Sabdanya, “Dan rasul-rasul-Nya” maksudnya adalah kamu beriman kepada rasul-rasul Allah ‘Azza wa Jalla, dan yang dimaksud dengan rasul di sini adalah dari kalangan manusia. Hendaklah diketahui bahwa bahwa terkadang digunakan istilah ‘rasul’ dan terkadang ‘nabi’. Apakah keduanya memiliki makna yang sama?
Jawabannya: Adapun dalam al-Qur’an, setiap nabi yang disebutkan adalah juga seorang rasul. Setiap kali kamu mendapati dalam al-Qur’an penyebutan seorang nabi, maka ia adalah seorang rasul. Namun dari sisi makna, antara nabi dan rasul terdapat perbedaan.
Pendapat yang benar adalah bahwa nabi adalah orang yang diberi wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk mengamalkannya, tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Ia disebut nabi dalam arti orang yang diberi berita (wahyu), tetapi tidak diperintah untuk menyampaikan.
Contohnya adalah Adam ‘alaihissalam, bapak seluruh manusia. Ia adalah seorang nabi yang dibebani kewajiban, tetapi bukan seorang rasul. Rasul pertama adalah Nuh. Adapun Adam, maka ia adalah nabi, sebagaimana hal ini telah sahih dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apabila seseorang bertanya, “Mengapa (Adam) tidak diutus (sebagai rasul)?” Jawabannya adalah bahwa manusia pada waktu itu merupakan satu umat. Jumlah mereka sedikit dan tidak terjadi perselisihan di antara mereka. Dunia belum meluas dan manusia belum menyebar, sehingga mereka berada dalam kesepakatan. Cukup bagi mereka melihat ayah mereka beribadah lalu mereka mengikutinya. Ketika perselisihan terjadi dan manusia menyebar, barulah dibutuhkan para rasul, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النبيينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
“Manusia adalah satu umat, lalu Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS al-Baqarah: 213)
Apabila seseorang bertanya, “Apa manfaat seorang nabi setelah Adam ‘alaihissalam, jika ia tidak diperintahkan untuk menyampaikan risalah?”
Kami menjawab: Manfaatnya adalah untuk mengingatkan manusia kepada syariat yang telah mereka lupakan. Dalam keadaan ini, penyimpangan manusia belum bersifat total, sehingga mereka belum memerlukan seorang rasul. Cukuplah seorang nabi yang mengingatkan mereka kepada syariat.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ، يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Dengannya para nabi berserah diri menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi.” (QS al-Ma’idah: 44)
Inilah manfaat kenabian, karena sanggahan ini memang kuat, yaitu “Apa manfaat kenabian tanpa risalah?” Dan jawabannya adalah sebagaimana yang telah dijelaskan.
Oleh karena itu, terdapat sebuah hadis —namun hadis tersebut lemah:
عُلَمَاءُ أُمَّتِيْ كَأَنْبِيَاءِ بَنِيْ إِسْرَائِيْل
“Ulama umatku seperti para nabi Bani Israil.”
Maknanya benar, tetapi hadis ini lemah dari sisi penyandarannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasul pertama adalah Nuh ‘alaihissalam dan yang terakhir dari mereka adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketahuilah bahwa kamu akan mendapati dalam sebagian kitab sejarah bahwa Idris ‘alaihisshalatu wassalam hidup sebelum Nuh ‘alaihissalam, dan disebut pula nama-nama lain seperti Syits. Semua ini adalah dusta dan tidak benar. Maka Idris pasti datang setelah Nuh.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Idris termasuk para rasul di kalangan Bani Israil, karena namanya selalu disebut dalam konteks kisah-kisah mereka. Namun kami mengetahui dengan keyakinan yang pasti bahwa ia bukan sebelum Nuh. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi setelahnya.” (QS an-Nisa: 163)
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ
“Sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan kitab.” (QS al-Hadid: 26)
Allah mengutus keduanya —dan mereka adalah puncaknya— serta menjadikan pada keturunan keduanya kenabian dan kitab. Barang siapa mengklaim bahwa Idris sebelum Nuh, sungguh ia telah mendustakan al-Qur’an. Wajib baginya bertobat kepada Allah dari keyakinan tersebut.
Para rasul ‘alaihimushshalatu wassalam adalah tingkatan manusia yang paling tinggi, yaitu orang-orang yang Allah anugerahi nikmat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama orang-orang yang Allah beri nikmat, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.” (QS an-Nisa: 69)
Inilah empat golongan.
Para nabi mencakup di dalamnya para rasul. Para rasul lebih utama daripada para nabi. Di antara para rasul, yang paling utama ada lima, yaitu para ulul ‘azmi. Mereka disebutkan dalam al-Qur’an pada dua tempat, yaitu dalam Surah al-Ahzab dan Surah asy-Syura.
Dalam Surah al-Ahzab, Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, dan darimu, dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa.” (QS al-Ahzab: 7)
Dalam Surah asy-Syura Allah Ta’ala berfirman:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian agama yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh, dan yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama.” (QS asy-Syura: 13)
Mahasuci Allah, ini adalah wasiat dari Allah bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian:
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا
“Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS asy-Syura: 13)
Ini adalah wasiat agar menegakkan agama dan tidak berpecah-belah dalam urusan agama.
Yang paling utama di antara mereka adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ
“Aku adalah pemimpin anak-anak Adam.” (HR Muslim)
Ketika beliau bertemu dengan mereka pada peristiwa Isra’, beliau mengimami mereka dalam shalat. Ibrahim —imam orang-orang yang hanif— shalat di belakang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah diketahui bahwa tidak didahulukan dalam keimaman (kepemimpinan shalat) kecuali yang paling utama. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling utama di antara para ulul ‘azmi.
