Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perlawanan dengan sangat sengit hingga beliau mengalami banyak luka. Gigi seri beliau patah, wajah beliau terluka, dan darah mengalir darinya. Beliau mengusap darah itu sambil berkata, “Bagaimana suatu kaum bisa bahagia jika mereka melukai wajah Nabi mereka, padahal ia mengajak mereka kepada Islam?”
Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim.” (QS Ali ‘Imran: 128)
Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengharapkan keselamatan mereka. Beliau berkata, “Wahai Rabb-ku, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.”
Dalam riwayat lain dari al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami patah pada gigi serinya, wajahnya terluka, dan pelindung kepala beliau pecah.
Ketika orang-orang musyrik melakukan hal itu kepada beliau, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh besar murka Allah pada kaum yang melakukan ini kepada Nabi-Nya,” —beliau menunjuk kepada gigi serinya— “Sungguh besar murka Allah pada seorang laki-laki yang membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di jalan Allah.”
Dalam riwayat lain: “Sungguh besar murka Allah pada seorang laki-laki yang dibunuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di jalan Allah.”
Dalam riwayat lainnya: “Sungguh besar murka Allah pada orang yang dibunuh oleh Nabi-Nya di jalan Allah. Sungguh besar murka Allah pada kaum yang melukai wajah Nabi Allah.”
Saat itu putri beliau, Fathimah, membasuh darahnya sementara ‘Ali mengguyurkan air. Ketika Fathimah melihat bahwa air justru membuat darah semakin banyak, ia mengambil sepotong tikar, membakarnya, lalu menempelkannya pada luka beliau hingga darah berhenti.
Baca sebelumnya: PARA PAHLAWAN PELINDUNG RASULULLAH DI MEDAN UHUD
Baca setelahnya: KISAH TELADAN ABDULLAH BIN JAHSY, ‘AMRU BIN AL-JAMUH, DAN MUJAHID LAINNYA
(Prof Dr Mahdi Rizqullah Ahmad)

