juga: PERSIAPAN UNTUK MENGHADAPI HARI AKHIR

Baca juga: GAMBARAN KEBANGKITAN DAN KEADAAN MANUSIA PADA HARI KIAMAT

(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

Akidah Arba'in an-Nawawiyyah