Yang kedua adalah Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam, yang menempati kedudukan setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tentangnya Allah berfirman:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil).” (QS an-Nisa: 125)
Dialah yang diuji oleh Allah Ta’ala dengan ujian yang tidak mampu dihadapi dengan kesabaran kecuali oleh para ulul ‘azmi.
Kisah ujian yang dialami Ibrahim ‘alaihishshalatu wassalam adalah bahwa Allah menganugerahinya seorang anak pada usia tua. Telah diketahui bahwa apabila seseorang dianugerahi anak satu-satunya pada usia tua, maka anak itu akan menempati puncak kecintaan di hati ayahnya secara manusiawi. Ketika anak itu telah mencapai usia dapat berjalan bersamanya —bukan lagi anak kecil yang belum diperhatikan dan belum pula dewasa yang telah mandiri, melainkan telah sampai usia berjalan dan beraktivitas bersama ayahnya— hati Ibrahim pun terikat sepenuhnya kepadanya.
Allah Ta’ala mengujinya dengan cara memperlihatkan kepadanya dalam mimpi bahwa ia menyembelih anaknya. Dan mimpi para nabi adalah wahyu. Lalu Ibrahim berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Ibrahim tidak memberinya pilihan, tetapi bermaksud menguji ketaatan anaknya.
Sang anak datang dengan puncak kepatuhan dan ketundukan seraya berkata, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Ia tidak berkata, “Wahai ayahku, sembelihlah aku,” tetapi berkata, “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu,” untuk menegaskan bahwa perbuatan itu semata-mata karena ketaatan kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla. “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatiku —in sya Allah— termasuk orang-orang yang sabar.” Ia tidak memastikan, tetapi berkata, “in sya Allah,” sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan melakukan itu besok,’ kecuali dengan mengatakan ‘In sya Allah.’” (QS al-Kahfi: 23–24)
Maka ayah dan anak itu sepakat untuk memenuhi perintah Allah. Ketika keduanya telah berserah diri —yakni tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah— dan Ibrahim membaringkan anaknya di sisi dahinya —yakni menelungkupkannya ke tanah, dengan dahi sebagai penopang— agar ia tidak melihat wajah anaknya saat pisau berada di lehernya, sehingga hal itu meringankan dirinya dan juga meringankan sang anak, datanglah kelapangan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Ta’ala melepaskannya dari ujian itu dengan firman-Nya:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
“Dan Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.’” (QS ash-Shaffat: 104–105)
Kecintaan Ibrahim kepada anaknya, ujian yang ia hadapi, dan kepatuhan yang sempurna ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah di dalam hati Ibrahim ‘alaihis salam lebih besar daripada kecintaannya kepada anaknya. Karena itu, jadilah Ibrahim kekasih Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah pun menganugerahinya kedudukan khalil.
Khalil adalah bentuk kecintaan yang paling agung.
Kecintaan memiliki beberapa tingkatan— ada yang mengatakan sepuluh, dan ada pula yang mengatakan tujuh— namun yang paling tinggi adalah khalil. Dalam hal ini penyair berkata kepada kekasihnya, “Sungguh engkau telah menyusup ke seluruh jalan rohku.”
Dengan demikian, seseorang disebut khalil karena kecintaannya telah menyusup ke seluruh jalan roh —ke urat-urat, tulang-tulang, sumsum, dan seluruh bagian dirinya.
Pada firman-Nya:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
“Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil).” (QS an-Nisa: 125) terdapat dalil bahwa Ibrahim, di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, berada pada tingkat tertinggi dari yang dicintai. Di dalamnya terdapat penetapan sifat cinta.
Orang-orang yang memalingkan makna —yang mengatakan bahwa Allah tidak mencintai— berkata bahwa firman Allah Ta’ala: “Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil” diambil dari kata al-khillah dengan kasrah, yang berarti kebutuhan atau kefakiran. Menurut mereka, makna firman “Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil” adalah Allah menjadikan Ibrahim sebagai orang yang membutuhkan kepada-Nya.
Ini termasuk bentuk penyelewengan makna. Menurut pendapat mereka, setiap manusia berarti khalil bagi Allah, karena setiap manusia adalah makhluk yang membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla.
Akan tetapi dikatakan bahwa khalil adalah orang yang mencapai puncak kecintaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai khalil, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai khalil. Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil dari umatku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakr sebagai khalil.” (HR Muslim)
Di kalangan manusia terdapat ungkapan yang cukup dikenal, bahwa Ibrahim adalah khalil Allah, Muhammad adalah kekasih Allah, dan Musa adalah kalim Allah.
Tidak diragukan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekasih Allah. Beliau adalah orang yang sangat dicintai oleh Allah. Namun, terdapat sifat yang lebih tinggi dari sekadar dicintai, yaitu khalil, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah khalil Allah. Oleh karena itu, orang-orang yang mengatakan “Muhammad adalah kekasih Allah” semata, mereka telah merendahkan kedudukan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tingkatan kecintaan berada di bawah kekhalilan.
Maka dikatakan bahwa kita tidak mengetahui dari kalangan manusia yang menjadi khalil Allah kecuali dua orang, yaitu Ibrahim dan Muhammad ‘alaihimashshalatu wassalam. Adapun orang-orang yang dicintai Allah, maka jumlahnya banyak, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Baqarah: 195)
Dan firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur.” (QS ash-Shaff: 4)
Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan itu.
Baca juga: RUKUN IMAN – BERIMAN KEPADA PARA RASUL
Baca juga: KEWAJIBAN MENGIKUTI RASULULLAH DALAM SEGALA PERINTAH DAN LARANGAN
Baca juga: KEWAJIBAN TAAT KEPADA RASUL SEBAGAI BENTUK KETAATAN KEPADA ALLAH
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

