PARA PAHLAWAN PELINDUNG RASULULLAH DI MEDAN UHUD

PARA PAHLAWAN PELINDUNG RASULULLAH DI MEDAN UHUD

Sebagian kaum musyrikin berhasil mencapai tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang dilindungi oleh tujuh orang dari kalangan Anshar dan dua orang dari Quraisy.

Ketika tekanan mereka semakin kuat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang dapat mengusir mereka dari kita, maka ia akan mendapatkan Surga, atau ia akan menjadi temanku di Surga?

Para sahabat maju satu per satu untuk melindungi beliau, hingga ketujuh sahabat Anshar itu gugur semuanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata kepada dua sahabat Quraisy yang tersisa, “Kita tidak berlaku adil kepada para sahabat kita.”

Di antara sahabat yang tercatat dalam sejarah karena bertempur dengan sangat hebat demi melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah, hingga tangan yang ia gunakan untuk melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi cacat. Juga Sa‘ad bin Abi Waqqash, yang saat itu diberikan anak panah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau bersabda, “Panahlah wahai Sa‘ad, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyebutkan kedua orang tuanya sebagai tebusan bagi seseorang selain kepada Sa‘ad bin Malik bin Abi Waqqash, sebagaimana dikatakan oleh ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dan sebagaimana diakui olehnya sendiri.

Ada pula Abu Thalhah al-Anshari, pemanah paling ulung. Setiap kali seseorang melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa anak panah, beliau berkata, “Berikanlah itu kepada Abu Thalhah.” Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menampakkan diri untuk melihat keadaan, Abu Thalhah berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, janganlah engkau menampakkan dirimu. Jangan sampai panah musuh mengenaimu. Leherku menjadi ganti lehermu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya dengan kagum, “Sungguh suara Abu Thalhah di dalam pasukan lebih dahsyat bagi kaum musyrikin daripada suara sekelompok orang lainnya.”

Kemudian ada Abu Dujanah yang melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan punggungnya, sehingga banyak anak panah menancap di sana, sementara ia tetap mencondongkan tubuh untuk melindungi beliau.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan busurnya untuk memanah hingga pinggirannya pecah, lalu busur itu diambil oleh Qatadah dan disimpannya. Hari itu Qatadah menerima pukulan pada matanya hingga terjatuh dan menggantung di pipinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikannya pada tempatnya dengan tangan beliau, dan mata itu menjadi lebih baik serta lebih tajam dari mata yang satunya.

Dalam situasi kacau tersebut, Ummu ‘Umarah —Nasibah binti Ka‘ab al-Maziniyah— terpaksa turun tangan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga Ibnu Qami‘ah melukainya dengan sebuah luka dalam yang menganga di pundaknya.

Baca sebelumnya: PELARIAN DI UHUD DAN TURUNNYA AMPUNAN ALLAH

Baca setelahnya: LUKA NABI DAN KASIH SAYANG YANG TAK PERNAH PADAM

(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

Kisah Sirah Nabawiyah