Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS an-Nisa’: 80)
PENJELASAN
Kemudian penulis rahimahullah dalam rangkaian ayat-ayat pada bab Perintah untuk Menjaga Sunah dan Adab-adabnya menukil firman Allah Ta’ala: “Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS an-Nisa’: 80)
Barang siapa menaati Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh ia telah menaati Allah.
Ketaatan adalah kesesuaian terhadap perintah, baik dalam melakukan sesuatu yang diperintahkan maupun meninggalkan sesuatu yang dilarang. Maka, apabila disebut ketaatan dan kemaksiatan, ketaatan berarti melakukan hal yang diperintahkan, sedangkan kemaksiatan berarti melakukan hal yang dilarang.
Adapun jika dikatakan “ketaatan” secara mutlak, maka ia mencakup perintah dan larangan. Artinya, melaksanakan perintah adalah ketaatan, dan menjauhi larangan juga merupakan ketaatan. Maka orang yang menaati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perintah dan larangannya —yaitu apabila beliau memerintah, ia melaksanakan, dan apabila beliau melarang, ia menjauhi— maka sungguh ia termasuk orang yang taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Itulah makna tersurat dari ayat, sedangkan makna tersiratnya adalah bahwa siapa yang mendurhakai Rasul, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah.
Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa apa yang telah tetap dalam sunah, kedudukannya sama seperti apa yang telah tetap dalam al-Qur’an, yakni sama-sama merupakan bagian dari syariat Allah dan wajib untuk dipegangteguh. Tidak boleh bagi siapa pun membedakan antara al-Qur’an dan sunah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam sabdanya,
لَا أَلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ عِنْدِي فَيَقُولُ: لَا نَدْرِي، مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللهِ اتَّبَعْنَاهُ
“Jangan sampai aku mendapati salah seorang di antara kalian bersandar di atas dipannya, lalu datang kepadanya suatu perintah dariku, namun ia berkata, ‘Kami tidak tahu, apa yang kami temukan dalam Kitab Allah, itulah yang kami ikuti.’” (Hadis sahih. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, ath-Thabrani, Ibnu Abul Barr, dan Asyyab)
Artinya, beliau memperingatkan bahwa mungkin akan datang suatu masa ketika manusia berkata, “Kami hanya mengikuti apa yang ada dalam al-Qur’an, sedangkan apa yang ada dalam sunah, kami tidak mengambilnya.”
Hal ini sungguh telah terjadi. Terdapat di antara orang-orang sesat yang berkata, “Kami tidak menerima sunah, kami hanya menerima al-Qur’an.” Padahal kenyataannya mereka adalah para pendusta, karena mereka tidak menerima baik sunah maupun al-Qur’an. Sebab al-Qur’an sendiri menunjukkan wajibnya mengikuti sunah, dan bahwa apa yang datang dalam sunah sama seperti apa yang datang dalam al-Qur’an. Mereka menipu orang-orang awam dengan berkata, “Sunah, selama bukan al-Qur’an yang dibaca dan diriwayatkan secara mutawatir di antara kaum muslimin, maka apa yang ada di dalamnya bisa diragukan, bisa dilupakan, bisa salah, dan semisalnya.”
Allah-lah yang memberi taufik.
Baca juga: TIDAK ADA KETAATAN KECUALI DALAM HAL YANG MAKRUF
Baca juga: KEWAJIBAN MENGIKUTI RASULULLAH DALAM SEGALA PERINTAH DAN LARANGAN
Baca juga: WAJIB MENAATI PEMIMPIN SELAMA BUKAN KEMAKSIATAN
(Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin)

